ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Kehilangan



Dua minggu berlalu tanpa terasa, namun luka dan perih masih begitu menyelimuti hati orang orang yang merasa kehilangan akan kepergian Kenzo Barrent. Pria tampan dengan sejuta pesona yang sampai saat ini belum juga ditemukan keberadaan nya.


Semua usaha pencarian sudah dilakukan semaksimal mungkin, mengingat dia adalah salah satu orang yang sangat berpengaruh dinegeri itu.


Semua surat kabar dan media massa masih berseliweran nama dan foto nya. Amerika masih begitu berharap tuan Amerika mereka bisa kembali dengan selamat. Tapi harapan hanya tinggal harapan, bagaimana mungkin seseorang bisa bertahan dalam laut selama seminggu. Hal yang mustahil.


Meski sudah dua minggu, namun kapten Stone dan orang tua Kenzo masih terus melakukan pencarian mereka. Berharap Kenzo bisa ditemukan, meski hanya tinggal jasad nya saja. Itupun hanya sebuah harapan kecil, karena didalam laut itu pastilah dipenuhi oleh binatang binatang pemakan daging.


Hari hari yang dilalui Alena benar benar hampa, kosong, dan penuh dengan kepedihan. Cinta, rindu, dan rasa bersalah terasa begitu membunuh nya. Tidak ada yang dilakukan nya selain berdiam diri dirumah, duduk termenung ditaman belakang rumah. Menikmati kepedihan yang semakin hari semakin menyiksa nya.


Seperti saat senja ini, dia hanya duduk berdiam diri dikursi taman, memandang bunga bunga yang tumbuh subur disana. Hati nya sakit, pedih dan resah. Dia masih begitu berharap ini hanya mimpi buruk nya, dan besok dia bisa kembali lagi bersama Enzo nya.


Ini kali pertama dia merasakan jatuh cinta, jatuh cinta pada seorang pria yang penuh dengan sejuta pesona. Tapi nasib percintaan nya sungguh tragis. Bahkan dia belum menikmati indah nya kebersamaan bersama Kenzo. Tapi kenapa Kenzo pergi secepat ini.


Mata Alena kembali berkaca kaca, dia terlihat menghela nafas nya dengan pelan namun terasa begitu getir. Saat ini, kata 'seharusnya' terus menari difikiran nya. Ya, seharus nya dia tidak pernah bertemu Kenzo, seharus nya dia tidak jatuh cinta dengan pria itu, seharus nya dia cepat meninggalkan Kenzo sejak lama, seharus nya dia tidak kalah dengan hati dan harapan nya. Jika semua itu dia lakukan sejak dulu, maka Kenzo pasti masih ada saat ini.


"En....." Lirih Alena tertunduk dengan tangan yang langsung meraba kalung pemberian Kenzo Barrent. Hadiah pertama dan terakhir dari lelaki itu.


"Alena" panggil seseorang. Alena tidak menoleh, dia hanya mengusap air mata nya yang berjatuhan.


Seorang gadis duduk disamping nya dengan perlahan. Dia adalah Clara, setiap hari, dia datang menemui Alena. Entah sekedar melihat, atau berbicara singkat. Melihat Clara, sebenar nya Alena semakin tersiksa, dia begitu merasa bersalah pada sahabat nya ini.


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini Alena?" Tanya Clara dengan pandangan mata yang menatap datar kedepan.


Alena hanya diam dengan wajah sendu nan pucat nya. Dia benar benar tidak tahu harus apa saat ini selain merenungi kemalangan nya.


"Apa kau kira hanya kau saja yang begitu kehilangan dia?" Tanya Clara lagi, kali ini Alena tampak mengerjapkan perlahan mata nya, membuat bulir air menetes satu persatu


"Kau seperti mayat hidup, yang mempunyai tubuh tapi tidak mempunyai jiwa. Kau hanya diam sepanjang hari. Apa dengan begitu Kenzo bisa kembali?" Tanya Clara yang kini menatap lekat wajah Alena


"Sakit Cla. Sakit sekali." Gumam Alena dengan air mata yang terus menetes diwajah nya, seakan akan air mata itu memang tidak akan pernah habis untuk menangisi Kenzo nya.


"Rasa nya separuh jiwaku menghilang. Aku bahkan tidak tahu harus apa. Jika saja aku tidak serakah mengharapkan dia, dia pasti masih ada saat ini" ungkap Alena begitu lirih. Clara terlihat memejamkan mata nya sejenak, membuat bulir air mata nya juga terjatuh bergilir.


