ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Bertahanlah Alena



Kenzo duduk disamping ranjang Alena yang terbaring kaku begitu pucat. Memandangi wajah Alena dengan perasaan tidak menentu. Kenapa bisa seperti ini, kenapa dia bisa kecolongan dan tidak berfikir jika Thomas menggunakan cara licik untuk mencelakai Alena. Kenzo hanya berfikir jika Thomas akan menculiknya atau menggunakan cara kekerasan seperti biasa, dia tidak pernah menyangka jika Thomas akan meracuni Alena hingga seperti ini. Apa dia begitu dendam dengan Alena karena Mike mati dengan cara tragis? Tapi kenapa harus Alena? Apa Thomas juga sudah mencurigai nya yang beberapa kali menolong Alena dari tangan jahatnya?


Kenzo menarik nafas nya dalam dalam. Mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan Alena yang sudah mendigin dan pucat. Dia benar benar takut jika sampai Alena tidak tertolong. Sungguh Kenzo tidak ingin kehilangan lagi. Rasa sakit itu tidak bisa dia bayangkan. Mungkin jika dia kehilangan Alena, dia akan merasakan kesakitan yang lebih parah dari pada bersama Rose dulunya. Dia kehilangan Rose tapi dia masih bisa melihat wanita itu hidup dan bahagia, tapi Alena, jika dia kehilangan gadis ini, Kenzo tidak akan dapat lagi melihatnya. Alena, meski dia manja dan cengeng, tapi demi apapun Kenzo benar benar sudah jatuh cinta padanya, dia sudah melabuhkan hatinya pada gadis ini. Gadis yang telah berhasil merebut perhatian nya, gadis yang menjadi obat dari segala rasa sakit nya. Dan jika dia pergi, bagaimana lagi Kenzo harus hidup dengan hati yang akan benar benar hancur.


"Bertahanlah Alena" harap Kenzo begitu dalam. Dia mengecup lama tangan Alena. Berharap kehangatan nya bisa sampai pada Alena dan dia bisa bertahan untuk beberapa waktu sampai Kenzo bisa menemukan penawar itu.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Aku bersalah, nyatanya aku tetap saja tidak bisa melindungimu meskipun aku sudah berjanji" gumam Kenzo. Dia terlihat begitu menyesal. Kekuatan nya, kekuasaan nya bahkan tidak berguna disaat saat seperti ini.


Kenzo kembali memandang wajah Alena. Mengusap nya dengan begitu lembut penuh perasaan. Baru beberapa saat yang lalu mereka saling bercanda dan tertawa bersama. Baru beberapa saat yang lalu dia melihat tawa lepas Alena. Dan baru beberapa saat yang lalu dia melihat wajah bahagia gadis itu yang begitu bahagia mendengar ungkapan cinta darinya.


"Kau harus bertahan, aku berjanji, jika kau bangun aku akan mengucapkan kata kata cinta setiap hari untukmu. Selalu tersenyum untukmu, dan akan kembali sebagai Kenzo Barrent. Aku tidak akan membuat mu khawatir lagi. Tapi aku mohon, kau harus bertahan Ale" bisik Kenzo ditelinga Alena.


Kenzo sedikit terkesiap saat merasakan tangan Alena yang bergerak didalam genggaman nya. Dia melihat tangan itu dan kembali menoleh kewajah Alena. Matanya mulai terbuka namun nampak begitu sayu


"En...." panggil Alena begitu lemah


"Aku disini" jawab Kenzo yang langsung mengusap wajah nya


Alena memandang Kenzo, wajah nya sudah tidak lagi tertutup topeng, hingga wajah tampan itu terlihat begitu jelas. Namun terlihat sendu dan penuh rasa khawatir yang besar


"Aku kenapa?" tanya Alena, suara nya masih begitu lirih dan sedikit serak.


Kenzo tersenyum, mengusap wajah nya sekilas


"Tidak apa apa, jantung mu bermasalah sedikit hingga kau pingsan tadi" jawab Kenzo


"Benarkah?" tanya Alena dan Kenzo langsung mengangguk


"Aku ingin ini dibuka" kata Alena meraih alat bantu pernafasan nya


"Iya, tunggu sebentar. Aku panggil Richard dulu" jawab Kenzo yang langsung memencet tombol penghubung keruangan dokter Richard yang sedang membuat sesuatu diruangan nya


"Aku menyusahkan mu lagi" gumam Alena


"Tidak, aku tidak pernah merasa disusahkan" jawab Kenzo


Dan tidak lama kemudian dokter Richard masuk kedalam ruangan itu bersama seorang rekan nya. Dia langsung mendekat keranjang Alena dan Kenzo langsung bergeser dari tempat duduk nya


"Apa yang anda rasakan nona?" tanya dokter Richard sembari membuka alat bantu pernafasan Alena.


