ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Menikmati Hari Yang Terasa Berat



Dua hari berlalu ....


Kehidupan Alena masih terlihat baik baik saja, dan belum ada tanda tanda Mike datang menemui nya.


Hari ini Alena tengah bersiap siap untuk bertemu dengan seorang pelanggan nya. Namun mereka akan mengadakan pertemuan diluar untuk membahas kerja sama mereka. Sebenar nya Alena takut untuk keluar butik, dia takut Mike akan menemukan nya disana. Tapi dia juga tidak mungkin menolak permintaan pelanggan nya. Karena ini adalah kerja sama perdana nya dan tentu nya dia akan mendapatkan keuntungan yang besar.


Alena pergi dengan Lian menggunakan mobil yang memang sudah disediakan oleh Edward untuk mereka.


Lian yang membawa mobil itu bersama Alena disamping nya. Karena Alena tidak bisa membawa mobil sendiri.


Hampir satu jam kemudian mereka tiba disalah satu restauran yang lumayan mewah dan didesain memang untuk tempat pertemuan para pengusaha pengusaha atau sekelas model.


Alena berjalan bersama Lian masuk kedalam restauran itu didampingi oleh menejer restauran.


Langkah kaki Alena terlihat mantap dan penuh keanggunan. Senyum tidak pernah luntur dari wajah nya meski beban yang dirasakan nya benar benar berat dan menyakitkan.


Tapi itu semua masih bisa ditutupi dengan senyum nya yang manis.


Seorang pria dan wanita langsung menyambut kedatangan Alena dan Lian.


"selamat siang tuan dan Mrs, maaf kami sedikit terlambat" sapa Alena sembari menjabat tangan pria dan wanita yang masih kelihatan muda itu


"tidak apa apa nona, kami juga belum lama. Mari silahkan duduk" ajak wanita itu begitu ramah


"terimakasih" jawab Alena dengan senyum nya yang tak kalah ramah


"perkenalkan saya Diana, dan ini bos kami, tuan Ponix, CEO starlight" ucap Diana. Alena langsung mengangguk penuh hormat pada Ponix yang hanya tersenyum tipis dan menganggukan kepala nya sekilas pada Alena


"langsung saja, diperusahaan kami sedang mengadakan sebuah event untuk acara ulang tahun perusahaan. Saya melihat rancangan rancangan anda benar benar memukau dan sesuai dengan tema masa kini, jadi kami berniat untuk mengajak anda bekerja sama" ungkap wanita yang bernama Diana itu, sementara Ponix yang terlihat berwibawa masih diam dengan wajah dingin nya namun tatapan mata nya menatap lekat kearah Alena


"tergantung bagaimana permintaan anda Mrs, jika kami mampu, kami tentu akan dengan senang hati bekerja sama dengan anda" ucap Alena begitu ramah hingga membuat Ponix masih begitu nyaman memandang nya, dan Alena tidak terlalu memperdulikan itu


"begini, satu bulan lagi, acara ulang tahun perusahaan, kami ingin memesan rancangan gaun gaun terbaru bertema midnight untuk beberapa model kami" ungkap Diana


Alena langsung menoleh pada Lian, meminta pendapat nya


"acara di Barren'ts Agency masih ada satu bulan setengah lagi. Dan saya rasa waktu kita masih cukup untuk itu nona" kata Lian membuat Alena langsung mengangguk


"anda mengikuti ajang itu nona Alena?" tanya Ponix sedikit mengernyit


Alena langsung mengangguk dan tersenyum


"iya tuan, saya hanya mencoba peruntungan saja" jawab Alena


"anda memang berbakat" sahut Ponix membuat Alena tersipu malu


"jadi, berapa banyak yang anda perlukan Mrs?" tanya Alena yang kali ini beralih pada Diana


"tidak banyak, hanya sekitar sepuluh gaun" jawab Diana cepat


Alena kembali terdiam memikirkan apa dia sanggup. Tapi ini adalah cara untuk menyibukkan diri nya, dan membuktikan pada Kenzo jika dia bisa maju dan berhasil


"baiklah, saya setuju" jawab Alena membuat Diana dan Ponix langsung tersenyum senang mendengar nya


