Endless

Endless
Endless Four



Tidak ada manusia yang benar-benar bersih, semua punya rahasia yang disimpan masing-masing. Begitupula Alaska yang punya rahasianya sendiri, rahasia yang ia simpan dari banyak orang. Ini adalah luka untuk Alaska.


Sky Alaska mungkin di kenal sebagai lelaki kasar disekolah, tapi Alaska tidak seburuk itu. Ada kedua orangtuanya yang lebih buruk. Kedua orang yang menginginkan kematian Alaska.


Sejak masuk SMP Alaska tidak tinggal dirumah orangtuanya, ia tinggal bersama kakek dirumah milik kakek. Sejak dulu Alaska mungkin sudah dianggap tidak ada, hanya saat-saat tertentu saja ia dicari.


Seperti saat ini, kedua orang itu datang menemui Alaska. Membawa sejumlah berkas yang mencantumkan kesehatan saudara kembarnya. Alaska tahu semua ini akan terjadi cepat atau lambat.


"Dia perlu cangkok hati supaya bisa bertahan hidup, Alaska Mamah mohon" Wanita itu menggenggam erat tangan Alaska, berharap Alaska akan bersedia mendonorkan hati untuk putranya.


Alaska diam, menatap kosong kertas yang berada di tangannya. Haruskah dia lagi yang mengalah untuk kali ini, kenapa harus selalu dia. Tatapan Alaska turun pada Mamah yang menggenggam tangannya, ia melepaskan tangan wanita itu secara perlahan.


"Alaska nggak bisa" Tolaknya.


"Apa kamu nggak kasihan sama adik kamu, dia sakit Alaska" Raut Mamah berubah dingin, menatap Alaska dengn tajam.


"Kenapa cuman dia yang nggak boleh sakit?" Alaska menatap bergantian pada dua orang didepannya "Gimana sama Alaska. Nggak apa-apa kalau Alaska sakit menurut kalian?" Telaknya.


Alaska tidak menangis, ia sudah terbiasa dengan hal ini. Delapan belas tahun hidupnya, mungkin hanya saat bayi Mamah merawatnya. Alaska tumbuh sendiri, hanya ada kakek yang menerima dirinya di dalam keluarga ini.


"Kamu harusnya tahu diri Alaska, saya yang merawat kamu dari bayi. Haruskah begini balasan kamu".


"Harusnya Mamah yang sadar, Mamah cuman rawat aku saya bayi. Mamah nggak pernah rawat aku bahkan saat umur aku masih lima tahun, cuman ada kakek yang rawat Alaska. Cuman dia yang terima Alaska sebagai keluarga".


Alaska menghela nafas kasar saat kedua orangtuanya pergi. Ia menjatuhkan kedua bahunya lemah, kenapa lagi-lagi seperti ini.


"Jangan mau Alaska, kadang kamu perlu jadi jahat untuk tetap hidup?" Kakek datang dari luar, nampaknya pria itu berpapasan dengan orangtuanya tadi.


Alaska memperbaiki posisi duduknya, ia tidak ingin terlihat lemah "Aku nggak sebodoh itu buat menuhin apa yang mereka mau" Katanya.


Kakek duduk tepat didepan Alaska, pria itu menatap penuh selidik pada Alaska "Satu tahun lalu kamu bilang bakal kasih hati kamu buat dia. Kenapa berubah?".


Satu tahun lalu Alaska mungkin rela, tapi semakin kesini ia semakin sadar. Bahwa ia punya hal yang harus dilindungi, ada seseorang yang membutuhkan dirinya untuk tetap bertahan.


"Siapa dia Alaska?".


Alaska tersenyum tipis "Dia gadis yang malang".


...


Lou tidak berani keluar dari kamarnya, lantaran kedua orangtuanya berada di rumah. Perang dingin seperti biasa yang dua orang itu lakukan.


Lou meraih ponselnya yang sejak tadi berdering, ia menatap lama hingga panggilan mati lalu panggilan diulang lagi. Lou menghela nafas kasar sebelum mengangkat panggilan itu.


"Mau jalan nggak? Gue jemput kalau mau?"


"Kemana?".


"Terserah lo, gue ngikut aja sebagai sopir lo".


Sudut bibir Lou terangkat membentuk senyum tipis " Jemput gue sekarang" Setelahnya Lou mematikan panggilan.


Lou menyiapkan tas, mengisi beberapa pakaian dan uang tunai disana. Ia muak dirumah, sekali-kali ia perlu mendinginkan kepalanya dari segala hal yang terjadi disini.


