
Kenzo duduk dengan angkuh disebuah kursi menghadap kearah Edward yang duduk diatas ranjang. Sementara Clara sudah diminta nya untuk kembali kemansion. Awalnya Clara menolak karena takut jika Kenzo akan menyalahkan Edward atas kejadian yang menggelikan ini. Namun melihat tatapan tajam kakak nya, Clara tidak berani membantah dan terpaksa meninggalkan pria batu dan pria dingin itu hanya berdua diruangan. Bahkan Jack saja menunggu mereka diluar karena dia juga takut dengan kemurkaan Kenzo.
Bahkan Jack sendiri heran kenapa pria batu itu berani sekali tidur dengan nona muda mereka. Meskipun semua orang tahu jika mereka memang cukup dekat. Tapi kan, hanya sebatas nona dan pengawal.
Edward tertunduk tidak berani lagi memandang king Aldrego yang memandang tajam padanya sejak tadi. Sudah entah berapa menit mereka hanya diam seperti ini. Hingga beberapa saat kemudian Kenzo terlihat menghela nafasnya dan mulai membuka suara.
"Kau benar benar sudah mencuri start Ed" ucap Kenzo dengan sinis
"Apa kau sudah tidak sabar lagi untuk memiliki nya dan mendahului ku?" tanya Kenzo
Edward sedikit beraksi, dia memandang sekilas pada Kenzo dan menunduk kembali. Mendahului bagaimana, mana dia berani. Lagipula dia tahu jika perasaan Clara saja masih terikat pada Reymond. Dan sudah jelas jika Clara hanya menganggap nya sebagai pengawal sampai kapanpun.
"Kau menyukai adikku?" tanya Kenzo lagi. Dia memandang lekat Edward yang kini menoleh padanya
"Bukankah Anda sudah tahu king" jawab Edward
"Walaupun aku sudah memberimu izin untuk mendekati nya. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya untuk mengajaknya tidur berdua" Kenzo terlihat tidak suka jika mengingat tadi
Edward mengangguk dan menghela nafasnya
"Untuk itu, maafkan saya. Saya sungguh tidak mempunyai niat buruk pada nona Clara. Saya...saya hanya"
"Hanya khilaf????" sinis Kenzo
Edward meraba tengkuk nya sekilas. Sejak mengenal Alena Kenzo menjadi lebih sensitif dan cerewet. Padahal dia saja entah sudah berapa kali tidur dengan gadis itu. Bukan Edward tidak tahu.
"Maaf king" ucap Edward yang kembali tertunduk
"Jika kau memang serius padanya. Kau harus membuktikan itu. Meskipun aku sudah memberimu izin, tapi kau juga harus melewati orang tua ku" ungkap Kenzo
Edward kembali menegakkan wajah, memandang Kenzo yang menatap serius padanya.
"Kau serius bukan, jangan hanya mengajak nya tidur saja" dengus Kenzo lagi
"Saya serius dengan nona Clara. Tapi untuk saat ini, saya meminta izin untuk mengambil hatinya terlebih dulu. Dan setelah itu, saya pasti akan mendatangi tuan dan nyonya besar" ungkap Edward
Alis Kenzo tergerak dan mendengus senyum
"Apa kau merasa kesulitan untuk itu?" tanya Kenzo
"Tentu saja, nona Clara hanya menganggap saya sebagai pengawalnya" jawab Edward
Kenzo tersenyum tipis dan mengangguk. Dia beranjak dari duduk nya dan berdiri memandang Edward.
"Yah, itu adalah urusan mu. Tapi dengan satu syarat. Kau jangan menggunakan cara licik yang bisa merusak Clara sebelum kau menikahi dia" ujar Kenzo begitu serius.
"Tentu king. Saya tidak akan mengecewakan anda. Terimakasih sudah memberikan saya kesempatan ini" ucap Edward sedikit membungkukkan tubuhnya
"Dia adikku Ed. Walaupun kau adalah tangan kananku, tapi jika kau menyakitinya sedikit saja. Maka aku akan membunuhmu tanpa fikir" ancam Kenzo
"Baik king" jawab Edward langsung
Setelah mengatakan itu, Kenzo langsung keluar dan meninggalkan Edward sendirian.
