
Pemilik manik abu-abu itu terbangun saat mendengar jeritan Arsula saat Malvin menyeretnya pergi. Tetapi setelah Garilla masuk, Andrea sudah dalam posisi duduk.
"Apa kau lapar?"
Andrea menggeleng pelan.
"Baiklah, saatnya minum obat Sayang. Beruntung kau tidak terbangun tadi. Jika ia, maka kau akan menerima siksaan itu lagi. Wanita gila itu berteriak ingin membunuhmu."
Andrea memgerjab kaget. "Maksudmu Nona Arsula?"
"Siapa lagi, tentu saja dia." Garilla memberikan satu gelas air putih kepada Andrea. "Minumlah, dan kembali tidur. Jangan memikirkam hal-hal yang tidak perlu. Kau hanya harus fokus istirahat agar cepat sembuh." Garilla membereskan sisa obat dan melangkah keluar setelah itu selesai.
"Tunggu Garilla! Aku belum selesai bertanya?"
Wanita itu berhenti melangkah menuju pintu keluar, dia menatap Andrea yang duduk dengan selimut membungkus tubuh. " Signore? Dia sedang bersama wanita gila itu, sepertinya akan terjadi perang besar hari ini."
"Apa?"
"Wanita itu ternyata berselingkuh di belakang Signore, dia ketahuan dan akan segera di tendang dari sini. Kota akan melihat bagaimana dia di seret keluar nanti."
"Selingkuh?"
"Tapi sepertinya bukan hanya itu, aku merasakan ada hal lain dalam kemarahannya. Apa mungkin Arsula salah satu dari kaki tangan Marco, atau mungkin saja dia berselingkuh dengan marco?"
"Sepertinya kau benar, aku ingat pernah bertemu dengan Arsula sebelumnya."
"Benarkah? Aku yakin, kematian Nona Daisy ada hubungannya dengan wanita gila itu."
"Perhatikan ucapanmu Garilla. Bagaimanapun juga dia masih Nona di rumah ini."
Hal itu membuat Garilla mendesah pelan. "Semoga saja semua itu benar, jika dia di masukan ke penjara, kita akan leluasa melakukan pekerjaan tanpa ada rasa takut. Kau tahu, setelah kejadian kamarin, semua orang di Mansion tidak berani mengangkat kepala ketika Nona Arsula datang. Dia bagaikan malaikat pencabut nyawa."
"Apa dia sengaja membiarkan Nona Arsula melakukan ini padaku agar dia punya alasan untuk mengusirnya?"
Wanita tua itu mengangkat bahu. "Entahla, Andrea. Aku pikir ini adalah kesempatanmu untuk menjadi Signora."
Garilla menggeleng, dia menangkup wajah Andrea dan memaksa wanita itu agar melihatnya. "Signore Malvin menginginkanmu Andrea, dia menyukaimu. Aku bisa melihat dari tatapan dan perlakuannya terhadapmu."
"Kau tahu itu tidak mungkin."
"Kita tidak bisa menebak jalan hidup kita Andrea
"Baiklah, aku gerah. Bolehkah aku mandi?"
"No! Luka di perutmu belum bisa terkena air Andrea, aku akan membantumu untuk membersihkan tubuhmu."
"Aku bisa melakukannya Garilla, kau keluarlah."
"Kau yakin?"
Andrea mengangguk mengibaskan tangannya agar Garilla segera keluar. Membuat Garilla tertawa sebelum melangkah keluar. Andrea membersihkan dirinya, dia hanya membasahi bagian yang tidak terluka, lalu mengeringkannya dengan handuk. Di depan kaca besar Andrea melihat luka jahitan di perutnya yang di tutupi dengan perban yang begitu besar.
"Wanita itu benar-benar mengerikan."
Andrea keluar dari kamar mandi setelah selesai berpakain tanpa mengetahui ada seseorang yang sudah menantinya. Andrea tersentak kaget saat melihat Malvin yang sedang duduk dengan santainya di tepi ranjang.
"Signore?"
"Jangan lupa mengganti perbannya. Lukamu harus tetap kering."
"Sì."
"Istirahatlah."
"Sì."
Malvin semakin canggung saat Andrea hanya menjawab seperti itu. Dia berusaha mencairkan suasana. Namun, sepertinya ini waktu yang tidak tepat. Andrea terlihat tidak memberikan ekspresi apapun saat dia datang tadi.