"Tidak ada, hanya agak lemas saja" jawab Alena


Kenzo melirik dokter Richard dengan aneh, namun dokter Richard masih diam dan terus melakukan pemeriksaan pada Alena. Detak jantung nya masih normal meski detak nya lebih cepat dari biasa. Hanya saja wajah Alena dan seluruh tubuhnya begitu pucat pasih bagai mayat hidup. Ada beberapa lebam ditubuhnya yang masih belum dia sadari


"Tapi aku merasa dingin, apa diluar sedang hujan atau pendingin ruangan disini hidup?" tanya Alena lagi


Kenzo langsung beranjak, meraih remot AC yang sama sekali tidak dihidupkan, bahkan ruangan ini terasa hangat sejak tadi, tapi Alena malah kedinginan. Apa ini juga pengaruh racun itu?


"Diluar sedang hujan nona, nanti rekan saya akan menaikkan suhu diruangan ini. Anda bisa memakai selimut dulu ya" jawab dokter Richard


Kenzo tersenyum dengan terpaksa saat Alena memandangnya yang kini tengah merapatkan selimut ditubuh nya.


"Istirahat lah terlebih dahulu. Aku akan keluar mengambil jaket untukmu" ucap Kenzo tapi Alena langsung menggeleng dan meraih lengan Kenzo


"Aku takut sendiri"  kata Alena dengan mata yang berkaca kaca


Kenzo tersenyum dan mengusap wajahnya dengan lembut. Dokter Richard dan rekan nya sudah keluar lebih dulu. Mereka akan menunggu Kenzo diruangannya.


"Hanya sebentar, kau harus cepat sehat. Jaket nya ada diruangan sebelah. Sebentar saja" jawab Kenzo


"Janji" pinta Alena


"Janji" jawab Kenzo.


Kenzo mengecup sekilas bibir pucat Alena dan berbisik ditelinga nya, mengucapkan kata kata yang membuat Alena tertegun dengan sedikit rona merah yang tersamarkan diwajah pucat nya


"Aku mencintaimu" bisik Kenzo yang langsung berlalu pergi keluar meninggalkan Alena yang memandang nya dengan heran. Dia meraba dadanya yang semakin berdebar dengan kencang mendengar perkataan itu. Dia kira dia hanya bermimpi mendengar Kenzo mengucapkan kata kata sakral itu, namun sekarang dia mendengar nya lagi. Itu berarti dia tidak bermimpi?


Senyum Alena langsung merekah indah, dia bahagia, sangat bahagia. Akhirnya setelah sekian lama menunggu. Perasaan cintanya terbalaskan. Seorang Kenzo Barrent berkata dia mencintanya. Ah kenyataan yang paling indah untuk Alena. Serasa dunia sudah ada didalam genggaman tangannya, dan dia tidak ingin mengharapkan apapun lagi saat ini. Cinta Kenzo sudah cukup untuk nya, dan jika waktu berhenti, Alena rasa dia sudah cukup bahagia dengan apa yang dia dapatkan sekarang.


...


"Seperti yang saya bilang king. Racun itu menyebar perlahan, tapi pasti menghancurkan kerja jantung nya secara bertahap. Tubuh nona Alena yang seperti mayat hidup dan mulai membiru dibeberapa bagian adalah karena racun itu yang mulai menyebar." ungkap dokter Richard


"Tapi saat ini dia masih sadar dan belum merasakan apapun" kata Kenzo berharap diagnosa dokter Richard salah. Tapi perkataan nya yang selanjutnya membuat jantung Kenzo seperti diremas kembali.


