
Alena dan Clara masih asik bercerita didalam kamar. Setelah jenuh berada diluar, mereka pindah kedalam kamar Alena seraya bersantai santai dan bersenda gurau kembali.
Terakhir kali bertemu ketika Alena ada dimansion Kenzo, dan baru hari ini lagi mereka berjumpa. Tentu saja mereka yang sefrekuensi itu menjadi lupa waktu. Tidak sadar jika hari sudah senja bahkan hampir gelap karena begitu asik bercerita.
"Jadi Edward sudah mengungkapkan perasaan nya?" tanya Alena tidak percaya. Dan Clara langsung mengangguk malu
"Wow, ternyata dia bergerak lebih cepat" seru Alena begitu senang
"Mungkin kepala nya terbentur saat berkelahi kemarin" gumam Clara
Alena tertawa dan langsung menampar lengan Clara dengan gemas
"Mana ada begitu. Dia sudah menyukai mu sejak lama" sahut Alena
"Kau ini sok tahu sekali" jawab Clara
"Aku memang tahu, aku kan sudah selalu bilang padamu" ungkap Alena
Clara langsung mencebikkan bibirnya dan merebahkan diri di atas ranjang Alena .
"Dulu mungkin dia hanya menganggapku sebagai adiknya" gumam Clara, namun Alena langsung menggeleng
"Entah lah, tapi aku tahu sejak malam kompetisi itu. Setelah malam itu, apa kau tidak merasa dia sedikit aneh?" tanya Alena
Clara mengernyit. Dia langsung menopang kepalanya dengan tangan dan menghadap kepada Alena yang duduk disamping nya
"Sejak malam kompetisi" gumam Clara dan Alena langsung mengangguk
Clara terdiam, dia jadi ingat sekarang. Bukankah malam itu tiba tiba lampu mati dan semua orang panik. Dan juga dimalam itu adalah malam dimana dia dan Reymond saling mengungkapkan perasaan mereka kan??? Lalu... apa Edward tahu jika mereka saling suka karena melihat dia dan Reymond yang sedang........
"Oh my God" sentak Clara yang langsung terduduk membuat Alena begitu terkejut. Bahkan dia langsung meringis dan meraba dadanya yang berdenyut sakit
"Aah Alena maaf." seru Clara begitu panik
"Kau ini, suka sekali mengejutkan ku" gerutu Alena dengan wajah cemberut namun juga tertawa melihat wajah panik Clara
"Aku juga terkejut" sahut Clara sembari mengusap pundak Alena
Alena menarik nafasnya dalam dalam dan membuang nya perlahan. Hanya sentakan sedikit tapi jantung nya sudah terasa sakit. Bagaimana kedepan nya nanti?
Tapi, sudahlah, jangan difikirkan. Semua itu hanya membuat nya sedih saja.
"Terkejut kenapa. Kau sendiri yang melamun sejak tadi" tanya Alena
Clara langsung tertawa canggung dan menggaruk pelipis nya sejenak
"Aku baru ingat, memang sejak malam itu Edward memandang ku berbeda. Terkadang begitu dalam, tapi terkadang dengan pandangan tidak suka" adu Clara
"Itu karena dia cemburu dengan kakak ku" sahut Clara
"Apa dia melihat aku dan Reymond malam itu ya" gumam Clara
"Mungkin saja. Sejak saat itu setiap melihat kak Rey dia memang sedikit sensitif. Kau tidak tahu saja bagaimana mereka hampir berkelahi dirumah sakit waktu itu" ungkap Alena.
Clara mengernyit heran mendengar nya
"Berkelahi? dirumah sakit? kapan?" tanya Clara dengan cepat. Kenapa dia tidak tahu tentang ini.
