
Alena duduk dengan perasaan cemas didepan ruangan Clara dirawat. Gadis itu masih berada didalam sana untuk diperiksa. Alena menahan tangis nya karena lagi lagi dia merasa bersalah, Clara bertambah parah pasti karena mencarinya pagi ini. Dan ya, dia memang selalu membuat semua orang susah.
Alena menatap ponsel ditangannya, dia baru saja menghubungi nyonya Monica memberitahukan keadaaan Clara yang sekarang dirawat dirumah sakit. Dia tidak ingin membuat nyonya Monica cemas. Mudah mudahan saja kondisi Clara hanya demam biasa.
Satu orang lagi yang ingin dihubungi Alena sebenar nya, tapi Alena ragu. Entah orang itu mau atau tidak menemui Clara disini. Mengingat dia masih ingin menyembunyikan keberadaan nya dari dunia.
Pintu ruangan yang terbuka membuat fokus Alena teralihkan. Dia langsung berdiri dan mendekati Reymond yang sudah duluan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Reymond langsung. Sepertinya kakak nya ini memang benar benar mencemaskan Clara. Bahkan sejak tadi dia terus menunggu didepan pintu ruangan ini
"Nona Clara hanya kelelahan dan demam biasa saja tuan. Mungkin beberapa waktu terakhir ini dia jarang beristirahat dengan baik hingga membuat tubuh dan kesehatan nya menurun. Istirahat selama dua hari disini akan bisa memulihkan kesehatan nya kembali" jawab dokter itu. Reymond tampak bernafas dengan lega. Namun tidak dengan Alena. Dia semakin merasa bersalah, karena dia tahu apa yang menyebabkan Clara seperti ini. Clara begitu sibuk mengurus perusahaan dan masih harus membawakan gaunnya. Ya, tidak bisa dibiarkan, Alena memang harus meminta Kenzo untuk menemui Clara, siapa tahu dengan begitu Clara bisa cepat sehat dan semangat lagi. Karena Alena tahu, jika selama ini Clara sama seperti nya, begitu sedih dengan hilang nya Kenzo Barent.
"Apa kami bisa menemui nya?" tanya Reymond lagi
"Tentu tuan, tapi jangan menganggu istirahatnya" jawab dokter itu
"Terimakasih dokter" ucap Alena saat Reymond langsung masuk kedalam ruangan Clara.
Alena hanya berdiri didekat pintu, dia membiarkan Reymond yang melihat keadaan Clara. Wajah kakaknya itu terlihat begitu sendu dan sangat sedih. Alena juga sedih, tapi wajah Reymond terlihat begitu berbeda. Apalagi ketika dia menatap Clara. Pandangan mata itu selalu dia rasakan saat Kenzo menatapnya, dan itu adalah ekspresi wajah ketertarikan, rasa sayang dan Alena tidak mengerti lagi. Yang jelas Alena merasa jika kakak nya pasti menyukai Clara.
Alena ingat malam kompetisi itu, dimana mereka berdua saling menghilang dan muncul kembali dengan wajah yang berbeda, seperti habis menangis dan memendam kesedihan satu sama lain. Sungguh Alena benar benar takut jika apa yang sempat terlintas difikiran nya benar benar terjadi. Reymond jelas menyukai Clara, dia bahkan tega membentak calon istrinya tadi, tapi jika Clara juga menyukai Reymond, bagaimana jadinya?
Alena menghela nafas pelan. Dan dengan pelan pula dia membalikkan tubuhnya meninggalkan Reymond didalam menemani Clara.
Alena lebih memilih duduk diruang tunggu dari pada melihat kakak dan sahabatnya itu. Entah kenapa hatinya jadi tidak menentu.
Lama Alena duduk disana, hingga suara seorang wanita mengejutkan nya
"Alena dimana Clara" tanya nyonya Monica yang datang bersama Edward
Alena sedikit terkesiap, dia langsung berdiri dengan canggung, kakak nya sedang didalam, jika nyonya Monica tahu apa dia tidak akan berfikir yang tidak tidak
"Clara didalam nyonya" jawab Alena menunjuk pintu didepan mereka
"Bagaimana keadaan nya?" tanya nyonya Monica lagi, dia langsung berjalan keruangan itu, namun saat ingin membuka pintu, ternyata Reymond yang terlebih dulu membuka nya. Kakak nya itu tampak sedikit terkesiap, namun langsung membungkukkan tubuh nya dihadapan nyonya Monic
"Selamat pagi nyonya" sapa Reymond
"Rey, kau disini" tanya nyonya Monic heran
"Kakak saya yang membawa Clara kemari nyonya. Clara pingsan tadi" jawab Alena
"Oh astaga, Claraku" gumam nyonya Monic yang langsung masuk kedalam melihat Clara. Sedangkan Reymond keluar dan duduk dikursi tunggu.
