
"No, jangan bergerak," teriaknya saat Malvin hendak bangun.
"Sayang, tanganku yang terluka, bukan seluruh tubuhku."
"Kau pingsan tepat di depanku mataku Malvin, Jangan banyak bicara dan kembali berbaring. Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Demetrio juga akan menyalahkanku, dan aku benci pria itu. Dia selalu mengusik ku dengan tatapan dinginnya itu."
"Aku baik-baik Sayang, ini hanya luka kecil. Akan sembuh dengan sendirinya."
Andrea menggeleng keras. "Patuhlah, ini demi kebaikanmu dan keselamatanku."
"Baiklah." Malvin menyingkirkan sejumput rambut yang sedikit menutup wajah cantik kekasihnya. Membuat gadis bermata abu-abu itu beringsut mendekat. Malvin mengulas senyum bahagia, Andrea bahkan sama sekali tidak malu untuk mengecup bibirnya.
"Apa yang terjadi, kenapa kau bisa terluka?"
"Lupakan itu Andrea, kau harus menjelaskan kenapa kau keluar Mansion tanpa Agrio, dan apa yang terjadi hingga kau bisa bersama Zigo dan Paris."
Wanita berambut panjang itu membisu. Seribu pertanyaan kini muncul di benaknya, Zigo dan Paris, Bagaimana Malvin bisa mengenal mereka. Namun Andrea memilih diam dan menikmati usapan di punggungnya di banding harus bertanya dan membuat masalah lagi.
"Andrea! Aku sedang bertanya padamu, bagaimana sampai kau bisa bertemu dua orang itu."
Semua pertanyaan Malvin membuat Andrea semakin penasaran, tadinya berniat untuk diam kini dia malah ingin mengetahui itu semua. "Kau mengenal mereka?"
"Tentu saja, Zigo adalah sepupuku dan Paris adalah kekasihnya dia adalah teman kuliahku."
"What?" Mata Andrea hampir saja keluar mendengar Zigo adalah saudara dari kekasihnya. "Bagaimana bisa seperti ini, pria menyebalkan itu saudaramu?"
"Apa Zigo melakukan sesuatu padamu, dia menyentuhmu? Di mana di mana dia menyentuhmu, katakan!" Malvin menyapu seluruh tubuh Andrea menghapus jejak tangan Zigo yang mungkin menempel di sana. "Aku akan membunuhnya jika dia berani menyentuhmu!"
"No! Malvin." Andrea menahan tangan kekasihnya yang hendak beranjak pergi. "Dia tidak menyentuhku atau melakukan hal buruk padaku. Ada seorang pria yang memukul kepala ku saat hendak mencuri ponselku, Zigo menolongku saat aku terluka dan Paris yang merawatku." Andrea sedikit tersenyum saat mengingat bagaimana dia memukuli Zigo karena mengira pria itu adalah orang yang mencelaikainya.
"Kau tersenyum?"
"Aku hampir melukainya karena mengira dia orang yang menjahatiku."
"Dan aku hampir membunuhnya."
"Jadi tanganmu ini karena kau memukul Zigo? Oh God Malvin, apa yang kau lakukan, dia tidak bersalah." Teriakan Andrea membuat wajah Malvin memerah, karena marah.
"Kau membela pria bajingan itu!"
"What?" Wajah Malvin sedikit tidak suka mendengar Andrea memuji-muji pria tersebut. Dia menyapu kasar wajahnya karena tidak percaya kekasihnya membela pria yang baru dia kenal. "Jauhi dia Andrea dia bukan pria baik."
"Jika dia menolongku maka dia adalah pria yang baik."
"Dia tidak sebaik itu Andrea, kau belum mengenalnya. Aku tahu bagaimana sifat asli saudaraku."
Andrea terkekeh, dia mencium tangan Malvin yang berbalut perban dengan pelan dan lembut agar tidak terasa sakit.
"Apa yang kau lakukan?"
"Memberi sedikit obat penenang, ciumanku adalah obat terbaik."
"Apa aku boleh mencobanya di sini?" Malvin menunjuk pada bibirnya. "Mungkin, luka ku akan cepat sembuh jika ciuman itu ada di tempat semestinya."
Andrea mengubah posisi menjadi duduk di atas pangkuan kekasihnya, melingkarkan kedua tangannya pada leher kekasihnya. Manik abu-abunya menatap dalam pada manik hitam di depannya. Lalu dengan cepat dia mendaratkan ciumannya pada bibir kekasihnya yang sedikit basah membuat keduanya sejenak menikmatinya hingga Andrea tersentak saat tangan Malvin mulai mengelus menelusuri punggungnya. Wanita itu dengan segera melepas paksa ciumannya hingga membuat kekasihnya kebingungan.
"Ada apa?"
"Kita hanya akan berciuman Signore tidak selebihnya."
"Oh ****! Hari yang Si*al."
Andrea kembali tertawa, mengelus lembut pada wajah yang begitu membuatnya mendamba. "Maaf. Maaf karena hari ini aku membuatmu marah dan terluka seperti ini."
"Berbaringlah."
Andrea mengikuti ucapan Malvin dan berbaring di samping kekasihnya dengan posisi yang daling berhadapan.
"Apa kau marah karena aku mengunjungi makam Arsula?"
Wanita itu mengangguk.
"Mulai dari sekarang, kau harus menunggu penjelasan sebelum melakukan hal seperti ini lagi. Aku hampir gila saat Garilla dan Agrio mengatakan kau tidak ada. Aku bahkan hampir membunuh Agrio dan Zigo. Jangan melakukannya lagi."
"Aku janji, ini. yang terakhir."
Malvin mencium kening kekasihnya berulang kali, memeluknya dengan erat seakan tidak ingin menjauh. Sepertinya dia harus meminta maaf kepada Zigo dan Paris, kesalahpahaman membuat dia hampir membunuh saudaranya itu.