
Suara bising wanita menggema memenuhi seluruh mansion bukanlah hal yang aneh lagi. Pasti dia adalah Arsula, wanita yang selalu datang dengan banyak gaya. Malam ini Arsula datang dengan menampilkan yang luar biasa. Dengan dada yang bergoyang karena pakaian yang ketat wanita itu mendekat dengan merentangkan tangan.
"Baby, aku sangat merindukanmu."
Pria itu menahan tawa dengan penampilan kekasihnya. "Ada apa dengan penampilanmu?" ucapnya terus menikmati makan malamnya.
"Aku ingin kita menikmati malam indah ini Baby."
Malvin menatap datar, rasa jengkel masih menyelimuti pria itu, mengingat wanita di depannya seperti melupakan kesalahannya. Malvin berhenti mengunya, membereskan sisa makanan pada mulutnya tidak peduli dengan wanita di hadapannya membuat wanita itu menyentuh dada kekar Malvin secara sensual hingga pria yang sedang minum itu tersedak.
"Menjauh dariku!"
"Baby! Apa kau masih marah padaku?"
"Arsula aku mohon, jangan merengek seperti anak kecil di depanku. Pergila, aku sedang tidak ingin di ganggu olehmu."
"Aku sudah meminta maaf Malvin, jangan seperti mengabaikanku. Kita juga sudah cukup lama bersama Malvin, kau tahu bagaimana aku."
"Yah, kita sudah lama bersama. Namun, kau masih saja mencari kenikmatan di luar sana."
"A--Aku ...."
"Pergilah! Jangan menggangguku."
"Malvin!" Arsula tidak mundur mendengar penolakan kekasihnya. Dia mendekat dan mendesakan tubuhnya. Namun, sama sekali tidak di hiraukan oleh pemilik manik hitam itu.
"Hentikan Arsula! Aku tidak ingin melakukan apapun denganmu."
"Kita lihat saja nanti," ucapnya terus melakukan hal serupa, membuat Malvin semakin tidak nyaman.
"Jangan terus mengabaikan peringatanku, atau aku akan mengakhiri hubungan yang tidak berharga ini."
Arsula biasa mendapatkan penolakan. Namun, kali ini sepertinya berbeda. Ada sesuatu selain dari perselingkuhannya yang membuat Malvin meradang.
"Dimana Andrea."
"Dia sedang membersihkan lantai atas, Demetrio menugaskannya untuk membereskan ruangan kerja."
Tanpa menunggu lama Arsula bergegas menuju ruang di mana biasanya Malvin akan menghabiskan waktunya. Matanya di penuhi amarah. Apalagi saat melihat Andrea yang sedang membaca buku dengan tersenyum, amarahnya semakin tidak tertahan. Dia melangkah dengan cepat dan menampar wanita itu dengan keras.
"Aaakh."
Andrea yang sedang membereskan buku menjerit merasakan sakit. "Signora, ada apa? Kenapa kau menamparku. Bukankah Tuan sudah melarangmu untuk menyakiti pelayan yang sedang bertugas."
Perempuan itu balik menatap dengan begitu tajam. "Beraninya kau mengatakan hal seperti itu, aku majikanmu!"
"Mimpimu terlalu tinggi Nona Arsula, Signore tidak akan pernah menjadikanmu Signora di rumah ini bahkan di hatinya."
"Apa maksudmu?"
"Jangan pikir, Signore Malvin tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangnya."
"Beraninya kau menuduhku seperti itu, aku akan melaporkanmu kepada Malvin, agar kau di hukum lagi."
"Bisakah anda melakukannya?" Tanpa rasa takut, ancaman itu tidak membuat Andrea bergeming, dia menjawab dengan sangat tenang. "Berusahalah menyembunyikan keburukanmu sebelum melaporkan ku kepada Signore," ucap Andrea sebelum melangkah pergi.
Arsula menatap kepergian wanita dengan bingung. "Apa yang dia maksud dengan menyembunyikan keburukan?" Dia tampak berfikir sejenak. "Oh tidak, apa Malvin tahu tentang diriku yang sebenarnya? Tidak ... tidak ... dia tidak boleh tahu apa yang aku lakukan."
Sella segera mendekat. "Duduklah Signora," ucapnya membawa wanita itu untuk meredahkan amarah.
"Apa yang di berikan Malvin kepada wanita itu sampai dia berani menentangku. Dia semakin membuat hubunganku dengan Malvin jadi tidak baik." Arsula menggerutu dengan menggenggam tasnya erat. "Apa yang Malvin tahu tentang diriku?"
"Aku akan membantu mu untuk mencari tahu Signora."
Arsula mengangguk setuju. "Tetap awasi wanita sialan itu agar tidak mendekati Malvin. Aku harus membuat Malvin semakin membencinya."