ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
You're My Sunshine



Saat ini matahari telah bersinar dengan cerah karena waktu telah beranjak pada tengah hari. Panas matahari terasa begitu menghangatkan setelah malam tadi diguyur hujan yang begitu deras.


Mansion Kenzo terlihat masih sibuk siang ini. Puluhan penjaga bahkan hampir beratus orang terlihat berkeliling mansion untuk berjaga jaga .


Pagi pagi sekali saat matahari baru mulai timbul dari ufuk timur, Kenzo dan Alena tiba dimansion itu. Kenzo membawa Alena kemansion nya setelah berhasil melarikan diri dari kejaran orang orang Mike dan kakak nya.


Beruntung nya dia, Edward dapat menemukan mereka lebih cepat, sehingga Kenzo bisa segera membawa Alena yang kembali tidak sadarkan diri setelah mengungkapkan isi hati nya pada Kenzo.


Kini, Alena tengah berada diruang kesehatan yang berada dibawah tanah mansion milik Kenzo Barrent, tempat nya dahulu pernah dirawat.


Gadis itu masih terlihat terbaring dan belum sadarkan diri.


Dokter Richard masih dengan setia selalu mengawasi perkembangan nya. Alena terkena hipotermia karena terlalu lama berada disuhu yang lumayan dingin. Hujan satu malaman yang mengguyur tubuh nya dan juga tenggelam disungai dalam waktu yang lama membuat nya tidak berdaya saat ini. Setiap satu jam sekali dokter Richard memeriksa keadaan gadis itu, karena dia harus memeriksa keadaan jantung Alena. Hipotermia bisa sangat berbahaya jika tidak ditanggulangi dengan cepat, karena bisa mengakibatkan lemah jantung dan yang lebih parah lagi adalah kegagalan fungsi kerja jantung.


Tubuh Alena penuh lebam, mungkin karena dia jatuh terhempas kedalam air dari ketinggian yang lumayan jauh. Untung saja tidak ada tulang nya yang retak atau patah.


Kenzo Barrent saat ini sedang berada disebuah ruangan tidak jauh dari ruangan dimana Alena dirawat. Dia bersama Edward sedang membahas sesuatu tentang penyerangan malam tadi.


Wajah Kenzo benar benar kelam. Rahang nya terlihat mengeras meski wajah lelah nya begitu tampak karena dia belum ada beristirahat sama sekali dari pagi tadi.


"Berapa banyak orang orang kita yang gugur?" Tanya Kenzo yang kini duduk dikursi nya, sedangkan Edward berdiri didepan nya


"Hampir separuh dari orang kita gugur king. Mereka tidak mampu melawan komplotan Thomas dan Jesica yang membabi buta" jawab Edward


"Ya, mereka hanya orang orang yang bertugas menjaga ku dari saingan bisnis, jelas saja mereka kalah. Beri kompensasi untuk keluarga mereka" titah Kenzo Barrent dan Edward langsung mengangguk


"Baik king. Lalu apa kita harus mulai menyerang" tanya Edward pula


Kenzo terlihat menatap vas bunga yang terletak disudut ruangan. Rahang nya mengeras dan wajah nya benar benar dingin. Ya, dia tidak bisa lagi mengulur waktu lebih lama. Sudah cukup untuk mereka bermain main nya, sudah cukup dua kali mereka hampir membuat nya terbunuh. Dan kali ini, mereka harus tahu siapa Kenzo Barrent yang sebenar nya.


"Ya, dimana Mike berada sekarang?" Tanya Kenzo yang kini menatap Edward


"Dia berada dimarkas Jesica king. Dia bersembunyi disana agar pihak kepolisian maupun agen yang ditugaskan untuk mencari nya sulit untuk mendapatkan nya" sahut Edward


"Tidak masalah, dia mungkin bisa mengecoh para kepolisian. Tapi dia tidak akan lolos dari tangan ku" gumam Kenzo denang pandangan mata yang menajam. Dia benar benar geram dengan Mike. Pria itu masih belum cukup dengan kehancuran bisnis nya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Edward lagi


"Besok malam kita serang markas Thomas. Mereka pasti menunggu kedatangan king Aldrego" ungkap Kenzo dengan senyum devil nya. Dan tentu saja ini hal yang paling Edward nantikan.


"Baik king. Saya akan menyiapkan pasukan untuk malam besok. Mereka pasti sudah menantikan kedatangan anda selama ini" sahut Edward pula


"Ya, aku juga sudah tidak sabar untuk memberi mereka pelajaran. Sudah cukup bermain main nya." Jawab Kenzo dan Edward langsung mengangguk.


