
Malam sudah semakin larut, Garilla gelisah dan takut jika dokter yang dia hubungi tidak datang. Matanya terus fokus pada luar jendela, memperhatikan apakah sinar mobil muncul di sana.
"Wanita bodoh! Seharusnya kau melawan mereka. Untuk apa kau diam dan membiarkan mereka melukaimu hingga seperti ini." Perempuan tua itu menyeka air matanya kasar, dengan segera dia mengambil tisu dan membersihkan bulir bening yang terus turun dari matanya. Dia tidak ingin Andrea melihat tangisannya.
Hidupnya sudah begitu hancur, Garilla tidak ingin membuat itu lebih hancur dengan melihat dia menangisinya. Terkadang dia sering berfikir, apa yang di lakukan wanita ini di masa lalu hingga dia harus menerima semua hukuman ini di masa depannya.
"Andrea .... Aku mohon bertahanlah."
Mata tua Garilla melihat bagaimana perempuan itu terlelap tanpa gerakan apapun. Dia memutuskan untuk keluar dan menghubungi dokter itu kembali. Mungkin saja cuaca di musim dingin ini sedikit membuatnya teralambat.
Malvin masuk ke kamar, saat Garilla keluar. Lemah dan kesakitan membuat dia seakan terbius. Di bawah alam bawa sadarnya Andrea meneriaki nama sahabatnya itu. "Garilla ...."
Tidak ada jawaban, Malvin hanya memberikan tangan untuk di genggam. Hal itu membuat Andrea tidak lagi memanggil. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia mencoba membuka kembali perban yang menutupi perut Andrea. Rasa penasaran membuat dia melepaskan balutan perban itu dengan sangat cepat. Namun, tetap hati-hati.
Selama beberapa menit manik hitam itu terus menatap luka Andrea, menggertak giginya dengan penuh kemarahan. Kecemburuan membuat kekasihnya hampir saja melenyapkan nyawa Andrea. Andrea mengerutkan kening saat tangan Malvin menyentuh lukanya. Malvin menyingkirkan sejumput rambut yang yang menempel pada luka di wajahnya akibat keringat. Perempuan itu tetap cantik meski dua goresan berada di atas wajahnya.
Malvin terus memperhatikan wajah Andrea, hingga suara pintu yang di paksa terbuka menghentikan fokusnya. Pria dengan manik hitam itu membiarkan lukanya tetap terbuka, dan beranjak membuka pintu yang terkunci.
"Apa dokternya sudah datang?"
"Sì, Signore." Pelayan itu segera memberi jalan agar dokter itu terlihat.
"Kabari aku jika sudah selesai."
"Sì."
Garilla semakin legah karena Malvin ternyata sangat peduli dengan keadaan Andrea. Padahal sebelumnya, dia sangat ketakutan saat melihat keadaan Andrea yang semakin tidak baik. Meski Garilla sedikit legah karena Malvin datang tidak lama setelah dia menghubunginya. Namun, pelayan wanita yang sudah cukup lama berada di Mansion itu sedikit kesal karena tingkah Malvin yang awalnya seperti tidak peduli. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Andrea, bisa-bisa perempuan itu meregang nyawa di hadapan wanita gila itu.
Dia juga berfikir untuk menjebak Sella agar wanita licik itu bisa di tendang keluar oleh Malvin. Namun, sepertinya akan sangat susah. Sella adalah pelayan setia Arsula, tentu saja dia akan melindunginya.
Garilla berdiri di tempat melihat bagaimana dokter itu melakukan tugasnya. Luka itu ternyata cukup dalam, dan itu hampir saja melukai organ yang lain. Andrea gemetar saat jarum-jarum itu mulai munusuk di tiap sisi tubuh Andrea, bahkan darah yang keluar cukup banyak dan lebih dari sebelumnya.
"Tetaplah bertahan Andrea, kau beruntung karena Signore begitu peduli denganmu."