ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Serba Salah



Alena duduk dengan wajah yang tertekuk. Rebecca baru saja pergi dari butik nya, wanita cantik itu benar benar menyebalkan. Bisa bisa nya dia terus menerus membuat Alena merasa kesal dan cemburu secara bersamaan. Dia hanya terus membahas Kenzo, Kenzo dan Kenzo. Alena benar benar jengah mendengar nya. Rasa nya Alena benar benar ingin mencakar wajah cantik Rebecca, tapi mengingat Rebecca yang tidak tahu siapa dia, membuat Alena harus bisa menahan perasaan.


Alena sudah menolak permintaan Rebecca awal nya, namun wanita itu tampak memaksa, bahkan sanggup membayar mahal yang terpenting Alena sanggup membuat kan nya sebuah gaun malam yang indah. Tidak tahu kenapa, tapi Alena merasa Rebecca begitu menggebu akan keinginan nya, padahal jelas Alena tahu banyak butik dinegeri ini yang mempunyai desainer desainer hebat dan ternama, tapi kenapa Rebecca malah memaksa dia untuk membuatkan gaun? Bahkan dia langsung meninggalkan uang muka pada Alena, tentu saja Alena tidak bisa menolak lagi.


Mata Alena memandang sebuah kertas ditangan nya. Kertas berisikan rancangan gaun yang akan dijahit nya nanti. Cukup menarik dan bagus, selera wanita itu memang tinggi. Jika bertemu Kenzo, Alena akan menanyakan ini pada pria itu nanti.


Ting


Pintu butik kembali terbuka, dan dapat Alena lihat Clara masuk kedalam dengan gerutuan dimulut nya. Dan tidak lama kemudian Edward menyusul dibelakang Clara. Pria batu berwajah datar itu hanya diam dengan membawa sebuah tas kerja ditangan nya. Dia berdiri disamping Clara yang sudah duduk diatas sofa.


"Aku bilang tidak mau ya tidak Ed!!"


"Pergi saja kau sana!" seru Clara lagi. Tangan nya dia lipat didepan dada dengan wajah yang begitu tertekuk


"Harus ada yang mewakilkan tuan Kenzo nona, jika tidak proyek ini akan batal. Ayolah jangan mempersulit saya" kata Edward dengan wajah yang terlihat lelah.


Alena masih memandang heran mereka berdua. Entah apa yang terjadi pada mereka. Apa mereka tidak tahu tempat dan tidak menganggap keberadaan nya. Bagaimana mungkin datang kebutik tapi malah beradu mulut. Begitu pula Lian yang sedang menata pakaian disudut ruangan, dia langsung menoleh dan memandang Clara dan Edward dengan heran.


" Aku tidak mau" ketus Clara memalingkan wajah nya


"Nona" panggil Edward lagi. Namun Clara langsung menggeleng mantap


"Nona jika anda tidak mau maka saya akan membekukan kartu kredit anda" ucap Edward terdengar mengancam


Clara langsung berdiri dan menatap Edward dengan sadis, membuat Alena segera berdiri dan beranjak dari duduk nya, jangan sampai mereka berdua membuat kerusuhan dibutik ini.


"Kau mengancam ku?" tanya Clara dengan suara yang menggeram


"Jika anda tidak mau maka saya benar benar melakukan nya" jawab Edward


"Ed !!! kau....."


"Stooop!!!!!!" seru Alena membuat Clara dan Edward langsung menoleh kearah nya


"Kalian ini seperti anjing dan kucing saja setiap kali bertemu. Kalian mau membuat keributan dibutik ku ha?" tanya Alena kesal, apa Clara dan Edward tidak tahu jika dia juga tengah kesal saat ini.


Clara terlihat memalingkan wajah nya dari Edward. Sedangkan Alena kini menoleh pada Edward dengan tatapan memicing, selain ingin tahu dia juga menyimpan dendam pribadi pada pria batu ini.


"Ada apa, tidak bisakah kalian jangan seperti anak kecil?" tanya Alena pada Edward yang juga memandang nya dengan aneh, anak kecil? Apa nona Kenzo ini lupa jika selalu dia yang terlihat seperti anak kecil, batin Edward. Pria berawajah datar itu terlihat menghela nafas nya sejenak, satu Clara saja sudah membuat nya pusing, apalagi ditambah dengan Alena. Kenzo benar benar ingin membuatnya mati berdiri.


