
Masih tentang Joice dan Reymond.....
Hari yang sebelum nya cerah, entah kenapa tiba tiba saja berubah menjadi gelap. Bahkan Guntur sudah terdengar menggelegar diatas langit. Rintik hujan juga mulai turun bersamaan dengan angin yang berhembus kencang. Apa musim berganti secepat itu sesuai dengan hati Joice saat ini.
Gadis tangguh itu berjalan sendirian didini hari buta itu, dibawah rintik hujan yang mulai turun. Dia sudah berjalan cukup jauh dari rumah sakit tempat seharusnya dia menginap. Tapi bagaimana mungkin dia bisa berada lebih lama disana, jika perkataan Reymond benar benar menyakiti hatinya.
Dia gadis yang kuat, seorang agen kepercayaan yang bisa menangani misi misi tersulit. Tapi kenapa untuk masalah hati dia selemah ini.
Perkataan Reymond masih terngiang ditelinga nya. Bagaimana mungkin pria itu beranggapan jika Joice tidak memiliki hati, bagaimana mungkin Reymond berfikir jika Joice menerima permintaan kapten Stone dengan sesuka hati nya.
Dia memang senang saat kapten Stone memintanya untuk menjadi istri Reymond. Karena sesungguhnya, Reymond adalah lelaki yang menjadi cinta pertama nya. Tidak ada yang tahu tentang itu, dia dengan begitu baik menyimpan semua perasaan nya pada pria itu, sejak beberapa tahun yang lalu. Dan semua dimulai ketika pertemuan nya pertama kali dengan Reymond saat kapten Stone membawa nya Kekota ini. Rasa yang awal nya hanya sekedar mengagumi, namun lama kelamaan menjadi benih benih cinta yang muncul dihatinya.
Dia tidak pernah berani berharap, karena sadar jika dia hanya anak yatim piatu yang telah beruntung dijaga dengan baik oleh kapten Stone.
Tapi sekarang, dia memang harus membuang jauh jauh harapan nya. Harapan memiliki keluarga yang lengkap dan suami yang dia cintai. Lupakan, karena bagaimana pun Reymond hanya terpaksa menerima nya. Pria itu hanya tidak ingin mengecewakan ayah nya, dan juga untuk menyamarkan perasaan nya pada Clara. Dan Joice tidak ingin itu terjadi, dia tidak bisa menerima jika dia hanya dijadikan sebagai alat. Hatinya tidak sekuat itu, selama beberapa tahun ini dia sudah berusaha menjadi gadis yang kuat ditengah tengah ketakutan nya menghadapi kesendirian didunia ini, tanpa keluarga, tanpa siapapun yang perduli. Tidak, dia tidak sekuat itu.
Air mata Joice langsung keluar bersamaan dengan tetes air hujan yang semakin deras. Dia terisak seraya memeluk tubuhnya sendiri yang sudah kedinginan. Dia sedih, bahkan sangat sedih. Tidak ada orang yang menyayangi nya lagi, tidak ada. Sampai kapan dia berusaha kuat dan menjadi gadis tangguh yang dikenal datar dan dingin tanpa takut apapun, tapi percayalah, Joice tidak sekuat itu. Dia hanya seorang wanita, yang juga butuh sandaran.
Joice jatuh terduduk ditrotoar jalan, tubuh nya menggigil kedinginan. Namun bukan hanya karena dingin yang membuat tubuh nya bergetar, melainkan karena Isak tangis yang tidak bisa lagi dia tahan.
Malam ini, dia ingin menangis lagi. Sendirian dibawah hujan, mungkin itu bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Jalanan disekitar taman rumah sakit itu begitu sepi. Karena tidak ada lagi pejalan kaki yang melintas disana. Hanya dijalan raya yang masih dilewati oleh beberapa mobil yang melintas. Joice menangis sesunggukkan, bahkan tangis nya terdengar pilu. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik lengan. Menumpahkan segala sesak dan sedih nya. Sedih sekali rasanya, ingin sekali dia pergi, tapi pergi kemana, dia tidak punya tempat untuk berpulang.
