Endless

Endless
Chapter 188



"Dimana mereka?


"Di ruang kerja Malvin."


"Aku pikir mereka akan mendatangi bar lagi."


Marisa terkekeh. "Kekasihmu itu sangat menggemaskan, sekalipun dia adalah seorang Mafia, tapi dia sangat lucu saat berhadapan dengan cintanya. Kalian berdua sangat cocok."


"Lelakili seperti mereka harus di lumpuhkan, jika tidak kita akan terus menjadi korban. Kau juga harus hati-hati dengan Demetrio Marisa, mereka ada komplotan, kau mengerti maksudku bukan."


"Ya ... ya ... ya. Aku mengerti Nona Mafia." Marisa memberi tepukkan halus ala-ala wanita sosialita kepada Saudaranya. "Apa hari ini kita jadi ke dokter kandungan? Aku sudah terlanjur membatalkan makan siang romantisku bersama Demetrio."


"Si, aku akan Mengatakannya kepada Malvin lalu kita akan berangkat."


"Baiklah."


Andrea keluar dari kamar dan bergegas menemui Malvin. Saat hendak menuruni tangga, sosok pria yang ia cari keluar dari ruang kerjanya.


"Hei kau!"


Malvin menoleh pada suara yang memanggilnya. Tidak percaya jika Andrea memanggilnya seperti itu, ia berbalik melihat apakah mungkin ada orang lain di sekitarnya.


"Aku memanggilmu, kenapa kau malah berbalik mencari lagi."


"Aku?" Malvin menunjuk dirinya sendiri. "Tapi baru saja kau memanggilku seperti memanggil Agrio Sayang. Aku pikir ...."


Andrea berdecak kesal. Wanita bermata abu-abu itu menaikkan sedikit sudut bibirnya. "Dia selalu pura-pura," gumam Andrea pelan.


Dan Malvin baru menyadari setelah melihatnya raut lain dari tatapan Andrea. Dengan senyum tipis di bibirnya, pria dengan postur tubuh tinggi itu melangkah pelan mendekat pada kekasihnya yang berdiri tepat di bawah tangga. "Baiklah aku salah, aku minta maaf. Sekarang. Apa kekasih ku yang cantik ini membutuhkan bantuanku?" Malvin mencubit hidung Andrea dengan begitu romantis.


"Aku membencimu."


"Aku tahu, dan aku juga mencintaimu."


Andrea mengerutkan kening. "Aku mangatakan jika membencimu, kenapa kau malah menjawab seakan-akan aku mengatakan aku mencintaimu."


"Yes that's right honey. itu adalah kata yang pas. Aku juga sangat mencintaimu."


"Oh God! Kau ...!"


"Berhenti memarahiku, kau tidak cocok marah-marah," ujar Malvin memotong ucapan Andrea. Tanpa merasa canggung Ia meraih pinggul kekasihnya dan memeluknya dengan erat.


"Jangan memeluk ku di sini, orang akan melihat kita," Sungut Andrea mencoba meronta dari pelukan kekasihnya.


"Hentikan!"


Bukannya berhenti, Malvin malah mengecup bibir Andrea, pria bertato elang itu melakukannya berkali-kali tanpa memperdulikan rasa canggung kekasihnya karena banyak pelayan yang sedang melihat ke arah mereka.


"Maafkan aku. Aku janji akan lebih hati-hati lagi," ujar Malvin dengan nada penuh kelembutan. "Dan Soal Selena, bisakah kau membiarkannya dulu? Aku masih membutuhkannya. Jika semua urusanku dengannya sudah selesai, kau bisa melakukannya dan aku tidak akan menahanmu lagi."


"Dasar pria lemah."


"Sudahlah, kau terus saja marah-marah, bayi kita akan ketakutan di dalam saja karena ibunya terus mengeluarkan kata-kata aneh."


Andrea mendengus. "Aku akan ke dokter kandungan hari ini dengan Marisa. Boleh kan."


Malvin melepaskan pelukannya. "Tentu saja boleh, Demetrio akan menemani kalian."


"No! Aku hanya ingin pergi bersama Marisa, dia akan menjagaku," ujar Andrea mendongak menatap wajah kekasihnya. Postur tubuh Malvin sedikit tinggi, jadi wanita itu harus sedikit mengangkat wajahnya ketika berbicara.


Malvin menggeleng. "Tidak, Demetrio harus ikut."


Andrea membuang napas kasar. "Kenapa dia harus ikut, mereka akan bermesraan dan melupakan aku. Jadi biarkan saja mereka sedikit berpisah."


"Tidak Sayang, apapun alasanmu Demetrio harus ikut," ujar Malvin dengan wajah penuh pengertian. Dia tidak ingin wanitanya merssa sedang di kekang atau di awasi. Untuk itu dia menyuruh Demetrio agar tidak terlalu tampak bagi Andrea, jika Malvin sedang menempatkan mata untuk melindungi dia dan calon anaknya.


"Sayang ayolah, aku baik-baik saja. Memangnya siapa yang berani mengganggu kekasih seorang Malvin. Aku yakin tidak akan ada yang berani melakukannya."


"Jangan membantah."


"Tidak!"


"Andrea!"


Mata abu-abu Andrea membulat, suara teriakan pria di depannya cukup keras, bahkan sangat keras hingga membuat dia sedikit gemetar.


Melihat Andrea yang sedikit ketakutan, Malvin sedikit menyesal, tidak seharusnya dia berteriak seperti itu pada Andrea. "Sayang, maafkan aku, aku hanya ingin memastikan jika kalian aman."


"Kita tidak sedang dalam masa peperangan, untuk apa kau begitu khawatir hingga meneriaku seperti itu. Bukankah aku selalu aman, bahkan tanpa Marisa dan Demetrio pun aku selalu baik-baik saja."


"Tidak dengan kali ini. Aku tidak ingin Daniel manyakitmu ataupun anak kita. Mengertilah kecemasanku, aku mohon."


"Apa maksudmu? Kenapa Daniel harus menyakitiku?"