ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Pemeriksaan Di Lab Proff. Brian



Saat ini Alena dan Kenzo sudah berada di laboratorium milik professor Brian. Mereka baru saja tiba di antar oleh Jorge. Dokter Richard dan juga jack tetap setia menemani tuan Amerika itu untuk memeriksa keadaan Alena. Sedangkan Cristian dan Angel tetap tinggal dimansion karena kedua bayi mereka tidak bisa dibawa ke laboratorium.


Alena duduk disebuah ranjang khusus, tidak tahu apa namanya, tapi cukup membuat nya merasa takut. Matanya mengedar kesegala sudut ruangan itu. Betapa banyak alat alat yang cukup canggih, mulai dari berbagai monitor, alat kesehatan, berbagai perlengkapan medis, dan tentu nya banyak botol botol serum yang bewarna warni. Alena tidak mengerti entah untuk apa semua ini.


Saat ini dia sudah memakai pakaian khusus, dan tinggal menunggu apa yang akan dilakukan oleh professor Brian selanjutnya. Professor Brian sedang membicarakan sesuatu dengan Kenzo dan ayahnya sekarang. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kelihatan nya begitu serius dan Alena benar benar penasaran.


Alena tahu jika dia memang tidak baik baik saja. Terlihat dari cemas nya wajah Kenzo setiap kali dia mengeluh sakit didada nya. Tidak tahu seberbahaya apa jantung nya saat ini. Tapi yang pasti Alena merasa ini memang bukan hal yang baik. Bahkan sekarang saja, hanya karena dia merasa takut dan cemas, jantung nya sudah terasa berdenyut ngilu, padahal dia tidak ada melakukan kegiatan apapun.


Alena benar benar takut jika dia tidak akan bisa hidup lebih lama lagi. Dia takut membuat Enzo nya dan ayahnya sedih. Alena sungguh tidak siap melihat itu. Dia ingin hidup lebih lama, dia ingin menikah dengan Enzonya, menjadi anak yang baik untuk ayahnya. Dia ingin hidup bahagia bersama mereka? Bisakah harapan itu terjadi? Alena benar benar berharap.


"Ale" pangilan Kenzo yang lembut mampu membuat Alena langsung terkesiap


"Kau melamun?" tanya Kenzo seraya mengusap wajah Alena


Alena tersenyum dan menggeleng


"Wajahmu pucat nak, apa kau merasa sakit lagi?" tanya kapten Stone pula


"Tidak dad, aku baik baik saja. Hanya saja aku mau diapakan disini?" tanya Alena memandang kapten Stone dan Kenzo bergantian


"Hanya diperiksa saja" jawab kapten Stone


"Diperiksa?" tanya Alena dan kapten Stone langsung mengangguk dan tersenyum


"Apa sakit?" tanya Alena lagi


Namun pertanyaan nya ini membuat kapten Stone dan Kenzo saling berpandangan sekilas. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Karena professor Brian berkata jika pemeriksaan kali ini akan cukup membuat Alena merasakan ketidaknyamanan, karena professor Brian akan memeriksa jantung nya secara menyeluruh. Mulai dari mengukur kinerja jantung dengan Elektrokardiogram dan juga ekokardiografi untuk mengukur struktur jantung Alena secara keseluruhan. Tentu itu akan memakan waktu yang lama.


"Kenapa tidak dijawab, sakit ya?" tanya Alena lagi


Kenzo tersenyum dan mengusap kepala Alena


"Tidak, kau hanya perlu berbaring saja. Tidak ada rasa apapun" jawab Kenzo


Alena langsung mengerucutkan bibir nya mendengar itu. Lagi lagi Kenzo selalu berbohong dengan keadaan nya dan apa yang akan mereka lakukan.


Alena langsung meringis saat professor Brian datang dengan membawa sebuah botol serum dan juga suntikan ditangan nya. Senyum professor Brian bukan membuat Alena tenang melainkan menambah kadar ketakutan nya.


"Disuntik lagi?" tanya Alena


"Hanya sedikit nona" jawab professor Brian


"Kau bisa nak, hanya suntik kecil" ucap kapten Stone


Alena hanya bisa mengangguk pasrah mendengar itu


"Apa kita bisa berdua saja diruangan ini nona?" tanya professor Brian


Alena langsung menggeleng dengan cepat


"Jangan aku takut" kata Alena memandang Kenzo dengan wajah sendu nya membuat Kenzo juga tidak tega melihat itu.


"Biarkan Kenzo menemani nya proff, saya akan menunggu diluar" sahut kapten Stone


"Daddy" panggil Alena


Kapten Stone tersenyum dan mengusap kepala Alena


"Tidak apa apa, sudah ada Kenzo. Daddy tunggu diluar, kau harus kuat dan cepat sehat oke" ujar kapten Stone. Dan mau tidak mau Alena mengangguk dan membiarkan ayahnya keluar dari ruangan itu. Kini dia menoleh pada Kenzo yang ada disamping nya.


"Jangan pergi" pinta Alena


"Tidak, aku disini" jawab Kenzo dengan senyum nya.


Alena langsung memalingkan wajah nya saat professor Brian mengusap usap lengan nya yang akan disuntik oleh jarum berisi serum bewarna merah muda itu. Entah apa, tapi rasanya sangat sakit dan perih, bahkan terasa menusuk nusuk ketika cairan itu mulai mengalir kepembuluh darah nya.


Kenzo yang melihat wajah Alena semakin memucat langsung meraih kepala nya dan merangkul nya dengan erat. Masih seperti ini saja Kenzo sudah tidak tega, apalagi dia harus menjalani berbagai macam pengobatan yang lain nya.