"Mom... dad.... help me.. ini sakit. sakit sekali" gumam nya disela sela Isak tangis nya. Pakaian nya sudah basah dengan air hujan, bahkan rasa dingin yang menggigit tidak lagi dia rasakan. Dia hanya ingin menangis sampai puas, sampai rasa sakit dan sesak nya berkurang, seperti yang selama ini dia lakukan, menangis didalam kesendirian.
Namun tiba tiba dia tertegun, saat tidak lagi merasakan tetes air hujan yang menghempas ketubuh nya. Joice mendongak, dan dia dibuat kembali tertegun melihat seorang pria telah berdiri dihadapan nya dengan memegang sebuah payung hitam.
Wajah pria itu begitu datar, namun cukup mampu membuat air mata Joice kembali berurai. Meski tersamarkan oleh tetes air hujan namun semua orang yang melihat pasti tahu jika dia sedang menangis.
"Apa kau lebih memilih menginap disini dari pada ditempat yang nyaman" tanya Reymond memandang lekat wajah yang terlihat sedang bersedih itu. Dan itu membuat nya sedikit terbawa perasaan. Dia ingin acuh, tapi entah kenapa hatinya tidak tenang membiarkan Joice pergi, apalagi ditengah hujan deras seperti ini dan Joice pergi tanpa membawa apapun. Dan Reymond bisa memastikan jika gadis ini pasti tidak akan bisa pergi kemanapun. Dan lihat sekarang, dia malah berada disini dan menangis dengan begitu pilu. Tentu saja itu membuat Reymond sedikit merasa bersalah.
"Ayo pulang" ajak Reymond lagi. Namun Joice hanya diam dan malah tertunduk
"Luka mu masih basah. Itu akan membuat nya bertambah parah. Daddy masih memerlukan bantuan mu" kata Reymond lagi
Joice mengangguk pelan, dan kemudian mengusap kasar wajah nya. Dia berfikir jika Reymond datang karena memperdulikan nya, tapi kenyataan nya, pria ini hanya ingat pada ayah nya saja. Menyedihkan memang.
Dengan perlahan Joice berdiri dari duduk nya, dia melirik sekilas kearah Reymond yang masih memandangi nya. Entah apa yang ada difikiran pria itu, tapi Joice tidak ingin lagi perduli. Dia sudah cukup susah untuk meredam perasaan nya saat ini.
"Apa kau tersinggung dengan ucapanku hingga kau lebih memilih pergi tanpa membawa apapun?" tanya Reymond sambil membawa Joice mobil nya
Sekuat mungkin Joice masih berusaha untuk menahan air matanya. Karena sungguh, dia masih ingin menangis, tapi Reymond malah datang dan menemui nya. Padahal pria inilah yang membuat nya seperti ini
Reymond menghentikan langkah nya dan menoleh pada Joice yang juga ikut berhenti. Joice memandang Reymond dengan sendu dan menggeleng pelan
"Maaf tuan, saya lupa jika tidak membawa dompet. Jadi saya memilih duduk disini" jawab nya dengan suara yang terdengar serak dan basah. Dan tentu saja Reymond tahu jika gadis ini sedang bersedih. Gadis yang selalu berwajah datar itu sekarang terlihat begitu sendu dan sedih. Apa perkataan nya tadi memang sudah keterlaluan? Tapi kenapa Joice mengambil hati, bukan kah biasanya Joice akan acuh saja pada setiap perkataan yang dia ucapkan?
Reymond hanya menghela nafasnya sejenak dan kembali melangkah kemobil nya. Sedangkan Joice mau tidak mau dia mengikuti langkah kaki Reymond. Dia tidak bisa pulang, semua barang barang nya ada dirumah sakit, dia bahkan tidak ingat untuk membawanya tadi.
Reymond membukakan pintu mobil untuk Joice, membuat gadis itu sedikit terkesiap dan memandang Reymond dengan heran. Namun melihat tatapan datar itu, dia langsung masuk kedalam. Begitu pula dengan Reymond yang ikut menyusul masuk kedalam mobil nya.