"Sewaktu kau pingsan dibutik ku. Kak Rey membawamu kerumah sakit. Dan setelah itu Edward juga datang. Mereka sempat beradu mulut. Bahkan Edward dengan tega meminta kakak ku pergi dan tidak ingin kak Rey menemui mu" ungkap Alena seraya tertawa geli mengenang hal itu
Clara terperangah tak percaya
"Edward segitu nya?" tanya Clara dan Alena langsung mengangguk
"Ya, aku juga tidak menyangka. Ternyata dia jatuh cinta pada nona nya sendiri" goda Alena
Clara terlihat menghela nafasnya dengan kasar
"Ada apa?" tanya Alena
"Apa aku harus menerima cintanya?" tanya Clara
Alena terdiam dan memandang Clara dengan iba. Dia meraih tangan Clara dan mengusap nya dengan lembut
"Hatimu bagaimana. Edward pria yang baik, kau pasti tahu itu" ujar Alena dan Clara langsung mengangguk
"Ya, dia memang pria yang baik setelah kakak ku. Aku juga sangat takut waktu dia koma kemarin. Aku takut dia mati. Tapi apa aku bisa jatuh cinta padanya" tanya Clara dengan wajah yang sendu
"Jika kau memang mau membuka hatimu, aku yakin kau pasti bisa" jawab Alena. Sebenarnya dia ingin bilang harus membuka dan sedikit memaksa, tapi Alena juga tidak tega, apalagi cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan
"Aku tidak ingin hanya menjadikan nya pelampiasan ku saja Ale" ucap Clara
Alena tersenyum dan menggeleng
"Tidak. Jika kau memang mau membuka hatimu. Maka yakinkan, jika kak Rey bukan takdirmu, dan Edward adalah pria baik yang bisa menyayangimu dan menjagamu sampai kau tua nanti" ungkap Alena
"Atau.... apa kau belum bisa merelakan kak Rey?" tanya Alena sedikit ragu. Namun Clara langsung menggeleng
"Tidak, aku sudah merelakan nya. Meski sulit. Tapi memang aku dan dia hanya sebatas berteman. Lagipula sebentar lagi bukan kah kita akan menjadi saudara" tanya Clara dan Alena langsung mengangguk dan tersenyum
"Yakinlah, Edward pasti akan mencintaimu setulus hatinya. Bahkan lebih baik dari kakakku" ungkap Alena
"Aku tahu itu. Bahkan dia memang lebih baik dari Reymond" ungkap Clara membuat Alena langsung tertawa
"Ya, dan kau memang aneh bisa jatuh cinta pada kakak ku itu" jawab Alena
"Aku juga tidak tahu. Jika waktu bisa diputar, aku juga tidak mau" sahut Clara dan Alena semakin tidak bisa menghentikan tawa nya.
"Ah.. tapi Ale" panggil Clara kembali
"Apa?" tanya Alena
"Apa kakak ku tidak akan melarang ya" gumam Clara yang tampak khawatir
Alena terdiam dan memandang Clara dengan heran. Kenzo melarang????Bukankah Kenzo sendiri yang sudah menjodohkan mereka??? Ah atau Clara yang memang tidak tahu tentang hal ini?? Mungkin saja kan
"Enzo tidak akan melarang" jawab Alena dengan senyum nya. Namun Clara malah mendengus
"Kau ini, bahkan semalam saja dia begitu marah melihat ku berdua bersama Edward" gerutu Clara mengingat kejadian semalam
"Marah?" tanya Alena begitu heran dan Clara langsung mengangguk
"Marah kenapa? Memang nya apa yang kalian lakukan hingga dia bisa marah?" tanya Alena lagi
"Tidak ada. Aku hanya tidur berdua diranjang pria batu itu" jawab Clara
Alena langsung tertawa mendengar itu. Bukan dia saja yang bodoh dan polos ternyata. Clara bahkan lebih parah. Gayanya saja yang sudah berpengalaman
"Dasar bodoh. Jelas saja dia marah, dia pasti mengira jika kalian sudah melakukan sesuatu. Tidur disatu ranjang yang sama. Dibawah tanah pula" Alena tertawa dan menggeleng dengan lucu
Clara mendengus gerah dan kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur
"Aku ketiduran, dan aku juga tidak tahu jika Edward ketiduran. Hari sudah dini hari malam itu" ucap Clara
"Yah, wajar lah dia marah. Adik nya bersama pria lain. Kau bahkan tahu bagaimana posesif nya Kenzo" sahut Alena
Dan tiba tiba pintu terdengar diketuk, membuat Alena dan Clara langsung menoleh kearah pintu yang mulai terbuka. Kepala pelayan dirumah itu ternyata yang masuk, tapi bersama... Kenzo
"Enzo..." seru Alena begitu senang, dia hendak turun namun Kenzo langsung mengangkat tangan nya dan memandang Alena dengan tajam. Alena langsung mematung ditempat nya dan tertawa canggung
"Iya iya aku lupa" sahut nya
Kenzo langsung masuk kedalam kamar itu, sedangkan kepala pelayan Alena kembali meninggalkan mereka
"Kau kemari. Ada apa?" tanya Alena yang langsung memeluk perut Kenzo yang sudah berdiri dihadapan nya
Tersenyum dan mengusap pucuk kepala Alena
"Aku datang untuk menjemput anak nakal yang sudah bolos bekerja hari ini" jawab Kenzo
Alena mendongak memandang wajah Kenzo yang kini memandang kesal pada Clara dibelakang nya.