"baiklah, besok pagi anda bisa datang keperusahaan kami untuk mengukur tubuh para model dan menentukan rancangan gaun yang sesuai dengan mereka" kata Diana lagi


"baiklah, saya harap tidak terlalu rumit. Karena sebulan bukan waktu yang lama untuk sepuluh gaun" ucap Alena membuat Diana tertawa kecil


"aku yakin kau pasti bisa. Mengingat butik mu yang baru merintis namun sudah bisa dikenal banyak orang, dan lagi kau juga bisa mengikuti ajang bergengsi diperusahaan raksasa itu" kali ini Ponix yang berbicara dan Alena tertawa kecil mendengar nya, tawa yang mampu membuat siapapun ikut merasakan kehangatan nya


"anda bisa saja tuan. Ya, saya berharap saya tidak akan mengecewakan anda dan perusahaan" kata Alena


"ya, itu harus. Karena saya membayar mahal untuk itu" sahut Ponix yang kini terlihat lebih santai, dan Alena hanya mengangguk dan tertawa kecil menanggapi nya


"baiklah, jika begitu kita akhiri pembicaraan ini sampai disini. Sebaik nya kita mengisi perut terlebih dahulu" kata Diana , dia langsung memanggil menejer restauran itu untuk menyediakan makan siang mereka.


Alena begitu canggung dalam menikmati makan siang nya, apalagi pandangan mata Ponix yang tak henti henti nya melirik kearah nya selama mereka makan.


Dan acara makan siang itu tidak berlangsung lama, karena setelah itu Alena langsung pamit untuk kembali kebutik nya.


"seperti nya tuan Ponix tertarik pada Anda nona" goda Lian saat mereka sedang mengarah menuju lobi restauran


"ya, begini lah resiko punya wajah cantik" sahut Alena sedikit angkuh membuat Lian langsung tertawa mendengar nya


"ya, bahkan sekelas Presdir pun tertarik pada Anda" tambah Lian membuat Alena melebarkan mata nya menatap Lian. Dia memukul pundak Lian sekilas


"Lian, kau ini. Itu berbeda" jawab Alena cepat


"apa nya yang berbeda, bukti nya pria dengan sejuta pesona itu mau meluangkan waktu nya untuk anda, bahkan membiarkan Anda untuk menginap diapartemen nya" goda Lian lagi


"Lian, dia hanya menolongku" jawab Alena cepat


"benar kah?" tanya Lian begitu curiga


Alena langsung tertawa dan kembali memukul gemas lengan Lian yang terbahak bahak. Hingga mereka tidak menyadari mereka sedang berada dimana karena terus saling menggoda dan tertawa layak nya teman bukan atasan dan bawahan.


Brukk


Alena terkesiap kaget saat dia menabrak seseorang yang kelihatan nya juga terkejut. Mereka saling berdiri tegap setelah sebelum nya hampir oleng.


"Alena" sapa pria itu


"Reymond" balas Alena pula


"ah, maaf, aku tidak sengaja" ucap Alena panik melihat pria yang ditabrak nya ternyata adalah Reymond, pria tampan yang pernah ditolong nya beberapa waktu lalu


"tidak apa, aku juga tidak melihat, sedang apa kau disini?" tanya Reymond melirik kedalam dan kearah Lian sejenak


"oh, aku baru saja bertemu dengan klien ku, membahas kerja sama sekaligus makan siang. Kau sedang apa, makan siang juga?" tanya Alena


"ya, sama seperti mu, aku juga sedang makan siang sembari rapat perusahaan" jawab Reymond


"oh begitu" jawab Alena


"emm Alena" panggil Reymond terlihat ragu


"ya" sahut Alena menatap wajah Reymond yang tampan dan sangat menenangkan hati nya, dan Alena terkadang bingung kenapa seperti itu. Padahal mereka baru beberapa kali bertemu


"apa kau ada waktu, aku ingin mengajak mu berjalan jalan sebentar" ucap Reymond


Alena terlihat ragu dan bingung, dia menoleh kearah Lian yang hanya bisa diam. Ingin menolak namun entah kenapa hati nya ingin memenuhi permintaan pria itu


"aku tidak akan menculik mu, aku berjanji" kata Reymond membuat Alena langsung tertawa


"oke, baiklah" jawab Alena akhir nya. Dan Lian menatap ragu Alena. Kenapa gadis ini mudah sekali pergi dengan pria asing ini, bagaimana dengan Presdir , batin nya


