
Andrea tiba-tiba mengangkat kepalanya saat sedang duduk santai bersama Malvin di taman bawah kamarnya. Wanita itu berfikir keras tentang perubahan Marisa dan Demetrio hari ini. "Apa kau melihat perubahan Demetrio dan Marisa? Mereka terlihat aneh." Ia mengerutkan bibir tipisnya, memainkannya ke kiri dan ke kanan.
Makna yang tidak jelas terlihat di mata Malvin. "Biarkan saja, untuk apa kau terus membahas mereka," ujarnya dengan ketus.
"Apa mungkin mereka sudah pacaran?Apa kau tidak menyadarinya, Marisa sudah tidak sejengkel itu pada Demetrio, dia bahkan menyiapkan makan siang yang jelas-jelas itu adalah makanan kesukaan Demetrio. Bukankah dia menyukai lasagna dan juga Arancini."
Malvin menatap Andrea dengan ekspresi yang bermacam-macam, ada kaget, penasaran. Namun, kesal juga. Mungkin penampilan ekspresi kesal tidak tepat dengan pembahasan mereka saat ini. Namun, tetap saja, melihat wanitanya memperhatikan pria lain sangat tidak enak bagi Malvin. Ia merasa seperti tersingkirkan secara halus.
"Saat aku berterimah kasih kepada Dayla, dia mengatakan jika Marisa memasaknya karena mendengar Demetrio tidak menyentuh sarapannya tadi pagi."
"Apa itu artinya ...?" Malvin tiba-tiba menatap Andrea dan bergumam dengan keras.
mmmmm.
Andrea Menyeringai. "Jadi mereka sudah saling jatuh cinta, ahahahhaha." Andrea tertawa geli, mengingat kedua orang itu selalu saja. bertengkar. "Ternyata tidak susah menyatukan dua manusia aneh itu. Kita tidak perlu bersusah payah untuk mendekatkan mereka," ujarnya tersenyum dengan bahagia.
Malvin berdecak dengan menaikan sudut bibirnya. "Kau terlihat sangat bahagia."
Andrea berbalik menatap kekasihnya. "Bukankah kau sendiri yang meminta ku untuk menjodohkan mereka, jika keadaan sudah seperti ini jelas aku sangat bahagia. Meski sebenarnya aku sedikit tidak rela jika Marisa bersama pria dingin itu."
Andrea terkekeh dengan tangan yang masih melingkar di leher kekasihnya, Andrea bergeliat di dalam gendongan Malvin meminta untuk segera di turunkan. "Malvin turunkan aku, bagaimana kalau ada orang yang melihat kita."
"Biarkan saja, kau adalah kekasihku calon istriku. Untuk apa malu-malu."
Andrea tertawa mengeratkan rangkulannya. "Haruskah kita jalan-jalan? Sayang sekali jika sudah berada di sini kita tidak berkeliling. Ada banyak tempat romantis di Puelba."
Malvin menghentikakan langkahnya lalu menatap kekasihnya dengan mengerutkan keningnya. "Jangan katakan kau berniat mengajak Demetrio dan Marisa."
Andrea terkekeh kembali, ia menegakkan kepalanya, menatap lekat wajah di depannya yang hanya berjarak beberapa senti saja. Andrea mengelus wajah Malvin dengan lembut, lalu mengangkat kepalanya berbisik di kuping Malvin dengan sensual. "Aku mengatakan tentang perjalanan romantis kita Sayang, bukan tentang orang lain."
Malvin tersipu malu, tepat setelah keduanya berada di depan pintu, Malvin dengan cepat membuka pintu dan melangkah panjang menuju ranjang. Malvin menempatkan Andrea dengan hati-hati di atas ranjang, lalu mendekat kemudian memberikan ciuman yang cukup lama di bibir Andrea. Cukup lama hingga membuat perempuan bermanik abu-abu itu mulai terlena dan saling memeluk, bercumbu menyalurkan perasaan cinta yang kian semakin panas dan membara sampai akhirnya suara ketukan pintu menghentikan keduanya.
Malvin mengumpat pelan. "Oh God! Kenapa mereka datang di waktu seperti ini."
Malvin beranjak dari atas Andrea, dan turun dari pembaringan. Ia memberikan sedikit waktu untuk wanitanya merapikan diri baru kemudian ia membuka pintu. Keningnya berkerut tepat setelah ia membukakan pintu. "Sedang apa kau di sini?"