"Seharusnya dia tidak mengorbankan dirinya untuk ku. Seharus nya dia tidak menolongku malam itu. Seharus nya dia tidak menolongku Cla " Isak Alena yang langsung tertunduk dan menangis kembali


Clara juga ikut menangis mendengar ungkapan Alena, dia langsung memeluk tubuh Alena yang tampak layu dan lemah.


"Bukan salahmu Alena. Bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu terus menerus. Itu kemauan nya sendiri, tolong jangan seperti ini, aku rindu sahabatku yang dulu, aku juga butuh kau untuk menguatkan ku Alena" ungkap Clara yang juga tidak bisa menahan Isak tangis nya


Alena membalas pelukan Clara dengan erat


"Maaf Clara. Maaf. Aku, aku benar benar tidak ingin dia pergi" sahut Alena


"Aku juga tidak ingin dia pergi. Aku juga kehilangan dia." Jawab Clara. Clara melepaskan pelukan nya pada Alena, menatap wajah Alena yang terlihat begitu berantakan dan pucat.


Dia menangkup wajah Alena dan menatap nya dengan lekat.


"Alena dengarkan aku. Ini bukan yang pertama kali dia menghilang. Bukan yang pertama kali dia berada dalam bahaya, kita masih punya harapan. Aku kenal kakak ku, dia tidak akan pergi begitu saja Alena. Dia pasti kembali" ucap Clara begitu serius.


Alena menggeleng pelan dan tertunduk getir, air mata nya masih terus menetes diwajah nya


"Tapi karena aku dia berada dalam bahaya" sahut Alena


"Maka dari itu kau jangan seperti ini" seru Clara membuat Alena kembali menatap wajah Clara yang tampak begitu tajam menatap nya


"Jika kau merasa bersalah dengan apa yang menimpa kakak ku, maka jangan buat pengorbanan nya sia sia Alena. Kau mau dia bersedih karena melihat kau yang seperti ini ha?" Tanya Clara dengan nafas yang menggebu, dia telah melepaskan tangan nya dari wajah Alena yang menggeleng pelan


"Dia sudah berkorban demi menyelematkan mu, lalu kau hanya bisa terpuruk seperti ini. Dia pasti kecewa padamu Alena" ucap Clara lagi, namun Alena kembali menunduk dengan isak tangis yang masih terdengar pilu


"Dia mencintaimu, dia memilihmu untuk menjadi wanita nya. Dia membalas perasaan mu, mengorbankan dirinya demi membuat mu tetap hidup. Lalu seperti ini bayaranmu terhadapnya?" Clara menggelengkan kepala nya dengan pelan, pandangan nya masih menajam menatap Alena yang masih menangis


"Dua minggu kau hanya mengurung dirimu, dua minggu kau hanya meratapi nasibmu. Rasa bersalah mu tidak ada guna nya jika kau seperti ini Alena"


"Tanggung jawab mu masih banyak. Bukan kah kau ingin mewujudkan impian mu untuk membuat butik mu maju? Kau ingin mengikuti ajang bergengsi untuk membuat kakak ku bangga, lalu jika kau begini, bagaimana itu bisa terwujud ha?" Bentak Clara, emosi nya seketika memuncak sekarang, dan Alena hanya bisa menangis tertunduk


"Jika kau hanya seperti ini, aku benar benar kecewa padamu. Aku kecewa karena ternyata kak Ken salah menempatkan hati nya pada gadis lemah yang tidak tahu arti pengorbanan nya" kata Clara begitu tajam. Dia segera beranjak dan pergi meninggalkan Alena yang semakin menangis terisak sekarang.


Alena jatuh terkulai diatas rerumputan, tangan nya meraup rerumputan tempat nya berpijak.


"Uaaaaaggghhh Enzooooo" teriak nya begitu pilu, Alena kembali menangis meraung disana, wajah nya memerah bahkan suara nya sampai habis karena dia tidak pernah berhenti menangis.


....


Sementara Clara langsung pergi keluar dan masuk kedalam mobil nya yang dikemudikan oleh Jack. Bahkan dia mengabaikan Reymond yang begitu heran melihat nya.


Clara menangis tertahan didalam mobil, hati nya benar benar sakit melihat Alena yang seperti itu. Dia ingin Alena tegar, dia ingin Alena kembali seperti waktu itu. Dia tidak ingin kehilangan sahabat setelah dia kehilangan kakak nya. Meski didalam hati kecil nya dia selalu berharap masih ada harapan agar Kenzo bisa kembali bersama mereka.