"Lian, kau pergilah kebutik dahulu" kata Alena pada Lian


"anda yakin nona?" tanya Lian ragu, pasal nya jika terjadi sesuatu pada Alena, maka dia yang akan terkena imbas nya oleh asisten batu itu nanti nya


"iya, aku juga ingin mencari udara segar. Tenang lah, tuan Ed tidak akan marah padamu" goda Alena membuat Lian mendengus


"tuan, saya mohon jaga nona Alena dengan baik. Karena jika sampai terjadi sesuatu pada nya, nyawa saya bisa hilang" pinta Lian pada Reymond yang mengernyit bingung


Alena langsung menampar lengan Lian dengan kesal


"Lian, kau berlebihan" dengus Alena dan Lian hanya tertawa


"saya serius nona. Anda tidak tahu bagaimana pria batu itu mengancam saya" gumam Lian


"tenang lah, hanya sebentar, setelah itu saya akan mengembalikan nya dengan keadaan utuh dan tidak kurang satu apapun" sahut Reymond membuat Alena berdecih


"aku sudah seperti emas permata kalian buat. Sudah lah ayo. Jangan sampai aku berubah fikiran" kata Alena yang langsung beranjak meninggalkan mereka, membuat Reymond tertawa kecil begitu juga Lian


"tuan meeting anda" tanya Asisten Reymond yang sedari tadi diam dengan wajah bingung nya


"batalkan" jawab Reymond cepat dan langsung meninggalkan asisten nya yang terperangah takjub


"sejak kapan dia menjadi seperti itu?" gumam nya, hingga sebuah tepukan dibahu nya membuat nya terkesiap kaget


"hei, tuan mu tidak makan orang bukan?" tanya Lian pada asisten Reymond itu


"bahkan baru kali ini aku melihat nya begitu dengan seorang wanita" jawab nya, dan kali ini Lian yang terperangah takjub


"pesona nona Alena memang benar benar" gumam nya.


....


Saat ini Alena dan Reymond telah berada di Central park dikawasan New York yang terkenal dengan taman kota nya.


Mereka duduk disebuah kursi panjang dibawah sebuah pohon rindang.


Tangan Alena memegang sebuah es krim vanila dan coklat yang kini terlihat lezat dan sangat menyegarkan tenggorokan nya.


"hei, kau selalu tahu makanan kesukaan ku" kata Alena pada Reymond yang juga tengah menikmati es krim rasa coklat nya


"entah, hanya feeling" jawab Reymond santai membuat Alena mendengus dengan wajah jelek nya. Dia benar benar heran melihat pria tampan ini, pria asing yang entah kenapa bisa dengan cepat dipercayai Alena.


"jangan jangan kau seorang mata mata" tuding Alena menatap sinis wajah Reymond hingga membuat pria itu langsung terkekeh mendengar nya


"apa yang harus ku mata matai Alena, astaga, apa kau punya emas permata dibutik mu?" tanya Reymond dengan nada mengejek membuat Alena mendengus


"lebih dari emas permata asal kau tahu" sahut Alena


"benarkah, wah berarti mulai besok aku memang harus memata matai mu" tambah Reymond


"haha, coba saja kalau kau berani" tantang Alena masih menikmati es krim nya


Reymond memandang lekat wajah Alena dengan penuh senyum dan juga ada sesuatu yang selalu mengganjal dihati nya, namun Reymond tidak tahu apa


"kenapa memang nya, oh apa karena pria batu yang kalian maksud tadi, apa dia kekasih mu?" tanya Reymond membuat Alena langsung tersedak ice krim nya


"uhuk uhuk" dengan cepat Reymond langsung mengusap punggung gadis itu


Alena menatap kesal wajah Reymond yang tertawa


"sialan kau, aku tidak punya kekasih. Pria batu itu asisten teman ku" jawab Alena


"wow, berarti bos pria itu kekasih mu?" tanya Reymond lagi


"berhenti membicarakan aku Reymond. Kau menyebalkan" dengus Alena dan Reymond kembali tertawa dan menatap kesal wajah Alena


"kau gadis yang menyenangkan Alena" ucap Reymond, membuat Alena kembali menatap nya dengan wajah jelek nya


"heh, jangan merayuku" kata Alena


"tidak juga. Aku berkata jujur, jika adik ku masih ada, dia pasti seperti mu" ungkap Reymond dengan nafas yang terasa berat


"adik mu? memang nya dia kemana?" tanya Alena yang telah berhasil menghabiskan ice cream nya.