"Saat ini memang belum, obat yang saya beri hanya menunda rasa sakitnya. Dia mulai merasakan dingin, namun semakin lama dia akan merasa dingin yang begitu menggigit, dan karena rasa itu membuat seluruh sendi dan tulang tulangnya terasa remuk dan ngilu yang teramat sangat. Bukan hanya itu, sepertinya diwaktu tertentu jantung nya juga akan merasakan kesakitan yang tidak bisa dia tahan. Itulah yang membuat kita harus cepat menemukan penawarnya. Saya takut nona Alena tidak akan bisa bertahan lebih lama. " Ungkap dokter Richard begitu detil.


Sekarang bukan hanya Alena yang merasakan sakit. Tapi Kenzo juga, dia merasa tidak berdaya mendengar pekataan dokter Richard. Bagaimana mungkin mereka akan bisa menemukan penawar nya secepat itu. Jika jarak Newyork Argentina sangat jauh. Butuh waktu sampai besok untuk bisa pulang pergi menjemput profesor Brian. Itu juga Edward pergi menggunakan helikopter agar bisa cepat sampai. Ya, Kenzo meminta Edward yang pergi, karena pria batu itu lebih cepat dan lebih bisa memaksa Brian untuk ikut bersama nya. Dia berharap pria tua botak itu mempunyai ramuan untuk Alena nya. Jika tidak, Kenzo tidak tahu apa yang harus dilakukan nya lagi. Dunia nya akan menjadi gelap bahkan lebih gelap dari pada patah hatinya yang dulu.


....


Clara berlari masuk kedalam ruang bawah tanah tempat dimana Alena dirawat. Wajahnya khawatir dan panik. Dia baru saja kembali kerumah untuk mengambil beberapa pakaian ganti dan keperluan Alena lainnya. Hari ini malam sudah begitu larut. Tapi Clara tetap kembali untuk menemani Alena bersama kakak nya. Dia tidak bisa tenang melihat keadaan Alena yang ternyata terkena racun yang sangat berbahaya, bahkan dia begitu terkejut karena Edward sampai harus terbang ke Argentina untuk meminta bantuan profesor botak milik black rose. Berarti racun yang masuk kedalam tubuh Alena memang benar benar parah. Ya tuhan entah bagaimana jika Reymond dan kapten Stone mengetahui hal ini, Clara benar benar tidak bisa berfikir.


Clara berlari menyusuri ruang yang memang sepi. Tidak ada seorang pun disana, semua dokter sedang berada diruangan mereka masing masing. Dan untuk seumur hidupnya, baru kali ini dia tahu jika ada ruang bawah tanah yang seperti rumah sakit seperti ini dibawah mansion mewah milik kakaknya.


Setelah berlari cukup jauh dan membuat tubuhnya berkeringat, Clara tiba didepan ruangan Alena. Dia mengetuk pintu sebentar, dan setelah mendengar suara Kenzo yang menyuruhnya masuk, barulah Clara membuka pintu.


Dapat dia lihat kakaknya itu sedang memeluk Alena yang sedang menggigil kedinginan. Mereka duduk diatas tempat tidur dengan tubuh Alena yang bergelung didalam selimut dan berada didalam pelukan Kenzo.


Clara mengernyit heran, bukan kah ruangan ini cukup panas, bahkan dia merasa gerah, tapi kenapa Alena kedinginan, bahkan wajah nya seperti membeku begitu.


"Alena kenapa?" tanya Clara yang berjalan mendekat dan meletakan tas kecil yang dibawa nya dibawah meja.


Alena hanya diam dan begitu menggigil, dia memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya didada Kenzo. Sungguh dia sangat kedinginan, bahkan dia merasa tulang nya berdenyut begitu ngilu.


"Eugh dingin sekali En" gumam nya dengan bibir yang menggeletak dan bergetar


Kenzo semakin mengeratkan pelukan nya pada Alena, sepertinya racun nya mulai bekerja ditengah malam ini.


"Clara tolong air hangat" pinta Kenzo. Clara segera mengangguk dan beranjak menuju tempat air panas yang memang disediakan disana. Mengambil segelas dan langsung menyerahkan nya pada Kenzo.


Kenzo meniupnya perlahan, dan setelah dirasa bisa diminum, dia menyerahkan nya pada Alena.


"Minum dulu" pinta Kenzo yang mendekatkan gelas dibibir Alena. Dengan bibir dan tubuh yang bergetar hebat, Alena meminum airnya. Sedikit demi sedikit namun tidak cukup mampu membuat tubuhnya hangat.


