
"Marisa?" Demetrio memekik pelan, ia tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya melihat kehadiran wanita pelukis itu pada bar yang ia kunjungi. "Sedang apa dia di sini? Bukankah ini sudah cukup larut?"
Demetrio melangkah mendekat. Namun, sebelum langkah terakhir sampai di depan Marisa, seorang pria datang dan merangkul wanita itu. Bahkan ia memberikan ciuman pada bahu Marisa yang terbuka. Dress tanpa lengan yang ia kenakan benar-benar membuat penampilan Marisa terlihat berbeda.
Demetrio menyeringai. "Jadi dia memiliki kekasih?" Pria berwajah dingin itu sudah setengah jalan akhirnya dia memutuskan untuk menyapa Marisa dan pria yang merangkulnya.
"Marisa, kau di sini?" sapa Demetrio. Nadanya sedikit datar, ada rasa tidak suka dalam sapaannya.
Marisa membulatkan mata. Ia tidak percaya jika bertemu dengan pria berwajah dingin itu di sini. "De--Demetrio?"
Demetrio tersenyum manis mengangguk ramah ke arah Marisa. "Aku pikir kau sudah tertidur tadi." Demetrio sejenak melirik pria di samping Marisa, sepertinya ada ketegangan di sini. Gestur tubuh Marisa menampilkan jika ia tidak nyaman dengan pria yang sedang merangkulnya.
"Apa dia kekasihmu?"
Marisa mengerutkan keningnya. "Dia bukan kekasihku, hanya pria aneh yang terus mengejarku," ujar Marisa datar. Ia melepaskan rangkulan pria yang sedari tadi menempel seperti perangko padanya. "Menjauhlah, aku tidak ingin orang-orang di sini mengira jika aku datang membawa piaraan."
Demetrio terkekeh melihat ekspresi Marisa yang terus bersungut. Pria bermanik cokelat itu sedikit melirik ke arah pria yang dia pikir adalah kekasih Marisa. "Tidak apa-apa jika dia kekasihmu Nona Marisa. Kalian bahkan terlihat sangat cocok," ujarnya sedikit mengejek.
"Kau dengar Manis, pria ini mengatakan jika kita adalah pasangan serasi. Ayolah, habiskan malam ini bersama di atas ranjangku. Kau tahu bukan aku selalu menginginkan tubuh mulusmu ini sejak dulu."
"Dasar sinting?" umpat Marisa pelan. Ia hendak beringsut menjauh dari tangan Arbeto yang hendak menyentuh wajahnya. Namun, pria di hadapnya menghadang. Ia meraih penggang Marisa, dan meremas bokonya pelan, hingga Membuat seseorang yang masih di sana menggepalkan tangan.
"Sial!" Arbeto mengumpat kesal, ia tidak terima jika Marisa memperlakukannya seperti ini, pria itu sudah lama menginginkan Marisa. Sejak ia sering berkunjung ke Puelba Arbeto selalu mencari kesempatan untuk memilikinya. Namun, selalu saja penolakan yang ia terima. Dengan kasar ia berdiri hendak menjambak rambut Marisa. Namun, Demetrio menghadang dengan cepat.
"Maaf, dia bukan kekasihmu atau wanita bayaran di sini. Seharusnya kau bisa lebih menjaga sikapmu," ucap Demetrio dengan sinis. Ia menatap Arbeto dengan tatapan memperingatkan lalu menarik keras Marisa membawanya menjauh dari pria gila yang hampir membuat kepalannya melayang.
"Hei mau kau bawa kemana wanita itu? Kau pikir kau siapa? Wanita murahan seperti dia seharusnya memohon di bawah kakiku," teriak Arbeto lantang.
Demetrio begitu kaget, perlakuan Arbeto pada Marisa sudah sangat keterlaluan. "Dasar bajingan!" Demetrio melepaskan genggamannya pada Marisa, dan melangkah kembali pada Arbeto yang sedang tertawa di sana. Demetrio melayangkan satu pukulan hingga pria itu tersungkur, dengan gerakan cepat dia menaiki tubuh Arbeto dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajahnya.
"Bajingan! Bangsat! Siapa yang kau bilang wanita murahan huh! Siapa?"
"Demetrio, sudah! Hentikan! Kau bisa membunuhnya!" teriak Marisa menghentikan gerakan tangan Demetrio yang terus memukul.
"Lepaskan! Biarkan aku membunuhnya, pria seperti ini tidak pantas di kasihani."
"Ini bukan di Verona Demetrio, hentikan! Jangan membuat masalah."
Marisa tahu benar siapa itu Demetrio, Andrea selalu menceritakan tentang sikap dingin dan tegasnya, dan Marisa yakin jika tidak di hentikan maka Arbeto pasti akan mati karenanya.