
Kenzo membantu Alena merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Hari sudah sangat larut bahkan sudah dini hari. Namun Alena belum juga beristirahat sejak tadi.
Kapten Stone dan orang orang nya masih sibuk berjaga didepan setelah membereskan kekacauan yang terjadi.
Kenzo membiarkan Jack yang memberi penjelasan bagi pihak kepolisian. Dia masih belum ingin keluar dan menampakan dirinya. Mungkin setelah keadaan Alena benar benar pulih, maka dia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah membohongi publik selama ini.
Saat ini, dia hanya ingin fokus pada kesehatan Alena, dan juga dengan Thomas. Lelaki itu harus membayar apa yang sudah dia lakukan pada Alena. Kenzo tidak akan membiarkan nya mati dengan mudah.
Urusan nya dengan kapten Stone, akan dia fikirkan nanti nya.
"En..." panggil Alena pada Kenzo yang sedang menyelimuti tubuhnya. Kenzo duduk disamping Alena dan memandang wajah cantik yang sudah mulai bercahaya itu.
"Kau terluka kan" ucap Alena memandang wajah tampan yang terlihat sangat lelah itu. Ya, bagaimana tidak lelah, jika sudah dua hari dia tidak ada tidur sama sekali.
"Tidak" jawab Kenzo
"Kau berbohong" sahut Alena
Kenzo mendengus senyum dan mengusap wajah cantik itu dengan lembut
"Hanya luka kecil" ucap Kenzo
"Apa semua sudah aman, apa orang orang itu sudah bisa dikalahkan?" tanya Alena sedikit cemas, namun Kenzo malah menggeleng dan tersenyum tipis
"Sudah aman, Daddy mu sudah membereskan mereka semua" jawab Kenzo
Alena mengerucut kan bibir nya sekilas. Membalas genggaman tangan Kenzo yang menggenggam lembut tangan nya
"Lalu bagaimana jika Daddy tahu kalau kau adalah seorang mafia?" tanya Alena
"Kenapa? Apa kau takut?" tanya Kenzo pula
Alena langsung mengangguk dengan wajah sedih nya
"Aku takut Daddy marah" jawab Alena dengan lesu
Kenzo mendengus senyum dan menarik gemas hidung Alena.
"Mungkin dia marah, tapi percayalah , Daddy mu tidak akan memenjarakan ku" ucap Kenzo
"Kenapa begitu?" tanya Alena
"Dia tidak akan tega membuatmu bersedih Alena" jawab Kenzo
"Tapi......" perkataan Alena langsung terhenti saat Kenzo meletakan jari telunjuk nya dibibir Alena
"Bisakah jangan banyak bertanya dulu, aku benar benar lelah. Bolehkan aku istirahat, kau juga harus beristirahat kan" pinta Kenzo
Alena terdiam sejenak, namun beberapa detik kemudian dia langsung mengangguk dan sedikit menggeser tubuh nya, membuat Kenzo sedikit mengernyit. Tangan nya masih menggenggam lembut jemari lemah itu
"Kemari lah, kau memang sudah cukup lelah" ajak Alena yang langsung menarik tangan Kenzo , namun ditahan oleh lelaki itu
"Hei, jika aku disini, maka Daddy mu akan benar benar marah Alena" ucap Kenzo namun Alena segera menggeleng dan kembali menarik Kenzo, membuat lelaki itu langsung merebahkan dirinya disamping Alena. Memandang wajah cantik itu dengan lekat
"Tidak apa apa. Dia pasti akan cepat menikah kan kita setelah ini. Sudah ayo tidur, aku juga sudah lelah" kata Alena yang langsung memeluk Kenzo dan sedikit menekan bahunya membuat Kenzo sedikit meringis karena luka nya yang tanpa sengaja ditekan oleh Alena.
Alena mengernyit memandang wajah Kenzo
"Kau memang terluka kan, coba lihat" kata Alena yang langsung menyingkap baju dibadan Kenzo hingga terlihat lah luka tembak yang masih basah disana. Bahkan bercak darah masih ada dan sedikit keluar karena tendangan dari Gery saat bertarung tadi.
"En,... kau tertembak" ucap Alena memandang wajah Kenzo dengan panik
Namun Kenzo langsung menarik kembali tangan Alena dan baju nya. Dia tersenyum dan menarik Alena kedalam pelukan nya.
Alena mendongak memandang wajah tampan itu. Wajah nya masih dipenuhi oleh beberapa bekas luka,.dan terlihat sangat lelah. Alena jadi tidak berani untuk bertanya lebih. Mungkin itu memang luka kecil bagi Kenzo, meski bagi Alena itu cukup mengerihkan.
Tiba tiba saja Alena teringat perkataan Cristian tadi. Dia langsung memandang bibir tipis yang kemerahan itu, dan tanpa basa basi, dia langsung mencium nya dengan cepat membuat Kenzo sedikit terkesiap dan menoleh pada Alena yang terlihat malu
"Supaya lelah mu hilang"kata Alena dengan wajah merona nya
"Kau sudah mulai nakal" ucap Kenzo pada Alena yang tertawa kecil seraya mengusap bahu kekar itu dengan lembut
"Tidak juga, kau yang mengajari ku" jawab Alena
"Jika seperti itu tidak akan cukup. Harus nya begini" kata Kenzo yang langsung menyergap kembali bibir Alena. Alena tampak melebarkan matanya karena serangan Kenzo. Namun lama kelamaan dia malah ikut terbuai.