Bukan tanpa alasan dia mengancam Edward seperti itu. Clara adalah adik semata wayangnya dan tentu dia tidak ingin Clara rusak sebelum menikah. Karena prinsip hidup Kenzo sejak dulu adalah hidup bersih tanpa noda sebelum mempunyai status yang jelas. Meski dinegara itu status bukan lagi satu hal yang penting, namun bagi seorang Kenzo Barrent, wanita yang bisa memiliki jiwa dan raganya hanya satu saja. Dia tidak suka bergonta ganti pasangan dan menjajakan tubuh kebanggaan nya dengan sembarang wanita.
Meski dia mempunyai kekuasaan, kekayaan dan ketenaran, tapi dia mempunyai harga diri setinggi langit.
Dengan Angel saja dia begitu menjaga gadis itu dulunya, apalagi Angel yang sebagai ketua mafia, sudah jelas dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya. Namun Kenzo, dia tidak membiarkan wanita nya rusak begitu saja. Dan begitu pula dengan Alena, meski terkadang dia tidak tahan dengan hasrat yang menggebu, namun dia masih memiliki akal yang sehat untuk tidak melakukan hal itu.
Apalagi untuk adiknya sendiri. Tentu akan dia jaga seperti berlian yang sangat berharga. Siapapun yang merusaknya, tidak akan Kenzo biarkan selamat. Meskipun orang itu adalah Edward.
...
Keesokan harinya...
Clara kembali lagi keruang bawah tanah. Ditangan nya membawa sepiring sarapan yang dibuat oleh bibi Khoi. Dia berjalan dengan sedikit tergesa menuju ruangan Edward. Takut takut jika kakaknya akan memergoki nya lagi. Jangan sampai Kenzo memulangkan nya kerumah utama. Clara bosan disana, dia lebih suka berada dimansion Kenzo selama ini.
Tapi Clara rasa Kenzo tidak akan memulangkan nya, kakak nya itu pasti akan meminta nya untuk keperusahaan. Dan itu lebih membuat Clara bosan dan jenuh. Berkutat dengan angka dan huruf juga harus memutar otak untuk mencari ide ide baru membuat kepala nya pusing. Apalagi Alena yang belum bisa masuk, dia lebih memilih disini menjaga pria batu itu. Yah, apalagi sekarang Edward lebih murah senyum.
Clara membuka pintu dengan sedikit kesusahan, dan ketika dia masuk dapat dia lihat jika Edward masih duduk disisi ranjang dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil namun terlihat sedikit kepayahan. Bahkan dia tidak mengenakan baju sekarang, hingga dada bidang bertato itu terlihat dengan jelas. Apa Edward habis mandi??? dia terlihat begitu segar dan..... seksi.
Clara langsung menggeleng dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Nona" sapa Edward. Rambutnya acak acakan, namun sungguh Clara menjadi sedikit canggung melihat tampang nya. Sejak kapan Edward bisa menjadi setampan dan seseksi ini. Oh my God. Sepertinya otak Clara sedikit oleng pagi ini.
"Aku mengantarkan sarapan. Bagaimana keadaanmu?" tanya Clara yang segera menetralkan wajah nya. Jangan sampai dia menunjukkan keterpesonaan nya pada pria batu ini.
Clara meletakkan nampan yang dibawa nya keatas meja. Dan kembali memandang Edward yang masih duduk dengan tenang memperhatikan nya
"Sudah lebih baik" jawab nya dengan senyum tipis
"Kau sudah bisa mandi sendiri?" tanya Clara
Edward mengangguk
"Ya, mandi seadanya, tubuh saya lengket" jawab Edward
Mata Clara memicing dan melihat luka didada Edward yang sudah mulai mengering. Namun masih tampak mengerihkan. Luka bakar dan juga luka tembak dibahu nya.
"Apa itu sakit" tunjuk Clara pada dada bidang itu
"Sedikit" jawab Edward
Baru saja Clara ingin membuka mulutnya kembali namun suara pintu yang diketuk membuat mereka langsung menoleh kearah pintu.
Dokter Richard masuk dengan senyum lebarnya seperti biasa
"Selamat pagi tuan Ed, nona muda" sapanya dengan tangan yang membawa sebuah tas berisi perlengkapan medis.
