
Alena duduk diranjang nya sembari tengah menikmati bubur buatan bibi Khoi yang baru saja mengantar nya keruangan Alena .
Hari sudah mulai sore dan infus Alena sudah dibuka.
Dia sudah merasa lebih baik meski kepala nya masih terasa pusing jika bergerak dengan tergesa. Tubuh nya juga sudah lumayan baik, meski masih terasa sakit dibeberapa bagian terutama dikaki dan punggung nya.
Dia makan sendiri diruangan nya, Kenzo pamit sebentar untuk membersihkan diri nya. Pria itu benar benar menjaga Alena dengan baik. Menyiapkan segala keperluan Alena dan juga tidak ada meninggalkan Alena untuk waktu yang lama. Terkadang Alena merasa heran dengan sikap Kenzo.
Sebenar nya apa yang difikirkan Enzo nya itu, apakah dia ada rasa dengan nya, atau hanya rasa kasihan dan simpati. Jika hanya perasaan simpati saja, Alena berharap Kenzo bisa tetap menjadi Kenzo Barrent yang dingin dan tak tersentuh agar hati nya tidak berharap terlalu dalam.
Jika sikap Kenzo seperti ini pada nya, Alena benar benar bingung dan gelisah sendiri. Ingin berharap dia takut kecewa, tapi untuk tidak berharap, apa dia bisa??
Kata kata dari Kenzo beberapa waktu yang lalu selalu terngiang dikepala nya, 'you're my sunshine' . Ya, sebuah kata yang mempunyai arti tersendiri untuk Kenzo dan sebuah pengharapan untuk Alena.
Lamunan Alena seketika buyar saat pintu kamar nya terbuka. Dan Kenzo masuk dengan wajah datar nya seperti biasa. Lelaki itu selalu saja rapi dengan setelan celana dan kemeja nya. Entah kapan dia bisa bersikap lebih santai sedikit.
Jantung Alena kembali berdebar kencang saat langkah kaki Kenzo mulai mendekat. Entah kenapa semakin hari pria itu semakin terlihat mempesona, dan sial nya perasaan nya juga semakin bertambah sehingga terkadang dia tidak dapat menahan nya. Ditambah dengan sikap Kenzo yang melembut dan penuh dengan perhatian, sungguh membuat Alena semakin tidak berdaya.
"Kenapa tidak dihabiskan?" Tanya Kenzo menatap mangkuk bubur ditangan Alena yang hanya berkurang sedikit
"Aku tidak berselera En" jawab Alena
"Makan lah. Dengan begitu kau bisa cepat pulih" ucap Kenzo dan Alena hanya mengangguk saja tapi dia juga tidak ingin memakan nya
"Apa tidak enak?" Tanya Kenzo lagi. Kali ini Alena menoleh pada Kenzo yang telah duduk dikursi tepat disamping nya.
"Entah lah, aku memang tidak berselera. Dan aku juga kurang menyukai bubur" jawab Alena
"Apa perlu aku panggilkan bibi Khoi untuk memasarkan makanan yang lain untuk mu?" Tanya Kenzo namun Alena segera menggeleng dan tersenyum
"Tidak perlu. Aku memang masih begitu kenyang" jawab Alena lagi
Kenzo langsung merebut mangkuk dari tangan Alena, membuat Alena langsung terkesiap kaget dan menatap Kenzo
"Buka mulutmu" pinta Kenzo masih dengan wajah datar nya
"Jika kau tidak ingin makan, maka aku akan mengurung mu lebih lama disini" ancam Kenzo
Alena terlihat mencebikan bibir nya, namun sesaat kemudian dia langsung membuka mulut nya dan menerima suapan dari Kenzo .
Alena mengernyit sekilas, kenapa bisa begitu enak dari yang tadi, batin nya. Memang mulut nya seperti tidak tahu diri sekarang.
Kenzo terus menyuapkan bubur itu kemulut Alena yang memang terpaksa atau nafsu makan nya telah kembali, karena dia begitu lahap memakan nya.
Tidak ada yang bersuara karena Alena begitu canggung sedangkan Kenzo memang seperti itu pembawaan nya.
Tidak lama, bubur milik Alena langsung tidak tersisa. Kenzo meletakan mangkuk nya diatas meja dan memberikan minum pada Alena yang dengan senang hati menerima nya.
"Kau memang sengaja kan?" Tanya Kenzo sembari meraih tisu dimeja
"Sengaja apa?" Tanya Alena bingung, dan dia lebih bingung ketika Kenzo mengusap mulut nya dengan tisu. Mata nya mengerjap beberapa kali menatap wajah datar Kenzo yang begitu dekat dengan nya
"Sengaja tidak mau makan agar aku yang menyuapkan nya kepadamu" ucap Kenzo yang dengan sengaja menekan tisu itu dipipi Alena, membuat Alena langsung tersadar dari kekaguman nya pada wajah tampan itu.
"Ma mana ada begitu. Aku memang tidak berselera, tapi entah kenapa rasannya jadi berubah lebih enak ketika kau yang menyuapkan nya" ungkap Alena dengan polos nya membuat Kenzo mendengus senyum
"Alasan saja" sahut Kenzo, tangan nya sembari mencampakan tisu kotor kedalam tempat sampah yang tersedia disana.