"Dua jam lagi ada rapat diagensi nona, dan harus ada yang mewakili tuan Kenzo, jika tidak proyek kerja sama tidak akan berjalan dengan baik, sebab semua klien ingin ada salah satu keluarga dari tuan Kenzo yang hadir, apalagi ini juga menyangkut tentang ajang kompetisi minggu depan" ungkap Edward pada Alena yang langsung mengangguk mengerti. Alena kembali menoleh pada Clara yang berwajah kesal disamping nya.


"Hanya menghadiri rapat, kenapa kau tidak mau?" tanya Alena pada Clara yang mendengus kesal


"Kau tidak tahu Ale, rapat seperti itu membosankan, seminggu yang lalu aku sudah mengikuti nya. Dan aku tidak suka orang orang disana semua nya penjilat bermulut manis" jawab Clara dengan bibir yang mengerucut kesal


"Tapi jika anda tidak datang maka semua nya bisa berantakan nona, perusahaan saat ini sedang goyah karena tuan Kenzo yang menghilang." sahut Edward


Alena kembali memandang Edward dengan tatapan sinis nya, menghilang dari mana, jelas jelas pria robot itu ada, dasar Edward, dia memang pintar mengelabui semua orang, awas saja nanti.


"Pergilah Cla, hanya sebentar, bukankah itu juga perusahaan kakak mu." kini Alena beralih pada Clara


"Aku malas Ale" rengek Clara


"Lagi pula aku tidak begitu paham apa yang harus aku bicarakan disana nanti, Edward memberitahu tiba tiba, aku bahkan belum tahu apa yang akan dibahas " dia langsung duduk kembali disofa.


Alena juga ikut duduk disofa dan merangkul bahu Clara, seperti nya dia harus bertindak sebagai kakak ipar yang baik sekarang.


"Clara, kau pasti bisa. Kenzo sedang tidak ada, dan disini tugas mu begitu diperlukan. Kau tidak mau kan perusahaan yang dibangun susah payah oleh Kenzo malah berantakan karena ulah orang orang yang ingin mengacaukan nya" kata Alena panjang lebar. Edward menatap Alena dengan heran, bisa juga gadis ini berkata bijak, batin nya.


Clara tampak terdiam dengan wajah lesu nya


"Bagaimana jika aku semakin mengacaukan nya" gumam Clara namun Alena langsung meraih lengan Clara dan mengusap nya dengan lembut


"Kau pasti bisa, bukan kah ini adalah jurusan mu, mengurus perusahaan. Buktikan pada Kenzo jika kau bisa menjadi adik kebanggan nya" kata Alena lagi


"Kau sudah seperti kakak iparku saja Alena" sahut Clara membuat Alena langsung terbahak dan menampar lengan Clara sekilas


"Jika Kenzo kembali aku pasti akan menjadi kakak iparmu, siap siap saja dengan omelanku setiap hari" ucap Alena namun Clara langsung mendengus


"Jadi bagaimana, kau harus mau, masih ada waktu dua jam untuk mempelajari apa yang harus dibahas, benar kan Ed" kini Alena beralih pada Edward yang langsung mengangguk dan mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas nya. Dia meletakan semua itu dihadapan Clara dan Alena


"Kenap banyak sekali, kau mau membuat ku gila En" seru Clara frustasi, dia benar benar kesal pada Edward


"Bahkan saya sudah gila nona, menanggung beban perusahaan sendirian selama dua minggu ini" jawab Edward membuat Clara langsung mengerucutkan bibir nya sekilas


"Kemauan kalian? apa maksud nya, kemauan siapa?" tanya Clara pada Alena dan Edward bergantian


Alena terlihat menggaruk pelipis nya dengan gugup, dia menoleh pada Edward yang tampak menghela nafasnya dengan lelah. Nonanya ini benar benar menambah beban hidup nya saja.


"Kemauan saya dan Jack nona, selama tuan Kenzo menghilang kami memutuskan untuk mengurus perusahaan sebisa mungkin" jawab Edward


"Jack?" tanya Clara heran


"Ck, sudah lah. Untuk apa memikirkan itu. Lebih baik kau baca ini sekarang, dari pada terus berdebat, membuat kepala ku bertambah pusing saja" sahut Alena langsung. Dia segera meletakan beberapa berkas diatas pangkuan Clara yang terlihat cemberut dan terpaksa membuka berkas yang berisi ribuan huruf dan angka itu.


