
"Zigo!! Turunkan aku?" pekik Andrea saat pria gila itu menggendongnya keluar dari kamar.
"Kau harus menemaniku sarapan An, kekasihmu itu, dia sungguh picik. Apa dia mengurungmu dan melarangmu untuk keluar sampai dia kembali?"
Zigo menatap wajah Andrea dengan intes, membuat wanita bermata abu-abu itu harus membuang muka karena tidak suka. "Turunkan aku sekarang juga!"
"Oke." Zigo mendudukan Andrea pada kursi di sampingnya. "Temani aku sarapan, setelah itu aku akan mengajakmu berkeliling kota Verona. Bahkan jika kau menginginkan kita ke Italia, maka kau akan mendapatkannya. Dan semua ini gratis hanya untukmu."
"Kau punya kekasih yang cantik, lalu untuk apa kau mengajak wanita lain untuk menemanimu sarapan? Dan ini sudah siang Zigo, kita seharusnya menyantap makan siang bukan sarapan."
Zzzztt zzzttt .... Suara gentaran ponsel, Andrea menerima sebuah pesan. Matanya hampir keluar saat dia membaca isi dari pesan itu. Saat Zigo berbalik padanya dia cepat-cepat mematikan layar ponselnya.
Zigo mendesah. " Dia sibuk, dan selalu tidak bisa menemaniku sarapan karena setiap pagi, entah dari mana pasien-pasien itu, mereka tidak habis berdatangan. Untuk itu, aku selalu terlambat untuk sarapan," ujarnya dengan wajah sedih. Sedetik setelahnya dia merubahnya menjadi senyuman licik.
"Tetapi sekarang sepertinya tidak lagi, aku sudah menemukan penggantinya, di temani wanita secantik dirimu saat sarapan, itu akan menambah selerah makanku," ujarnya menyapu lembut pada jemari Andrea.
"Aaaa ...."
Garpu itu tertancap sempurnah di sela-sela jari tangan Zigo. "Singkirkan tanganmu sebelum jari-jarimu ini aku santap menggantikan sarapanku."
"Oh sh*it! Kau lebih kejam dari pada kekasihmu itu."
"Dimana Agrio, kenapa dia membiarkan orang gila ini masuk."
Kening Zigo berkerut. "O--orang gila? Kau menyebutku orang gila Nona An."
"Namaku Andrea, bukan An," ucapnya dengan sangat tegas. Andrea menoleh pada Garilla. "Dimana Malvin, apa dia belum kembali?"
Andrea berdecak kesal. "Dia menyuruhku untuk tetap tiggal dan menemani saudaranya?" Seketika wanita itu tertawa, dia mengibaskan ujung rambutanya lalu mendekatkan wajah dengan satu tangan menompang dagu. "Apa kau ingin sedikit." Andrea mencontohkannya dengan dua jari yang saling mengapit "Bermain-main denganku Tuan Zigo."
"Huh?" Zigo membulatkan mata, tatapannya sungguh lucu karena sedikit bingung. "Bukankah seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu Nona An."
Andrea menggeleng dengan sensual, matanya sedikit di buat tertutup dengan bibir yang tersenyum tipis. (Aku yakin kalian bisa membayangkannya wkwkwkwk)
"Di sini, adalah tempat di mana wanita yang berkuasa. Kau akan menjadi satu-satunya pria yang beruntung karena menerima pelayanan langsung dari kekasih sang pemilik Mansion." Andrea berdiri serentak membungkuk dengan anggun. "Aku siap melayani mu Tuan Zigo, berikan perintahmu padaku."
Zigo tidak menjawab, dia menatap Andrea tanpa berkedip, bahkan matanya naik turun berulang kali untuk memastikan jika dia adalah Andrea, wanita yang katanya selalu bertingkah polos itu berubah menjadi wanita yang menakutkan. Dan Zigo tidak menyukai wanita yang agresif seperti yang sedang Andrea perankan.
"Apa kau benar-benar Andrea?"
"Tentu saja Tuan Zigo, kenapa? apa aku terliahat begitu .... Seksi?" Andrea mengedipkan 1 matanya, dan itu terlihat sangat menggoda. Jika Malvin melihatnya, dia pasti akan langsung membunuh Zigo.
Zigo bergidik saat ujung jari Andrea menelusuri bagian dadanya. "Maaf." Zigo berdiri dengan tegap. "Sepertinya Paris sudah selesai dengan pasiennya. Aku akan menemuinya karena malam ini kita akan berkencan." Zigo tampak panik, dia bergegas pergi dengan raut wajah aneh.
Sungguh ini di luar dugaannya, seharusnya yang melakoni semua adegan itu adalah dia. Namun, kenapa malah Andrea, dia seperti melihat dirinya sendiri ketika Andrea beraksi. Begitu agresif dengan tingkah-tingkah dan lekuk tubuh yang membuat Zigo harus menelan ludah berkali-kali.
"Hei! Secepat itu? Kita bahkan belum memulai adegan apapun."
"Oh God!" Zigo menggeleng dan segera menjauh. "Aku akan kembali laim waktu saat Malvin ada. Sampai bertemu lagi Nona Andrea." Dan sosok itu pun menghilang, secepat Angin. Zigo seperti orang kesurupuan.
"Dia sangat berbeda dari yang di ceritakan pelayan sialan itu." Zigo mengupat keras di dalam hati.
Dia tidak mungkin di lecehkan oleh seorang wanita seperti tadi. Dan itu tidak pernah terjadi di dalam hidupnya. Dia seakan tidak ada harga di mata wanita bermata abu-abu itu. Rayuan dan gombalannya hilang sektika. "Si*al! Aku tidak bisa bermain dengan wanita yang agresif seperti itu." Zigo merinding, dia benar-benar kapok dan berjanji untuk tidak lagi mengganggu wanita itu.