ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Aku Ingin Menjadi Seorang Putri



Saat ini Alena duduk diranjang nya sembari memandangi ketiga pria berwajah datar yang sama sama saling terdiam sejak tadi. Clara duduk disamping Alena, kapten Stone duduk dikursi disamping ranjang nya, sedangkan Kenzo dan Reymond saling berdiri berhadapan dan hanya terpisahkan ranjang Alena.


Kenzo berdiri disisi Clara dan Reymond berdiri disisi kapten Stone. Alena yang yang berada ditengah tengah mereka terasa aneh sekarang, apalagi wajah mereka semua tampak begitu datar dan tegang. Sebenarnya apa yang sedang mereka fikirkan? Apa mereka ingin bertengkar hanya gara gara dia? Tidak mungkin kan


Kapten Stone dan Reymond memilih diam dan tidak ingin mempermasalahkan tentang kenzo yang kemana menghilang hampir sebulan ini. Mereka hanya fokus tentang keadaan Alena yang ternyata lebih parah dari apa yang mereka duga sebelumnya. Nyawa Alena sedang dalam bahaya sekarang, bahkan bisa dibilang hanya tinggal hitungan jam lagi jika tidak segera ditemukan penawarnya. Dan tentu saja itu yang membuat mereka semua tampak tegang dan sangat cemas.


"Apa Edward memang sudah menemukan ilmuan yang bisa membuat penawar racun untuk Alena?" tanya kapten Stone memecahkan keheningan diantara mereka


"Ya, dia sedang berada di perjalanan menuju kemari sekarang, tapi mungkin malam nanti baru bisa sampai disini" jawab Kenzo


Kapten Stone dan Reymond terlihat menghela nafasnya dengan berat, mereka benar benar takut jika Alena tidak bisa diselamatkan.


"Sebaiknya kita bagi tugas" kata kapten Stone tiba tiba. Semua orang langsung memandang kearahnya dengan heran


"Aku tidak bisa membiarkan pelaku yang sudah mencelakai putriku berkeliaran dengan bebas diluar sana. Rey, pergilah bersama Joice kebutik Alena, cari tahu apa yang terjadi dua hari yang lalu" perintah kapten Stone pada Reymond yang langsung mengangguk


"Clara, kau juga harus pergi keperusahaan" kini gantian Kenzo yang mengeluarkan suara nya


"Aku" tunjuk Clara pada dirinya sendiri


"Awasi Rebecca, jangan biarkan dia kemanapun hari ini. Aku curiga dia lah orang nya. Selagi Reymond dan Joice mencari tahu kebenaran nya, kau tetap diperusahaan. Edward tidak ada, jangan biarkan dia melakukan hal lain yang merugikan kita. Selagi hari masih sore selidiki apa yang bisa kau selidiki" kata Kenzo lagi. Dan Clara langsung mengangguk mengerti. Sebisa mungkin dia akan membantu Kenzo mencari tahu siapa yang sudah berani mencelakai Alena. Dan jika memang orang itu adalah Rebecca, maka lihat saja apa yang akan dilakukan nya nanti. Akan dia cabik cabik wajah wanita itu sampai hancur.


Alena hanya diam saja memperhatikan mereka, dia sudah cukup lemas, bahkan kini dadanya terasa sakit lagi, tapi dia tidak ingin membuat semua orang bertambah khawatir, selagi bisa dia tahan, dia akan menahan nya.


"Alena, bertahanlah. Kau harus kuat demi kami oke. Aku akan menghajar orang yang sudah berani membuatmu seperti ini" kata Reymond mengusap wajah pucat Alena


Alena hanya mengangguk dan tersenyum dengan lemah. Kini gantian Clara yang memeluk nya dengan lembut


"Kau harus tetap sembuh, setelah kau sembuh aku akan mengajakmu berkeliling Newyork. Selama ini kau sudah cukup terkurung" ucap Clara


Dan lagi lagi Alena hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Dia benar benar sudah tidak sanggup berbicara banyak. Nafas nya mulai sesak dan dia hanya menjaga kesadaran nya sekarang.


Alena menoleh pada Kenzo yang menggantikan Clara duduk disebelah nya, dia menggenggam tangan Alena yang terlihat terkepal menahan sakit, dan hanya Kenzo yang menyadarinya.


"Kami pergi dulu" pamit Clara


Kenzo hanya mengangguk datar dan memandang sekilas pada Clara dan Reymond yang sudah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan mereka bertiga disana.


