ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Tetaplah Disini Bersamaku



Flash back beberapa jam sebelum nya....


Setelah selesai makan malam dirumah utama keluarga Barrent. Entah kenapa tiba tiba Clara mengingat Edward. Sudah sejak semalam dia tidak ada melihat keadaan tangan kanan Kenzo itu. Clara masih disibukkan dengan agensi yang memerlukan kehadiran nya, sebab Edward tidak bisa mewakili Kenzo saat ini.


"Hei...kenapa melamun sayang?" tanya nyonya Monica mengejutkan Clara. Dia masih terduduk dimeja makan mereka dan belum beranjak sejak tadi


Clara sedikit terkesiap dan menoleh pada nyonya Monica yang baru saja selesai membasuh tangan nya


"Mom, aku akan akan keluar sebentar" ucap Clara. Dia ingin pergi menjenguk pria batu itu. Entah kenapa, dia begitu iba melihat Edward tidak ada yang menemani diruang bawah tanah mansion Kenzo. Luka nya cukup parah hingga saat ini Edward masih harus dirawat disana.


"Kau mau kemana, ini sudah malam Clara" tanya Nyonya Monica yang memandang bingung pada putrinya ini


"Kemansion kakak" jawab Clara


Nyonya Monic langsung mengernyitkan dahinya dan memandang Clara dengan lekat.


"Kau pasti menyembunyikan sesuatu dari kami kan. Apa Kenzo masih tidak ingin memunculkan dirinya" tanya Nyonya Monica begitu menggebu


"Nanti mommy akan tahu. Mommy hanya perlu menunggu saja, oke" jawab Clara. Dia mulai beranjak dan meraih sebuah kotak makan yang ada disana. Ingin membawa sedikit sup asparagus untuk Edward.


"Kalian membuat mommy seperti tidak ada harga nya lagi" gumam Nyonya Monica yang terduduk dengan wajah sedih. Tangan Clara yang sedang menuangkan sup kedalam kotak makanan nya langsung terhenti. Dia memandang wajah ibunya yang terlihat sedih dan kecewa.


Tapi dia harus apa, Kenzo berkata jika dia akan mengurus semuanya nanti. Clara juga tidak bisa berbuat apapun sekarang. Dia tahu bagaimana keras kepala nya Kenzo dan juga orang tuanya, sejak dulu mereka memang tidak pernah akur


"Mom..." panggil Clara yang langsung mendekat kearah ibunya. Dia mengusap punggung nyonya Monica dengan lembut


"Mommy tahu bagaimana kak Ken kan" ucap Clara


"Dia bahkan membuat mommy takut karena berita kematian nya itu" gumam Nyonya Monica. Dia sudah tahu jika Kenzo masih hidup karena Clara yang memberitahu nya. Berita penyerangan mansion Kenzo sudah terdengar ketelinga mereka hingga mau tidak mau Clara mengungkapkan apa yang sebenar nya terjadi.


"Mom, sebentar lagi, setelah kak Ken menyelesaikan masalah nya, dia pasti kembali dan menemui mommy" kata Clara lagi


Nyonya Monica hanya diam seraya menghapus bulir air mata yang menetes diwajahnya. Dia sudah begitu merindukan putra semata wayangnya itu.


"Dia merahasiakan ini dari kita karena dia tidak ingin kita terlibat dalam masalah nya. Dia cukup trauma dengan kejadian waktu itu. Mommy harus mengerti dan bersabar sedikit. Mommy tahu kak Ken keras kepala" ungkap Clara mencoba menenangkan ibunya


"Yah, semua memang salah mommy. Mommy hanya begitu merindukan dia" jawab nyonya Monic


"Kak Ken juga pasti merindukan mommy" jawab Clara yang langsung memeluk ibunya


Setelah menenangkan ibunya. Clara langsung pergi kemansion Kenzo. Dia membawa dua kotak makanan, karena nyonya Monic menitipkan satu untuk Kenzo.


Namun setiba nya dimansion, Clara sama sekali tidak menemui tuan Amerika itu karena Kenzo yang saat itu tengah berada dirumah Alena.


Jadi dia memutuskan untuk melihat Edward saja dibawah.


Clara berjalan dengan sedikit berlari. Suasana dibawah tanah mansion Kenzo itu benar benar mencekam. Lampu yang dipasang hanya beberapa, bahkan cahaya nya juga meredup. Meskipun dia ditemani oleh seorang penjaga, namun tetap saja dia takut.


