
Bekerja dengan beban pikiran membuat dia lamban dalam bergerak. Setelah ini selesai, dia harus segera meninggalkan ruang kerja Malvin. Dia tidak ingin berlama-lama di sana karena takut Malvin bisa saja muncul tiba-tiba. Mendengar suaranya saja sudah membuat napas Andrea sesak, mengingat bagaimana pria itu memperlakukannya semalam.
"Tuhan jaga diriku."
Pria itu mengambil buku pada rak di belakang Andrea. Seperti biasa, dia akan merebah di sofa dan membaca dengan tenang. Andrea mencoba mengabaikan, menyusun buku-buku tersisa dengan cepat dengan mata yang terus melirik.
"Selesai." Andrea membuang napas legah saat buku terakhir dia letakkan. Dia membalikan badan dengan cepat menuju pintu keluar, dengan pelan dan tanpa suara, kakinya terus melangkah dengan hati-hati. Namun, saat pegangan pintu hendak dia raih, suara itu tiba-tiba terdengar.
"Apa kau takut aku akan memakanmu?"
Andrea hampir saja terjatuh karena kaget. Dirinya membalikkan badan, mendapati Malvin yang sedang duduk menatap ke arahnya.
"Mendekatlah."
"Ma--Maaf Signore, tapi tugasku masih banyak. Aku harus segerah menyelesaikannya."
Andrea memutar tubuhnya seketika, mencoba lari. Namun, lagi-lagi dia gagal. Gerakan Malvin lebih cepat. Dia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Andrea, menarik wanita itu agar mendekat ke dadanya. "Apa kau takut padaku?"
"Tidak!"
"Kau baru saja akan melarikan diri."
"Aku hanya ingin kembali berkerja."
Membuat Malvin terkekeh. "Bencilah pada kekasihmu karena menyebabkan kau harus berada di sini."
"Aku lebih benci pada pria yang di kendalikan nafsu bukan nurani," ucapnya mendorong keras tubuh Malvin untuk menjauh darinya.
"Napsu membuatmu menjadi pelayanku tetapi juga bisa membuatmu bebas dari hutang-hutang itu."
"Lebih baik aku bekerja sebagai budakmu seumur hidup dari pada menjadi wanita pemuas nafsumu," ucapnya penuh penekanan.
"Aku tidak pernah mengatakan kau akan menjadi wanita pemuas nafsuku Andrea."
"Lalu kau ingin aku menjadi apa, pelacur di kelab mu dan menghasilkan uang untukmu? kau ingin aku mencari pria-pria kaya pencari **** dan membuang diriku untuk mereka nikmati? begitukah?"
Malvin tertawa di akhir pertanyaan Andrea. "Pikiranmu cukup cerdas."
Mata Andrea berair, dia mencoba keluar dari kukungan Malvin, manik abu-abunya tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Dia menatap lantai sebagai pengalihan. "2 bulan lagi, maka lepaskan aku."
Tubuh Malvin mengapit Andrea hingga perempuan itu kehabisan ruang dengan tubuh mereka yang beradu. "A-Apa itu masih terasa sakit?" Mata Malvin memperlihatkan kecanggungan, dia tidak fokus menatap wajah Andrea.
"Apa kau sedang mengkhawatirkanku Signore?"
Malvin terlihat ragu-ragu untuk menjawab, dia tahu dia bersalah. Terlepas dari rasa dendamnya, dia telah mengambil hal yang menjadi bagian terpenting dari diri wanita di hadapannya. Sekarang dia bahkan bingung, apa dia harus mempercayai Andrea atau tetap membencinya.
Malvin benar-benar bingung dengan perasaannya saat ini, setelah melakukannya dengan Andrea dan mengetahui gadis itu masih perawan, dia merasa sangat berubah. Rasa kebenciannya seakan memudar. Tanpa di duga, dengan kekacauan pikirannya dia mencium bibir Andrea, memaksa pemilik mata biru itu untuk membuka mulut hingga memudahkannya untuk mengeksplor bagian dalam mulut Andrea. Dan Andrea, dia kalah tenaga, membiarkan Malvin mengangkat tubuhnya lalu membaringkannya di atas sofa.
Saat pagutan itu terlepas, Andrea kembali mengumpatinya. "Dasar iblis, ini caramu untuk membuktikan seseorang bersalah atau tidak?" Dia terus coba merontak dengan kaki yang di himpit oleh Malvin.
Seketika wanita itu menatap tajam membuat pria itu tersenyum. Dia sangat menikmati kemarahan Andrea seperti layaknya pernyataan cinta. Entah apa namanya sekarang, tapi penilaiannya terhadap Andrea sedikit berubah, dia seperti merasakan hal aneh yang masuk menutupi kebenciannya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kau terus mendekatiku? Apa merampas kehormatan ku belum cukup untukmu?"
Malvin mendesah, merapatkan wajah hingga berhadapan dengan Andrea. Dia memainkan hidungnya pada hidung Andrea, wanita itu tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dari tingkah laku Malvin, pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Signore."
"Tetaplah seperti ini Andrea, biarkan sejenak seperti ini."
"Jika orang-orang melihat, mereka akan mengira aku sedang menggodamu Signore."
"Maka biarkanlah."
"What?" Perempuan bermata abu-abu itu tampak kaget, bukankah dia selalu menyiksanya selama ini? Lalu kenapa tiba-tiba dia menjadi berubah menjadi lembut. "Signore!" Andrea bergeliat. Namun, tubuhnya di tahan oleh dekapan Malvin.
"Katakan jika kau tidak termasuk orang-orang yang menyakiti adik ku."
"Untuk apa aku mengatakannya, bukankah di kepalamu selalu terngiang bahwa aku adalah penyebab semua itu!"
"Apa kau mengingat siapa wanita yang bersama Marco saat dia memutuskanmu?"
"Tidak!" Andrea berteriak dengan tegas. "Biarkan aku pergi." Andrea tidak banyak tenaga, Dekapan Malvin membuat dia benar-benar terhimpit hingga merasa seperti tenggelam di dalam sofa di mana keduanya berada sekarang.
Tatapan mata mereka saling mengunci, sementara jemari Malvin mengusam bibir Andrea yang basah karena sisa ciuman mereka. Saat tangan Malvin menyentuh bibirnya, Andrea bergetar dengan jantung yang berdetak menggila. Perempuan itu mengigit bibir bawahnya, wajahnya memerah, Andrea bahkan susah untuk menelan ludahnya. "Signore, lepaskan aku. Kita tidak seharusnya seperti ini."
"Lalu seharusnya seperti apa?"
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku akan berada dalam bahaya jika terlalu lama disini."
Malvin menatap Andrea dengan perasaan yang tidak menentu. Dekapannya dia longgarkan agar perempuan itu merada leluasa. Namun, kesempatan itu Andrea gunakan untuk melarikan diri. Tubuh Malvin terhempas jatuh ke lantai saat kedua tangan Andrea mendorongnya dari dada.
"Shiit!"
•
•
•
•
Sudah yeah Grazy up nya. 6 bab hari ini untuk kalian. Jangan lupa Vote, dan Beri hadiah jika kalian punya 😁🥰. Beri Like dan ramaikan kolom komentarnya yeah. Sampai ketemu besok 😘😘😘