"Uuuuh sakit...." keluh Alena, karena sungguh rasanya memang benar benar sakit dan terasa berdenyut disetiap sarafnya


"Bertahan lah sebentar nona, ini adalah serum untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh anda. Walau bagaimana pun racun yang pernah masuk pasti sudah pernah melewati pembuluh darah yang ada. Ini harus dinetralkan terlebih dahulu" ungkap professor Brian


Kenzo menoleh pada Alena, wajahnya yang pucat semakin pucat, bahkan keringat dingin mulai keluar membasahi dahinya.


Alena terus meringis dan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang benar benar membuat nya tidak berdaya. Bahkan dapat Kenzo rasakan jika tubuh Alena sedikit bergetar sekarang.


"Prof, apa ini tidak berdampak pada jantung nya" tanya Kenzo yang masih mendekap tubuh Alena


"Semoga saja tidak, jika hari ini keadaan nona Alena stabil, kita bisa mulai melakukan pemeriksaan, tapi jika efek serum ini masih bekerja dan membuat nya lemas, maka dengan terpaksa kita harus melanjutkan pengobatan nya besok lagi" ungkap professor Brian


Kenzo menghela nafasnya dan kembali menoleh kearah Alena yang masih bergerak kesakitan. Jika boleh meminta, biar Kenzo yang merasakan penderitaan Alena ini. Dia benar benar tidak tega melihat Alena yang seperti ini. Mereka yang berbuat sudah mati, tapi penderitaan Alena belum usai juga sampai saat ini.


Beberapa menit kemudian, Alena mulai tenang. Namun nafasnya masih tersengal dan tubuhnya juga sudah basah dengan keringat.


"Aku mau minum" pinta Alena terdengar begitu lemah


Kenzo langsung menoleh pada professor Brian


"Tahan dulu nona, untuk beberapa waktu anda jangan minum apapun dulu" ujar professor Brian yang sedang mencampurkan sesuatu dibotol serum nya.


"Tahan ya" ucap Kenzo yang kembali mengusap keringat didahi Alena.


Wajah Alena benar benar pucat dan berkeringat, namun bibirnya terlihat begitu kering. Sungguh Kenzo begitu sedih melihat Alena seperti ini. Dia ingin Alena nya sembuh, dan tidak ada cara lain selain ini. Semoga usaha dan kesakitan yang dialami Alena tidak akan berakhir sia sia.


Satu jam kemudian, Alena sudah terbaring diatas ranjang yang sudah dilengkapi oleh alat pemeriksaan. Beberapa kabel dan alat alat sudah dipasangkan kedada nya.


Alena menoleh pada Kenzo yang tampak tersenyum dan mengangguk, seolah meyakinkan jika semua akan baik baik saja. Keadaan Alena cukup stabil, meski dia benar benar sudah lemas dan lemah.


Pemeriksaan pun dimulai, Kenzo menjauh sejenak sedangkan professor Brian tampak duduk didepan monitor yang menampakan seluruh jantung Alena. Matanya benar benar serius memandangi layar monitor itu.


Mata Kenzo bergulir bergantian memandang professor Brian dan Alena. Jantung nya juga ikut bergemuruh melihat ini. Rasa khawatir, cemas dan takut bercampur menjadi satu didalam hatinya. Tidak pernah dia merasakan ketakutan yang begitu besar selama ini, dan ketika bertemu dengan Alena, Kenzo bisa merasakan nya.


Jantung Kenzo berdenyut sakit saat melihat Alena yang bergerak gelisah dengan keringat yang lagi lagi merembes didahinya. Wajahnya benar benar pucat pasih, apalagi saat sinar uv mulai menyinari disekitar dadanya, Alena terlihat begitu kesakitan. Kenzo ingin mendekat, namun dia takut menganggu kerja professor Brian. Lelaki tua ini terlihat masih begitu serius, namun sesekali juga dia terlihat menoleh pada Alena.


"Alena bertahanlah" gumam Kenzo memandang Alena yang sudah terpejam dengan tubuh yang bergetar menahan sakit.


Cukup lama mereka melakukan pemeriksaan itu. Hampir setengah jam lebih, dan disaat lampu mati Kenzo langsung mendekat kearah Alena.


"Alena" panggil Kenzo, dia mengusap keringat diwajah Alena dan sedikit menepuk pipinya. Namun ternyata Alena sudah pingsan dengan wajah yang pucat pasih bagai mayat.


"Proff" panggil Kenzo pada professor Brian yang sudah mendekat kearah Alena


Professor Brian menggeleng dan tersenyum pada Kenzo. Wajah Kenzo benar benar terlihat begitu panik


"Tidak apa apa king, nona hanya tidak mampu menahan rasa sakit nya. Biarkan dia beristirahat terlebih dahulu. Dua jam lagi dia pasti bangun, seraya saya menyuntikkan lagi serum ditubuhnya" ujar professor Brian


Kenzo lagi lagi hanya mampu menghela nafasnya dengan berat.


"Sampai kapan dia akan seperti ini?" tanya Kenzo seraya melihat professor Brian yang melepaskan alat alat dari tubuh Alena


"Tunggu lah sampai besok, saya masih harus memastikan nya terlebih dahulu. Setelah itu barulah kita bisa mengetahaui langkah apa yang harus kita ambil. Semoga tidak berujung dengan transplantasi jantung, karena itu juga bukan pilihan yang baik" ungkap professor Brian


Kenzo tertunduk dan semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada Alena. Sungguh, perjuangan cinta nya belum usai dan masih harus berjuang lagi.