Endless

Endless
Chapter 180



"Ku dengar kalian membawa seorang wanita saat berada di bar kemarin. Siapa dia?" tanya Andrea. Akhirnya ia menyuarakan apa yang menjadi kekhawatirannya.


Saat 3 tiga pria itu berbincang, tidak sengaja ia mendengar nama seorang wanita. Karena, penasaran dia bertanya kepada Agrio, pria polos itu mengatakan jika benar ada seorang wanita yang membantu mereka dalam bisnis kali ini. Namun, Agrio enggan mengatakan yang sebenarnya. Akhirnya dia harus memaksa Garilla untuk mencari tahu siapa wanita itu. Ancaman Garilla pada Agrio tidak main-main sehingga ia terpaksa mengatakan jika nama wanita itu adalah Selena. Dab beruntungnya, Garilla ternyata kenal dengan wanita yang bernama Selena itu.


Zigo tertawa mendengar pertanyaan Andrea yang di lontarkan dengan nada polos tetapi penuh penekanan. Ia menghela napasnya lalu menghembuskannya kasar. Matanya melirik ke arah Malvin lalu bergumam pelan " Sepertinya akan ada perang kali ini. Aku harus mengajari Andrea beberapa trik agar dia tidak menjadi wanita polos yang berharap kekasihnya tetap setia." Pria bermanik cokelat itu menyeringai menatap kekasih saudaranya.


Andrea memutar kedua bola matanya saat melihat Zigo tertawa. "Pria gila!"


Setelah mengatakan itu Andrea kembali menatap Malvin. "Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa wanita itu. Selena, siapa dia?"


"Huh?" Malvin mengerjabkan mata, ia tidak menyangka jika Andrea tahu dengan cepat tentang Selena. Di dalam hati dia berharap semoga Andrea tidak tahu masa lalunya bersama Selena. Meskipun wanita itu yang selalu mengejarnya, tentu kesalahan akan jatuh padanya. "Dia kekasih Daniel, Zigo mengajaknya untuk membantu kita melakukan pekerjaan penting."


"Pekerjaan penting apa? Apa kalian bertiga tidak bisa sampai harus membawa seorang wanita?" ujar Andrea tajam. Wanita hamil itu melotot galak ke arah Malvin bergantin dengan Zigo dan juga Demetrio.


"Maaf aku harus menjemput Paris, hari ini kita akan makan siang bersama," ujar Zigo beringsut pergi. Dia tidak ingin menjadi tameng ataupun. penolong untuk saudaranya. Gelagat dari pertanyaan Andrea seperti akan ada badai. Dia harus menjauh sebelum terhempas.


Malvin menelan luda dengan sangat susah saat Zigo melangkah pergi. Pria itu seharusnya menjelaskan karena dia yang mengajak Selena. Malvin tentu saja tidak melakukan hal aneh bersama wanita itu. Namun, jika Andrea tahu Selena menyukainya, maka yang tadinya ia hanya korban akan berubah menjadi tersangka utama.


"Sayang ...." Malvin memeluk erat tubuh Andrea dari samping.


"Selehan hanya teman kuliah kita dulu, yang kebetulan adalah kekasih Daniel," ujar Demetrio memotong dengan cepat. Pria dingin itu melihat jika sahabatnya susah untuk mengelak. Dan itu memang benar, hampir saja Malvin mengatakan yang sejujurnya kepada Andrea.


"Dia hanya akan membantu kita beberapa hari ke depan. Mengenai kenapa harus dia, bukan aku Demetrio atau Zigo yang melakukannya, itu sama sekali tidak ada alasan khusus. Tugas kali ini harus di lakukan oleh seorang wanita profesional. Selena adalah seorang aktris, kita butuh pelakon yang aktingnya lumayan agar orang yang kita tuju percaya." Malvin menghembuskan napas panjang karena ia mengatakan semua itu dengan sekali tarikan napas.


"Singkatnya Selena adalah jembatan untuk kita agar bisa bertemu dengan target yang kita tuju," ujar Demetrio menambahkan.


Sebuah kecupan mendarat tanpa ijin di bibir Andrea. "Tentu saja, untuk apa aku membohongimu." Malvin menarik pinggul kekasihnya agar tubuh keduanya menempel. "Apa kau mencurigaiku?"


Andrea mendorong pelan dada Malvin untuk sedikit menjaga jarak. Wanita hamil itu sedikit malu karena Malvin yang menciumnya di depan Demetrio. Bibir Andrea terkatup rapat menatap fokus kepada Malvin.


"Apa kau cemburu?"


"Tidak!" ujar Andrea ketus.


Namun, pada kenyatannya wanita dengan manik mata abu-abu itu cemburu, dia sudah tahu kisah lama antara Selena dan Malvin, Garilla sudah menceritakan semuanya. Kenapa Garilla bisa tahu, karena wanita tua itu sudah bekerja pada keluarga Alexander sejak Malvin masih berusia remaja. Ia tahu jelas jika sejak di bangku kuliah, wanita itu sering mondar mandir di Mansion untuk mendapatkan perhatian Malvin. Namun, karena Arsula juga menyukai Malvin, wanita itu sama sekaki tidak memiliki kesempatan.


"Maaf, tapi sepertinya aku menganggu kalian. Lanjutkanlah, aku akan melihat apakah Marisa ingin selesai bersiap atau belum. Kita akan berjalan-jalan sebentar."


"Tidak perlu Marisa, aku bisa menemanimu Sayang."


"Tidak perlu, aku sudah membuat janji dengan Marisa."


"Baiklah kalau begitu, tapi jika kau butuh aku untuk ikut menemanimu. Aku bersedia."


"Tidak usah! Sebaiknya kalian lanjutkan saja pembahasan tentang aktirs yang bernama Selena itu, bukankah dia sangat penting sekarang," ujar Andrea melengos pergi meninggalkan ruang kerja Malvin.


Demetrio mengedikkan kedua bahu saat Malvin menatapnya, mendadak ia menjadi bisu melihat Andrea yang ternyata tahu segalanya. Kurangnya, ia tidak tahu jika Daniel dan Malvin sedang bersitegang.


"Cari siapa orang yang mengatakan semua itu pada Andrea." Malvin memijat dahinya yang sama sekali tidak sakit, menyandarkan kepala pada kursi kebesarannya. "Sejak ia hamil, dia berubah menjadi sangat mengerikan."