Alena berdiri mematung didepan pintu, wajah kakak nya masih sedih, namun kenapa wajah Edward begitu, kesal kah? Tapi kenapa. Sejak tadi Alena melirik Edward sesekali untuk mengajak nya berbicara mengenai Kenzo, tapi yang dia dapatkan malah wajah kesal Edward yang menatap kakak nya. Apa Edward tidak suka kakak nya dekat dengan Clara? Tapi bukankah selama ini dia tahu jika mereka memang berteman, tapi kenapa dia begitu?
"Anda sudah bisa pulang tuan Reymond. Sudah ada nyonya Monica yang menjaga nona Clara disini" kata Edward terdengar begitu dingin, bahkan Alena yang mendengar nya langsung merinding
Reymond menoleh pada Edward dengan pandangan datar, namun Edward malah menatap nya dengan tajam. Apa mereka akan berkelahi? Batin Alena ngerih
"Kau mengusirku?" tanya Reymond
"Ya" jawab Edward tanpa fikir
Alena langsung melebarkan matanya mendengar itu. Apa mereka memang ada dendam pribadi, batinnya lagi
Reymond tersenyum sinis dan mengangguk.
Dia beranjak dan mendekati Alena yang masih seperti patung ditempat nya
"Aku memang ada meeting pagi ini, jadi aku harus keperusahaan, kau mau ikut atau tinggal?" tanya Reymond pada Alena
"Aku disini saja kak" jawab Alena
"Baiklah, beritahu aku tentang kabar Clara setiap waktu" kata Reymond lagi
"Anda tidak terlalu penting untuk mengetahui kondisi nona Clara setiap waktu. Bukankah anda sudah tahu jika dia baik baik saja" lagi lagi Edward menyahut dengan nada terkesan sinis dan tidak suka. Sebenar nya ada apa dengan pria batu ini, Alena merasa ada yang aneh sekarang
"Dia temanku tuan asisten, jadi aku berhak tahu" kata Reymond pula. Sepertinya dia sudah mulai kesal sekarang
Edward mendengus sinis dan berjalan mendekati Reymond, namun Alena langsung menghadang nya
"Kak, pergilah. Nanti kau terlambat. Aku pasti mengabari mu nanti" kata Alena yang langsung mendorong tubuh Reymond dengan kuat sembari matanya melotot kesal pada Edward yang berwajah datar itu.
Reymond menoleh sinis pada Edward namun dia tidak mungkin melawan tangan kanan tuan Kenzo Barrent ini, lebih baik dia pergi dari pada bertambah kesal dengan pria batu itu.
Setelah Reymond pergi, Alena kembali pada Edward dan menarik tangan pria itu menjauh dari ruangan Clara. Edward mengernyit bingung, namun mau tidak mau dia terus saja mengikuti langkah kaki Alena, entah ingin apa gadis kesayangan king nya ini. Apa Alena tidak tahu jika Edward sedang kesal sekarang.
"Aaahhh kau ini berat sekali" gerutu Alena saat telah berhasil membawa Edward kesebuah lorong yang tampak sepi
Edward mengernyit bingung dan menghela nafas lelah melihat Alena
"Apa Kenzo tahu Clara dirawat" tanya Alena langsung
"Tahu" jawab Edward singkat
"Tidak" jawab Edward
"Heh, kenapa, bukankah Clara sedang sakit. Jika dia datang, dia pasti bisa membuat hati Clara senang. Clara juga sakit karena menolongmu diperusahaan, dia kelelahan sehingga tubuh nya drop." omel Alena dengan begitu kesal menatap wajah datar pria batu itu
"Anda tahu jawaban nya nona" jawab Edward terlihat begitu acuh. King nya tidak mungkin datang, apalagi Clara juga tidak sakit yang serius, dia hanya kelelahan saja dan butuh istirahat yang cukup
"Kau ini memang menyebalkan, tidak bisakah kau menyenangkan hati Clara sedikit. Dia itu sedang sedih, dia butuh sesuatu yang menyenangkan hatinya. Jika kau tidak mau membantu ku membuat Clara senang untuk apa kau disini, lebih baik aku meminta kakak ku saja yang ada disini, dia lebih bisa membuat Clara tersenyum daripada pria batu sepertimu" gerutu Alena begitu panjang membuat telinga Edward menjadi sakit. Tapi bukan sakit karena gerutuan Alena, melainkan sakit karena kenapa harus meminta Reymond yang menemani Clara. Tidak akan dia biarkan
"Memang nya kenapa nona Clara bersedih?" tanya Edward yang sudah berhasil terprovokasi. Alena langsung tertawa dalam hati melihat nya
"Aku tidak tahu, tapi sejak malam ajang kompetisi itu dia memang terlihat berbeda. Pasti ada yang membuat nya sedih. Dia sudah lelah mengurus perusahaan, dia juga sedih karena hilang nya Kenzo, dan mungkin saja dia sedih dengan hal lainnya. Seharusnya kau sebagai orang yang paling dekat dengan dia tahu semuanya, bukan nya malah tidak ingin membuat nya senang" jawab Alena
Edward terdiam memikirkan perkataan Alena. Dia tahu jika Clara lelah, dia tahu malam itu Clara sedih karena cinta nya harus kandas bersama Reymond. Dia tahu semua nya, dia yang paling tahu Clara sejak dulu bahkan melebihi orang tua Clara sendiri. Edward adalah orang kedua setelah Kenzo yang dekat dengan Clara, jadi bagaimana Alena bisa berkata jika dia tidak mengetahui apapun. Yang Edward tidak tahu adalah cara membahagiakan gadis itu, ya Edward tidak pernah tahu itu
"Hei" panggil Alena yang langsung menghancurkan lamunan Edward
"Kenapa kau malah melamun. Jika kau tidak mau membuat Clara senang, maka biarkan kakak ku disini, dia pasti bisa menyenangkan hati Clara" kata Alena lagi
"Kenapa harus dia, saya juga bisa" sahut Edward langsung
"Heh, aku tidak yakin" remeh Alena
"Nona tinggal memberitahu saya bagaimana cara nya untuk membuat nona Clara senang" sahut Edward
Alena tersenyum tipis. Seperti nya dia baru menyadari jika Edward juga pasti menyukai Clara. Alena memang tidak mengerti dunia percintaan, tapi melihat sikap Edward yang tidak suka pada Reymond, dia jadi tahu jika pria ini pasti cemburu. Karena dia juga begitu jika bersama dengan Rebecca.
