
Siang ini Clara sudah berada di Barren'ts Agency. Pagi tadi setelah dari mansion Kenzo dia langsung pergi ke agensi. Itupun karena Kenzo yang meminta nya. Clara harus menyiapkan acara jumpa pers yang akan diadakan besok siang. Kenzo akan mengumumkan kembalinya dia dan juga tentang alasan nya yang menghilang hampir dua bulan ini.
Clara cukup senang sebenar nya karena dengan begitu tugas nya mengurus agensi juga akan selesai. Tapi yang jadi masalah nya, kenapa dia harus bekerja sama dengan Rebecca untuk mengurus ini. Astaga..... ini gara gara Edward yang tidak bisa hadir.
Tapi.... berbicara tentang Edward, Clara yang sedang duduk dikursi Kenzo tampak memerah wajahnya. Dia menangkup kedua wajah nya dan memandang keluar gedung.
Bibirnya nampak tersenyum simpul, apalagi jika mengenangkan jika ternyata Edward menyukai nya. Padahal dia tahu seperti apa batunya pria itu. Clara masih tidak menyangka dengan apa yang baru dia ketahui, dan sialnya, Edward sendiri yang mengungkapkan perasaan nya.
Clara menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkan nya dengan cepat. Dia senang, tentu saja. Tapi, jika mengingat satu hal dia menjadi gelisah.
Ya, Edward ternyata mengetahui tentang perasaan nya pada Reymond. Dan meminta dia untuk melupakan pria itu agar Edward bisa masuk kedalam hati nya
Melupakan Reymond...dan...menerima Edward.
Clara kembali menarik nafasnya, wajah nya terlihat berat. Tapi bukankah itu memang harus dia lakukan.
Clara sudah mengenal bagaimana Edward, pria itu pria yang baik dan bertanggung jawab, meski dia tidak yakin akan bisa mencintai Edward seperti dia yang jatuh cinta pada Reymond, tapi...dia juga tidak bisa jauh dari Edward. Sejak dia remaja, Edward sudah ada didalam kehidupan nya, dan, seharusnya bukan hal yang sulit kan???
Yah, meski merelakan orang yang dicintai dan menerima cinta yang lain itu memang tidak mudah. Tapi......
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Clara terlonjak kaget. Jantung nya bahkan sampai bergemuruh karena terkejutnya. Padahal ketukan itu tidak lah kuat, hanya saja karena dia yang sedang melamun semua jadi terasa mengejutkan
"Masuk" teriak Clara sedikit kesal. Dia membenarkan duduk nya dan menatap kearah pintu yang terbuka. Dimana Rebecca masuk kedalam dengan membawa beberapa berkas ditangan nya
"Selamat siang nona" sapa Rebecca. Dia berjalan mendekat kearah Clara dan meletakkan berkas yang dibawa nya keatas meja Clara. Setelah itu dia langsung duduk tanpa diperintah lagi. Clara langsung mengernyit kesal dan melipat kedua tangan nya didepan dada. Dia memandang Rebecca dengan angkuh. Wanita seksi ini semakin lama semakin menjadi. Apalagi seminggu ini sejak Edward tidak ada, dia sama sekali tidak takut pada Clara. Menjengkelkan. Kenapa juga bukan dia yang meracuni Alena, Clara sungguh ingin mencabik cabik wajah sombong nya itu.
"Apa?" tanya Clara begitu ketus. Namun Rebecca terlihat santai dan membuka salah satu berkas yang dibawanya.