Dan akhirnya dia tiba didepan ruangan Edward. Tanpa mengetuk pintu, Clara langsung membuka nya dan menerobos masuk. Namun dia langsung terkejut saat melihat Edward yang terjatuh disamping ranjang nya


"Astaga Ed !!!" teriak Clara yang langsung berlari kedalam. Dia meletakkan kotak makanan yang dibawanya keatas meja dan dengan cepat membantu Edward untuk berdiri. Meski kepayahan karena tubuh Edward yang besar, namun akhirnya pria batu itu bisa duduk kembali diranjang nya.


Wajah Edward memucat namun sedikit merah, mungkin dia sedang menahan sakit nya.


"Kenapa bisa jatuh, kau mau kemana?" tanya Clara dengan nafas yang tersengal karena sungguh menahan tubuh Edward benar benar butuh tenaga


"Kekamar mandi" jawab Edward. Dia sedikit meringis saat membenarkan pan dikaki nya yang patah.


"Astaga, kenapa tidak ada perawat disini. Yasudah ayo aku bantu, tunggu sebentar" Clara langsung meraih kursi roda yang berada tidak jauh dari sana dan mendekatkan nya kearah Edward


"Sini duduk" ujar Clara


Edward memperhatikan wajah Clara dengan lekat dan kembali menoleh kekursi roda nya


"Cepat, aku tidak ingin kau terkencing dicelana" kata Clara lagi


Edward mendengus dan menggeleng pelan


"Tapi..." ucapan Edward langsung terpotong saat Clara langsung menarik tangan nya. Hingga mau tidak mau Edward kembali menurunkan sebelah kakinya yang sehat untuk menahan tubuhnya.


Dan lagi, akhirnya setelah bersusah payah, Edward dapat duduk dikursi rodanya. Dan Clara segera mendorong kursi roda itu untuk masuk kedalam kamar mandi.


"Kau bisa sendiri?" tanya Clara


Edward mendongak dan memandang Clara dengan aneh


"Apa anda mau membantu saya dan melihatnya?" tanya Edward. Clara langsung terkesiap dan reflek menampar bahu Edward membuat pria itu langsung meringis kesakitan.


"Aaahh...maaf maaf. Aku tidak sengaja. Ini salahmu" ucap Clara begitu panik melihat Edward yang kesakitan dan memegangi bahunya yang terluka


"Nona yang menawarkan bantuan, kenapa saya yang salah" ucap Edward


Clara mendengus namun wajahnya memerah


"Aku lupa" jawab nya


Edward tersenyum dan menggeleng kecil


"Saya bisa sendiri, terimakasih" ucap Edward


Clara mengerjap perlahan dan langsung memalingkan wajahnya dari Edward. Senyum itu benar benar membuat nya canggung


"Yasudah, kalau sudah selesai panggil aku" kata Clara yang langsung keluar meninggalkan Edward didalam sana.


Edward tersenyum dan kembali menggeleng. Sebenarnya dia terjatuh bukan karena tidak bisa berdiri, meski kaki nya patah, namun dia sudah cukup mampu untuk mengurus dirinya sendiri. Dia hanya mencoba mencari perhatian Clara, dan ternyata reaksi Clara sesuai dengan keinginan nya.


Beberapa menit kemudian, suara pintu yang terbuka langsung mengejutkan Clara. Dia segera menoleh kearah pintu dan Edward sudah keluar dari dalam sana.


Clara segera meraih kursi roda Edward dan membawa nya kembali ketempat tidur. Namun Edward masih duduk disana karena Clara belum membantu nya untuk naik


"Kau sudah makan?" tanya Clara yang kini duduk dikursi seraya tangan nya meraih kotak makanan yang dibawa nya tadi


"Makan sore tadi" jawab Edward


"Aku membawa sup asparagus. Makanlah" ujar Clara yang menyerahkan kotak makanan itu pada Edward.


Namun Edward malah mematung, dia hanya memandang kotak itu dengan datar membuat Clara memandang nya dengan aneh


"Ada apa?" tanya Clara


Edward tersenyum dan menggeleng pelan. Dia ingin meraih kotak itu, namun kembali ditarik oleh Clara, dan kini gantian Edward yang mengernyit bingung


"Biar aku saja" ujar Clara. Melihat tangan kanan Edward yang masih terpasang selang infus membuat nya tidak tega


"Ayo buka mulutmu" pinta Clara. Dan Edward langsung membuka mulutnya. Clara tersenyum dan memasukkan sesendok asparagus itu kedalam mulut Edward


Edward tidak bisa untuk tidak tersenyum, untuk seumur hidupnya, hanya Clara yang memperlakukan nya seperti ini. Dan sungguh, hati nya benar benar tersentuh dengan perlakuan gadis ini