Kepala Alena langsung rebah dibahu Kenzo, dia lemas dan mulai merasakan sakit lagi. Kenzo membenarkan posisi nya, dan menyandarkan Alena didada nya


"Alena kau baik baik saja nak?" tanya kapten Stone yang cemas kembali melihat Alena yang begitu lemah didalam dekapan Kenzo. Dia berdiri dan mengusap bahu Alena yang dingin dan sangat rapuh


"Sakit dad" jawab Alena begitu pelan, bahkan matanya masih terpejam dalam rengkuhan Kenzo


Kapten Stone menggigit bibirnya menahan rasa sakit melihat putri yang dia cintai seperti ini. Dia memandang Kenzo yang juga sama sepertinya, tidak tega melihat Alena yang kesakitan, bahkan kapten Stone bisa melihat wajah yang biasanya angkuh dan dingin itu kini sudah seperti wajah penuh keputus asaan dan menyimpan ketakutan yang besar.


"Kau gadis yang kuat, kau harus bisa bertahan. Enzo mu sudah ada disini. Kau bilang kau ingin menikah dengannya" kata kapten Stone mencoba membuat kesadaran Alena tetap bertahan


Alena tersenyum dan membuka matanya perlahan


"Daddy aku ingin menikah dengan pernikahan yang mewah. Aku ingin menjadi putri yang sangat cantik dengan gaun yang indah, berkeliling kota dengan pangeran ku dan disaksikan oleh semua orang" gumam Alena, terdengar samar, namun kapten Stone dan Kenzo masih bisa mendengar nya dengan jelas


"Daddy akan mewujudkan impian mu nak, kau pasti akan sangat cantik, kau akan menjadi seorang putri nanti" jawab Kapten Stone mencoba tersenyum meski sekuat tenaga nya dia mati matian berusaha menahan air matanya


Kenzo bahkan tidak bisa membendung kesedihan nya saat ini. Dia menyembunyikan wajah nya dibalik kepala Alena, tangannya masih merengkuh erat tubuh itu. Sungguh demi apapun, dia yang biasa nya bisa menahan ekspresi, tapi melihat Alena yang seperti ini dia benar benar lemah. Alena kebahagiaan nya, Alena obat dari segala rasa sakitnya, tapi jika Alena seperti ini, bagaimana dia bisa bahagia. Apalagi jika Alena benar benar pergi meninggalkan nya, tidak, dia tidak akan sanggup. Alena nya adalah gadis yang telah dia labuhkan seluruh harapan dan impian nya, Alena adalah mataharinya yang datang disaat saat terpuruk nya, dan dia tidak akan bisa ditinggalkan begitu saja.


Alena tersenyum, mengusap perlahan lengan Kenzo yang terasa bergetar memeluk nya


"Kau menangis lagi En?" tanya Alena begitu lemah


Kenzo langsung menggeleng dan mengusapkan wajah nya kebahu dengan cepat


"Kau berbohong" gumam Alena, namun kini dia yang langsung mngernyit menahan sakit. Tangan nya langsung menggenggam lengan Kenzo dengan erat. Namun Kenzo melepaskan nya dan menggantinya dengan jari yang saling dia tautkan dijari Alena


"Kau pasti kuat" bisik Kenzo


Alena menarik nafasnya yang terasa berat dan sesak, bahkan dia menegangkan seluruh tubuhnya hanya untuk mencari oksigen demi membuat jantung nya terus bertahan, genggaman tangan nya benar benar erat penuh kesakitan. Kapten Stone yang melihatnya benar benar tidak tega


"Alena" gumam nya membantu mengusap wajah Alena yang sudah banjir dengan keringat


"Aku mencintaimu Alena, sangat mencintaimu" bisik Kenzo terus menerus ditelinga Alena.


"Eugh" suara lenguhan Alena merupakan kesakitan tersendiri untuk kapten Stone dan Kenzo. Sungguh jika bisa menggantikan Alena mereka pasti akan menukar posisi mereka. Mereka benar benar tidak berdaya melihat Alena yang seperti ini


Alena mengarahkan tangan nya yang masih digenggam Kenzo menuju dadanya. Sedikit menekan nya namun Kenzo menahan nya. Dia tahu dada Alena pasti sakit lagi, tapi jika Alena memukul mukul dadanya, dia takut jantung nya semakin melemah


Satu tangan Kenzo langsung memencet tombol yang menghubungkan keruangan dokter Richard. Alena harus mendapatkan alat bantu pernafasan saat ini. Dia sudah tidak bisa bernafas dengan baik.


"Ya Tuhan, Ken apa yang harus kita lakukan , kita tidak mungkin membiarkan Alena seperti ini terus" kata kapten Stone benar benar panik, apalagi melihat Alena yang tidak lagi dapat bernafas dengan baik


Kenzo hanya diam dan terus mengecupi pucuk kepala Alena, membisikan kata kata cinta untuk gadis itu


Hingga tidak lama kemudian dokter Richard masuk bersama rekan nya.