Tidak lama, hanya sekedar nya saja, dan Kenzo langsung melepaskan ciuman nya. Mengusap bibir merah itu dengan lembut. Jika dibiarkan dia tidak akan bisa menahan hasratnya lagi
"Kita tidur?" ajak Kenzo dan Alena langsung mengangguk tersenyum padanya
"Jika aku tidur, kau jangan pergi. Kau harus tidur disini sampai aku bangun lagi" pinta Alena
"Aku berjanji" jawab Kenzo
Akhirnya mereka tertidur dalam damai. Rasa lelah dan sakit yang Kenzo rasakan membuat nya cepat terlelap dalam mimpi indah nya. Apalagi ditambah dengan pelukan hangat dari Alena, membuat tidur nya terasa begitu nyaman. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kenyamanan ini. Meski dia lelah dan seluruh tubuhnya terasa remuk, namun rasa nyaman ini bisa menjadi obat termanjur untuk nya..Ya, Alena memang obat dari segala rasanya.
...
Sementara dimansion utama..
Angel dan Cristian baru saja tiba disana. Setelah semua urusan dimansion Kenzo selesai, mereka langsung menjemput kedua anak mereka yang dibawa Clara kemansion utama keluarga Barrent.
Sebenarnya Angel begitu enggan untuk kemansion ini, mengingat bagaimana dulu dia diperlakukan dengan seenak nya oleh nyonya Monica. Tapi sekarang, mau tidak mau dia harus menjemput anak anak nya.
Meski hari sudah lewat tengah malam, namun mereka disambut oleh nyonya Monica sendiri. Dia belum tidur dihari yang selarut ini. Dan sekarang malah menjamu kedatangan mereka dengan hangat. Sangat jauh berbeda dengan sikapnya yang begitu dingin pada Angel dulu nya.
"Rose, tuan Cris,.kalian datang? Ayo silahkan duduk" ajak nyonya Monica yang langsung menarik lengan Angel untuk duduk disofa nya
"Terimakasih nyonya, tapi kami kemari untuk menjemput anak anak" ucap Angel terlihat begitu enggan
"Mereka sudah tertidur bersama Clara dikamar nya. Sebaiknya kalian juga menginap saja disini" pinta nyonya Monica namun Angel segera menggeleng. Bagaimana mungkin nyonya Monica bisa sebaik ini padanya. Dia memang sudah meminta maaf pada Angel dulu, tapi sungguh, perubahan sikap nya yang begitu hangat ini membuat Angel merasa aneh.
"Kasihan anak anak kalian. Mereka baru saja tertidur. Lagi pula hari sudah dini hari. Beristirahat lah semalam disini. Kamar kalian juga sudah saya siapkan." Ujar Nyonya Monica lagi
"Tapi nyonya" Angel benar benar ragu, tapi benar juga apa yang dikatakan oleh nyonya Monica, kasihan anak anak mereka jika dibangunkan sekarang
"Tuan Cris, tidak apa apa bukan menginap semalam disini" kini nyonya Monic beralih pada Cristian yang malah menoleh pada Angel
"Apa kami tidak merepotkan?" tanya Cristian. Dan nyonya Monic langsung menggeleng dengan cepat
"Tentu saja tidak. Jangan sungkan begitu. Saya tahu sikap saya dulu memang kurang pantas, tapi saya mohon untuk tidak mengingat itu sekarang. Saya benar benar menyukai anak anak kalian. Saya begitu merindukan putra saya, tapi melihat kedatangan kalian, rasa sedih saya sedikit berkurang" ungkap nyonya Monica dengan wajah sendu nya
"Tidak apa apa. Kita bermalam disini semalam. Kasihan anak anak" kata Cristian pada Angel
Angel menoleh pada nyonya Monic yang memandang nya penuh harap. Dan dia langsung mengangguk saja
"Baiklah, maaf jika kami merepotkan nyonya" ucap Angel.
Nyonya Monica langsung tersenyum dan menggeleng
"Tidak Rose, tentu tidak. Biarkan saya belajar menjadi orang yang lebih baik untuk kau dan suami mu. Sekarang, ayo aku antarkan kekamar Clara" ajak nyonya Monica lagi
Angel dan Cristian hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Akhirnya malam itu mereka bermalam dimansion keluarga Barrent. Hal yang tidak pernah disangka oleh Angel. Apalagi mengingat bagaimana perlakuan nyonya Monica padanya dulu. Tapi, apa mau dikata, semua yang telah berlalu, akan selalu dia jadikan sebagai pembelajaran hidup. Dia tidak bisa mendendam, meski ingin, tapi semua orang berhak untuk berubah menjadi baik, begitu pula dengan nyonya Monica.
Dulu, dia begitu membenci Angel karena Angel adalah seorang mafia dengan asal usulnya yang tidak jelas. Tapi sekarang, Kenzo sudah mendapatkan seorang gadis yang jauh lebih baik dari nya. Dan tentu nya sesuai dengan keinginan nyonya Monica. Gadis yang terlahir dari keluarga terpandang, dan juga lemah lembut dan anggun. Bukan gadis mafia yang hanya berpegang pada darah dan senjata lagi.