ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Alena Pingsan



Dan kini tibalah saat saat yang mendebarkan bagi seluruh peserta. Pembawa acara telah selesai berpidato panjang lebar hingga membuat Kenzo benar benar tampak jengah mendengar nya.


Alena tidak memperdulikan lagi bagaimana hasil nya, rasa nya dia telah hambar untuk mengikuti ajang bergengsi itu. Saat ini dia hanya ingin cepat keluar dan pergi dari tempat yang membuat nya sakit kepala itu. Berlama lama disana membuat nya seperti terkena serangan jantung, dan dia pastikan dia memang sudah sakit jantung sekarang.


Dari hampir seratus orang yang mendaftar hanya dua puluh terbaik yang dipilih dan masuk dalam kategori fashion yang menjadi icon model dibarrent Agency.


Dan betapa terkejut nya Alena saat nama nya yang terpanggil setelah nama Alexandria juga terpilih untuk mengikuti seleksi tahap berikut nya.


"Alena, ayo, ah, aku tidak menyangka, aku juga terpilih. Ayo cepat, kita lihat rupa Presdir itu dari dekat" ajak Alex yang langsung menarik tangan Alena. Pria gemulai itu benar benar bersemangat.


Dan mau tidak mau Alena juga maju kedepan untuk mendapatkan pengarahan dan tentu nya tentang tema yang akan mereka perlombakan nanti nya.


Langkah nya gontai tidak bersemangat seperti saat memasuki gedung ini. Pandangan nya beralih ke objek yang lain tanpa mau bersitatap dengan pandangan mata Kenzo yang terus menerus melihat kearah nya.


Alena berjalan sembari membungkukan sedikit tubuh nya didepan para juri dan juga didepan sang Presdir.


Rasa nya lutut Alena benar benar lemas, bahkan dia rasa saat ini kaki nya sudah bergetar.


Seluruh peserta yang tidak terpilih dipersilahkan keluar namun tetap mendapatkan reward dari pihak perusahaan.


Dan kini hanya tinggal dua puluh peserta terbaik yang berbaris rapi menghadap kearah dewan juri.


Lady hamingston , berdiri tegap dan memberi sedikit arahan pada para peserta.


Semua menyimak nya dengan baik, kecuali Alena. Dia benar benar tidak fokus saat ini. Apalagi presdir Barrent Agency itu terus menerus melihat kearah nya.


Entah apa yang difikirkan laki laki dengan sejuta pesona itu, tapi saat ini Alena benar benar ingin segera menghilang dari tempat itu.


Kecewa, tidak juga. Karena ini memang salah nya yang tidak pernah mau tahu tentang Enzo nya.


Alena hanya merasa terpukul dengan kenyataan ini, dia hanya merasa seperti sebuah pungguk yang merindukan bulan sekarang.


Memang dia telah menjaga hati nya agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesona Enzo nya, tapi desakan Clara dan juga pertolongan Enzo malam itu benar benar menguatkan kembali perasaan nya.


Alena hanya tertunduk sembari mendengarkan Lady Hamingston memberikan rancangan rancangan yang harus mereka selesaikan nanti nya.


Waktu nya ditambah menjadi dua bulan kedepan. Cukup lama untuk sebuah rancangan yang harus benar benar menampilkan kesan indah namun tetap elegan. Bertema musim semi, karena Agency akan merekrut model model mereka menjadi model musim semi yang akan berkompetisi meraih gelar Miss universe tahun ini.


Mata Kenzo tidak henti henti nya menatap Alena, entah kenapa Alena tidak ingin lagi melihat nya. Apa dia marah , batin Kenzo. Tapi kenapa harus marah?


Dan hampir satu jam mereka mendengarkan segala persyaratan yang diajukan pihak agensi dan para juri. Tidak ada yang rumit, hanya kemampuan berimajinasi yang harus diandalkan disini.


Setelah selesai, Presdir Kenzo Barrent langsung keluar bersama para staff nya dan diikuti oleh para juri.


Alena langsung dapat bernafas dengan lega, bahkan dia langsung terduduk disebuah kursi, karena benar benar lemas dan tidak lagi bersemangat. Kepala nya benar benar pusing saat ini. Entah efek kesehatan nya yang memang sedang kurang fit, atau karena jantung nya yang sedang terkejut dengan kenyataan yang baru diketahui nya ini.


