
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Terseralah kau mau bagaimana, yang terpenting di sini adalah kau harus membuat Marisa yakin padamu. Verona dan Puelba cukup jauh, tentu saja dia akan ragu padamu."
Sudut bibir Demetrio sedikit terangkat, ia bahkan tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar Marisa yakin padanya. Besok pagi mereka sudah harus kembali ke Verona karena banyak pekerjaan yang sedang menanti mereka di sana. Zigo juga terus menerus menelepon karena dia kewalahan melayani beberapa klien.
Sebelum keberangkatan Malvin memang menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga gudang senjata dan juga beberapa aset usaha yang harus tetap berjalan. Namun, karena cukup banyak permintaan dalam satu pembelian membuat pria predator itu kewalahan dan meminta Malvin dan Demetrio segera kembali.
"Baiklah, beri tahu aku apa cara terbaik agar seorang wanita luluh."
"Mungkin barang-barang mahal."
Demetrio menggeleng keras, yang dia lihat dari Marisa adalah gadis yang sederhana. Seperti yang di ceritakan gadis itu padanya, bahwa dia selalu bekerja kerasa jika ingin memiliki sesuatu. "Tidak! Marisa berbeda, dia tidak menyukai barang-barang mewah," ucapnya dengan nada rendah.
"Bunga!" Seru Malvin cepat. "Wanita menyukai bunga, aku selalu memberikan Andrea seikat bunga tulip. Dia akan memberikan ciuman manis untuk pemberianku itu,' ujarnya dengan mata berbinar.
Andrea memang wanita berbeda, dia selalu bahagia dengan hal-hal sederhana yang Malvin berikan. Wanita pujaannya itu selalu menolak jika di berikan sesuatu yang terlihat mewah, bahkan dia sangat marah saat Malvin memberi kejutan dengan mengisi semua isi lemarinya dengan pakaian baru.
"Dia akan mengira aku hanya menggodanya, wanita selalu sensitif dengan hal-hal semacam itu. Bunga?" Demetrio berdecak, bahkan aku pernah memberikan seikat bunga saat kau sedang merayu Andrea waktu itu, kau tahu apa yang dia katakan padaku?"
"Apa?" tanya Malvin
"Dasar laki-laki penggoda, apa kau merayu semua wanita dengan cara seperti ini. Pria memang begitu selalu manis jika ada maunya." Demetrio mendesah setelah memeragakan ucapan Marisa padanya.
Dan Malvin, ia tertawa terbahak-bahak saat Demetrio mengatakan itu, pria dingin itu bahkan menirukan suara Marisa dengan sangat baik. Setelah puas tertawa Malvin berhenti dan menatap Demetrio dengan serius.
"Sepertinya kau kurang romantis, aku yakin itu. Sikap kaku dan dinginmu mungkin membuat dia tidak nyaman."
Malvin terkekeh. "Tidak, bukan seperti itu. Sejauh ini kau hanya tahu, bekerja dan bekerja, tidak pernah memikirkan urusan cinta. Aku tahu sejak Paris bersama Zigo kau memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan wanita. Maka dari itu selalu dingin dan tidak berperasaan."
Demetrio membuang napas kasar. "Aku sudah terbiasa seperti itu, jika tiba-tiba aku merubahnya bukankah itu akan terlihat lucu."
"Aku tidak pernah melihat kau begitu bodoh hanya karena seorang gadis," ujar Malvin sinis. Dia sudah cukup lelah memberi saran kepada pria kaku ini.
"Sialan kau!" umpat Demetrio. Ia memperbaiki pakaiannya meregangkan otot-otot bahunya dan juga rahangnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Malvin mengerutkan dahinya.
"Bersiap untuk bertarung, kali ini aku harus bisa mendapatkannya," ujar Demetrio dengan sangat yakin.
"Baiklah. Jangan sampai aku mendengar kabar kalau kau patah hati lagi," ujar Malvin mengejek.
"Aku adalah Demetrio Ruis, tidak ada wanita yang bisa menolak pesona dan ketampananku."
"Tetapi Paris menolakmu."
"Sialan!" Demetrio menendang pelan kaki Malvin. "Itu karena saudaramu yang bermain curang, jika tidak, Paris sudah di sisiku dan aku tidak harus gugup menghadapi wanita seperti ini."
"Jangan lupa malam ini adalah kesempatan terakhirmu karena besok kita sudah harus kembali ke Italia," ujar Malvin mengingatkan.
"Ya, aku juga tahu." Demetrio mengibaskan jasnya dan mengenakannya dengan gerakan berputar, lalu melangkah pergi meninggalkan Malvin. Sementara Malvin hanya menatap punggung sahabatnya yang menghilang di balik pepohonan kecil. Pria bermata hitam itu tersenyum kecil, dalam hatinya mendoakan semoga urusan Demetrio sampai pada kesepakatan yang terbaik.