
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau memberikan perintah agar semua persiapan pernikahan kalian di lakukan olehku di bawah pengawasan Andrea." Demetrio muncul dengan kemarahan di depan Malvin.
Malvin tersenyum di dalam hati, ternyata Andrea sudah memberi perintah untuk sahabat kakunya ini. "Bukankah kau ingin terus bersama Marisa, itu adalah kesempatanmu. Marisa akan membantu Andrea mempersiapkan semua keperluan untuk pernikahan kami, jadi aku merekomendasikan dirimu agar membantu mereka. Jika kau tidak setuju, aku bisa memberikan tanggung jawab itu untuk Agrio, siapa tahu dia dan Marisa juga mungkin punya kecocokan."
"Jangan kurang ajar kau!"
Malvin melirik dengan tajam. "Kau berani membentak majikanmu?"
"Lagi pula dia kekasihku, untuk apa kau menjodohkannya lagi," tukas Demetrio dengan tatapan yang tidak kalah tajam.
"Dasar pria kaku."
"Sudah lah terserah kau saja." Demetrio mengibaskan tangan di depan kepalanya dan berlalu pergi. Ia terlihat sedikit kesal saat meninggalkan Malvin. Kekesalannya bukan karena Malvih yang bercanda untuk menjodohkan Marisa dengan Agrio, melainkan dia harus mengikuti kemauan Andrea. Demetrio berfikir, kedua orang ini pasti berencana mengerjainya.Wanita bermata abu-abu itu pasti menyimpan dendam padanya.
Sudah dua minggu semenjak mereka kembali dari Puelba, Demetrio baru menyadari jika Andrea sama sekali tidak pernah menengurnya, bahkan setelah Demetrio dan Marisa kembali dari Prancis untuk bertemu keluarga Demetrio di sana, wanita itu sama sekali tidak bertanya apapun kepada mereka. Dia hanya sesekali tersenyum kepada Marisa, ia juga sama sekali tidak seceria saat keduanya masih di Puelba. Dan itu menyebabkan Marisa menjadi merasa tidak enak. Dia datang untuk menemani Andrea. Namun, tidak memiliki kesempatan untuk untuk bercengkerama ataupun bercanda seperti biasa. Dan itu semua sebabkan karena Demetrio yang selalu ingin Marisa berada di dekatnya. Dan sialnya, Demetrio baru saja menyadari saat Malvin mengatakannya tadi.
Kini sisa 1 bulan lagi Malvin dan Andrea akan melangsungkan pernikahan, jika ia tidak mengikuti kemauan Andrea maka perselisihan ini tidak akan berakhir, lalu bagaimana dengan persiapan pernikahan mereka. Akhirnya dia harus menyetujui dan akan menemani Marisa dan Andrea untuk mengatur segala keperluan. Mungkin dengan begitu Andrea bisa memaafkannya dan hubungan mereka bisa kembali seperti biasa.
"Hei! Mau kemana kau. Aku belum selesai."
"Aku harus ke toko bunga. Kekasihmu itu menginginkan seikat bunga lili." Demetrio menghentikan langkah sejenak. "Bunga lili, atau Daisy? Oh God!" Pupil mata Demetrio melebar. "Aku lupa bunga apa yang dia minta tadi."
"6 tangkai? Bukankah dia menyuruh untuk membeli 100 tangkai?" Demetrio berfikir kembali, mungkin Malvin bisa menjawab kebingungannya saat ini. "Di antara dua bunga Lili dan Daisy, mana yang Andrea sukai?"
Malvin sedikit mengerutkan keningnya, ia mengangkat wajah lalu menurunkannya kembali. "Dia tidak menyukai keduanya. Bunga tulip, dia menyukai itu," ujar Malvin dengan santai. Ia mengucapkan tanpa memandang Demetrio pria bermata hitam itu memilih fokus pada buku yang ia baca.
"What?" Lalu untuk apa dia menyuruhku membeli 100 tangkai."
"Entahlah, tapi setahuku Marisa yang menyukai bunga lili biru. Aku bertanya padanya saat kau sedang berusaha memikatnya waktu itu."
"Marisa?"
"Yah tentu saja Marisa yang menyukainya, kau pikir aku menyuruhmu membeli bunga sebanyak itu untuk aku makan? Huh!" Andrea memainkan bibirnya seakan mengutuk Demetrio. Ia diam-diam menguping pembicaraan kedua pria itu karena takut Demetrio akan mengadukan dirinya pada Malvin, dan ternyata benar. Pria dingin itu mengadukan penolakannya.
"Marisa sangat memimpikan seikat bunga lili biru dari kekasihnya, itu adalah impiannya sejak dulu. Aku menyuruhmu membelinya agar kau bisa memberikannya kepada saudaraku, tapi lihatlah, kau bahkan mencibirku."
"Andrea, aku benar-benar tidak tahu jika itu tujuanmu."
Wanita bermanik abu-abu itu menaikan sudut bibirnya. "Dasar kaku!"