"Hei, wajah mu pucat. Kau masih gugup ya?" Tanya Alex yang menghampiri Alena.


Alena menatap kearah nya dan tersenyum canggung


"Ah iya, ini kali pertama ku mengikuti ajang seperti ini" dalih Alena, padahal bukan itu masalah nya saat ini


"Tenang lah. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Apa kau mau pulang bersama ku? Kebetulan aku menginap disalah satu hotel di dekat sini" Tanya Alex lagi


"Oh, sorry Alex, aku bersama teman ku" jawab Alena tidak enak, tapi dia ingin sendiri untuk saat ini


"Oke, tidak masalah. Berikan nomor ponsel mu. Aku mendapat jatah seminggu disini. Aku harap kau tidak menolak untuk ku ajak bertemu sekedar minum kopi" kata Alex lagi


"Tentu" jawab Alena


Setelah bertukar nomor ponsel, Alex keluar duluan barulah Alena menyusul dibelakang nya


Dia berjalan menuju arah lift, tidak memperdulikan lagi keberadaan Clara. Karena dia benar benar kesal dengan sahabat nya itu. Bisa bisa nya dia tidak memberitahukan nya tentang hal ini.


'emh, kepala ku benar benar pusing sekarang' gumam nya sembari memijit kembali pelipis nya


Kaki nya melangkah perlahan namun langsung terhenti saat seseorang memanggil nama nya


"Nona Alena"


Alena langsung membalikan tubuh nya dan mengernyit menatap pria gagah itu.


"Tuan Kenzo memanggil anda keruangan nya" kata Edward menatap datar wajah Alena yang terlihat pucat


"Aku ingin pulang, katakan pada nya aku sibuk. Lain kali saja" jawab Alena acuh dan kembali melanjutkan langkah nya


"Nona Clara juga menunggu anda disana. Anda tidak bisa pergi kemana pun tanpa mereka" kata Edward lagi membuat Alena berdecak kesal dan langsung menatap sengit kearah nya


"Kenapa aku tidak bisa pulang tanpa mereka, apa karena mereka pemilik gedung ini. Atau karena mereka orang yang berkuasa disini, begitu" tanya Alena begitu kesal bahkan wajah pucat nya memerah dan mata nya berkaca kaca


"Karena aku miskin, seenak nya saja mengatur orang" dengus Alena kembali berjalan dan masuk kedalam lift meninggalkan Edward yang terdiam mematung dengan wajah datar nya


"Kenapa dia marah" gumam Edward bingung


...


Alena baru dapat keluar dari lift setelah tadi meluapkan emosi nya pada Edward yang terlihat bingung


Rasa nya dia benar benar tidak semangat. Ujung pintu masuk gedung terasa begitu jauh saat ini. Lagi pula dia juga bingung dengan apa dia harus kembali kebutik nya. Jika tahu begini lebih baik dia pergi bersama Alex tadi.


Alena menghela nafas lelah. Kepala nya terasa mau pecah sekarang. Tidak dipedulikan nya tatapan beberapa pasang mata yang menatap aneh kearah nya. Alena hanya ingin berjalan cepat dan sampai kebutik nya.


Lobi gedung sudah terlewati, dan kini Alena berjalan keluar dari halaman gedung Barrents Agency itu untuk menunggu taksi yang dipesan nya.


Cuaca panas dan jarak yang lumayan jauh membuat nya bertambah pusing. Bahkan keringat sudah mulai mengucur membasahi dahi dan belakang tubuh nya.


"Astaga, aku ini kenapa. Apa vertigo ku akan kumat lagi" gumam nya sembari memijit kepala nya.


Namun tiba tiba dia terkesiap kaget saat sebuah mobil mewah berhenti dan hampir menyerempet diri nya.


Alena menatap sengit kearah mobil itu, apalagi saat dia mengetahui orang dibalik mobil itu


"Ayo masuk Ale, kenapa kau tidak menungguku" gerutu Clara hanya dengan menampakan kepala nya dari balik kaca jendela mobil


"Aku bisa pulang sendiri Cla" jawab Ale pelan


Clara berdecak kesal dan segera keluar dari mobil nya.


"ck, ayo cepat masuk" kata Clara sembari menarik kuat tangan Alena yang benar benar kesal sekarang, tapi mau tidak mau dia terpaksa naik kedalam mobil itu, karena tidak enak dengan tatapan mata para karyawan dan security yang berada disana.