Reymond melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang karena hujan masih turun dengan cukup deras. Malam itu terasa begitu dingin, bahkan Joice kelihatan menggigil kedinginan. Tadi rasa itu tidak terasa, tapi ketika sudah dimobil dia malah merasa dingin padahal Reymond sudah menghidupkan pemanas didalam mobil itu.
Tidak ada percakapan sama sekali, mereka hanya diam dengan fikiran masing masing. Joice dengan hati nya yang sedih, sedangkan Reymond dengan rasa bersalah nya.
Reymond sesekali melirik kearah Joice. Mata gadis itu terlihat terpejam, namun tangan nya saling memeluk erat tubuh nya yang menggigil. Pakaian nya basah semua, bahkan tetes air masih menetes dari rambut nya. Apalagi Joice hanya mengenakan kaos tipis bewarna hitam, membuat rasa dingin itu sudah pasti begitu menggigit.
Bahkan dapat Reymond lihat jika perban luka tembak dilengan nya sudah basah dan berdarah lagi.
Reymond menepikan mobilnya sejenak, tapi Joice tidak bergeming. Dia hanya diam dan memejamkan matanya menahan dingin dan lelah. Ya, dia begitu lelah, karena tidak ada beristirahat sama sekali. Ditambah dengan menangis dibawah hujan, membuat nya ingin sekali masuk kedalam selimut dan tertidur dengan nyaman. Tapi bagaimana mungkin bisa
Dapat Reymond lihat jika wajah Joice sudah memucat karena kedinginan. Dia langsung beranjak dan kembali melajukan mobilnya. Mengabaikan Joice yang masih tertegun dengan perlakuan Reymond ini. Tapi, lagi lagi dia hanya bisa diam dan menerima. Dia memang kedinginan saat ini, dan dia tidak ingin memikirkan apapun selain mencari sedikit kehangatan. Luka dilengan nya berdenyut sakit, tapi tidak sesakit hatinya yang patah dan tidak terbalas.
Joice kembali merebahkan kepala nya dan memejamkan matanya menahan sakit dan dingin. Membiarkan Reymond membawa mobil nya untuk pulang. Tidak tahu apakah dia tahu atau tidak dimana Joice tinggal. Yang jelas Joice sudah tidak ingin lagi berkata apapun.
Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Reymond sudah menepi didepan lobi sebuah apartemen mewah milik nya. Reymond tidak tahu dimana Joice tinggal, dan ketika ingin bertanya, dia melihat Joice sudah tertidur dengan helaan nafas yang tenang. Reymond tidak ingin membangunkan nya. Sehingga dia lebih memilih membawa Joice keapartemen nya saja.
Reymond menoleh pada Joice, memandangi wajah pucat itu dengan lekat. Cantik memang, meski terkesan tegas dan datar. Hati Reymond sedikit terenyuh melihat Joice yang tertidur. Sepertinya, dia baru menyadari jika dia memang telah berkata yang sedikit kasar pada gadis ini. Bagaimana pun Joice adalah calon istrinya. Dan Reymond juga sudah menerima pilihan ayahnya ini. Dan tidak seharusnya dia bersikap kasar dan ketus pada Joice. Dia wanita, tentu saja dia sakit hati.
Reymond menarik nafasnya dalam dalam. Dia menyandarkan lengan dan kepala nya disetir mobil itu.
Memikirkan apa yang harus dilakukan nya sekarang.
Hubungan nya dengan Clara memang tidak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun mereka hanya akan menjadi teman dan saudara.
Dan Joice lah yang akan menjadi istrinya nanti. Apakah dia memang harus belajar menerima gadis ini????
Reymond menoleh kearah Joice, memandangi wajah itu sekali lagi.
Padahal dia rasa perkataan nya hari ini tidak jauh berbeda dengan biasanya. Tapi kenapa bisa membuat Joice bisa seperti ini? Bahkan dia pergi dengan menangis dan tahan berhujan hingga kedinginan seperti ini.
