ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Alena Jangan Pergi!



Lagi lagi untuk yang kesekian kalinya, Alena berada disebuah padang rumput yang begitu luas. Berada dikaki perbukitan yang begitu indah menghijau. Suara kicauan burung yang berada dibeberapa pohon pinus tampak benyanyi dengan riang.


Desiran angin perbukitan begitu menyegarkan dan amat menenangkan. Dress putih panjang yang Alena kenakan ikut terseret saat Alena berjalan mengitari padang rumput itu. Suara aliran air sungai yang mengalir menambah kesan melodis dan begitu memanjakan.


Tidak tahu kemana langkah kaki membawanya, namun diujung mata, Alena bisa melihat sebuah taman bunga lily dan bunga tulip yang berdampingan indah. Memutih dengan begitu indah dan damai.


Ditengah tengah taman bunga itu dia bisa melihat seorang wanita cantik yang juga mengenakan dress putih memandang nya dengan begitu lekat. Wajahnya indah berseri dengan senyum yang sangat menenangkan.


"Mommy..." gumam Alena. Dia langsung tersenyum dan terus berjalan menuju wanita yang dia sebut sebagai mommy.


Langkah kakinya begitu pasti, rasa rindu dan bahagia bisa bertemu lagi dengan mommynya yang tidak pernah dia temui selama hidup didunia.


"Mommy I miss you" ucap Alena yang langsung memeluk wanita itu dengan lembut.


Usapan lembut dikepala dan punggung nya benar benar membuat Alena terbuai. Kehangatan yang selama ini tidak pernah dia rasakan. Usapan lembut seorang ibu.


"Alena, kamu cantik sekali sayang" ucap wanita itu seraya mengusap wajah Alena dengan lembut.


"Mommy kenapa cepat sekali pergi dan meninggalkan Ale?" tanya Alena dengan mata yang berkaca kaca. Namun wanita itu malah tersenyum dengan lembut dan kembali mengusap wajah nya.


"Mommy akan menunggu mu ditempat lain sayang" jawab wanita itu.


"Ale ingin ikut mommy" ucap Alena.


"Kau yakin Alena?" tanya wanita itu.


Alena mengangguk pelan, namun terlihat ragu.


"Ale lelah mommy. Ale sudah tidak sanggup lagi. Rasanya sakit sekali" ungkap Alena dengan air mata yang mulai menetes dari manik biru indahnya.


"Ale ingin ikut mommy, bukankah ditempat mommy Ale tidak akan merasakan sakit lagi?" tanya Alena begitu lirih.


Wanita itu mengusap wajah Alena kembali.


"Apa kau siap meninggalkan mereka nak?" tanya wanita itu.


Alena terdiam, memandang mommynya.


"Meninggalkan mereka yang sudah berjuang siang dan malam untukmu??? Apa kau siap meninggalkan mereka yang masih begitu ingin hidup bersamamu???" tanya wanita itu.


"Lihatlah mereka, pandang sekali lagi. Mommy akan selalu ada dimana pun kau berada. Tapi mereka, ketika kau memilih pergi, maka mereka tidak akan lagi bisa bertemu dengan mu" wanita itu menunjuk kearah belakang Alena. Membuat Alena langsung menoleh kebelakang. Matanya membendung air yang semakin banyak, saat melihat Kenzo dah ayah nya yang berdiri terpaku memandang nya dari ujung sana.


"Bukankah mereka adalah kebahagiaan mu???" tanya wanita itu.


Alena memandang kembali wanita itu.


"Apa Ale masih harus berjuang lagi. Tidak cukupkah dua puluh tiga tahun ini Ale merasakan semua nya mommy?" tanya Alena dengan isak tangis yang begitu sedih.


"Ini yang terakhir sayang, ketika kau kembali, maka kau akan bisa meraih kebahagiaan mu, berkumpul dengan daddy dan kakakmu, dan juga hidup bersama dengan pria yang kau cintai" ujar wanita itu.


"Lalu....bagaimana dengan mommy?" tanya Alena


Wanita itu tersenyum seraya mengusap air mata Alena.


"Mommy akan menunggu kalian semua ditempat terindah. Kita akan berkumpul disana nanti" jawab wanita itu.


"Mommy berjanji untuk menunngu Ale dan mereka?" tanya Alena.


"Tentu sayang, kembalilah pada mereka. Kamu masih harus menikmati kebahagiaan didunia, mommy akan disini menunggu kalian" ungkap wanita itu begitu lembut.


"Mommy" Alena kembali memeluk wanita itu dengan erat. Menangis dengan hati yang jauh lebih tenang.


...


"Tidak... tidak Alena.... Jangan tinggalkan aku" lirih Kenzo yang sudah terisak dan berlutut disamping ranjang Alena. Dia sudah tidak berdaya ketika tahu jika detak jantung Alena menghilang. Sedangkan kapten Stone masih terus memandangi Alena yang kini sedang mendapatkan prosedur kejut jantung dari dokter Richard. Air matanya tidak berhenti menetes sejak tadi, dia juga sudah hampir putus asa melihat keadaan Alena yang seperti ini.