"Memang benar " gumam Alena
"Kapan aku keluar dari sini?" Tanya Alena pada Kenzo yang kini menoleh kearah nya
"Sebentar lagi. Tunggu tua Bangka itu memeriksa mu terlebih dahulu. Seharus nya kau masih harus beristirahat lebih lama disini. Keadaan mu belum pulih benar" ungkap Kenzo namun Alena langsung menggeleng.
"Tidak mau, aku bisa istirahat dikamar atas saja. Tempat ini menyeramkan" sahut Alena. Dia benar benar bosan ditempat ini. Menurut nya tempat ini lebih menyeramkan dari pada rumah sakit, apalagi mengingat jika tempat ini berada dibawah tanah mansion Kenzo
"Dasar keras kepala" gerutu Kenzo dan Alena hanya mencebikan bibir nya saja.
Alena terdiam beberapa saat menatap Kenzo yang sedang mengecek ponsel nya, hanya sebentar setelah itu dia memasukan kembali ponsel nya kesaku celana.
"Emm... En" panggil Alena dan Kenzo hanya menaikan sebelah alis nya dengan tampang nya yang terlihat begitu cool. Tampang yang membuat Alena selalu meleleh akan pesona nya.
"Sampai kapan aku begini terus?" Gumam Alena dengan tatapan sendu nya
"Maksud mu?" Tanya Kenzo
"Aku , aku sudah lelah berada dalam situasi seperti ini. Mike masih terus mengganggu ku, bahkan dia juga hampir membuat mu celaka" ungkap Alena
Kenzo masih terdiam dan menatap Alena dengan lekat. Di tahu Alena pasti begitu tertekan sekarang
"Aku ingin hidup dengan tenang. Bekerja dan meraih mimpiku. Tapi jika Mike masih terus mengganggu ku, apa harapan ku itu bisa terwujud" tanya Alena lagi. Kali ini wajah nya tertunduk pedih
Kenzo mengusap tangan Alena dengan lembut, dan menggenggam jemari kecil milik gadis itu.
Alena kembali menatap genggaman tangan itu dengan perasaan hangat nya. Genggaman tangan yang selalu mampu membuat nya menjadi lebih tenang.
"Tapi aku takut kau terluka En. Kau lihat dia meminta bantuan orang lain yang sangat mengerihkan itu. Aku tidak ingin kau terluka" kata Alena dengan wajah cemas nya menatap Kenzo yang malah tersenyum
"Aku sudah pernah bilang bukan. Aku akan baik baik saja selama kau juga baik baik saja Alena" sahut Kenzo
Alena langsung mendengus kesal dengan mata yang berkaca kaca
"Mereka orang orang yang berbahaya En" seru Alena kesal
Kenzo langsung mengusap air mata yang terjatuh diwajah itu. Dan jelas saja Alena kembali terdiam dengan perlakuan Kenzo
"Kau meragukan kemampuan ku" tanya Kenzo begitu serius, tangan nya semakin erat menggenggam tangan Alena yang juga menggenggam nya tidak kalah erat
"Aku tidak meragukan mu. Aku tahu kau orang yang hebat. Tapi hatiku begitu lemah jika mengingat kau yang ikut dalam bahaya karena aku" jawab Alena
Kenzo kembali tersenyum. Dia kini beranjak dari duduk nya dan memilih pindah duduk disamping Alena.
Kenzo menarik Alena dalam dekapan nya, hingga membuat gadis itu mulai menangis lagi. Kehangatan tubuh Kenzo dan perlakuan manis nya benar benar membuat Alena tidak bisa untuk tidak menahan perasaan nya.
"Kau bilang kau mencintaiku?" Tanya Kenzo dengan nada yang terdengar lembut namun kaku.
Alena langsung menganggukan kepala nya
"Jika begitu kau cukup percaya padaku. Kau cukup jaga dirimu baik baik. Kau hanya harus membuktikan kau bisa meraih impian mu. Jangan fikirkan yang lain. Selagi aku masih hidup, maka kau akan baik baik saja. Percayalah" ungkap Kenzo
Alena mendongak dan menatap wajah Kenzo dengan lekat
"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Alena membuat Kenzo mengernyit
"Kenapa kau bertanya begitu?" Tanya Kenzo pula
Alena langsung menundukkan pandangan nya menatap tangan yang masih ada dalam genggaman pria itu
"Aku hanya gadis malang yang selalu berharap kebahagiaan En. Dan kau datang disaat aku sedang membutuhkan pijakan. Bukan hanya ragaku yang membutuhkan pertolongan, tapi hatiku ternyata juga jatuh dalam pesona mu."
"Sekuat mungkin aku menahan hatiku untuk tidak berharap terlalu jauh. Tapi semakin kesini, kau seolah memberi pengharapan padaku. Aku berterimakasih kau sudah begitu baik menolong kehidupan ku. Tapi tolong, tolong jangan buat hatiku jatuh lebih dalam lagi" pinta Alena yang kini menatap wajah Kenzo dengan mata yang kembali berkaca kaca
Kenzo sedikit bereaksi, ada debaran jantung yang bergemuruh didada nya mendengar perkataan Alena barusan.