Kapten Stone langsung menjauh, Kenzo juga ingin melepaskan dekapan nya namun Alena langsung menggeleng ditengah kesakitan nya, dia tidak ingin dtitinggal oleh Kenzo. Ada didalam dekapan Kenzo membuat nya sedikit lebih tenang, meski rasa sakit ini sungguh membuatnya tidak berdaya dan ingin menyerah


"Tidak apa apa king" kata dokter Richard, dia langsung menyuntikkan sesuatu dilengan Alena. Kenzo menahan lengan Alena agar tidak bergetar, meski itu juga tidak berpengaruh. Seluruh tubuh Alena kejang dan bergetar menahan sakit. Bahkan keringat dingin sudah penuh membasahi tubuhnya


"Euuugghh" lenguh Alena yang kembali menyelusupkan kepala nya kedada Kenzo, genggaman tangan nya sudah tidak seerat tadi, mata nya juga masih memejam menahan sakit yang tiada tara


"King kita tidak bisa menyuntikkan cairan penahan sakit lebih banyak dari ini, saya takut jantung nya tidak kuat" ungkap dokter Richard yang juga tidak tega melihat kesakitan Alena


"Ya" jawab Kenzo yang sudah tidak bisa lagi berkata apa apa selain mencoba menenangkan Alena


Dokter Richard sedikit terkesiap melihat kapten Stone yang ada disana, pasal nya sejak kapan king nya berhubungan dengan agen negara. Apa gadis ini adalah putrinya? Jika iya, bukankah hal ini beresiko?. Tapi untuk apa memikirkan itu sekarang, nyawa Alena lebih penting, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun. Menyuntikkan obat obatan lain sama saja membuat nyawanya terancam, bahkan bisa mengakibatkan gagal jantung.


Dokter Richard melirik jam yang ada dipergelangan tangan nya, sudah jam empat sore, tapi keadaan Alena sudah seburuk ini. Dia benar benar tidak yakin jika Alena bisa bertahan sampai malam nanti. Jarak Argentina Newyork sangat jauh, meski memakai heli dengan teknologi canggih pun pasti tengah malam nanti baru akan tiba disini. Belum lagi memastikan penawar nya cocok atau tidak ditubuh Alena. Ya Tuhan, dokter Richard tidak bisa membayangkan jika Alena akan pergi lebih cepat dari perkiraan nya. Mungkin King Aldrego ini bisa gila, lihat saja sekarang dia sudah begitu panik, cemas dan ketakutan. Bahkan dia juga menangis melihat Alena yang kesakitan. Siapapun bisa tahu jika cinta Kenzo bukan lah cinta yang biasa. Sejak dulu dia selalu mencintai dengan nyawanya, dan jika kali ini dia ditinggal pergi lagi, mungkin saja Kenzo akan hidup seperti batu bernafas yang jauh lebih parah dari pada sebelumnya.


Kenzo terkesiap saat melihat Alena yang kejang kejang, dokter Richard langsung mendekat dan memasang alat bantu pernapasan dihidung nya. Nafas Alena terputus putus bahkan genggaman tangan nya sudah tidak lagi terasa membuat Kenzo benar benar panik


"Alena bertahan lah, kau kuat Alena. Bertahan lah demi aku" pinta Kenzo dengan suara yang bergetar


"Alena aku mohon" pintu Kenzo mengecup kepala Alena dengan air mata yang menetes diwajah Alena


Ditengah tengah kesadaran nya yang semakin menipis, Alena membuka matanya, memandang Kenzo dengan begitu lemah. Dia sudah tidak sanggup untuk berbicara, namun sekuat tenaga dia memberikan senyum nya pada Kenzo, seolah sedang menguatkan lelaki itu jika dia tidak akan pergi. Dia hanya lelah, dan ingin tidur!


"Kau kuat, kita akan menikah setelah ini. Aku berjani" kata Kenzo lagi


Alena mengerjapkan matanya sekali dan kembali memandang wajah Kenzo yang masih mendekapnya. Lelaki itu masih menangis dan Alena tidak suka melihatnya, hatinya juga sedih, tapi sungguh rasa sakit ini membuatnya tidak berdaya. Alena juga melirik pada kapten Stone yang berdiri dipojokan, ayahnya itu juga menangis terpuruk disana. Kenapa mereka semua begitu? Apa mereka tidak tahu jika dengan begitu mereka hanya membuat Alena bersedih


Alena menarik nafasnya dengan berat, sangat berat, hingga dia tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang begitu menghimpit dadanya.


Tangan nya terlepas dari genggaman kenzo, kepala nya yang bersandar didada Kenzo juga langsung terkulai dan dia kehilangan kesadaran nya lagi.


"Alena" lirih Kenzo begitu pedih


Kapten Stone bahkan tidak sanggup melihat nya


dokter Richard menundukkan kepala nya dengan begitu iba