Endless

Endless
Chapter 142



Jangan lupa like dan Votenya yah. ✌




Marisa melebarkan matanya saat seorang pria berwajah datar meraih pergelangan tangannya dan membawanya keluar dari Mansion keluarga Lazaro. Demetrio menarik paksa wanita pelukis itu karena merasa sangat tidak nyaman. Sedari tadi Marisa terus memperhatikannya Marisa, membuat dia salah tingkah dan meresa seperti seorang penjahat yang sedang di awasi.


"Apa yang kau lakukan Tuan Ruiz!" Marisa berusaha melepaskan tangan yang di cekal Demetrio. Namun, genggamannya terlalu kuat hingga membuat dia kesulitan untuk melepaskan diri. Hingga keduanya berada di taman barulah pria itu melepaskannya.


"Kau sangat tidak sopan."


"Aku?" Demetrio tertawa hambar. "Bukankah kau yang sedari tadi terus menatapku? Itu yang di katakan dengan sangat tidak sopan Nona Pelukis."


"Owh." Marisa melipat kedua tangannya di dada. "Jadi kau sudah tahu kalau aku adalah seorang pelukis." Wanita itu mendekatakan tatapannya. "Apa kau penggemar rahasia ku?"


Demetrio terbatuk seketika. "Pe--penggemar rahasia? Hahahaha." Demetrio tertawa dengan keras. "Hei Nona! Apa kau kurang sehat? Untuk apa aku menjadi wanita tidak waras sepertiu. Kau terus saja menatapku saat makan malam tadi, bahkan kau mengatakan aku pria es, dan sekarang, apa tadi? Penggemar rahasia?"


Sejujurnya Demetrio hanya asal bicara saja, dia bahkan bingung kenapa dia harus bicara panjang lebar dengan wanita di hadapnya ini. Padahal biasanya dia akan cuek dan tidak peduli dengan wanita-wanita yang selalu mengusiknya. Hanya saja Demetrio baru pertama kali bertemu dengan wanita se aneh Marisa. "Pria berwajah es, yang benar saja. Ini yang di sebut dengan pria berkelas dan berwibawa. Tatapan dingin dan datar. Apa dia tidak tahu," gumam Demetrio di dalam hati.


Mendengar itu Marisa langsung terdiam kaku dengan segala kebingungannya. Demetrio benar, kenapa dia harus menatapnya dan mengatakan pria di depannya seperti itu tadi. Mereka bahkan baru bertemu untuk yang pertama kali. Lalu apa urusannya mengusik pria dingin ini.


"What?" Marisa memekik sambil menjarakkan tubuhnya. "Dasar pria tidak wa--"


Mata Marisa terbelalak saat bibir pria berwajah es itu menyentuh bibirnya. "Oh God! Apa yang kau lakukan!" Marisa menatap Demetrio dengan sangat tajam.


"Hei! Tenanglah Nona, bukankah itu yang kau inginkan?"


"What! Are you crazy?"


"Setiap wanita yang mendekatiku selalu menginginkan itu, biasanya aku tidak langsung memberikannya seperti ini karena wanita-wanita itu akan memohon kepadaku. Tetapi, karena kau adalah saudaranya Andrea, maka aku berikan dengan cepat sebelum kau memohon."


"Oh, my God!" Marisa terperangah, tiba-tiba dia seperti orang bodoh yang sulit untuk mencerna apa yang sedang di katakan pria di hadapnya. "Kau sudah tidak waras! Benar-benar tidak waras!" Marisa menendang kaki Demetrio dengan keras hingga pria itu memekik kesakitan. "Menjauh dariku, dasar pria gila!"


Demetrio membungkuk mengelus kaki yang di tendamg oleh Marisa. "Apa dia terbuat dari besi. Tendangannya sangat Arrrgh." Pria dengan setelan jas navi itu kembali meringis kesakitan. "Aku tidak boleh jatuh cinta dengan wanita seperti dia, bisa-bisa seluruh tubuhku hancur karena pukulannya." Ia Mendesah, mencari tempat duduk agar bisa bersandar.


Sedangkan itu, Marisa yang sudah berada di kamarnya terus mengumpat tiada henti. "Hari apa ini, kenapa bisa bertemu dengan pria mesum seperti dia. Laki-laki kurang ajar! Seenaknya saja kau menciumku." Marisa mengumpat sejadi-jadinya hingga suara ketukan di pintu menghentikannya.


"Siapa?"