Kenzo beranjak dari duduk nya dan menatap sekilas pada Edward sebelum berlalu dari ruangan itu.


"Malam nanti undang kapten Stone kemansion ini" ucap nya dan langsung berlalu meninggalkan Edward yang langsung mengangguk mengerti.


...


Alena terlihat mulai membuka mata nya. Perlahan masih terasa begitu berat. Namun lama kelamaan mata nya mulai terbuka, dia mengerjapkan mata nya beberapa kali hingga pandangan mata nya menjadi lebih jelas sekarang.


Alis nya mengernyit, menatap langit langit ruangan yang terlihat tidak asing.


Alena menoleh kearah sekeliling nya dengan tangan yang meraba kepala nya yang masih terasa begitu pusing.


Tidak ada siapa siapa diruangan itu, kosong. Dia kembali mengernyit saat melihat tangan kanan nya yang tertancap jarum infus.


Ruangan itu begitu sepi, hanya ada suara tetes infus nya yang berada diatas kepala nya.


Alena mulai mengedarkan pandangan mata nya, tempat ini serasa tidak asing. Dia langsung berfikir dia sedang berada dimana sekarang.


Dan pandangan nya kini beralih kearah pintu masuk yang terbuka. Dan dia langsung tersenyum saat melihat siapa yang masuk kedalam ruangan itu.


"En..." Panggil Alena dengan suara yang serak dan pelan


Kenzo yang mendengar itu langsung tersenyum dan segera mendekat kearah Alena. Dia langsung mengusap kepala Alena dengan lembut


"Kau sudah sadar?" Ucap Kenzo sembari memncet tombol pemanggil dokter Richard


Alena langsung mengangguk dan menatap kenzo dengan mata yang berkaca kaca.


"Kita sudah aman?" Tanya Alena yang masih begitu trauma dengan keadaan yang begitu mengerihkan malam tadi. Seperti berada diantara dimensi hidup dan mati


Kenzo langsung mengangguk


"Ya, kita sudah ada dimansion ku sekarang" jawab Kenzo


Alena langsung menangis haru dan memegang tangan Kenzo yang begitu hangat, atau karena tangan nya yang mendingin.


"Aku sangat bersyukur kita bisa selamat. Aku benar benar takut" ungkap Alena. Kenzo langsung duduk disebuah kursi, dia menggenggam tangan Alena dengan erat


"Selama aku masih hidup kau akan baik baik saja Alena. Kau harus ingat itu" kata Kenzo lagi


"Ya, maka dari itu kau mengungkapkan perasaan mu bukan" ucap Kenzo . Alena langsung mendengus dan memalingkan wajah nya yang tiba tiba saja memerah, meski wajah itu juga masih terlihat pucat


"Maaf" lirih Alena tertunduk.


Kenzo hanya tersenyum . Dan perbincangan mereka terhenti karena dokter Richard masuk kedalam ruangan itu.


Kenzo langsung beranjak dari duduk nya dan membiarkan Alena diperiksa oleh dokter paruh baya itu.


Dia memperhatikan Alena yang terlihat diam saat dokter Richard memeriksa nya.


Wajah Alena masih pucat, namun keadaan nya sudah jauh lebih baik. Mungkin sore nanti infus nya sudah bisa dilepas karena Alena meminta untuk melepas benda itu.


Kenzo masih terdiam dengan lamunan nya. Entah apa yang dirasakan nya, tapi untuk saat ini, gadis inilah yang membuat hati nya begitu terusik. Senyum Alena benar benar membuat nya candu, dan kesakitan Alena seolah menjadi kesakitan untuk nya sendiri.


Alena menoleh pada Kenzo yang langsung menatap dokter Richard yang memberitahukan tentang kesehatan Alena. Sama seperti Kenzo, Alena juga bingung dengan hati nya. Semakin hari dia semakin tidak bisa lepas dari pesona seorang Kenzo Barrent . Entah bagaimana cara nya, tapi semua tentang Kenzo benar benar membuat nya jatuh cinta, apalagi akhir akhir ini semua perkataan Kenzo seolah air segar yang membuat bunga cinta dihati nya semakin bermekaran ditengah Padang ilalang yang tandus.


Setelah dokter Richard keluar, Kenzo kembali duduk dikursi nya yang berada disebuah ranjang Alena.