"Dingin" gumam nya lagi


Clara menatap lirih Alena, dia sudah seperti mayat hidup yang sangat menyedihkan. Apalagi Kenzo, wajah kakaknya itu sudah tidak tahu seperti apa rupa nya. Raut khawatir, takut dan sedih semua bercampur menjadi satu diwajah datar itu.


Kenzo memeluk Alena dengan erat, mencium pucuk kepala Alena yang entah kenapa juga terasa begitu dingin. Sungguh Kenzo juga benar benar takut sekarang, dia tidak tahu harus melakukan apa. Obat yang diberikan Richard tidak cukup mampu membuat Alena tenang. Racun ditubuhnya benar benar berbahaya, dan mereka hanya bisa menunggu Edward dan profesor Brian datang, itupun paling cepat besok malam.


Kenzo terkesiap, saat tiba tiba saja Alena menggerakkan tubuhnya sedikit kuat dan menggeram kesakitan didalam pelukan nya


"Alena" panggil Kenzo memandang wajah Alena yang terpejam dan meringis begitu kuat


"En ... sakit" gumam Alena sembari memukul mukul dada nya kembali, namun Kenzo segera meraih tangan nya. Clara mendekat, dia juga panik melihat Alena yang kesakitan


"Uuuhh sakit" Alena terkulai dalam pelukan Kenzo namun tangan nya menggenggam tangan Kenzo begitu erat. Bahkan Kenzo dapat merasakan rasa sakit yang dirasakan Alena, tangan gadis itu bergetar hebat, genggaman tangan nya penuh kesakitan. Keringat dingin bahkan sudah mulai keluar didahi nya. Tubuhnya bergetar dengan sangat, bahkan Kenzo juga dapat merasakan jika Alena sudah kesulitan untuk bernafas sekarang


"Alena, bertahanlah. Kau pasti bisa" kata Kenzo dengan suara yang juga bergetar. Dia takut, dia tidak tega, dan dia begitu tidak berdaya melihat Alena yang kesakitan seperti ini.


Alena menggeleng cepat, giginya saling menggeletak karena mencoba menahan sakit yang teramat sangat, rasanya dia ingin mati saja saat ini. Dia benar benar tidak sanggup


"Eugh" lenguh nya dengan tenaga yang sudah mulai habis, nafas nya juga terasa hanya sampai ditenggorokan saja. Dadanya sesak, tubuh nya serasa ditikam sesuatu apalagi tulang tulang nya yang berdenyut ngilu. Sungguh Alena tidak dapat lagi bersuara, hanya air mata yang keluar menandakan dia begitu kesakitan saat ini.


"Alena aku mohon bertahanlah, demi aku Alena, aku mohon" pinta Kenzo. Mata nya berkaca kaca bahkan dia nyaris menangis melihat kesakitan Alena. Kenzo memeluk Alena yang lemas namun masih menggenggam kuat tangan nya, tubuh Alena masih bergetar membuat Kenzo begitu takut


Kenzo mencium pucuk kepala Alena yang dia peluk dengan erat, seolah menyalurkan kekuatan untuk gadis itu, namun percuma, kesakitan Alena membuat nya tidak bisa lagi merasakan apapun selain ingin menyerah


"Alena kumohon, bertahanlah untukku. Aku mohon Alena" pinta Kenzo yang sudah menangis tidak berdaya saat ini.


Clara sudah menangis sejak tadi. Dia benar benar tidak tega melihat kesakitan Alena yang sampai seperti itu, apalagi melihat kakak nya yang juga ikut menangis. Sungguh Clara tidak sanggup.


Clara menahan isaknya dan langsung berlari keluar dan menangis berjongkok dibalik dinding. Dia takut, dia takut terjadi sesuatu pada Alena, dia takut Alena pergi. Bahkan tadi Clara dapat melihat jika Alena yang tidak dapat bernafas dengan baik, seolah dia sedang menunggu ajalnya sekarang.


Clara langsung bangkit berdiri saat melihat dokter Richard yang datang bersama kedua rekannya


"Dokter, dokter tolong Alena, dia , dia kesakitan didalam dokter" pinta Clara begitu memohon, bahkan dia meraih lengan dokter Richard dengan air mata yang begitu menyedihkan


"Biarkan saya melihatnya nona" kata dokter Richard yang langsung masuk kedalam melihat keadaan Alena.