"Persiapan untuk jumpa pers besok sudah selesai nona. Semua media massa dan juga wartawan dari berbagai stasiun TV sudah kami hubungi" ungkap Rebecca
"Bagus" jawab Clara dengan begitu angkuh
"Tapi..." gumam Rebecca
"Apalagi?" sentak Clara. Rebecca sedikit terkesiap. Clara seperti mempunyai dendam pribadi dengan nya. Jika dia bukan adik dari pemilik Agensi ini mungkin sudah Rebecca sentil sejak dulu
"Apa benar tuan Ken masih hidup dan kembali?" tanya Rebecca dengan wajah yang begitu bahagia. Semalam sore ketika Clara memberi tahunya tentang ini, Rebecca benar benar bahagia mendengar nya. Dia sudah yakin memang jika Kenzo Barrent masih hidup. Tapi mendengar jika Kenzo akan kembali ke agensi, dia sangat bahagia. Akhirnya, pria idaman nya selama ini muncul dan akan dia lihat setiap hari.
Clara mendengus memandang Rebecca. Bukan kah wanita ini adalah salah satu diantara jutaaan penggemar Kenzo Barrent??
"Apa telinga mu sudah tidak berfungsi lagi. Aku sudah mengumumkan nya, tapi malah bertanya lagi" dengus Clara. Rebecca langsung mengerucutkan bibirnya sekilas
"Saya hanya masih tidak menyangka saja jika tuan Ken masih hidup" jawab Rebecca
"Memang nya kau mau apa jika dia masih hidup. Kau tidak senang?" tanya Clara
"Tentu saja saya senang. Nona kan tahu saya adalah satu satunya wanita yang dekat dengan tuan Ken. Sudah pasti saya senang, sudah sejak lama saya menunggunya" jawab Rebecca begitu sombong membuat Clara langsung berdecih sinis. Tidak tahu saja dia jika sekarang Kenzo sudah memiliki pawang. Bisa mati berdiri mungkin Rebecca jika tahu kekasih Kenzo Barrent adalah Alena, desainer baru diagensi ini
"Cih.... percaya diri sekali. Kakak ku mungkin sudah melupakan itu" ucap Clara begitu sinis. Namun Rebecca tetaplah Rebecca. Dia hanya memasang wajah acuh dan santai. Rebecca masih yakin dan percaya, jika wanita Kenzo hanya dia seorang.
"Yasudah lah, kita lihat saja besok. Kalau begitu saya permisi dulu nona" pamit Rebecca yang langsung beranjak dan berlalu keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Clara yang tampak memandang nya dengan sinis.
"Percaya diri sekali. Awas saja jika kau pingsan jika melihat Alena sudah masuk nanti" gumam Clara
Dan mengingat tentang Alena, Clara juga sudah lama tidak bertemu dengan nya. Bagaimana keadaan gadis itu ya???
Yah, lebih baik Clara kerumah nya saja. Selagi hari masih siang dan pekerjaan juga tidak ada yang penting. Bukan tidak ada yang penting. Melainkan dia yang sudah bosan disini. Meskipun baru dua jam.
Dan akhirnya siang itu Clara memutuskan untuk mengunjungi Clara dirumah nya. Semoga saja tidak ada Reymond, jika ada maka dia akan sedikit canggung.
...
Sementara dirumah Alena...
Gadis itu sedang berbaring diteras belakang rumah seraya memainkan sebuah bunga Lily ditangan nya. Dia hanya sendiri disana, kakak nya diperusahaan, sedangkan Daddy nya kekantor untuk mengurus tentang masalah Lian dan juga komplotan Jesicca.
Alena benar benar bosan. Dia kesepian dan tidak tahu melakukan apa. Semua orang tidak memperbolehkan nya melakukan apapun. Bahkan hanya untuk sekedar membuat jus saja, pelayan dirumah itu sudah ketakutan.
"Alena, I'm coming" seruan Clara membuat Alena sedikit terkesiap. Dia langsung menoleh kearah pintu dan melihat Clara datang dengan sebuah paper bag besar ditangan nya
"Clara.... akhirnya kau datang juga" Alena langsung beranjak dan duduk seraya merentangkan tangan nya
Clara tertawa dan langsung memeluk sahabat sekaligus calon kakak iparnya itu. Alena terlihat lebih segar dan sehat dari beberapa hari yang lalu.
