
Hari sudah siang, dan saat ini Alena sedang duduk disisi ranjang Clara. Dia sedang menemani Clara makan siang, lebih tepatnya menyuapi Clara makan. Nyonya Monica masih duduk disofa nya, dia terlihat sibuk dengan ponsel nya sejak tadi. Entah apa yang dilakukan wanita itu, Alena tidak tahu.
"Oh Ale, aku sudah seperti orang yang sakit keras kau buat" ucap Clara saat Alena terus memaksanya untuk menghabiskan bubur didalam mangkuk
Alena tertawa kecil dan kembali menyuapkan bubur itu pada Clara
"Jika tidak dipaksa kau tidak ingin makan. Sedikit lagi" kata Alena. Namun Clara segera menggeleng dan menutup mulut nya
"No, aku sudah mau muntah. Bubur itu tidak enak" jawab Clara
"Sedikit lagi Clara" paksa Alena
"Oh Mom, help me" seru Clara frustasi. Nyonya Monica yang ada disofa langsung menoleh kearah Clara dan Alena. Dia beranjak sembari menyimpan ponsel nya kedalam tas.
"Ada apa sayang" tanya nyonya Monica mendekati Clara
"Ku mohon jauhkan aku dari Alena. Dia terus memaksaku memakan makanan itu" adu Clara begitu manja.
Alena dan nyonya Monica langsung tertawa melihat nya
"Baiklah, nanti mommy akan membuatkan sup untukmu." ucap nyonya Monica sembari mengusap sekilas wajah Clara yang cemberut
"Kau tahu Alena, Clara jika sudah sakit pasti tidak akan mau makan. Apalagi memakan bubur rumah sakit. Ini saja sudah hal yang hebat dia bisa memakan bubur itu hingga setengah nya" ungkap nyonya Monica pada Alena
"Itu karena dia yang memaksa" sahut Clara kesal
"Hei, jika kau tidak makan, kapan kau akan sembuh. Kau tidak lihat tubuhmu sudah kurus kering seperti ini" tunjuk Alena pada tubuh Clara yang memang kurus dan sedikit menyusut. Mungkin karena efek lelah dan beban fikiran juga
"Biar saja" dengus Clara
"Sudah sudah. Mommy akan keluar sebentar, ada yang harus mommy urus. Tidak tahu kenapa ada sedikit masalah disalon,sore nanti mommy akan kemari bersama daddy dan membawa sup untuk mu" ucap nyonya Monica
"Hmm" Clara hanya bergumam dan mengangguk singkat
"Alena saya titip Clara. Kau bisa memarahi nya jika dia tidak ingin istirahat dengan baik nanti" kata nyonya Monica pada Alena
Alena langsung mengangguk dan tersenyum
"Baik nyonya" jawab nya
Nyonya Monica mengecup sekilas dahi Clara dan langsung pergi keluar meninggalkan Alena dan Clara berdua. Alena beranjak dan meletakkan mangkuk bubur yang sejak tadi dipegang nya. Mengambil air minum dan obat untuk Clara.
"Ini minum" kata Alena menyerahkan dua butir obat pada Clara
"Kau sudah seperti pelayan ku Alena" dengus Clara sembari mengambil obat dari tangan Alena dan meminum nya dengan cepat
"Ya anggap saja begitu" Alena menyerahkan segelas air pada Clara dan kembali duduk disisi ranjang itu
"Bagaimana kepalamu?" tanya Alena sambil mengambil kembali gelas dari tangan Clara
"Sudah lebih baik" jawab Clara
Alena terdiam, sebenar nya dia ingin sekali menanyakan sesuatu pada Clara. Yang jelas tentang Clara dan Reymond. Tapi bagaimana cara bertanya nya ya, Alena bingung.
Kalau benar mereka saling menyukai bagaimana?
Reymond sudah jelas,
Lalu bagaimana dengan Clara?
Dan jika mereka saling cinta bagaimana jadinya,
Joice?
Ayah nya?
Dan yang jelas, hubungan Alena dan Kenzo juga bagaimana?
Alena menarik nafasnya dalam dalam dan membuang nya perlahan. Mungkin jika benar ini akan menjadi hubungan yang rumit
"Hei" seruan Clara langsung membuat Alena terlonjak kaget
"Apa yang kau fikirkan ha?" tanya Clara
Alena langsung tersenyum canggung dan menggaruk pelipisnya sejenak. Dia menggeleng pelan dan meletakkan gelas Clara diatas meja
"Aku hanya merasa ada hal yang kau sembunyikan dariku Cla" ucap Alena. Dan dapat dia lihat Clara sedikit bergerak canggung
"Apa yang bisa aku rahasiakan darimu ha? Jelas jelas disini kau yang terlihat jelas merahasiakan sesuatu" serang Clara balik
Alena mengerucutkan bibirnya sekilas. Memang payah untuk membohongi Clara
Clara berdecih sinis melihat Alena.
"Kau masih saja tidak mau mengaku" ucap Clara
"Kau juga tidak mau mengaku padaku, padahal jelas aku tahu kau memang menyembunyikan sesuatu dariku" balas Alena tidak mau kalah
Clara dan Alena saling diam. Saling pandang dengan lekat. Mereka saling tuding namun tidak ingin ada yang mau memulai membuka rahasia masing masing. Alena takut Clara kecewa, dan Clara juga begitu, dia takut Alena akan kecewa dan berfikiran yang tidak tidak nantinya.
