
Cahaya di kamar begitu gelap, di atas ranjang terdengar suara terengah-engah dari dua orang yang sedang bergumul. Seorang wanita tengah menikmati malam panjang bersama kekasihnya. Entah setan apa yang masuk ke dalam tubuh Zigo hingga saat pulang subhu tadi dia langsung menerjang Paris dan meminta wanita itu melayaninya.
Paris memegang dada Zigo sambil mengatur napasnya, ia sedikit menggit bibir bawahnya menahan erangan yang hampir saja keluar. Dia memeluk pinggang pria predator itu dan bertanya dengan pelan. "Zigo, ada apa denganmu, kenapa kau begitu berapi-api."
"Oh Sayang, nanti saja. Aku sudah sangat tidak tahan. Aaahhh ...." Pria itu naik turun dengan irama cepat. Ingin segera meleoaskan hasrat yang sedang menyeruak di dalam tubuhnya.
"Apa yang terjadi padamu, pelan-pelan." Paris sedikit meringis karena gerakan Zigo yang terlalu kasar malam ini.
"Paris .... Aaaah, aku ...." Zigo mendesah, sungguh malam ini dia benar-benar ingin meledak karena ga*irah yang begitu memuncak. Hingga ia tidak sadar jika menggigit bahu Paris.
"Zigo!!"
Teriakan keras Paris membuat ia sedikit terkekeh, Zigo merubah gerakannya menjadi sedikit lembut. Tubuh Paris bergetar, saat gerakan kasar Zigo berubah menjadi lembut.
"Maaf, tapi aku benar-benar menginginkau malam ini Baby."
Erangan Paris dan Zigo terdengar terus menerus hingga malam gelap berubah menjadi pagi yang indah dengan burung-burung yang berkicau ramai di luar sana. Zigo mencium puncak kepala Paris memeluknya erat dan terlelap tanpa memperdulikan pagi yang sudah datang menyambut.
****
Menciumnya, lalu menghempaskannya lagi. Lalu meminta maaf dan memeluknya kembali. Semua yang terjadi semalam membuat Andrea benar-benar bingung. Kekasihnya seakan terkena racun, dia menjadi sangat manis. Terlalu manis hingga membuat Andrea merasa ingin muntah. Beruntung semalam Demetrio menahannya, jika tidak mungkin pagi ini, ramai-ramai di beritakan di mana-mana jika seorang pengusaha kaya Malvin Alexander kehilangan kekasihnya.
"Ambil air dan siram dia."
Demetrio dan Marisa kompak membulatkan mata. Namun tidak dengan Agrio, pria polos itu dengan cepat masuk ke kamar mandi lalu mengambil air dan memberikannya kepada Andrea.
"Apa yang kau lakukan, kenapa memberikan air ini padaku? Aku menyuruhmu untuk menyiramnya."
"Maaf Signora, tapi aku tidak berani." Pria itu menoleh pada Demetrio yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Baiklah! Kalau begitu kalian keluarlah. Biar aku sendiri yang membangunkannya dengan caraku."
Andrea memincingkan mata menatap tubuh kekar dengan tato elang di bagian dadanya itu tertidur dengan begitu lelap. Ada ******* panjang yang keluar dari mulutnya saat mengingat kembali kejadian semalam. Andrea tergelak, mengingat bagaimana Selana menggunakan cara kotor untuk menjebak Malvin. "Dasar pria bodoh! Kau terlalu polos untuk seorang penjahat, bahkan tidak menyadari jika orang terdekatmu bisa menyakitimu."
Andrea meninju dengan keras pada dada Malvin lalu menamparnya lagi. "Bangun kau! Bangun! Jangan pura-pura tidur seperti orang mati. Bangun!"