Reymond sedikit terkesiap saat melihat Joice bergerak, namun masih dengan mata yang terpejam. Dia terlihat gelisah membuat Reymond memandang nya dengan heran.
"Joice" panggil Reymond, namun Joice tidak bergeming
Reymond menyentuh sedikit bahu nya, dan itu membuat Joice langsung membuka matanya dengan perlahan. Dia memandang Reymond dengan pandangan yang begitu sayu dan sendu, membuat Reymond lagi lagi merasa bersalah dan ada sesuatu yang membuat hati nya gelisah.
"Kita turun" ajak Reymond yang segera keluar dari mobil, meninggalkan Joice yang masih tampak mengumpulkan kesadarannya.
Namun ketika melihat kedepan, dia mengernyit bingung, karena ini bukan apartemennya
"Cepatlah, aku sudah lelah" ucap Reymond yang membukakan pintu mobilnya
"Tapi ini dimana tuan. Ini bukan apartemen saya" jawab Joice terlihat ragu
"Ini apartemen ku. Kita tidur disini dulu. Jangan lagi membantah, kau sudah kedinginan begitu" kata Reymond
Joice menghela nafas nya perlahan. Dia memandang jaket yang menyelimuti tubuh nya. Dan mau tidak mau, dia langsung keluar dari mobil itu. Tidak tahu kenapa, tapi dia merasa tubuhnya benar benar tidak enak dan kepalanya begitu pusing. Apa karena berhujan didini hari ini?
Akhirnya Joice mengikuti langkah kaki Reynand masuk kedalam apartemennya yang berada dilantai paling atas.
Sesekali Reymond memandang Joice yang tertunduk dengan tangan yang menggenggam erat jaket nya. Gadis itu hanya diam dan tidak berbicara apapun. Bahkan ketika sampai didalam apartemennya juga begitu
"Pergi lah ganti pakaian mu. Didalam lemari ada pakaian ku, kau bisa memakai salah satunya. Aku menunggu disini" kata Reymond pada Joice
"Tidak apa apa tuan, saya memakai ini saja" jawab Joice
"Kenapa kau keras kepala sekali. Cepatlah sana. Aku tidak ingin Daddy memaki ku karena membuat mu sakit" dengus Reymond
Joice kembali tertunduk dan mengangguk pelan. Dia langsung berjalan masuk kedalam kamar Reymond. Tidak bisakah pria itu bersikap lembut sedikit padanya. Meski tidak suka, setidaknya jangan ketus begitu. Tidak tahukan Reymond jika dia masih benar benar sedih dan ingin menangis?
Reymond berjalan kedapur kecil nya. Mengambil air hangat dan meminum nya hingga tubuhnya sedikit merasa lebih hangat. Dia duduk dikursi makan menunggu Joice berganti pakaian. Dan tidak lama kemudian, hanya beberapa menit Joice sudah keluar kamar dengan hanya memakai kemeja putih miliknya.
Joice langsung mengarah kesofa dan duduk disana. Dia terlihat canggung hanya memakai kemeja Reymond yang kebesaran ditubuhnya. Namun dimata Reymond, Joice malah terlihat..... cantik??
Reymond menggelengkan kepala nya, dan segera masuk kedalam kamar tanpa berkata apapun pada Joice. Fikiran nya kenapa jadi liar begini, apalagi melihat paha mulus yang terpampang begitu nyata itu. Biasanya Joice selalu memakai celana jeans dan baju kaos, namun sekarang, meski hanya memakai sebuah kemeja yang kebesaran, kenapa dia malah terlihat seksi.
Joice kembali memeluk tubuhnya yang kedinginan. Kemeja tipis ini tidak cukup mampu menghangatkan nya. Dia langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa. Bergelung mencari kehangatan dan kenyamanan. Kepala nya benar benar pusing dan luka nya juga semakin berdenyut. Membuat keringat dingin langsung merembes keluar.
Mata Joice terpejam menahan rasa tidak enak ditubuhnya. Seperti nya, dia akan demam, atau memang sudah demam.