"Apa jika aku membuka rahasia kau juga akan mengatakan nya?" tanya Alena duluan
Clara tampak terdiam, dia menundukan wajah nya dengan helaan nafas yang berat. Berfikir seribu kali untuk memberitahu Alena
"Aku takut kau kecewa Ale" ungkap Clara begitu pelan. Dan seperti nya Alena mulai bisa mengambil kesimpulan.
Alena meraih tangan Clara dan menggenggam nya dengan lembut
"Apa ini ada hubungan nya dengan kakakku?" tanya Alena begitu serius. Clara tampak mengerjapkan matanya mendengar itu. Dia kembali tertunduk dan tidak berani lagi menatap Alena
"Kau menyukai nya?" tanya Alena lagi. Dan itu semakin membuat Clara tidak berdaya. Ternyata Alena sudah bisa menebak nya
Alena memandang Clara dengan lama. Dia melepaskan tangan Clara dengan pelan, memalingkan wajah nya menghadap kepintu kamar dengan pandangan nanar namun tersenyum, senyum yang getir.
"Maafkan aku. Aku memang tidak bisa membohongimu. Tapi rasa yang aku punya tidak akan menuntut apapun Alena. Percayalah padaku" kata Clara yang kini meraih lengan Alena. Alena kembali menoleh pada Clara dan tersenyum lembut.
"Apa sudah lama kau menyukai nya?" tanya Alena lagi
"Dia cinta pertama ku, sudah sangat lama sejak pertama kali kami bertemu" ungkap CLara. Dan Alena langsung tertegun mendengar itu. Jantung nya serasa dihantam sesuatu hingga terasa berdenyut ngilu. Selama itu, bagaimana mungkin?
"Clara, dan kau menyembunyikan nya selama ini?" tanya Alena tidak percaya
Clara tertunduk dan melepaskan lengan Alena
"Aku tidak tahu jika dia juga menyukai ku. Aku baru tahu saat malam kompetisi itu ketika dia mengungkapkan perasaan nya padaku" jawab Clara dengan mata yang berkaca kaca. Begitu pula dengan Alena. Sungguh ini adalah kenyataan yang lebih parah dari apa yang terlintas difikirannya. Dia hanya mengira jika mereka hanya saling suka, tapi kenyataan nya lebih dalam daripada itu.
Lalu, apa yang harus dia lakukan, Clara sahabatnya, Reymond kakak kandung nya, dan Kenzo adalah cintanya. Tidak mungkin ada dua pernikahan dalam satu keluarga, itu tidak mungkin.
"Alena, tapi kau jangan berfikiran yang macam macam. Aku sudah merelakan Reymond. Dia sudah memiliki calon istri, dan itu sudah cukup baik untuk kita semua" kata Clara lagi. Alena menahan tangis melihat nya
"Tapi kau yang tersakiti Clara. Aku tahu rasanya mencintai yang pertama kali itu seperti apa, kau jangan melukai hatimu sendiri" jawab Alena, namun Clara menggeleng dan mengusap air mata nya yang menetes
"Aku tidak apa apa. Aku sudah terbiasa. Cinta kami tidak ditakdirkan untuk bersama Alena. Dan aku sudah merelakan nya. Hanya masalah waktu" jawab Clara lagi
Alena tahu jika Clara berusaha tegar, dan Alena sendiri yang tidak bisa menahan tangis nya sekarang.
"Kau mengorbankan perasaan mu karena dia sudah memiliki calon istri?" tanya Alena
"Atau karena aku dan kakakmu?" tanya Alena lagi
Mata mereka saling memandang dengan buliran air yang menetes diwajah masing masing. Sakit, tentu saja. Tapi memang harus ada yang berkorban disini
"Meskipun kakak ku tidak kembali, aku tidak akan bersama Reymond Alena" jawab Clara begitu yakin
Alena tertegun dan kembali memandang Clara yang mengusap air matanya
"Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat bahkan sudah seperti saudaraku sendiri. Dan tentu saja aku dan Reymond juga begitu. Cinta kami ada, tapi bukan untuk bersatu, biarkan dia bersama jodohnya, dan aku pasti bisa menemukan orang lain yang bisa menggantikan posisi nya nanti" jawab Clara begitu tulus. Ya, dia tidak akan pernah bisa bersama Reymond sampai kapanpun, dan dia harus merelakan itu
"Clara, maafkan aku" ucap Alena yang langsung memeluk tubuh Clara
"Dasar bodoh, kenapa kau yang minta maaf hm?" tanya Clara sembari mengusap punggung Alena
"Kau harus merelakan perasaan mu, dan aku tahu itu pasti sakit" lirih Alena
"Tidak sesakit kau yang kehilangan kakakku" gumam Clara terdengar begitu pedih
Alena terisak, namun sekuat mungkin dia menahan nya. Alena melepaskan pelukan nya dari Clara dan mengusap air mata diwajah sahabatnya itu
"Maafkan aku Clara. Aku sudah membohongi mu selama ini" ucap Alena begitu menyesal, dia tidak akan lagi menyembunyikan ini dari Clara. Clara harus tahu!
"Apa maksud mu?" tanya Clara bingung
"Kakakmu masih ada, Kenzo Barrent masih hidup" jawab Alena dengan ragu. Dia memejamkan matanya sekilas saat melihat ekspresi wajah Clara yang terkejut
"Kakakku masih hidup?" tanya Clara
"Ya, aku masih hidup dan tidak akan mati, seharusnya kau tahu itu!" jawab seseorang yang baru muncul dari balik pintu
"Kakak" gumam Clara tidak percaya