"Pagi dokter" balas Clara. Dia bergeser dan membiarkan dokter Richard memeriksa Edward. Pria batu itu hanya diam dengan wajah datar nya. Bahkan saat dokter Richard memeriksa lukanya dia sama sekali tidak berekspresi
"Luka nya sudah mulai membaik. Seharusnya jangan terkena air dulu tuan. Takut akan berair lagi" ungkap dokter Richard
"Kau kira aku akan tahan tidak mandi berhari hari" ucap Edward dengan suara berat nya yang terkesan dingin dan ketus
Clara sedikit heran melihat pria batu ini. Dia bisa berubah lembut dan manis padanya, tapi kenapa sekarang berubah seperti batu lagi?
Dokter Richard menghela nafasnya dengan pelan. Yah, terserah saja, yang sakit juga bukan dia.
"Baiklah, tapi usahakan anda meminum obat anda sampai habis. Ini juga obat oles untuk luka itu agar tidak iritasi dan berair." ungkap dokter Richard seraya meletakkan beberapa bungkus obat dan juga sebuah botol yang berisi obat oles.
Dia menyuntikkan sesuatu kelengan Edward. Pria itu hanya diam namun Clara yang tampak meringis.
"Selesai. Jika perlu sesuatu anda bisa memanggil perawat tuan" ujar dokter Richard. Edward hanya mengangguk pelan
"Kapan ini dilepas" tanya Edward menunjuk selang infusnya
"Sekarang saja" pinta Edward membuat dokter Richard langsung mematung dan memandang nya
"Tubuh anda masih belum pulih. Luka dalam masih cukup serius, cairan itu juga bukan sekedar cairan penambah tenaga, melainkan cairan untuk menyembuhkan luka dalam. Saya tidak bisa melepas itu hari ini, king bisa marah. Karena cairan itu didapatkan nya dari Professor Brian" ungkap Dokter Richard
Edward mengernyitkan dahi memandang punggung tangan nya yang tertancap selang infus. Dia kira hanya cairan biasa, apa sebegitu khawatir nya Kenzo hingga dia mencari obat jauh ke Argentina???
"Saya permisi tuan, nona" pamit dokter Richard
"Baik dokter. Terimakasih" Clara yang menjawabnya karena Edward hanya diam dan masih memperhatikan selang infusnya. Pantas saja warna cairan ini aneh, seperti keruh dan terasa sakit ketika masuk kepembuluh darah nya
Clara menoleh pada Edward dan mencuil lengan kekar Edward membuat pria batu itu langsung menoleh kearah nya
"Kenapa?" tanya Clara yang kini beralih kearah meja dan meraih sepiring sup asparagus yang dicampur dengan sedikit daging kepiting
"Tidak" jawab Edward
"Yasudah ini makan dulu" ujar Clara yang langsung menyuapkan makanan itu kehadapan Edward
"Saya sudah seperti anak kecil sekarang" gumam Edward yang langsung membuka mulutnya
Clara tertawa dan mengaduk sup yang terlihat masih hangat
"Wajahmu tidak bisa dikatakan anak kecil Ed. Terlalu menyeramkan" sahut Clara
"Seram" tanya Edward dan Clara langsung mengangguk
"Ya, seharusnya kau lebih bisa tersenyum sedikit. Jika tersenyum kau pasti lebih tampan" puji Clara
"Benarkah?" tanya Edward dan Clara langsung mengangguk
"Apa seperti ini?" Edward langsung menunjukkan senyum lebar nya yang terlihat kaku dan canggung membuat Clara langsung menyemburkan tawanya begitu lepas
Wajah Edward benar benar aneh. Seumur hidup dia tidak pernah tersenyum, dan melihat ini sungguh lucu
Clara bahkan sampai sakit perut melihat nya.
"Hahahaha... Ed.. kau ini lucu sekali. Begini cara nya. Dasar batu, senyum lebar saja tidak bisa" Clara langsung menarik bibir Edward dengan dua jarinya, membentuk sebuah lengkungan yang menjadi senyum lucu
"Naahh... kan lumayan. " kata Clara memperhatikan bibit tipis itu dengan lekat.