"Kenapa kau tersenyum seperti itu.?" tanya Clara yang terus menyuapkan supnya kedalam mulut Edward


Clara tertawa dan menggeleng


"Bukan tidak boleh. Hanya saja selama ini kau tidak pernah tersenyum. Dan saat kau sadar dari koma mu, kau jadi aneh. Bahkan setiap bertemu kau selalu tersenyum padaku" ungkap Clara


Edward membuka mulutnya dan terus memakan sup yang sebenarnya sangat tidak dia sukai itu, namun dari tangan Clara, semua terasa nikmat saja sekarang


"Hanya pada anda nona" jawab Edward. Tangan Clara yang sedang mengaduk supnya langsung terhenti. Namun kembali mengaduk dan mengambilnya lagi. Dia mendengus senyum dan memandang kearah Edward


"Kenapa hanya padaku?" tanya Clara


"Tidak tahu" jawab Edward


"Dasar aneh. Sudah lah, habiskan ini" ujar Clara yang kembali menyuapkan sup nya. Edward begitu menikmati setiap suapan dari Clara. Tidak tahu bagaimana rasanya, tapi dia begitu senang. Sudah sejak semalam dia selalu menunggu kehadiran gadis ini. Namun malam ini, akhirnya penantian nya terbayar sudah. Yah, meski harus sedikit menjadi lemah dan berakting tidak masalah bukan. Yang terpenting, Kenzo Barrent tidak datang dan mengganggunya.


"Sudah" kata Clara yang begitu senang melihat Edward menghabiskan supnya dengan lahap. Meski dia tidak tahu bagaimana Edward tidak menyukai itu.


"Sekarang waktunya kau istirahat " ujar Clara. Dia segera beranjak dan merapatkan kursi roda Edward keranjangnya


"Anda meminta saya untuk tidur?" tanya Edward memandang wajah Clara yang semakin hari semakin terlihat cantik dan dewasa


"Tidak juga, tapi setidak nya kau bisa berbaring. Luka mu masih sakit bukan" jawab Clara. Edward hanya mengangguk saja. Clara membantu Edward untuk naik ketempat tidur dengan memegangi kedua lengan nya. Namun entah apa yang terjadi, saat Edward ingin duduk kaki nya terhantuk pinggiran besi ranjang membuat nya meringis sakit dan Clara juga langsung terpeleset karena kaget, hingga akhirnya mereka berdua langsung terjatuh ketempat tidur dengan tubuh Clara yang langsung terhempas keatas dada Edward.


Edward meringis sakit karena dada dan bahunya yang terluka tertekan oleh tubuh Clara. Namun saat melihat wajah cantik itu dari dekat, dia langsung mematung. Begitu pula dengan Clara, mata mereka bertabrakan beberapa saat, saling memandang dengan lekat. Bahkan degup jantung Edward berdesir dengan kuat, begitu pula dengan jantung Clara yang entah kenapa malah berdetak tidak karuan melihat tatapan mata tajam itu.


Karena tidak tahan lagi, Edward langsung memejamkan matanya dan sedikit mendorong bahu Clara. Clara kembali terkesiap dan segera berguling dari atas tubuh Edward. Dia benar benar panik melihat Edward yang kesakitan


"Ed...maaf. aku... aku tidak sengaja" kata Clara yang membantu Edward untuk menaikkan kakinya keatas tempat tidur dengan pelan dan ketakutan. Dia cemas karena lagi lagi wajah Edward memucat sekarang


Clara mendekat kearah Edward, bahkan tanpa sadar dia naik keatas ranjang pria batu itu dan ingin memeriksa luka didada Edward. Namun Edward langsung meraih kedua tangan Clara membuat gadis itu terkesiap. Mereka kembali berpandangan dengan lekat. Pandangan mata Edward yang begitu dalam terasa menembus jantung Clara


"Tidak apa apa" ucap Edward begitu pelan namun dengan senyum tipis diwajah nya


Edward meraih tubuh Clara dan langsung memeluk nya dengan erat. Membuat Clara mematung dan mengerjapkan matanya tidak percaya.


"Ed...." lirih nya yang berada dalam dekapan pria yang menjadi pengawal setia nya selama ini


"Sebentar saja, biarkan seperti ini dulu" pinta Edward yang masih memeluk Clara dengan erat. Bahkan detak jantung Edward yang bergemuruh dapat dirasakan oleh Clara.


