ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Tempat Terindah



Pagi mulai menyingsing, namun matahari masih nampak meredup. Rasa dingin masih begitu terasa menggigit meski hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Kenzo mulai membuka mata, perlahan lahan seraya tangan nya yang bergerak meraba kesamping tempat tidurnya. Namun tiba tiba dia langsung terkesiap saat tidak merasa ada apapun lagi disebelah nya.


Kenzo segera beranjak dan duduk memandang tempat tidur Alena yang kosong. Hanya ada bekas selimut yang masih tampak kusut.


"Kemana Alena" gumam Kenzo pada dirinya sendiri.


Dia langsung turun dan berjalan kearah kamar mandi, namun nihil, tidak ada siapapun didalam sana.


Kenzo berjalan kebalkon kamar mereka, tapi Alena juga tidak ada.


Dia mulai cemas sekarang.


Kenzo berjalan keluar kamar seraya meraih jaket yang tergantung disamping pintu. Memakai nya dengan cepat dan berjalan keluar untuk mencari Alena.


Malam tadi Kenzo tidak dapat tertidur karena dia terus menjaga Alena yang merintih kesakitan. Dan sialnya menjelang pagi dia malah ketiduran dan sekarang dia tidak tahu kemana Alena pergi.


Alena seharusnya masih lemah akibat pengaruh serum itu, tapi kenapa dia bisa tidak ada didalam kamar, kemana perginya Alena. Apa sarapan bersama kapten Stone diruang makan?


Langkah kaki Kenzo berjalan dengan cepat keruang makan, namun dia hanya mendapati Jorge, kapten Stone dan juga dokter Richard disana.


"King... mari sarapan." ajak Jorge


" Kami kira kau tidak keluar pagi ini. Bagaimana Alena?" tanya kapten Stone langsung


deg


Jantung Kenzo langsung berdetak tidak karuan mendengar pertanyaan itu. Apa itu menandakan jika Alena tidak ada disini bersama mereka?


"Ada apa king?" tanya dokter Richard. Dia memandang aneh wajah Kenzo yang berubah menjadi cemas, bahkan wajah bangun tidur itu masih begitu kelihatan karena Kenzo belum sempat untuk membasuh wajah nya.


"Alena tidak ada didalam kamar" kata Kenzo.


Kapten Stone langsung berdiri dari duduk nya.


"Tidak ada didalam kamar?" tanya nya sekali lagi


Kenzo meraup wajah nya dengan kasar. Kenapa dia bisa kecolongan?


"Aku ketiduran, dan ketika terbangun dia sudah tidak ada" ungkap Kenzo. Dia segera melangkah kan kaki nya untuk menyusuri mansion itu, diikuti oleh Jorge dan juga kapten Stone.


Mereka menjadi cemas sekarang, kemana perginya Alena. Jorge berfikir tidak mungkin ada yang membawa Alena, karena bagaimana pun mansion ini sudah dijaga ketat, apalagi ada Kenzo disini.


Namun tiba tiba, langkah kaki mereka terhenti, saat Jack datang dan menyapa Kenzo.


"Selamat pagi king" Jack menundukkan sedikit kepala nya dihadapan Kenzo.


"Kau melihat Alena?" tanya Kenzo langsung


Jack langsung mengangguk


"Nona ada ditaman belakang, pagi tadi dia meminta saya untuk mengantar nya kesana" jawab Jack.


Kenzo langsung dapat bernafas dengan lega, bahkan dia langsung beralih dan berjalan menuju taman belakang mansion black rose.


Kapten Stone dan juga Jorge juga tampak lega mendengar nya. Mereka benar benar takut terjadi sesuatu pada gadis Kenzo itu.


"Apa Alena baik baik saja, seharusnya dia tidak boleh kemana mana dulu" tanya kapten Stone pada Jack


"Maaf kapten, tapi nona memaksa saya untuk mengantar nya. Dia bilang jika dia ingin mencari udara segar pagi ini. Tapi keadaan nona terlihat baik, meski dia masih pucat" ungkap Jack


Kapten Stone menghela nafasnya sejenak, dan mengangguk pasrah. Dia akan membiarkan Kenzo saja yang menemui Alena. Alena lebih membutuhkan Kenzo saat ini.


"Baiklah, terimakasih sudah menjaga Alena Jack" ucap kapten Stone


"Sudah tugas saya kapten" jawab Jack.


Kapten Stone kembali keruang makan diikuti oleh Jorge. Mereka membiarkan Kenzo yang melihat Alena.


Dan memang Kenzo langsung mencari Alena ditaman belakang mansion. Matanya memandang kesegala arah. Namun tidak juga dia temui Alena disekitar taman itu.


Apa dia dikebun mawar ???


Kenzo langsung masuk kekawasan green house, dan mulai memasuki kebun mawar yang sangat luas itu. Matanya memandang kesegala arah, dan satu objek yang begitu dominan langsung terlihat jelas diujung sana. Duduk diatas rerumputan yang menghijau dengan beberapa tangkai mawar biru ditangan nya.