"Kau harus meminta Kenzo untuk datang kemari" pinta Alena
Edward mengernyit
"Tidak mungkin, bahkan nona tahu jika king masih tidak ingin menunjukan dirinya didepan orang orang" jawab Edward keberatan
"Aku yakin Clara bisa menjaga rahasia Ed. Aku tidak tega jika harus membohonginya setiap waktu, itu begitu jahat" kata Alena lagi
"Tidak ada yang meminta anda untuk berbohong nona" ucap Edward
Alena langsung mendengus kesal dan memukul dada Edward dengan kuat
"Kau ini dasar batu. Sudah lah jika tidak mau. Aku bisa menghubungi kakak ku saja dan meminta nya kemari" ancam Alena yang mengeluarkan ponsel nya
"Baiklah, saya akan menghubungi king" seru Edward dengan cepat
Alena langsung tersenyum dan mengangguk menang. Ternyata hanya begitu caranya membuat Edward bertekuk lutut
"Tapi bagaimana king bisa kemari jika nyonya besar ada disini, king tidak akan mau" kata Edward lagi
Alena langsung mendatarkan wajah nya, benar juga, ah itu akan dia fikirkan nanti. Yang terpenting Kenzo datang dulu
"Sudahlah, kalian bisa mengelabui Joice, maka aku yang akan memikirkan caranya nanti. Sekarang suruh dulu dia kemari" ujar Alena begitu memaksa
Edward menghela nafas lelah. Ini terlalu beresiko, tapi jika tidak dia lakukan Alena pasti akan memaksa nya dan mengancam dengan kakak nya yang penakut itu. Dan Edward tidak ingin itu terjadi.
Dengan ragu Edward memanggil nama Kenzo diponselnya, dia melirik kearah Alena yang terlihat tidak sabar.
"[ada apa]" tanya Kenzo dari seberang sana. Edward terdiam meragu memandang Alena yang memelototkan matanya
"[Ed!]" panggil Kenzo dengan suara beratnya. Membuat kedua orang itu langsung meremang takut
"King, bisakah..."
"[Apa, kau mau ku penggal hah, membuang waktuku saja]" sahut Kenzo langsung membuat ucapan Edward langsung terhenti
Edward menjauhkan sejenak ponsel nya, dia menggeleng pelan pada Alena yang berdecak kesal. Meski takut namun Alena segera meraih ponsel Kenzo
"En ini aku" seru Alena membuang ketakutan nya
Untuk beberapa detik suara Kenzo tidak terdengar
"En, bisakah kau kerumah sakit sekarang?" tanya Alena dengan wajah meringis takut
"[Kau sudah tahu jawaban nya Alena]" jawab Kenzo
"En please... Clara seperti ini juga karena mu" ucap Alena
"[Tidak bisa]" jawab Kenzo
Alena langsung berdecak kesal mendengar nya. Keras kepala sekali
"Baiklah jika kau tidak mau datang, aku tidak ingin bertemu dengan mu lagi. Untuk adikmu saja kau tidak mau menemui nya walau sebentar. Bagaimana aku bisa meminta yang lain. Kau benar benar menyebalkan, dasar egois!!" seru Alena dengan begitu kesal.
Tanpa mendengar perkataan Kenzo, Alena langsung melemparkan ponsel itu pada Edward dan pergi meninggalkan Edward yang terlihat bingung
"[Alena]" suara Kenzo masih terdengar, namun karena takut disalahkan, Edward langsung mematikan nya. Masa bodohlah bagaimana ekspresi king nya disana.