
"Sudah ku katakan jangan pernah melewati gajebo itu."
"Maaf," ucapnya menunduk.
"Apa yang membawaku kemari?"
"Aku hanya sedang berjalan-jalan karena penat lalu, mendengar suara-suara aneh dari sana."
Malvin menghirup udara dalam-dalam, agar tidak canggung. "Di belakang sana ada hutan Andrea, jelas saja suara aneh itu ada karena banyak hewan buas di sana."
"Tidak itu bukan suara hewan, tapi --"
"Apa kau ingin jalan-jalan bersamaku?" tawar Malvin memotong ucapan wanita di hadapannya dengan cepat.
"Tidak! Tidak perlu Signore, aku bisa berjalan-jalan sendiri setelah melihat ada apa di sana." Entah angin apa yang membuat gadis berusia 22 tahun itu lebih berani melawan majikannya
"Andrea!" Malvin menahan lengannya. "Tidak ada apapun di sana." Raut wajah penuh tanya Andrea membuat Malvin melanjutkan. "Di sini terlalu gelap, apa kau tidak takut jika hewan buas tiba-tiba muncul di hadapanmu?"
"Bukankah, katamu ini taman buatan? Lalu kenapa ada hewan buas yang berkeliaran di sini," tanya Andrea sambil menatap Malvin.
"Apapun bisa masuk kapan saja Andrea."
Andrea seketika melihat sekitar, cukup gelap. Yakin bahwa yang di katakan Malvin itu benar, Andrea akhirnya mengalah. Dia kembali masuk ke dalam Mansion meskipun dia sangat penasaran akan suara aneh itu.
Sementara itu, Demetrio memperhatikan Malvin dari balik semak-semak yang tinggi, pria itu menghindari bertemu dengan Andrea. Demetrio melangkahkan kaki keluar saat memastikan wanita yang sedang di gilai oleh majikannya itu sudah menjauh.
"Hampir saja."
"Kau harus lebih menertibkan para pelayan untuk tidak melewati taman dan masuk ke tempat terlarang ini Signore."
"Lebih cepat lebih baik."
Detik berikutnya, saat Andrea hendak menutup pintu, hatinya merasa ragu. Dia membalikkan badan hendak kembali ke kamarnya. Namun, saat beberapa langkah, matanya menangkap jejak kaki dengan tanah yang basah.
Seingatnya, tidak ada siapa pun yang masuk dan keluar di Mansion pada jam seperti ini, apalagi pijakan kaki ini terdapat tanah. Andrea menyimpan rasa penasarannya dan segera keluar Mansion berlari menuju taman. Dia yakin, sesuatu pasti terjadi di sana.
Di waktu yang bersamaan saat wanita bermata abu-abu itu hampir mencapai tembok yang membatasi tiba-tiba terdengar suara dari engsel pintu yang berkarat. Andrea bingung suara pintu mana itu, setahunya tidak ada pintu di sekitar taman. Saat matanya sedang sibuk mencari, seorang wanita muncul dengan di dekap oleh dua pria yang wajahnya sangat asing untuk Andrea. Perempuan berambut panjang itu membelalakkan mata tidak percaya.
"Arsula?" Andrea menutup mulut dengan kedua tangannya saat melihat wanita berambut perak itu di bawah dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Apa yang mereka lakukan padanya, kenapa --- uhmmmmp."
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah baru saja Signore menyuruhmu kembali ke Mansion."
Wanita itu memukul pada jemari kekar Demetrio yang mendekap mulutnya untuk di lepaskan. "huh ...." Andrea mengatur napasnya yang hampir saja terhenti karena kaget saat tangan Demetrio menyekap mulutnya.
"Apa yang kalian lakukan padanya, kenapa kedua tangan dan kaki Nona Arsula di ikat? Dan ...." Andrea sedikit menjedah kalimatnya. "Apa Signore Malvin tahu jika kekasihnya di sekap oleh kedua orang itu? Tetapi bukankah ini masih masuk dalam area kekuasaannya?" Andrea berfikir sejenak, ini sungguh membingungkan untuknya.
"Demetrio, kenapa kau diam saja. Apa untuk ini kah Signore berada di sini tadi?"
"Jika kau ingin tahu apa yang terjadi, diam dan nikmatilah pertunjukannya."
"Apa maksudmu? Pertunjukan apa?"
"Oh s-hit!! Diamlah Andrea! Kau terlalu banyak bertanya."