
Marisa menarik Demetrio untuk keluar dari dalam Bar, karena jika ia tidak melakukannya maka pria itu akan mati di tempat karena pukulannya. Mata Marisa memerah, dengan bibir bergetar ia berkata. "Ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba kau memukulnya?"
"Dia pantas mendapatkannya."
"Ini urusanku, jangan ikut campur."
Demetrio mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku menolongmu Marisa, seharusnya kau berterima kasih untuk ku."
Wanita itu tertawa hambar. "Aku tidak memintanya, kau membuat masalah menjadi semakin rumit, apa kau tahu siapa dia? Hampir seluru galeri di Puelba adalah miliknya. Bagaimana jika lukisanku di buang dari sana?"
Demetrio berdecak. "Jadi kau menyukai jika ada pria yang seenaknya seperti itu padamu? Kau membiarkannya demi lukisanmu?"
"Ya!" jawab Marisa tegas.
Pria bermata cokelat itu menyeringai. "Ku pikir kau adalah wanita moderen yang memegang teguh harga diri, ternyata aku salah. Kenapa kau tidak menjual dirimu saja."
Plak
Satu tamparan keras Marisa layangkan untuk Demetrio. "Kau pikir aku menyukai semua ini? Tidak!" pekik Marisa yang mulai terisak. "Lukisan-lukisan itu adalah hidupku, aku bukan hanya melukis kerena aku menyukainya. Tetapi ada hidup orang lain di dalamnya. Aku harus membiayai Lexi, hidup kami bergantung di lukisan itu Demetrio. Keluarga kami adalah keluarga biasa, tidak seperti kalian yang selalu bergelimang harta. Dari pada harus menjual diriku lebih baik aku menjual lukisan itu."
Demetrio seperti menelan duri, tenggorokannya seakan terkunci hingga ia tidak mampu untuk bersuara. Bibir Demetrio terkatup, ia menatap dalam dalam manik di depannya mencari kebenaran dari ucapan wanita itu.
"Ibuku adalah seorang penjaga panti asuhan, aku selalu makan dari belas kasihan orang, bertahun-tahun aku menjalani hidup di panti asuhan. Dan Lexi, aku tidak ingin dia mengalami hal seperti yang aku alami. Sejak dia lahir Ayahku meninggalkan ibuku, ia pergi dengan wanita lain dan menelantarkan kami. Baru setelah dia bertemu kembali dengan Andrea dan ayahnya kehidupan kami menjadi lebih baik. Namun, tidak mungkin bagiku dan Lexi terus bergantung kepada Ayah Lazaro, aku tidak ingin rumah tangga Ibuku hancur kembali karena kedatangan kami, untuk itu aku memilih membawa Lexi bersamaku."
Demetrio menelan ludahnya, entah benar atau tidak apa yang di katakan Marisa. Namun, melihat air mata Marisa membuat dia menyesal karena telah mengatakan tentang hal menyakitkan itu padanya. Sungguh, dia benar-benar menyesal.
"Maaf ...."
"Tidak apa-apa Demetrio. Pelukis jalanan yang miskin seperti ku memang selalu mendapatkan penghinaan seprti ini."
Seakan tertusuk oleh beltih tajam, Marisa menangis terisak hingga kedua lututnya tidak mampu monapang kakinya, ia tersungkur ke lantai dengan air mata yang terus berderai. Ini adalah tuduhan paling kejam yang ia terima sepanjang hidupnya. Dan parahnya, ini di ucapkan oleh pria yang sempat membuat hatinya bergetar karena sempat mengira kalau dia menyukai pria itu.
"Marisa, maaf jika kata-kataku tadi menyakitimu. Aku ti--"
"Pergilah!" potong Marisa dengan cepat. "Kita tidak sedekat itu untuk membahas tentang hal yang begitu pribadi" Marisa melangkah pergi meninggalkan Demetrio setelah mengatakan itu.
"Mulai sekarang aku tidak akan mengijinkan pria manapun menyentuhmu."
Marisa terhentak kaget hingga menghentikkan langkahnya, ia berbalik dengan cepat menatap lurus ke arah Demetrio. "Apa kau bilang?"
Demetrio menghela napasnya. "Jadilah kekasihku."