Sementara Edward langsung tersenyum dan mengikuti jari Clara. Matanya memandang fokus pada wajah cantik Clara yang sangat memanjakan matanya. Gadis kecil yang kini sudah semakin mempesona
"Kan tampan" ucap Clara begitu puas
"Saya merasa aneh" gumam Edward seraya meraih tangan Clara dan menurunkan nya
"Aneh kenapa, kau harus terbiasa tersenyum mulai sekarang" pinta Clara
"Bukankah sudah" jawab Edward
"Bukan hanya padaku. Tapi pada orang lain juga" sahut Clara
Edward menggeleng pelan dan melepaskan tangan Clara, dia meraih mangkuk bubur dari tangan gadis itu dan menarik Clara untuk duduk disamping nya.
Clara menurut saja, dia memandang Edward dengan lekat. Berada dekat seperti ini sebenarnya membuatnya canggung. Apalagi melihat tubuh seksi itu. Wow sekali...
"Saya tidak suka mengumbar senyum pada orang yang tidak berarti" ucap Edward
"Kenapa begitu?" tanya Clara dengan heran
"Bagi saya senyum itu seperti hati nona. Tidak mudah untuk diberikan pada siapapun." ungkap Edward memandang nanar kearah pintu
"Apa aku berarti untukmu?" tanya Clara dengan ragu
Edward tersenyum tipis dan menoleh pada Clara
"Apa semua yang saya katakan hanya anda anggap sebagai lelucon" tanya Edward begitu serius
Clara menunduk dan menggeleng pelan
"Sejak dulu, kau selalu bilang jika aku hanya menyusahkan mu. Kau selalu menganggapku sebagai anak kecil yang nakal. Jadi bagaimana aku bisa menganggap perkataan mu serius" ungkap Clara
Edward menghela nafasnya perlahan dan mengalihkan pandangan nya dari Clara
"Dulu, memang anda anak kecil yang menyebalkan yang selalu saja membuat saya ketar ketir. Sangat cerewet dan selalu membuat saya khawatir setiap hari, tapi meskipun begitu saya menyayangi anda seperti adik saya sendiri." ungkap Edward
Clara kembali menoleh kearahnya dengan perasaan yang menjadi haru
"Tapi seiring berjalan nya waktu, rasa sayang pada seorang adik itu berubah" ungkap Edward lagi. Kali ini dia memandang kearah Clara
"Rasa sayang yang tidak tahu kenapa menjadi lebih dalam. Saya takut anda terluka, saya tidak suka melihat anda dekat dengan pria lain, dan saya tidak bisa jika tidak melihat anda dalam waktu yang lama" ungkapan Edward membuat Clara sedikit terperangah. Dia bahkan langsung mengerjapkan matanya dan memalingkan wajahnya yang tiba tiba memanas
"Maaf nona. Saya memang lancang. Tapi... saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya" ucap Edward lagi
Clara masih terdiam, entah kenapa sebenarnya semua yang dikatakan oleh Edward dia memang percaya. Karena nyatanya, didalam ketidaksadaran pun Edward bahkan menyebut nama nya.
Apa....ini pantas?
Tapi,.dia juga takut jika Edward mati kemarin.
"Saya tidak menuntut apapun nona. Tolong jangan dijadikan beban. Saya....." ucapan Edward langsung terhenti saat tiba tiba Clara memandang nya dengan tidak suka
"Apa kau tidak ingin berjuang sedikitpun?" tanya Clara begitu ketus
"Berjuang?" tanya Edward
"Kau menyukaiku sebagai seorang wanita kan, bukan sebagai adik?" tanya Clara begitu serius dan Edward langsung mengangguk yakin
"Jika begitu kau harus berjuang untuk mendapatkan ku" ungkap Clara
Edward mematung, memandang gadis ini tidak percaya. Namun ketika mengingat sesuatu hati nya menjadi resah
"Berjuang mungkin akan saya lakukan. Tapi jika hanya berjuang sendiri, apa itu mungkin?" gumam Edward
"Apa maksudmu?" tanya Clara yang tidak mengerti
"Saya berjuang untuk mendapatkan hati nona, tapi jika nona tidak ingin melepaskan perasaan nona,.apa itu akan berhasil?" tanya Edward
"Ed....kau"
"ya, saya tahu tentang perasaan anda dan Reymond"
deg