Alena masih terdiam, dia begitu malu sekarang. Apalagi jika mengingat jika dia sudah mengungkapkan perasaan nya pada Kenzo malam tadi. Entah kenapa, malam itu dia merasa jika waktu nya sudah tidak banyak lagi, dia hanya takut dia tidak bisa mengungkapkan nya. Dan nyata nya, sekali lagi, Tuhan masih begitu baik memberi nya waktu lebih lama dengan menyelematkan nya dari peristiwa mengerihkan itu. Setidak nya meskipun dia malu, tapi dia benar benar lega sekarang. Terserah pada Kenzo, dia mau membalasnya atau tidak, Alena tidak ingin berharap terlalu jauh.


"Apa masih ada yang sakit?" Tanya Kenzo menatap Alena yang terlihat menghindari kontak mata dengan nya


"Tidak, hanya sedikit pusing" jawab Alena yang kini tengah menatap sebuah pajangan didinding tepat dihadapan nya.


Kenzo kembali terdiam dan terus menatap Alena. Sangat lama, mereka sama sama terdiam dengan fikiran masing masing.


Melihat Kenzo yang hanya diam, Alena menoleh kearah nya. Dan dia langsung terpaku saat Kenzo yang masih menatap nya dengan lekat dan penuh arti.


Alena mengerjapkan mata nya beberapa kali, dia benar benar gugup sekarang. Tatapan datar Kenzo saja mampu membuat nya berdebar, apalagi ditatap dengan tatapan yang benar benar dalam, membuat Alena ingin berlari dan bersembunyi didalam selimut nya sekarang


"Ke kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Alena, bahkan suara nya terdengar terbata


Kenzo hanya diam dan terus menatap wajah Alena yang semakin gugup dan salah tingkah


"En..." Seru Alena , dia mulai kesal sekarang


"Aku hanya heran" ucap Kenzo


"Heran kenapa?" Tanya Alena


"Kenapa kau bisa jatuh cinta padaku?" Tanya Kenzo . Alena langsung mendengus dan memalingkan kembali wajah nya.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu" ucap Alena, alis Kenzo langsung terangkat sebelah dan masih menatap Alena dengan bingung


"Pertanyaan bodoh"gumam Kenzo


Alena kembali menoleh pada Kenzo dan menatap nya dengan lekat


"Hanya orang gila yang tidak bisa untuk tidak jatuh cinta padamu En" ketus Alena


"Pria tampan dengan kekayaan yang berlimpah. Keren, berwibawa dan sangat mempesona. Banci saja begitu menggilai mu" tambah Alena lagi dan kini Kenzo yang terlihat kesal


"Kau menjatuhkan harga diriku Alena" ucap nya. Alena langsung tertawa kecil melihat kekesalan Kenzo.


"Memang benar. Meski datar, dingin, dan tidak tahu cara nya tersenyum, tapi yang melihat mu pasti langsung jatuh cinta" ungkap Alena


"Dan kau berada dalam barisan orang orang seperti banci itu?" Tanya Kenzo.


Alena tersenyum dan menggeleng pelan. Dia kembali memalingkan wajah nya dan menatap langit langit kamar itu. Lama dia terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Hingga Kenzo sedikit heran melihat nya. Mata nya tidak pernah lepas dari wajah cantik Alena yang masih sedikit pucat walau rona merah sudah terpancar untuk menghias raut nya.


"Aku mencintaimu seperti hujan. Tetesan nya yang tidak pernah terhitung berapa banyak nya membasahi hatimu yang tandus akan rasa"


"Aku mencintaimu seperti matahari. Selalu ada meski terkadang tenggelam ditelan malam"


"Dan aku mencintaimu dengan hatiku, hati yang selalu menyebut nama mu disetiap ketakutan ku"


Ungkapan Alena benar benar dari hati nya, membuat Kenzo tertegun dan menatap gadis itu dengan lekat. Ada semburat emosi yang terpancar diwajah nya. Perasaan hangat kembali menyirami hati nya yang selama ini mendingin.


Dan ya, memang benar kata Alena, dia bagai matahari yang bisa selalu menghangatkan seorang pria yang sulit untuk menyembuhkan luka nya.


Alena menoleh kearah Kenzo yang terdiam. Alena tersenyum menatap Kenzo, namun senyum nya terlihat getir


"Aku memang bagian dari para pengagum mu, yang mengagumi mu, menyanjungmu dan mencintaimu. Tapi cintaku berbeda , cintaku tidak serakah En, cintaku hanya berharap kau bahagia meski bukan denganku" ungkap Alena dengan mata yang berkaca kaca


Kenzo terlihat mengerjapkan mata nya sekali, pandangan nya melembut menatap wajah sendu Alena.


Dia tersenyum tipis dan mengusap lengan Alena.


"Ya, you're my sunshine, Alena. Aku beruntung bertemu dengan mu"balas Kenzo membuat Alena seketika tertegun