
"Kau baik-baik saja Signore."
Malvin terdiam sebelum menjawab. "Apa ada tempat makan yang berada di dekat pantai? Aku lapar."
Demetrio mengerutkan kening menatap bingung dengan ucapan majikannya. Pria itu berlalu setelah mengatakan hal yang baginya itu aneh. "Apa hubungannya pantai dengan lapar."
Kenyataannya, pria-pria itu hanya makan di pinggiran jalan lalu menuju sebuah gereja yang jika dari atapnya mereka bisa melihat gunung es yang menjulang. Malvin hanya ingin duduk menikmati hamparan kota Puelba yang bisa di lihat dari atas menara gereja. Dan gunung Es itu, seperti melambangkan dirinya. Dekat mematikan, jauh terpesona.
(Wkwkwkwk au ah, nyari kata yang pas susah 🤭 )
Matahari mulai tenggelam. Namun pria dengan manik hitam itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Para pengunjung yang lain bahkan merasa heran dengannya, sudah ber jam-jam dia duduk dan termenung sambil menatap gunung itu.
"Apa gunung itu mengatakan sesuatu, Signore?"
Demetrio yang sedari tadi duduk di belakang Malvin tiba-tiba bersuara.
Pria yang fokus menatap gunung itu menggeleng, dia berbalik untuk menatap pria yang selalu setia menemaninya. "Ayo kembali."
Ketika pria itu mulai melangkah, Demetrio berkata. "Hotel atau bandara?"
"No! Kita akan kembali ke rumah Andrea."
"What?" Mata Demetrio membulat, menatap punggung itu dengan berani. "Lagi?"
"Jika kau keberatan, kembalilah ke hotel. Aku akan berada di sana sampai bisa melihatnya, setelah itu kita akan kembali segera ke Verona."
Demetrio menelan ludah kasar tatkala langkah si manik hitam itu sudah semakin menjauh darinya. Demetrio memutar kedua bola matanya, ini sikap plin-plan Malvin yang baru saja dia lihat. Pria ini bahkan sangat tegas dan kejam sebelum bertemu dengan Andrea. Dan itu fakta yang benar-benar mengganggu.
Sayangnya, saat kedua pria itu tiba, hari sudah gelap, waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Jendela kamar wanita itu pun sudah tertutup. Namun lampu pada kamarnya masih terlihat menyala. Malvin sedikit kecewa, itu tandanya dia tidak akan melihat wajah Andrea sebelum dia kembali ke Italia.
"Aku dengar, dia tidak keluar dari kamarnya seharian ini, dia terus mengurung diri dan tidak ingin makan juga tidur lebih awal. Mungkin itu yang menyebabkan jendelanya tertutup."
"Kau memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya."
Demetrio membuang napas panjang. "Miss Burman mengirimkan pesan untuk di sampaikan padamu."
"Dan kau tidak menyampaikannya padaku!" Tatapan tajam itu menuju ke arahnya.
"Dia baru saja memgirimkan pesan Signore, kau bisa melihatnya," ucapnya memperlihatkan layar ponsel yang berisi pesan dari Mis Burman.
Tatapan itu beralih kembali pada jendela yang tiba-tiba saja terbuka. Lambaian kain penutup jendela membuat perasaan pria yang tadinya sesak menjadi legah. Dan sebenarnya, jendela itu tidak tertutup, hanya saja angin meniup membuat dia tertutup hingga terlihat seperti sang pemilik yang tidak membukanya.
"Tunggu sebentar di sini!" ucap Malvin melangkah pergi.
"Signore, kau mau kemana?"
"Tetap berjaga Demetrio, aku akan segera kembali."
"No! Signore, jangan lakukan itu. Kita akan ketahuan," teriaknya dengan cemas. Demetrio kembali tersentak kaget saat melihat majikannya memanjati dinding, bergelantung seperti salah satu super herro dengan jala yang keluar dari tangannya. Malvin melopat dari satu dinding ke dinding yang lain, untuk bisa meraih balkon kamar Andrea dia harus berayun membuat Demetrio yang melihatnya merasa ngilu.
"Apa sebenarnya yang akan kau lakukan."
Malvin naik ke atas balkon dengan sangat pelan, seperti angin dia membuka jendela itu dengan sangat pelan. Meski horden pada jendelanya sedikit membuat dia kesusahan untuk masuk. Namun, niat untuk melihat Andrea dari jarak dekat sama sekali tidak memudar.
•••••••
Maaf jaringan di sini lag, maknya baru bisa up ☹Mohon pengertiannya yah. 🙏🙏🙏