Suara klakson dari luar membuat Lou bergegas turun, ia berpapasan dengan Helen dianak tangga terakhir.


"Ada Alaska di bawah".


Lou abaikan Helen, ia berjalan cepat hingga mencapai pintu. Sejujurnya Helen tidak pernah bersikap kasar padanya, tapi Lou benci gadis itu. Ia benci melihat gadis itu nampak bahagia bersama Mamah.


Alaska bersandar pada pintu mobilnya, menyambut kehadiran Lou dengan senyum tipis. Ia membuka pintu mobil, membiarkan Lou masuk.


"Mau kemana?" Alaska mulai menjalankan mobilnya keluar dari komplek.


Alaska mengangguk "Mau tinggal bareng gue selamanya juga nggak masalah" Karena Alaska bisa punya lebih banyak waktu untuk Lou.


Lou mengerjap kecil menatap Alaska "Gue nggak ngerepotin kan?."


"Kenal gue berapa tahun, hm? Baru satu hari, apa seminggu?" Tanyanya dengan dengusan tipis.


Lou mengulum bibirnya, tepat saat lampu merah ia memeluk leher Alaska "Sayang Alaska" Ucapnya sebelum fokus pada ponselnya.


Senyum Alaska tidak bisa disembunyikan lagi, lelaki itu merasakan ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya. Alaska merasa tubuhnya menghangat, ah lagi-lagi ia salah tingkah karena perbuatan Lou.


...


Alaska punya apartemen yang dibelikan kakek saat usianya lima belas tahun, apartemen yang ia gunakan jika sedang ingin sendiri. Tempatnya cukup strategis karena dekat dari sekolah dan berada di pusat kota.


Mereka memasuki lift, Alaska menekan tombol angka 15 tempat unitnya berada. Hening di dalam sana, Lou diam-diam melirik Alaska yang berada di sampingnya. Hanya ada mereka berdua saat ini di dalam lift.


"Kenapa?" Tentu saja Alaska sadar akan tatapan gadis itu.


"Gue nginap disini ya" pintanya.


Alaska mengangguk "Lo bisa pakai selama yang lo mau" katanya.


Pintu lift terbuka, mereka berada di unit 1506 yang merupakan milik Alaska. Alaska memasukkan beberapa digit angka hingga pintu terbuka.


"Barangnya letakin di dekat sofa, gue beresin kamar-"


"Lou? Kamu kok bisa kesini?" Anin muncul dari dapur memotong ucapan Alaska.


Lou melirik kearah Alaska meminta penjelasan, tapi lelaki itu sama kagetnya dengan dirinya. Hingga Heka muncul dari tempat yang sama dengan Anin, lelaki itu tersenyum masam menatap ketiga orang disana.


"Gue datang nggak ngabarin lo, yang lain juga disini" Jelas Heka takut difitnah yang tidak-tidak oleh Alaska.


Alaska menghela nafas kasar, salahkan ia yang lupa bahwa tekan-temannya juga sering berada di apartemen miliknya. Karena Apartemen Alaska adalah tempat kumpul mereka.


"Duduk di sofa dulu, gue beresin kamarnya" Alaska berlalu ke salah satu kamar yang ada disana.


Lou berjalan menuju sofa, disusul oleh Anin sedangkan Heka kembali ke dapur. Keduanya duduk dengan canggung, Lou baru kali ini benar-benar duduk berdekatan dengan Anin.


"Sering kesini ya?" Anin membuka pembicaraan lebih dulu.


"H-hah, ah nggak. Baru beberapa kali kesini, lo sendiri?" Lou sedikit gugup.


Anin tersenyum kecil"Jangan mikir yang aneh-aneh, aku kesini sama Heka. Baru pertama kali kesini"jelasnya.


"Gitu ya" lirihnya.


"Bawa tas lo ke kamar, udah gue beresin" Alaska keluar dari kamar, memberikan sebuah kartu kepada Lou "Masuk sana" titahnya.


Selepas peninggalan Lou hanya ada Alaska dan Anin disana. Alaska jelas menatap tak suka akan kehadiran gadis itu.


"Aku diajak Heka, Aku nggak tahu kalau apartemen ini punya kamu" jelasnya.


"Heka mana?"


"Di dapur"


Alaska berlalu meninggalkan Anin, sedangkan Anin menggenggam erat kedua tangannya. Sungguh Alaska itu menakutkan.


...