ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Berubah Haluan



Alena duduk termenung disebuah kursi panjang di belakang mansion Kenzo. Tepatnya ditaman buatan yang lumayan luas dan sangat cantik. Ada banyak pohon cemara yang ditanam disana, taman bunga dan juga kolam ikan disertai air terjun buatan.


Alena menarik nafas dalam dalam, merasakan kesejukan dan kedamaian di mansion itu. Setelah tadi dia dibuat benar benar takjub dengan interior mansion mewah itu. Cukup berjalan menuju belakang mansion saja dia sudah dibuat terperangah, apalagi jika mengetahui seluk beluk semua isi mansion, mungkin dia bisa pingsan.


"Kenzo Barretnt Aldrego, pria tampan dengan sejuta pesona. Sejuta kekuasaan dan segunung nama baik dan kehormatan," gumam Alena dengan nafas yang lelah dan terasa sesak.


"Kenapa aku bisa mengenalnya ya. Kenapa juga Tuhan harus mentakdirkan dia dikehidupan ku. Lihatlah sekarang, hatiku menjadi tidak tahu diri jatuh cinta pada dia." Gerutu Alena seorang diri seraya memandang langit yang kebiruan yang terbentang luas diatas sana.


"Dia seperti malaikat yang selalu datang ketika aku membutuhkan pertolongan. Dia selalu ada ketika aku dalam keadaan tidak berdaya," gumam Alena dengan wajah sendu nya.


"Seandainya saja aku sekelas model, anak pejabat, atau desainer terkenal kelas dunia, mungkin aku akan berusaha mengejarnya. Tapi aku cuma gadis biasa, miskin dan tidak tahu asal usulnya, murahan pula. Astaga, kenapa hidupku semenyedihkan ini," Alena begitu frustasi. Dia kembali menghela nafas yang terasa berat. Memikirkan nasibnya yang begitu miris. Hidup dalam bayangan kejahatan Mike yang semakin menjadi, ditambah dengan perasaannya pada Kenzo yang semakin kuat pula.


"Aku harus apa, aku tidak mungkin terus menerus begini, aku takut membuat Enzo celaka. Dan lagi apa yang harus aku lakukan sekarang, bersembunyi disini terus, harus sampai kapan, ya Tuhan," Alena memijit dahinya yang kembali pusing saat ini. Kehidupannya semakin rumit saja. Ingin pergi, tapi tanggung jawabnya begitu banyak disini, dia tidak bisa melalaikan tugas tugas yang telah disanggupinya.


Alena sedikit terkesiap saat tiba tiba seruan seorang wanita yang mengejutkannya. Dia langsung berbalik dan melihat ternyata Lian yang datang bersama bibi Khoi.


"Nona!!" Lian sedikit berlari mendekati Alena, meninggalkan bibi Khoi yang langsung berbalik dan masuk kembali kedalam mansion.


"Nona, anda baik baik saja, saya khawatir ketika tuan Ed bilang anda dirawat karena kecelakaan," Lian yang langsung duduk disebelah Alena yang langsung tersenyum dan mengangguk menatap.nya


"Aku baik baik saja Lian," jawab Alena dengan lembut, dia memandang wajah Lian yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.


"Syukurlah, saya sangat cemas. Ingin menjenguk, tapi pria batu itu tidak mengatakan dimana nona berada," gerutu Lian terlihat kesal.


Alena langsung tertawa mendengar itu.


"Sudah lah, aku tidak apa apa. Bagaimana dengan butik seminggu ini?" Tanya Alena. Dia memandang Lian yang terlihat membawa beberapa buku ditangannya dan juga sebuah iPad.


"Butik baik baik saja nona. Semua aman dan terkendali, hanya saja tuan Ponix selalu mendesak untuk bertemu dengan anda," ungkap Lian dan Alena langsung menepuk dahinya dengan pelan. Dia benar benar melupakan itu.


"Astaga, aku lupa. Bagaimana selanjutnya, apa dia membatalkan kerja sama itu, seharusnya sehari setelah kita bertemu dengan mereka, kita harus ke perusahaannya kan" Alena terlihat panik, namun Lian langsung menggeleng.


"Dia tidak membatalkannya, saya sudah kesana dan mencatat bagaimana keinginan mereka nona. Semua aman, hanya saja mereka sedikit ragu karena anda belum ada mengabari mereka," ungkap Lian.


Alena langsung menghela nafas lega. Dia benar benar tidak teringat sama sekali.


"Mereka pasti kecewa" gumam Alena merasa bersalah, dia begitu lupa tentang perjanjian kerja sama itu.


"Mereka memaklumi, saat saya berkata jika nona mengalami kecelakaan dan harus banyak beristirahat, mereka hanya berharap, gaun gaun itu cepat selesai diwaktu yang telah ditentukan dan juga mereka ingin bertemu nona untuk membicarakan lagi masalah rancangan dan keinginan model mereka," ungkap Lian lagi


Alena langsung mengangguk setuju.


"Baiklah, pasti bisa. Nanti aku akan atur waktu untuk menemui mereka." Jawab Alena namun terdengar ragu, dia juga tidak mungkin berdiam diri dan mengecewakan orang lain. Semoga semua baik baik saja, harapnya.


" Kau membawa catatannya kan?" tanya Alena lagi, dan Lian langsung mengangguk, dia membuka sebuah buku catatan dan menyerahkannya pada Alena.


Alena melihat itu dan membacanya dengan teliti, kemudian langsung mengangguk cepat.


"Oke, aku rasa tidak ada masalah." Ucap Alena


"Sebaiknya kita cepat kerjakan ini Lian, waktunya sangat singkat. Merancang, menjahit, dan fitting gaun bukan waktu yang sebentar," ujar Alena.


Lian mengangguk setuju.


"Ya,nona."


Lian kembali menatap kearah mansion yang begitu mewah itu, dia benar benar tidak menyangka jika Alena bisa berada di mansion Presdir itu, mungkinkah mereka menjalin hubungan , batin nya.


"Hei, apa yang kau lihat," Alena memukul pelan bahu Lian hingga membuat dia terkesiap kaget. Lian langsung tertawa kecil dan memandang Alena yang ternyata sudah berdiri dihadapannya.


"Ah, saya masih tidak menyangka bisa menginjakan kaki di mansion mewah ini nona," ucapan Lian membuat Alena berdecak namun dia juga mengangguk dan memandang area mansion itu.


"Haha, ya anda benar. Saya yang tertimpa keberuntungan. Dan saya rasa anda memang menjalin hubungan dengan Presdir bukan," goda Lian sembari mengedipkan sebelah matanya.


Alena berdecak kesal,


"Hei, jaga mulut mu itu. Aku dan Enzo hanya berteman, kebetulan dia yang menolongku," jawab Alena , namun Lian langsung mengernyit dan menatap curiga pada Alena.


"Mustahil," gumam nya membuat Alena kembali berdecak kesal.


"Ck, sudah lah, ayo kita masuk, kerja!" Seru Alena yang langsung meninggalkan Lian yang tertawa melihat wajah kesal Alena yang begitu menggemaskan.


Lian langsung berlari mengikuti langkah Alena kedalam mansion. Tepatnya dikamar yang ditempati Alena. Karena mereka akan memulai bekerja saat ini. Pesanan dibutik Alena begitu banyak, hingga membuat Alena benar benar sibuk sekarang. Dan beruntungnya dia punya Lian, yang cukup mampu membantunya. Orang pilihan Edward memang bisa diandalkan saat ini.


..


Di Barren'ts Agency....


Kenzo duduk dengan senyum yang merekah sempurna namun terkesan sinis ketika melihat layar monitor didepannya.


Disana menampilkan berita tentang perusahaan Mike yang berada diambang kehancuran. Beberapa bisnis gelap yang mulai terkuak dimedia. Dari mulai penjualan minum minuman beralkohol, bahkan bisnis narkoba dan uang palsunya semua nya terkuak habis.