Alena langsung masuk kedalam mobil dengan sedikit dorongan dari Clara.


Alena menghela nafas nya dengan kasar menatap Clara yang duduk didepan bersama dengan Edward.


Tapi,.


Tunggu


Alena langsung menoleh kearah kanan nya,


Deg


Jantung nya hampir berhenti berdetak kembali saat melihat seorang pria yang ingin dihindari nya malah duduk dengan santai dan penuh pesona disamping nya.


Alena menatap Enzo nya yang menatap kearah depan dengan tatapan datar nya.


Rasa aneh bertubi tubi menghantam dada Alena, hingga benar benar sesak. Dia langsung bersandar dikursi nya dan menatap nanar kearah jendela mobil. Mencoba merilekskan perasaan dan pernapasan nya.


Clara dan Edward hanya diam dan tidak berani berbicara.


"Kenapa kau menghindari ku?" Tanya Kenzo begitu dingin dan datar, namun cukup mampu membuat Alena bergetar jantung nya


Bibir nya masih enggan untuk bersuara saat ini. Membuat Kenzo mengernyit heran dan kini menoleh kearah nya sekilas


"Alena!" Seru Kenzo dengan suara yang terasa berat dan dalam


"Itu hanya perasaan anda saja Presdir" jawab Alena akhir nya, tanpa mau menatap Kenzo yang tersenyum sinis


"Kau marah?" Tanya Kenzo


"Tidak" jawab Alena singkat


Clara melirik sekilas Alena dari kaca depan. Dia benar benar tidak enak saat ini. Dia fikir Alena akan terkejut dengan kenyataan ini, tapi ternyata reaksi nya begitu jauh dari ekspektasi Clara


Alena merebahkan kepala nya kesandaran mobil dan kembali menatap kearah jendela dengan mata yang terpejam.


Kenzo hanya diam dan tidak ingin bicara apapun lagi. Dia tidak tahu kenapa Alena berubah dingin seperti itu. Yang dia tahu, dia tidak pernah berbuat kesalahan sedikit pun pada gadis itu.


Hingga mobil yang dikemudikan Edward tiba didepan butik Alena dan berhenti tepat dilobi gedung itu.


Kenzo melirik Alena yang masih tertidur dengan tenang. Apa dia begitu kelelahan , batin Kenzo


"Ale!" Panggil Clara menoleh kebelakang melihat Alena


"Al" panggil nya lagi. Namun Alena tidak bergeming sama sekali


Clara memandang Kenzo yang mengendikan bahu nya


"Kak , wajah nya pucat sekali" lirih Clara membuat Kenzo langsung menoleh kearah nya


Disentuh nya dengan pelan bahu Alena , namun tidak juga menunjukan reaksi apapun. Kini Kenzo duduk dengan tegak dan menoleh pada Alena. Tangan nya mengusap bahu Alena dengan sedikit guncangan. Namun yang terjadi malah Alena langsung terjatuh kearah nya hingga membuat Kenzo terkesiap kaget dan reflek menangkap tubuh lemah Alena kedalam pelukan nya


"Ya Tuhan Alena" pekik Clara yang langsung keluar dari mobil nya dan membuka pintu mobil dekat Alena duduk.


Sedangkan Edward membuka pintu mobil sebelah Kenzo


Kenzo kembali merebahkan tubuh Alena pada Clara lalu dengan segera dia keluar dan memutar kearah Alena.


Clara sedikit menjauh membiarkan kakak nya mengangkat tubuh Alena untuk dibawa masuk kedalam butik nya.


Jhon begitu terkejut dengan kedatangan Kenzo Barrent. Apalagi Lian dan karyawan Alena. Mereka begitu penasaran kenapa nona mereka bisa pingsan dan kini malah ada dalam gendongan tuan Amerika itu.


Kenzo membawa Alena kekamar nya ditemani oleh Clara.


Saat tiba dikamar Kenzo langsung merebahkan tubuh Alena diranjang nya dengan perlahan


Ditatap nya wajah Alena yang memang pucat bahkan berkeringat dingin.


"Perintahkan Edward memanggil dokter Cla" kata Kenzo sembari membuka jas nya


Clara yang sedang memeriksa keadaan Alena pun langsung mengangguk dan menghubungi Edward melalui ponsel nya.