Dia menatap Alena dengan lekat. Dan menarik kembali tangan Alena yang ingin melepaskan genggaman nya
"Kau tidak mengerti arti dari semua perlakuan ku Alena?" Tanya Kenzo begitu serius
Alena menatap wajah Kenzo dengan seribu pertanyaan
"Kau terlalu polos untuk bisa mengartikan perasaan ku." Ucap Kenzo
"Apa maksud mu?" Tanya Alena pada Kenzo yang mendengus. Kenzo melepaskan genggaman tangan nya dari Alena yang masih menatap nya. Dia juga melepaskan dekapan tangan nya dari bahu Alena. Pandangan mata Kenzo kini beralih kearah pintu yang masih tertutup rapat, namun nampak jelas pandangan mata itu seperti menerawang jauh
"Aku lupa kapan terakhir kali nya aku dekat dengan seorang wanita. Rasa sakit itu terasa membunuh hatiku. Hanya nama nya yang setiap hari selalu menghiasi hariku. Hanya dia dan tetap dia yang bisa merebut perhatianku, hanya dia diantara ribuan wanita yang mencoba mengambil hatiku. Dan hanya dia pemilik hatiku selama beberapa tahun ini" ungkap Kenzo begitu dalam. Dan Alena seketika tertunduk dengan jantung yang seperti diremas dengan erat.
"Tapi itu beberapa waktu yang lalu" ucap Kenzo tertahan menatap Alena yang juga menatap nya
"Semua nya terasa tidak lagi sama ketika kau hadir dalam kehidupan ku Alena." Ucap Kenzo lagi. Alena masih terdiam menatap wajah Kenzo
"Awal nya aku berfikir jika aku hanya berhutang budi padamu karena kau pernah menyelamatkan nyawaku dulu. Maka dari itu aku sedikit memberimu perhatian dan memberimu tempat dikota ini dan juga orang orang untuk menjaga mu"
"Dan awal nya aku berfikir aku hanya iba padamu karena cerita hidup mu yang begitu menyedihkan maka dari itu aku selalu menolong mu" ungkap Kenzo lagi. Dan Alena kembali menundukan pandangan nya yang kembali memburam karena air mata.
"Tapi kenyataan nya, aku memberimu perhatian karena inginku, aku iba padamu karena aku juga mampu merasakan kesakitan mu. Dan aku yang selalu menolong mu karena aku benar benar tidak rela melihat kau celaka" kata Kenzo lagi.
Air mata Alena langsung menggenang mendengar penuturan Kenzo
"Semua yang aku lakukan bukan karena balas budi Alena, tapi karena kau yang sudah mampu merebut perhatian ku, bahkan tanpa sadar nama nya perlahan mulai melebur dan terganti dengan nama mu......Alena" ungkap Kenzo begitu yakin .
Kerongkongan Alena terasa tercekat. Dia kembali menatap Kenzo dengan air mata yang mulai jatuh dipipi nya.
Kenzo kembali tersenyum dan menghapus air mata Alena.
"Aku sudah bilang bukan, jangan ragu untuk terus mencintaiku, jangan takut untuk berharap padaku. Perasaan ku tidak pernah main main Alena. Ketika aku sudah berkata seperti ini, maka selanjut nya tugas mu untuk terus mencintaiku tanpa alasan" kata Kenzo
"En.... " Lirih Alena yang tertunduk, tapi Kenzo segera mengangkat dagu nya membuat Alena menatap mata Kenzo dengan mata nya yang sayu
"Aku.... Aku hanya gadis malang, dan aku .... Aku gadis yang sudah terhina...... Hiks hiks hiks" Alena langsung terisak dengan begitu pilu. Dia langsung jatuh terkulai dalam pelukan Kenzo yang segera memeluk nya dengan erat.
"Aku tidak pantas kau sukai" Isak Alena lagi. Tidak tahu apa yang harus dirasakan nya, bahagia, ya dia sangat bahagia mendengar penuturan Kenzo, pria yang nyata nya memang pemilik seluruh hati nya. Tapi disisi lain dia merasa begitu tidak pantas untuk lelaki ini, lelaki terhebat dalam sejarah kehidupan nya.
Mata Kenzo terpejam dengan helaan nafas yang dalam. Dia tahu, dia tahu itu. Alena sudah ternoda, tapi semakin dia merasakan perasaan nya, maka tidak ada alasan untuk menjadikan itu suatu masalah bagi nya.
"Aku akan menjadikan mu berlian yang berkilau indah didalam kehidupan ku Alena, sehingga tidak akan ada lagi yang bisa merendahkan mu" jawab Kenzo pasti. Dan tentu saja itu membuat Alena menangis kembali
Dia memeluk tubuh Kenzo dengan erat, begitu erat sehingga dapat Kenzo rasakan segala rasa yang dirasakan oleh Alena. Gadis malang yang akan menemukan kebahagiaan nya sebentar lagi.