Alena langsung melepaskan pelukan nya dan menoleh pada Clara yang sudah terduduk dengan raut wajah canggung dan senyum getir nya
"Aku bosan kakak. Lagi pula aku sudah menyelesaikan tugas ku" jawab Clara dengan bibir yang cemberut
"Tapi kau disini sampai malam Clara. Kau memang benar benar tidak bisa dipercaya" omel Kenzo
"Malam" gumam Clara dan Alena yang langsung menoleh kearah jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam waktu setempat.
"Oh my God, aku tidak sadar" gumam Clara yang langsung beranjak dan duduk disamping Alena
"Jangan marah. Kami sudah lama tidak bertemu. Aku juga senang Clara disini" ucap Alena seraya meraih tangan Kenzo dan menggenggam nya dengan lembut
"Kau bukan bermaksud lain kerumah ini bukan" tuding Kenzo pada Clara
"Bermaksud lain?" gumam Clara dan Alena
Kenzo memperhatikan Clara dengan lekat. Clara tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kenzo, namun Alena segera menyadari nya. Tumben sekali otak polos nya cepat konek saat ini
"Hei, dia tidak bermaksud apa apa. Lagi pula dari siang kami didalam kamar saja" sahut Alena dengan cepat
"Aku bermaksud apa memang nya. Aku hanya merindukan Alena" ucap Clara dengan ketus. Kenzo hanya mendengus gerah melihat nya
"Pulang lah, kau sudah sejak semalam menghilang kan" usir Kenzo
"Iya iya ini juga mau pulang" dengus Clara
Dia meraih tas nya, dan mulai beranjak dari atas tempat tidur Alena. Namun tiba tiba dia langsung berbalik memandang Kenzo dengan lekat. Sebelah tangan Kenzo masih ada dalam genggaman Alena.
Clara tersenyum sinis membuat Kenzo langsung mengernyitkan alisnya
"Kakak juga pulang, jangan berdua didalam kamar seperti ini. Kalian belum menikah" ujar Clara , bahkan dia langsung menarik lengan Kenzo dengan kuat membuat genggaman tangan Alena terlepas
"Hei,.kau ini" Kenzo ingin marah namun tiba tiba dia terdiam saat melihat Clara memandang nya dengan senyum penuh arti
"No, kalian belum menikah dan tidak boleh berada didalam kamar berduaan. Bukankah seperti itu yang kakak bilang padaku tadi malam. Maka itu berlaku juga untuk kalian" ungkap Clara
Alena langsung cemberut, sedangkan Kenzo tampak menghela nafasnya. Oke, sepertinya dia telah salah memakai senjata, dan mengakibatkan dirinya sendiri yang susah sekarang
"Clara kau curang. Itu masalah diantara kalian, tapi aku yang terkena imbasnya" gerutu Alena seraya meraih tangan Kenzo
Clara tertawa dan merangkul lengan Kenzo dengan kuat. Membuat Kenzo kini berada ditengah tengah mereka dengan tangan yang sudah terbagi. Kepala nya menjadi pusing sekarang
"Salah mu sendiri kenapa mau dengan orang yang terlalu disiplin seperti ini. Dan sekarang karena kau calon istrinya maka kau juga harus bisa mematuhi perintah yang dia buat" sahut Clara
"Aku masih ingin bersama nya Clara" rengek Alena seraya menarik tangan Kenzo
"No, kak Ken harus ikut aku pulang" jawab Clara yang juga menarik lengan Kenzo
"Astaga, tangan ku bisa lepas kalian buat" ucap Kenzo memandang Alena dan Clara bergantian
"Kau harus pulang kak. Kau harus menemui Daddy dan mommy sebelum melakukan jumpa pers besok" ujar Clara
Kenzo terdiam memandang Clara dengan lekat, begitu pula dengan Alena
"Jadi kau belum ada menemui mereka En" tanya Alena memandang Kenzo begitu heran
"Belum, kau tahu Ale, bahkan banyak sekali alasan yang dikemukakan oleh kak Ken untuk pulang" gerutu Clara
"En... kenapa begitu" tanya Alena memandang Kenzo yang terlihat menghela nafasnya dengan berat
Clara melepaskan rangkulan nya dan kini Alena yang berdiri dan memandang Kenzo
"Besok aku akan menemui mereka" jawab Kenzo.