"dia sudah tidak ada. Dia menghilang, dan aku tidak tahu dia dimana. entah dia masih hidup, atau sudah tiada" jawab Reymond begitu lirih


Alena langsung tertegun mendengar nya


"kau terlihat begitu menyayangi nya" ucap Alena


"tentu saja, dia adik ku" jawab Reymond. Dia melihat Alena yang mengusap bibir nya dengan punggung tangan nya, dan Reymond langsung menghentikan itu, dia mengeluarkan sapu tangan dari saku nya dan menyerahkan nya pada Alena yang langsung tersenyum


"terimakasih" ucap Alena


"mau lagi?" tanya Reymond . Alena langsung tertawa mendengar nya


"aku sudah seperti sapi kau buat. tapi jika kau tidak keberatan, aku ingin kue pie yang kau bawakan waktu itu" kata Alena dengan senyum nya yang lebar, membuat Reymond begitu senang melihat nya. Dia langsung mengusap singkat pucuk kepala Alena, yang tiba tiba saja tertegun, dan merasakan sesuatu yang terasa mengalir hangat dihati nya


"baiklah, ayo. Hari ini. Aku akan meluangkan waktu untuk mu" ajak Reymond yang langsung menarik tangan Alena


Alena masih terdiam dan menatap tangan yang berada dalam genggaman Reymond.


Hati nya bergemuruh, jantung nya berdetak, dan darah nya berdesir hangat.


Bukan karena dia jatuh hati dan jatuh cinta pada pria ini, bukan, dia tahu perasaan itu hanya untuk Enzo nya. Tapi dengan Reymond terasa berbeda, dia merasakan sebuah perasaan yang sulit dimengerti nya. Jika bersama Kenzo dia selalu merasa berdebar debar, namun dengan Reymond jantung nya berdebar tenang namun terasa hangat.


"em, maaf, aku terlalu bersemangat" kata Reymond tidak enak saat melihat Alena yang terdiam dan menatap tangan nya


"kenapa kau begitu baik padaku?" tanya Alena menatap lekat wajah Reymond yang terlihat gugup


Pria itu terlihat menghela nafas nya sejenak dan menatap Alena kembali


"aku hanya merindukan adikku, dan ketika bertemu dengan mu, aku seperti menemukan nya kembali. Maafkan aku Alena, bukan maksud ku kurang ajar, tapi sungguh, aku tidak mempunyai maksud yang buruk padamu" ungkap Reymond


Alena tersenyum dan menggeleng perlahan, dia langsung menggandeng lengan Reymond dan berjalan menuju mobil mereka terparkir


"baiklah tidak apa. Anggap saja aku adik mu. Tapi sebagai imbalan nya kau harus membelikan aku banyak pie dan ice cream lagi" ucap Alena dengan tawa nya membuat Reymond tertawa senang dan langsung mengangguk setuju


"oke, aku anggap itu sebagai pemerasan" sahut Reymond membuat Alena terbahak bahak


Alena tidak mempermasalahkan itu. Dia hanya ingin menikmati waktu nya, menikmati waktu yang dia sendiri tidak tahu akan seperti apa jadi nya. Kehadiran Reymond mungkin hanya akan menjadi warna dalam hidup nya, yang entah pria itu baik atau tidak, Alena tidak lagi perduli. Kehidupan nya sulit, dan dia hanya mencoba menikmati nya saja.


...


Diperusaahan Barren'ts Agency


Kenzo duduk dengan wajah yang tidak bisa diartikan


"dia pergi bersama seorang pria?" gumam pria berjuta pesona itu


"ya king, Lian memberi tahu saya. Jika pria itu sudah beberapa kali datang kebutik nona Alena" jawab Edward


"biar saja, mungkin itu teman nya" kata Kenzo dan Edward langsung mengangguk.


Meskipun begitu, entah kenapa perasaan Kenzo hari itu tidak tenang saat tahu Alena pergi bersama pria lain.