Tidak tahu apa yang terjadi pada pria batu ini, namun sejak dia sadar dari komanya, Edward memang aneh dan selalu berkata sesuatu yang terasa mengusik hati Clara.


Dan akhirnya, Clara juga membalas pelukan Edward dan menepuk pelan pundak kekar pria dewasa itu.


Lama Edward memeluk Clara, seolah dia ingin menumpahkan segala perasaan nya selama ini. Segala ketakutan, kesedihan, kesepian, dan rasa cinta yang entah sejak kapan telah hadir.


Dan setelah merasa puas dan tenang barulah Edward melepaskan pelukan nya. Memandang Clara yang masih diam dengan wajah bingung nya


"Maaf" ucap Edward yang tertunduk dan menghela nafas nya perlahan


Clara tersenyum, dia meraih tangan Edward dan menggenggam nya dengan lembut, membuat Edward kembali menoleh kearah nya


"Apa ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Clara


Edward terdiam tidak mengerti


"Kau seperti memendam sesuatu Ed, aku yakin sikap dingin dan batu mu itu karena kau pasti sedang menyimpan semua perasaan mu sendiri" ungkap Clara


Edward tersenyum dan menggeleng


"Saat ini, yang saya inginkan hanya satu nona" ucap Edward


"Apa?" tanya Clara


"Anda tetap ada disini bersama saya" jawab Edward.


Dan... lagi lagi, Clara dibuat mematung oleh perkataan itu


"Aku sudah disini" jawab Clara


"Bersamamu" tambah nya lagi


Dan dapat Clara rasakan genggaman tangan nya dibalas oleh Edward


"Bisakah sampai nanti, sampai saya tidak lagi ada didunia ini?" tanya Edward


"Kenapa berkata begitu." tanya Clara tidak suka


"Kau akan terus menjadi pengawal ku sampai aku tua. Tidak boleh pergi kemanapun" ucap Clara lagi


Edward memandang wajah Clara dengan lekat


"Hanya pengawal?" tanyanya


"Memang apalagi?" tanya Clara pula


Edward tersenyum tipis dan menggeleng. Dia melepaskan genggaman tangan Clara dan memejamkan matanya. Tidak tahu kenapa hati nya tiba tiba merasa sakit dan seperti terhempas. Seharusnya dia tahu, jika Clara pasti hanya akan menganggapnya sebagai pengawal, bukan hal spesial lainnya.


Clara masih memandang wajah Edward yang kembali datar dan memejamkan matanya. Tangan Clara masih menggenggam tangan itu yang kini sudah tidak lagi bereaksi. Apa perkataan nya salah????


Clara memang hanya ingin Edward yang menemaninya sampai kapanpun. Tidak ada pria yang baik selain kakak dan ayahnya kecuali Edward. Dan Reymond, Reymond bukan takdirnya, dia sudah merelakan pria itu dan berharap Reymond bahagia dengan calon istrinya.


Clara merebahkan tubuhnya disamping Edward, dan memeluk lengan itu dengan hati yang terasa lesu.


Edward hanya melirik Clara sekilas, dia canggung sebenarnya, tapi untuk menolak, rasanya tidak mampu karena dia begitu damai jika Clara ada didekatnya


"Apa aku salah? Aku cuma ingin kau yang menemani dan menjagaku sampai aku tua" ungkap Clara tanpa ingin memandang wajah Edward yang menoleh kearah nya


"Walaupun kau menyebalkan dan dingin seperti batu, tapi tidak ada orang lain yang menjagaku seperti mu. Bahkan kak Ken saja tidak secerewet dirimu dalam mengkhawatirkan ku" tambah Clara lagi


Kini dia mendongak dan memandang Edward


"Apa kau tidak ingin menjaga ku sampai aku tua nanti?" tanya Clara.


Edward tersenyum dan memiringkan tubuhnya menghadap Clara. Dia mengusap kepala Clara dengan ragu


"Selama saya masih bernafas, maka saya akan selalu melindungi dan menjaga nona" jawab Edward


"Janji" pinta Clara


"Ya" jawab Edward


Clara tersenyum dan langsung memeluk Edward. Membuat pria itu mematung dengan tangan yang tergantung


"Terimakasih. Kau memang terbaik" ucap Clara


Edward mendengus senyum tipis dan membalas pelukan Clara. Meski awalnya ragu, tapi lama kelamaan dia mulai terbuai dan melupakan jika Clara adalah adik king nya.


Bahkan tanpa sadar karena lama berpelukan, mereka malah sama sama tertidur. Dan mereka terbangun saat Kenzo datang dan memergoki mereka berdua.