"En..." panggil Alena dengan begitu lembut . Dia mengusap lengan kekar Kenzo dan memandang wajah tampan yang penuh keraguan itu
"Walau bagaimana pun kecewa nya kau pada mereka. Tapi mereka adalah orang tua mu. Tanpa mereka kau tidak mungkin bisa seperti ini. Mereka sangat merindukan mu, apa kau tidak merindukan mereka?" tanya Alena masih dengan nada yang begitu lembut dan tenang. Clara bahkan sampai terperangah memandang nya
"Entahlah" jawab Kenzo yang hanya bisa menghela nafas. Rindu, bahkan dia tidak tahu bagaimana perasaan itu untuk orang tua nya. Tapi dia memang sudah sangat lama tidak menemui mereka
"Ibumu sangat sedih mendengar berita kehilangan mu. Kau begitu tega membuat nya terus terusan bersedih. Bahkan sudah bertahun tahun kan. Apa kau masih tidak bisa melupakan nona Angel hingga tidak bisa melupakan rasa kecewa itu pada ibumu?" tanya Alena sedikit kesal, bahkan dia langsung melepaskan tangan Kenzo
"Alena ... bukan seperti itu" sahut Kenzo ingin meraih kembali tangan Alena. Namun Alena menolak nya
"Alena" panggil Kenzo
"En... nona Angel sudah bahagia bersama keluarga nya. Dia bahkan sudah bisa memaafkan ibumu. Tapi kenapa kau yang anak nya sendiri tidak bisa?" tanya Alena
"Kau tidak mengerti bagaimana rasanya tidak punya ibu kan. Kau tidak mengerti bagaimana susahnya disaat tidak ada tempat untuk mengadu. Aku sangat senang kau masih mempunyai ibu, karena jika kita menikah, maka aku akan bisa merasakan bagaimana rasanya kasih sayang ibu, meski itu ibumu" ungkap Alena dengan mata yang berkaca kaca . Kenzo dan Clara langsung terdiam mendengar penuturan Alena .
"Tapi jika kau begini, dan memberi jarak antara kau dan ibumu, bagaimana aku bisa merasakan itu???" tanya nya lagi
"Ale... aku" ucapan Kenzo langsung terhenti saat Alena menggeleng dan mengangkat tangan nya
"Aku ingin kita menikah dan disaksikan oleh semua orang yang menyayangi kita. Aku ingin menikah tanpa ada dendam dan rasa kecewa lagi. Aku ingin menikah dengan damai dan bahagia. Jika kau belum bisa menerima dan memaafkan ibumu, maka aku akan menunggu sampai hari itu tiba" ungkap Alena. Dia mengusap kasar air mata yang jatuh diwajah nya
"Aku tidak masalah kau tidak bisa melupakan nona Angel, dan masih selalu terkenang karena rasa sakit itu. Mungkin aku memang tidak bisa membuat mu melupakan dia dan menghilangkan rasa kecewamu, tapi aku...."
"Alena" panggil Kenzo yang langsung menghentikan ucapan Alena
Kenzo meraih tangan Alena dan menggenggam nya dengan erat
"Aku tidak lagi mengingat tentang Angel, aku sudah merelakan kisah kami. Tolong jangan begini. Aku benar benar mencintaimu Ale" ungkap Kenzo
Alena hanya diam, tapi Clara yang nampak terperangah mendengar itu. Baru kali ini dia mendengar dan melihat sendiri Kenzo mengungkapkan isi hatinya. Terlihat begitu tulus dan dalam. Wwow sekali memang
"Baiklah, aku akan pulang dan menemui mommy. Aku sudah memaafkan nya, hanya saja aku tidak tahu bagaimana mengungkap kan rasa rinduku pada mereka" ungkap Kenzo lagi
Dan kali ini Alena tersenyum begitu pula dengan Clara.
"Kau hanya perlu datang dan tersenyum untuk mereka En" ucap Alena yang langsung memeluk Kenzo dengan erat
Bahkan dapat dia rasakan jika jantung Kenzo bergemuruh. Yah, jika tidak didesak, maka Kenzo tidak akan mau mengungkapkan isi hatinya.
Clara tersenyum saat melihat Alena yang tersenyum memandang nya dari balik pelukan Kenzo.
Alena memang selalu bisa meluluhkan pria manekin ini