Dress putih panjang yang Alena kenakan dan juga rambutnya yang tergerai panjang membuat Alena tampak seperti seorang princess yang sedang duduk menantikan seorang pangeran.


Kenzo berjalan mendekat kearah Alena yang tampak nya sedang melamun. Entah apa yang dia lamunkan, hingga tidak menyadari kedatangan Kenzo ketempat itu.


Bibir Kenzo membentuk senyum tipis saat melihat Alena memejamkan matanya seraya mencium lembut kelopak mawar biru yang dia pegang. Wajahnya yang pucat sama sekali tidak menutupi kecantikan alami yang dia punya.


Tuhan...


Sungguh, Kenzo sangat berharap jika Alena bisa kembali sehat dan bahagia.


"Alena..." panggil Kenzo dengan begitu lembut


Alena membuka matanya, dan langsung menoleh pada Kenzo. Dia tersenyum begitu indah dan langsung menjulurkan tangan nya pada Kenzo.


Kenzo menyambutnya dengan hangat dan langsung berlutut dihadapan Alena. Dia mengusap wajah pucat itu dengan lembut.


"Kenapa disini, disini dingin. Kau juga tidak memakai jaket mu" tanya Kenzo


Namun Alena hanya tersenyum dan kembali menciumi bunga yang ada ditangan nya.


"Tadi malam aku bermimpi..." ucap Alena seraya memandang jauh tanaman mawar yang begitu banyak itu


"Bermimpi" gumam Kenzo seraya membuka jaket nya


"Ya... bermimpi yang sangat indah" kata Alena lagi. Bibirnya tersenyum begitu indah membuat Kenzo juga ikut tersenyum. Dia memasangkan jaketnya pada Alena.


"Bermimpi apa?" tanya Kenzo


"Bermimpi bertemu mommy" jawab Alena


deg


Entah kenapa jantung Kenzo terasa seperti terhantam sesuatu hingga berdenyut nyeri mendengar ini.


Alena masih tersenyum dan sama sekali tidak ada memandang Kenzo yang kini menatap nya dengan lekat.


"Mommy membawaku kesuatu tempat yang sangat indah, seperti desa bibi Grace, tapi lebih indah lagi. Disana banyak sekali bunga Lily, dan juga... aku merasa disana sangat tenang" ungkap Alena dengan pandangan begitu berbinar memandangi jauh kedepan seolah dia sedang membayangkan apa yang telah dialami nya malam tadi.


"Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sakit, dan tidak ada apapun yang menganggu. Sangat nyaman dan menenangkan" tambah Alena lagi


"Rasanya aku ingin kesana lagi En..." kini Alena memandang Kenzo yang masih mematung mendengar itu. Kenapa dia merasa ini seperti sebuah kalimat..... perpisahan.


"Kau.... kau mau meninggalkan aku Ale?" tanya Kenzo. Bahkan suara nya begitu terasa tercekat di tenggorokan, begitu berat seperti nafas yang terasa sangat sesak.


Alena tersenyum dan mengusap wajah tampan Kenzo.


"Aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkan mu. Apa kau tidak percaya?" tanya Alena


Kenzo menggeleng dan meletakan tangan nya diatas tangan Alena.


"Aku hanya takut" jawab Kenzo begitu pelan, bahkan terdengar seperti berbisik.


Alena kembali tersenyum dan merebahkan tubuhnya kedada Kenzo. Menikmati aroma maskulin yang begitu menenangkan.


"Selama kau masih ada. Maka aku juga akan tetap ada. Dihatimu, difikiranmu, dan disetiap langkahmu" ungkap Alena.


Kenzo memeluk Alena dengan erat, mencium pucuk kepala Alena dengan mata yang terpejam, begitu dalam dan penuh perasaan.


Rasa takut begitu menghantui kepalanya sekarang.


"Aku ingin kau ada disamping ku, menemani disetiap langkahku, dan menggenggam tangan ku setiap waktu" pinta Kenzo benar benar penuh harap.


Alena hanya tersenyum dan membalas pelukan Kenzo.


"Jangan tinggalkan aku lagi" bisik Kenzo


"Tidak akan" jawab Alena


"Aku mencintaimu Alena" ucap Kenzo


"Aku tahu" jawab Alena


Kenzo mengernyit, dia langsung melepaskan pelukan nya dan memandang Alena yang masih bersandar didadanya. Bukan seperti ini jawaban yang dia dengar biasanya, tapi... kenapa kali ini berbeda.


"Alena..." panggil Kenzo


Namun Alena tidak menjawab


"Alena..." panggil Kenzo lagi


Namun masih tidak ada jawaban


Kenzo panik, dia meraih wajah Alena dan ternyata, gadis itu sudah tidak lagi sadarkan diri dalam dekapan nya.


Kenzo memejamkan matanya dan kembali memeluk Alena dengan erat.


Kapan ini akan berakhir. Dia takut, dia begitu takut.