"Kenapa baru datang sekarang. Aku menunggu mu sejak kemarin" ucap Alena yang melepaskan pelukan nya dan memandang Clara
Clara tertawa seraya melepaskan tas nya kebelakang mereka
"Kau sudah merindukan ku hmm" tanya Clara
"Tentu saja. Bosan sekali tidak ada teman disini. Aku ingin keluar tapi Daddy dan kakakku tidak memperbolehkan" gerutu Alena
"Itu karena keadaan mu yang belum pulih. Lihat wajahmu masih pucat. Bahkan kau terlihat seperti hantu sekarang, apalagi dengan dress putih begini" ejek Clara
"Sialan kau. Siapa juga yang mau begini" dengus Alena.
Clara kembali tertawa dan meraih paper bag yang dibawa nya
"Salahkan Enzo mu itu. Dia selalu memaksaku untuk ke agensi. Ini saja aku melarikan diri dari sana. Biar si nenek lampir itu yang mengurus agensi sendiri" ungkap Clara. Dia membuka paper bag itu dan mengeluarkan sebuah kotak kue dari sana
"Waaah .... Apple pie" gumam Alena dengan wajah berbinar, bahkan dia langsung merebut kotak itu dari tangan Clara
"Hei, aku belum tahu, kau boleh memakan nya atau tidak" rebut Clara kembali, namun ditahan oleh Alena
"Boleh, Professor Brian tidak ada melarang ku makan apapun. Aku hanya tidak boleh terkejut" jawab Alena yang langsung meraih sepotong
"Hah, syukurlah. Aku sudah ragu ragu tadi ingin membelinya" sahut Clara
"Lain kali tidak perlu ragu. Aku memakan semua nya" jawab Alena dengan mulut yang sudah berisi
"Dasar rakus. Entah kenapa kakakku yang sempurna itu bisa menyukai gadis seperti mu" dengus Clara yang juga meraih kue itu
Alena tertawa dan mengusap bibirnya sekilas dengan tisu yang ada didekat mereka
"Jika dia mendapatkan orang yang sempurna, maka orang yang tidak sempurna seperti aku ini bagaimana nasibnya" ucap Alena dan kali ini Clara yang tertawa
"Benar juga ya" gumam Clara
"Ya, jika dia bersama nona Angel, maka mereka akan sama sama sempurna. Dunia mereka pasti datar saja" tambah nya
"Kau benar, mereka pasti tidak akan tertawa, pasti hanya akan membunuh orang setiap hari nya" sahut Clara
Alena hampir saja tersedak mendengar itu
"Menyeramkan sekali perkataan mu itu" Alena langsung menampar lengan Clara yang tertawa lucu
"Aku kan benar. Kau pasti tahu bagaimana kak Rose membantu kak Ken kemarin" jawab Clara
"Aku tidak tahu, tapi kak Rey bilang jika nona Angel memang mengerihkan, bahkan dia menebas kepala orang tanpa takut" kata Alena sedikit ngerih
"Nah itu. Bayangkan jika mereka berjodoh. Mau jadi seperti apa" sahut Clara
"Iya. Tuan Cris saja takut jika istrinya sedang menjadi mafia" ungkap Alena yang langsung tertawa geli mengenang kisah Cristian kemarin
"Kalian itu memang cocok, kau dipasangkan dengan kak Ken, dan kak Rose dipasangkan dengan kak Cris. Hidup kalian akan penuh warna" ujar Clara
Alena tersenyum dan langsung mengangguk, kini dia memandang Clara dengan lekat
"Tuhan itu adil bukan" kata Alena
"Tentu saja" jawab Clara yang kembali memakan kue nya
"Seperti kau dan Edward, juga kakakku dengan Joice" ujar Alena
Clara langsung tersedak bahkan sedikit menyemburkan kue yang ada didalam mulutnya mendengar perkataan Alena