
Malvin terus tersenyum melihat Andrea yang masih tidak sadar jika dirinya sedang di cumbu. Pria bertato itu memberikan ciuman berulang kali di bahunya, bibir ranum Andrea bahkan tidak luput darinya.
Kali ini, Malvin melakukannya tanpa ada keraguan sama sekali. Kenyataan bahwa Arsula adalah bagian dari Marco membuat pria berpostur tubuh jenjang itu melunakan hatinya, dendam yang dia tanamkan untuk Andrea berubah menjadi cinta. Kini, sepertinya dia harus berusaha meyakinkan Andrea agar tetap berada di dekatnya.
Dan saat ini mereka hampir tidak berjarak, Malvin melihat jelas wajah cantik Andrea meski di sana terdapat goresan luka yang sudah kering. Tangan Malvin menyentuh luka itu dengan pelan, tatapannya berubah sesaat hingga akhirnya dia mengecup pada bibir Andrea.
"Maafkan aku Andrea ...." Malvin kembali berbisik dengan lembut pada indera pendengaran Andrea, membuat wanita itu sedikit bergeliat karena merasa terganggu, Malvin meresponnya dengan mencium puncak kepala wanita itu.
Hari sudah semakin sore dan wanita itu masih betah di dalam mimpinya. Pria itu kembali mengganggu, dia mencium leher jenjang milik Andrea saat wanita itu bergerak membelakanginya. Sadar ciuman itu bukanlah mimpi, Andrea berbalik dan menjerit spontan saat mendapati wajah Malvin yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Astaga Malvin! Apa yang sedang kau lakukan!"
Saat Malvin hendak membuka mulut untuk menyela Andrea, seseorang lebih dulu mengetuk pintu. Malvin mengumpat saat terdengar ketukan pintu yang terus berulang.
"Jangan bergerak, aku akan kembali." Dia segera berdiri dari pembaringan menuju pintu. Dan ketika pintu terbuka, Malvin melihat Demetrio yang berdiri di ambang pintu sambil membawa buket bunga.
Malvin berdecak tawa melihat sahabat yang sebagian dirinya ada nyawanya memegang buket bunga dengan begitu kaku. Dan Demetrio kesal karena tawa itu.
"Kau membuat semua orang di Mansion ini mengira aku yang sedang jatuh cinta Signore."
Malvin menahan senyumnya, mengambil buket bunga dan menciumnya sejenak. "Apa dia akan suka?"
Demetrio menarik napas dalam dengan wajah kesal. "Apa kau pikir aku pawang cinta."
Malvin terkekeh, dia mengebaskan tangan untuk Demetrio. "Pergilah! Bereskan yang tersisa."
"Sì, Signore."
"Tunggu!"
Pria dingin itu menoleh.
"Jangan sampai dia tahu jika ini adalah perintahku. Lakukan dengan hati-hati."
"Apa yang kau lakykan di sini?"
"Ini kamarku Andrea."
Andrea malu, dia menyesal telah mengatakan itu. "Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku."
Malvin menahan lengan wanita itu. "Aku belum mengijinkanmu untuk pergi."
"Lepaskan aku!" Wanita dengan setelan baju tidur itu meronta untuk melepaskan diri saat Malvin mulai memeluknya. Pelukan itu cukup erat hingga membuat Andrea sudah untuk bergerak.
Sejenak tatapan keduanya saling terkunci, mata bitu Andrea menatap Malvin dengan sangat tajam.
"Apa lukamu sudah membaik?
Wanita itu mengangguk pelan.
"Apa kau merindukanku?"
Andrea berdecak, yang mana membuatnya terlihat sangat lucu, membuat Malvin tidak tahan untuk kembali mencium puncak kepalanya. Andrea tidak menolak, dia membirkan bibir pria itu menyentuh dahinya. Kini fokus Andrea beralih pada lengan Malvin yang terdapat bercak darah. Dengan berani dia bertanya kepada pria bermata kelam itu.
"Apa kau sudah membunuhnya?"
Malvin tahu siapa yang di maksud oleh Andrea, dia menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu.
"Kau membiarkan dia hidup? Bukankah tujuan hidupmu selama ini untuk mencarinya?" Andrea menahan napas menantikan jawaban Malvin, ini adalah jawaban penentuan untuknya. Karena jika Marco mati maka dia akan bebas dan kembali Puelba setelah masa tahanannya berakhir. Namun, jika sebaliknya, maka pilihan terakhir adalah dia akan menjadi budak seumur hidupnya di Verona bersama pria yang diam-diam sudah menyukainya.
•••