"Apa yang kau pusingkan, Lian pasti sudah bekerja dengan baik tanpa kau disini" dengus Clara


"Hah, hari ini aku kedatangan pelanggan yang menjengkelkan, membuat mood ku langsung rusak" jawab Alena yang terlihat merebahkan tubuh nya disandaran sofa. Namun dia kembali duduk dengan tegak dan menoleh pada Edward yang masih berdiri bagai batu disamping Clara


"Ini kan hari kerja, kenapa Rebecca bisa datang kebutik ku?" tanya Alena pada Edward yang terlihat mengernyit bingung begitu pula dengan Clara


"Rebecca?" tanya mereka serempak dan Alena langsung mengangguk


"Apa dia tidak masuk ke agensi?" tanya Alena pada Edward


"Pagi tadi saya meminta nya untuk mengantarkan berkas keperusahan Berlin, pantas saja dia begitu lama, ternyata dia kemari?" tanya Edward kembali


"Hmm, dia memesan gaun untuk acara agensi minggu depan" jawab Alena


"Benarkah?" tanya Clara dan Alena langsung mengangguk


"Setahuku Rebecca adalah wanita kelas atas yang memiliki selera tinggi. Bahkan aku tahu jika dia biasa menggunakan desainer dari perancis. Yang benar saja dia memesan gaun ditempatmu?' gumam Clara tak percaya


"Hei, kau mau bilang gaun ditempatku jelek" dengus Alena membuat Clara langsung tertawa melihat wajah kesal Alena


"Bukan begitu, kau ini cepat sekali marah nya. Maksud ku, aku mengenal Rebecca, dia itu wanita pemilih dan sangat teliti, butik mu baru berkembang meskipun bagus, sangat jarang dia mau memesan pakaian sembarangan. Harga dirinya begitu tinggi, bahkan melebihi supermodel dunia" ungkap Clara dan Alena langsung mengangguk setuju. Karena memang begitu gaya Rebecca tadi, dia merasa jika dia adalah wanita paling hebat didunia apalagi karena hanya dia yang bisa dekat dengan Kenzo sejak dulu


"Entah lah, dia hanya berkata jika dia ingin mencoba hal baru. Tapi dia terlihat begitu memaksa, padahal aku sudah menolak nya" jawab Alena


"Hmh, sudah lah. Mungkin dia sedang kerasukan setan dermawan" sahut Clara asal dan kembali membuka berkas ditangan nya. Sedangkan Edward hanya diam dengan fikiran nya sendiri.


Ting


Pintu butik terbuka, membuat Alena langsung menoleh kearah pintu melihat siapa yang datang. Clara dan Edward hanya diam acuh saja, karena mereka berfikir jika itu adalah pelanggan Alena, namun nyata nya yang datang adalah Reymond.


Alena langsung berdiri dan menyambut kakak nya dengan senyuman manis.


"Kakak" sapa Alena yang langsung memeluk Reymond


"Kau ini, kenapa tidak pulang semalam hm?" tanya Reymond sembari mengecup sekilas pucuk kepala Alena


Clara langsung mendongak dan menatap Alena, membuat Reymond yang tidak sadar jika ada Clara juga sedikit terkesiap


"Kau disini Cla?" sapa Reymond dan Clara langsung tersenyum pada nya membuat pria batu disamping nya sedikit bereaksi


"Hai Rey" sapa Clara


Kini dia beralih pada Alena yang terlihat sedikit gugup


"Kau tidak pulang Cla, lalu kau kemana?" tanya Clara


"Aku menginap dibutik" jawab Alena dengan senyum canggung nya


"Dibutik?" tanya Clara dan Alena langsung mengangguk


"Aku lembur malam tadi, tidak tahu jika kau tidak pulang, jangan begitu lagi. Sudah aku bilang kan jangan terus larut dalam kesedihan, daddy sedang tidak dirumah, bagaimana jika ada orang yang berniat jahat padamu lagi, kenapa kau tidak mengabariku hm?" ucap Reymond sembari mengusap lembut pucuk kepala Alena


"Maaf kak" jawab Alena dengan kepala yang tertunduk, dia menjadi bingung harus apa sekarang


Clara juga terlihat berdiri dan mendekat pada Alena, dia mengusap lengan Alena dengan lembut


"Ale, kenapa kau tidak menginap dirumah ku saja semalam, bukan kah aku sudah memintamu menginap dirumah, lalu kenapa kau malah tidur disini?" tanya Clara pula. Alena tampak begitu merasa bersalah pada Clara dan kakak nya. Mereka terlihat begitu mengasihani nya, mereka pasti berfikir jika dia tengah bersedih dan merindukan Kenzo, padahal yang sebenar nya terjadi dia malah bersenang senang dengan pria itu semalam.


"Aku, aku hanya merindukan Kenzo" jawab Alena begitu pelan, tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menutupi kebohongan nya.


Clara langsung memeluk nya dengan erat, sementara Reymond mengusap bahu nya. Alena menatap Edward dengan pandangan memelas, namun pria batu itu hanya diam dan menunduk. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa.