Endless

Endless
Chapter 115



"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengerjainya, jauhi dia, apapun yang dia katakan jangan pedulikan. Aku tidak ingin hubungan kita rusak hanya karena kelakuan gilanya itu," ujarnya pada wanita yang sedang sibuk mengganti pakaiannya di balik walk in closed.


Andrea mendekat, mengecup pada bibir kekasihnya. "Aku tahu."


"Baiklah." Malvin meraih tubuh Andrea hingga berada di atas pangkuannya. Dengan tatapan yang begitu lembut pria bermata hitam itu mulai berkata. "Kalau begitu bisa kau jawab pertanyaanku sekarang Nona Andrea Pricillia."


Andrea menengadah, dia mengeratkan tangannya yang melingkar pada di leher kekasihnya dan menatap dengan raut wajah tidak mengerti. "Sayang, pertanyaan mana yang kau maksud?"


Malvin meraih ponsel dan menyalakan layarnya, di sana menampilkan bagaimana seorang wanita tengah bersandar dengan gaya yang sangat sensual. Andrea membulatkan mata, melepas rangkulannya dan beringsut dari pangkuan kekasihnya. "Oh astaga! Apa Agrio mengirimkan foto ini padamu?"


"Agrio?"


"Ya! Dia yang memotretnya."


"What?" Malvin menelan ludah kasar "Ke bar mana kalian pergi? Kenapa Agrio tidak memberitahuku? Aku bahkan tidak mendapat informasih apa-apa dari para penjaga bar."


Andrea menangkup wajah kekasihnya. Namun, pria itu menololaknya karena rasa yang sedang bergemuruh di dadanya. "Tentu saja tidak Sayang. Untuk apa mereka memberi tahumu, kita bahkan tidak kemana-mana."


"Apa mkasudmu tidak kemana-mana, foto ini jelas menampilkan jika kau berada di bar." Malvin kembali memperlihatkan foto itu. "Lihat, bahkan di tanganmu ada segelas minuman."


"Perhatikan baik-baik, apa kau tidak mengenal tempat ini, kau bahkan tiap hari bahkan menit selalu berada di situ."


Malvin meraih kembali ponselnya yang di pegang oleh Andrea, memperhatikan dengan seksama sesuai yang di katakan andrea. Fokus matanya kembali normal tatkala latar di foto terlihat tidak asing.


"Ini bar yang ada di Mansion Sayang, mana mungkin aku berani melanggar perintahmu. Dan minuman itu, aku tidak meminumnya, aku hanya menggunakannya untuk bergaya agar bisa membuat mu marah."


Malvin sedikit berdehem untuk menetralkan rasa malunya. "Jadi kau merencanakan semua ini untuk membuatku marah?"


Andrea terkekeh pelan lalu mengangguk dengan tersenyum. "Maafkan aku."


Andrea meraih kedua tangan kekasihnya, dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Aku benar-benar minta maaf Sayang. Demi Tuhan aku tidak bermaksud membuatmu seperti itu."


"Aku hampir menutup semua bar milik ku karena mu Andrea, jika saja ada yang mengirimkan pesan jika mereka melihatmu di sana dengan penampilan seperti di foto ini, maka demi Tuhan aku akan membunuhnya."


"Aku minta maaf." Suara wanita itu merendah mengikuti tundukan kepalanya.


Melihat kekasihnya seperti itu, Malvin menghembuskan napas panjang. "Aku tidak ingin melihatmu berpenampilan seperti itu lagi bahkan dengan gaya seperti itu. Kau hanya boleh berpenampilan seperti itu dan melakukan-nya hanya di depanku, tidak untuk menjadi komsumsi publik. Kau mengerti," ucapnya dengan penuh penekanan.


"Aku mengerti."


Malvin mengulurkan tangan agar kekasihnya mendekat. Andrea menyambutnya dengan wajah memelas. "Aku benar-benar minta maaf."


"Kau harus menerima hukuman karena itu."


Andrea memeluk kekasihnya dengan hati-hati. "Oh yah!"


"Hmmm."


"Apa hukumannya berat?"


"Sangat berat."


Dengan gerakan cepat Malvin menjatuhkan tubuh kekasihnya, dan ia menindih dari atas hingga tatapan keduanya saling beradu. "Ku rasa kita harus memulai hukumanmu sekarang."


"Oh tidak malvin, ini masih terlalu pagi."