Endless

Endless
Chapter 171



Andrea terbangun dengan kepala yang pening, wanita bermanik abu-abu itu memincingkan mata saat sinar matahari pagi mengenai wajahnya. Ia berbalik menatap lurus ke arah pria yang duduk di sampingnya.


"Kau sudah bangun Sayang?" Malvin mengecup puncak kepala Andrea. Mengelus lembut di bagian bahunya. "Sebaiknya kau mandi lalu kita akan sama-sama turun untuk sarapan."


Sedikit malas Andrea bangun dan langsung menuju kamar mandi tanpa menjawab. Dan Malvin, pria yang duduk dengan bertelanjang dada itu hanya tertawa melihat sikap Andrea yang masih kesal karena Demetrio. Sepertinya, dia harus bicara dengan sahabatnya itu agar memberi waktu kepada kedua saudara itu sekekadar berbincang.


30 menit dan Andrea keluar dengan bathrobes hitam yang menutupi tubuhnya. Handuk kecil melingkar di atas kepalanya, hari ini wanita bermanik abu-abu itu membasahi rambutnya karena terlaku merasa penat dan juga gerah. "Mandilah, aku sudah selesai," ujar Andrea berlalu menuju walk in closed.


Malvin mengabaikan ucapan Andrea yang menyuruhnya mandi, pria bertato elang itu beranjak daei pembaringan dan melangkah pelan ikut masuk ke dalam walk in closed. Andrea yang berdiri tanpa sehelai apapun kaget saat jemari kekar itu menelisik melewati pingganya. Malvin memeluk kekasihnya dari belakang, menghirup harum aroma Vanilla yang menempel karena sabun yang di gunakan gadis itu. Sangat menenangkan hingga memancing bibir Malvin mencium pundaknya.


"Apa kau masih marah?" tanya Malvin pelan.


Andrea meregangkan pelukannya karena butuh berpakaian segera. Wanita Puelba itu bahkan tidak risih berganti pakaian di depan kekasihnya, ia tampak santai dengan wajah yang masih terlihat cemberut. "Marah?" Andrea mengerutkan keningnya. "Kenapa aku harus marah."


Malvin tersenyum kecil. "Kalau begitu, tersenyumlah, kau menekuk wajahmu sejak kemarin." Malvin mencium rambut Andrea yang tergerai basah. Mengambil pengering dan mulai mengeringkan rambut Andrea.


"Aku bisa melakukannya sendiri Sayang, kau mandilah."


Malvin menggeleng. "Biarkan aku melakukannya, setelah perutmu membesar nantii kqu akan sudah bergerak. Jadi mulai dari sekarang aku akan belajar membantu mu melakukan hal-hal seperti ini."


Andrea tertawa geli melihat bagaimana Malvin menjelaskan maksudnya. "Bagaimana rasanya memiliki kekasih yang sedang hamil?" Andrea menaikan satu alisnya dengan bibir tersenyum menggoda kekasihnya.


"Rasanya bermacam-macam." Malvin menaru pengering rambut dan berpindah duduk di atas meja rias milik Andrea. "Aku harus mengikuti mood mu, bahkan harus berbagi rasa mual denganmu, dan itu menyebalkan."


Malvin berdiri menatap Andrea yang tertawa di depannya dengan kesal. Karena Andrea yang terus menggodanya. Kini ia berpindah di kursi dan meraih tubuh Andrea ke pengkuannya dengan posisi menghadap pria itu. "Sudah ku katakan itu karena rasa cintaku yang terlalu lebih padamu hingga separuh dari penderitaanmu beralih padaku, jangan terus menggodaku."


"Kau mengatakan tadi jika itu menyebalkan, aku takut kau akan muak padaku karena seorang wanita yang hamil akan sangat berubah dari sikap aslinya."


Malvin mengelus sudut bibir Andrea. "Aku tidak keberatan, jika kau berubah. Aku menyukai tubuhmu yang semakin berisi ini, kau terlihat semakin seksi. Dan lagi, aku hanya bercanda, mana mungkin aku merasa ini menyebalkan, kau mengandung anak ku Andrea."


Andrea mengerutkan hidungnya lalu mengecup bibir Malvin dengan cepat. "Kau benar-benar perayu yang handal, lihat saja nanti jika kau bosan dan muak padaku lalu berpindah pada wanita yang lain, aku akan mengulitimu."


Malvin megelus punggung Andrea. "Sayangnya itu tidak akan terjadi. Aku adalah pria paling setia seantero italia."


Andrea perlahan menyapu wajah Malvin dengan ujung jari telunjuknya. "Kita lihat saja nanti."




Ayok ramein di sini juga. 😁✌



"