"King, tenang lah" pinta Jack yang juga ada disebelah Kenzo sejak tadi. Matanya juga memerah melihat Alena yang sudah memucat dan tidak berdaya seperti itu. Alena adalah orang yang paling dekat dengan nya selama ini, tentu Jack juga merasa begitu takut jika Alena tidak bisa diselamatkan.


"Alena.... maaf Alena... maafkan aku" Kenzo benar benar begitu menyesal. Apa pilihan nya dengan pengobatan Alena selama ini salah? Apa dia sudah salah dalam menentukan pilihan???


Professor Brian begitu tegang dan pucat, dia tidak menyangka akan begini jadinya. Padahal dia sudah menduga jika serum yang dia buat akan berhasil, namun kenyataan nya kenapa malah seperti ini.


Keringat sudah membanjiri wajah dan tubuh dokter Richard, sebisa mungkin dia terus mencoba untuk mengembalikkan lagi detak jantung Alena yang menghilang. Dia yakin jika Alena masih bisa bertahan, karena tubuh gadis ini masih terasa hangat.


"King, tolong jangan seperti itu. Tolong bantu saya membangunkan kesadaran nona Alena!!" seruan dokter Richard begitu menggebu. Dia benar benar panik sekarang, tidak lagi dia perdulikan siapa Kenzo, namun bantuan pria itu yang lebih penting untuk Alena saat ini.


Kenzo terkesiap, begitu pula dengan yang lain.


"Ken...ayolah, kau kuat" pinta kapten Stone pula.


Kenzo yang masih berlutut mulai memandang Alena, wajah Kenzo sudah pucat. Entah kenapa dia begitu lemah dengan Alena yang seperti ini. Rasa takut ketika ditinggalkan oleh orang yang dia cintai membuat nya benar benar trauma.


"King, nona pasti selamat. Ayo bantu dia" ujar Jack pula.


Kenzo menarik nafasnya dalam dalam, dan mulai bangkit berdiri dibantu oleh Jack. Tidak pernah nya Jack melihat Kenzo selemah ini, kenapa bisa begini? Apa rasa sakit yang pernah dia alami membuat Kenzo menjadi trauma???


Wajah Kenzo yang kacau dan sudah basah dengan air mata benar benar begitu menyedihkan. Tangan nya bergetar meraih tangan Alena dan menggenggam nya dengan kuat.


"Alena..." panggil Kenzo dengan berat. Sekuat mungkin dia menahan gejolak perasaan nya. Karena sungguh diapun benar benar tidak berdaya lagi melihat Alena yang seperti ini.


"Nona Alena masih bisa diselematkan, percayalah king. Ayo berjuang, bantu dia" ujar dokter Richard. Dia mengusap sedikit keringat nya dan kembali menyiapkan alat ditangan nya.


"Alena bangun sayang, kami menunggu nak" pinta kapten Stone.


Kenzo merangkak naik kembali keatas tempat tidur, merebahkan kepala nya disamping Alena, sedangkan dokter Richard masih terus melakukan kejut jantung pada dada Alena.


"Alena...." bisik Kenzo dengan suara yanng terdengar penuh


"Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkan aku bukan" bisik nya lagi, dengan air mata yang terus terurai


"Maka bangunlah untukku, aku tidak sanggup Alena. Ini sakit sekali, bagaimana aku bisa hidup jika kau tidak ada" Kenzo terisak dan mencium kepala Alena begitu pilu.


Jack bahkan langsung memalingkan wajahnya karena sungguh dia tidak sanggup melihat Kenzo yang seperti ini.


"Alena aku mohon, aku begitu mencintaimu. Kenapa kau tega melakukan ini. Aku tidak ingin kau pergi Alena" pinta Kenzo begitu lirih. Genggaman tangan nya semakin kuat dan bergetar.


Dokter Richard dan professor Brian masih terus memandangi layar monitor yang mulai berbunyi kembali. Senyum kelegaan langsung menguar diwajah mereka.


"Bangun sayang bangun... Aku tidak rela jika kau pergi, aku tidak rela Alena"


"Kita harus menikah, kita harus memiliki anak, kita harus hidup bahagia. Apa kau tega membiarkan aku seperti ini?"


"Aku mohon bangun. Aku..... aku begitu mencintaimu Alena"


"Aku......


"Aku mencintaimu"


"King...detak jantung nona Alena kembali" seru dokter Richard begitu senang, bahkan dia dan professor Brian langsung berpelukan karena begitu senangnya.


Kapten Stone juga langsung menangis haru melihat ini. Alena nya kembali, Alena nya kembali.


"Ya Tuhan, terimakasih" ungkap Jack penuh syukur.


Kenzo membuka matanya dan memandang Alena dengan senyum bahagia yang begitu besar.


"Alena, kau harus tetap hidup untukku" ucap Kenzo yang langsung memeluk tubuh Alena dengan erat dan kembali menangis hingga perasaan nya menjadi lega, bahkan hingga dia tidak lagi merasakan apapun.