"Kau benar benar akan tamat setelah ini," gumam Kenzo masih dengan senyum sinisnya. Dia begitu puas dengan kinerja kapten Stone yang begitu cepat menjatuhkan bisnis Mike, ya walaupun sebagian besar bukti buktinya adalah hasil pencarian Edward.


"Kapten Stone bergerak dengan cepat king," ucap Edward yang duduk didepannya.


"Ya, dia memang sudah tidak sabar untuk bertemu denganputri nya. Dan setelah ini, aku yakin Mike akan semakin menggila bersama Thomas," ungkap Kenzo dan kini Edward mengangguk setuju.


"Lalu apa kita sudah harus mulai bergerak?" tanya Edward


"Kita tunggu rencana mereka Ed. Aku yakin mereka akan sulit menemukan king Aldrego yang mereka cari. Tapi Jesica, dia pasti mulai menggencarkan serangannya pada Kenzo Barrent saat ini," Kenzo berkata dengan tawa kecilnya.


"Ya, mereka begitu bodoh untuk mencari tahu siapa anda sebenarnya," sahut Edward.


"Tidak apa, aku suka memberi mereka kejutan nantinya. Kita hanya perlu mengurus Mike terlebih dahulu agar kehidupan Alena tidak akan terancam lagi." ungkap Kenzo.


Edward mengernyit memandang Kenzo. Sepertinya memang benar king nya ini telah memendam sebuah perasaan pada gadis itu. Dan sepertinya king Aldrego itu telah berubah haluan sekarang, batin Edward.


"Tapi jika Mike kita lenyapkan, bukan kah itu membuat Thomas semakin murka king?" Tanya Edward ragu.


"Ada atau tidak adanya Mike, Thomas akan tetap mengusik kita Ed, ini hanya tentang waktu dan strategi, aku hanya berharap semoga jika kita berhasil menghancurkan Mike, Thomas tidak mengetahui apapun tentang Alena." jawab Kenzo


"Itu kemungkinan yang sangat kecil king," gumam Edward. Mau bagaimana pun, Mike adalah adik Thomas, sudah pasti apa yang dilakukan oleh adiknya Thomas pasti tahu. Apalagi hanya tentang Alena.


"Ya memang, tapi aku hanya takut jika Alena akan berada dalam bahaya yang lebih besar setelah ini. Aku tidak tahu bagaimana cara melindunginya. Tidak mungkin dia selamanya berada di mansion ku," ungkap Kenzo lagi.


"Bukan kah dia sudah ada kapten Stone?" sahut Edward.


Kenzo seketika terdiam mematung.


Ya, ada kapten Stone, tapi apa dia bisa diharapkan. Kenzo hanya tidak ingin Alena terluka lagi. Apalagi dia tahu kali ini musuhnya tidak bisa dianggap enteng.


Jika black Eagle milik Thomas bekerja sama dengan mafia Wearloft milik Jesica maka kekuatan mereka akan semakin kuat, dan bahkan hampir setara dengan kekuatan milik klan Aldrego miliknya.


"Mungkin kapten Stone bisa membantu kita dengan menghancurkan mereka seperti apa yang dilakukannya dengan klan Hyuga dahulu. Tapi sekarang, jika dia melakukan itu, aku yakin dia pasti tahu siapa aku yang sebenarnya. Dan kau pasti tahu resiko apa yang harus aku terima Ed. Nama baik ku akan terancam jika dunia tahu jika king Aldrego adalah Kenzo Barrent. " ungkap Kenzo. Dia menatap tajam Edward yang langsung tertunduk dan menghela nafas.


Ya, ini lumayan rumit, dan mereka akan menghadapi masalah yang lumayan pelik kali ini.


"Aku berharap kapten Stone bisa melindungi Alena saat kita bertarung dengan mereka nantinya." harap Kenzo, demi apapun, meski dia tidak tahu bagaimana perasaannya. Namun dia cukup khawatir akan keselamatan Alena yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri itu. Jangan kan melindungi diri, teriris pisau kecil saja dia sudah menangis. Batin Kenzo heran.