"Nona" panggil Jack dengan ragu, mata nya yang fokus pada jalanan didepan nya, sesekali melirik Clara yang tengah menghapus air mata diwajah nya.


"Jack, antar aku pada Edward" ucap Clara , dan Jack langsung mengangguk.


Dia juga begitu khawatir mengenai king nya saat ini. Dua minggu berlalu, namun Kenzo belum juga ada kabar nya sedikitpun. Bahkan orang orang yang mereka kerahkan belum juga bisa menemukan keberadaan king mereka.


Satu jam kemudian mobil yang dikendarai Jack tiba didepan gedung Barren'ts Agency. Jack segera membuka pintu mobil untuk Clara.


Banyak wartawan dan paparazi yang langsung berkerumun untuk mendekati Clara, namun bodyguard dan tim penyapu jalan langsung menghalangi mereka. Saat ini, keluarga Kenzo Barrent memang menjadi topic utama dimedia massa maupun dunia maya, sehingga berita tentang perkembangan pencarian Kenzo selalu mereka nantikan setiap hari nya.


Clara berjalan begitu cepat dan mengabaikan seluruh cru dan teman teman model nya yang menyapa nya. Dia langsung berjalan menuju lantai atas dimana Edward berada. Saat ini, tangan kanan Kenzo itulah yang bertanggung jawab atas segala bisnis Kenzo.


Brak


Pintu langsung dibuka dengan paksa oleh Clara. Dia langsung masuk dan mendapati Edward yang sedang duduk dimeja kerja nya. Sementara Jack hanya menunggu didepan ruangan Edward.


Clara langsung menarik lengan Edward dengan kencang, membuat pria batu itu langsung berdiri dan menatap Clara dengan heran.


Clara menatap Edward dengan tajam, tangan nya langsung mencengkram jas dibagian dada pria itu.


"Katakan dimana kakakku!" Seru Clara begitu menggebu, namun Edward hanya menekukan alis nya


"Apa maksud nona?" Tanya Edward tidak mengerti.


"Katakan dimana kakak ku Ed. Kau pasti tahu sesuatu kan. Kau pasti yang menyembunyikan nya!!!" Teriak Clara memukul dada Edward dengan kuat, namun pria itu tidak bergeming sedikitpun. Dia hanya membiarkan Clara memukuli nya dengan puas


"Katakan jika dia masih hidup. Dia masih hidup kan Ed" kata Clara dengan wajah yang begitu pilu, dia kembali menangis terisak menatap Edward yang masih terdiam, namun sebenar nya hati nya benar benar tidak tega melihat Clara begini.


"Kau tidak pergi mencari nya, kau tidak mengerahkan klan mu mencari nya. Kau pasti tahu sesuatu. Katakan padaku jika dia masih hidup Ed......." Ucap Clara begitu memelas


Edward langsung menarik Clara kedalam pelukan nya, membuat gadis itu semakin menangis dengan pilu. Dia benar benar tidak siap jika harus kehilangan Kenzo.


"Maafkan saya yang tidak bisa melindungi tuan nona" ucap Edward dengan mata yang terpejam


"Malam itu king sendiri yang tidak ingin saya pergi, dia meminta saya untuk menjaga anda. Dan memastikan keadaan anda dan kedua orang tua anda baik baik saja. Dia tidak ingin kejadian di Jepang terulang kembali" ungkap Edward , tangan nya masih bisa merasakan jika Clara masih menangis terisak dalam pelukan nya


"Saya bukan tidak ingin pergi mencari nya, tapi jika saya pergi, siapa yang akan mengurus perusahaan dan bisnis tuan yang lain nya. Nona tahu sendiri jika banyak orang yang ingin menjatuhkan nya" ungkap Edward lagi


"Lalu kenapa kau tidak mengerahkan klan mu untuk mencari nya Ed, kenapa hanya orang orang diagensi ini" tanya Clara dengan Isak tangis nya


Edward terlihat menarik nafas nya sejenak


"Nona, tidak mungkin itu dilakukan, mengingat kali ini berurusan dengan agen agen terbaik dunia. Nama baik tuan Kenzo pasti akan hancur jika klan Aldrego keluar" ungkap Edward


"Tapi nyawa kakakku lebih penting Ed" sahut Clara


"Tuan pasti baik baik saja" gumam Edward


"Aku takut, aku takut. Aku sungguh tidak siap kehilangan dia. Huaaaaaa" tangis Clara semakin pecah, dan Edward masih memeluk nya dengan erat. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini. Tapi melihat wajah hancur Clara, sungguh dia tidak tega.