ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Reymond Dan Joice



Clara memandangi dokter Richard yang sedang memeriksa keadaan Edward. Pria batu itu masih tampak begitu lemah. Tidak ada lagi perkataan yang diucapkan nya setelah dia meminta Clara untuk menemani nya tadi.


Namun sejak tadi pula dia tidak melepaskan tangan Clara dari genggaman nya.


"Bagaimana dokter?" tanya Clara memandang dokter Richard yang mulai memundurkan langkah nya setelah usai memeriksa keadaan Edward


"Saya benar benar tidak menyangka jika tuan Ed akan sadar secepat ini. Denyut jantung nya sudah mulai stabil, dia juga sudah mampu melewati masa kritis nya. Lihat saja sekarang, dia sudah bisa menggenggam tangan anda" jawab dokter Richard dengan senyum tipis nya. Ya, dia begitu terkejut saat Clara memanggil nya tadi. Dokter Richard berfikir jika telah terjadi sesuatu pada Edward karena keadaan pria itu yang benar benar kritis dan lemah. Namun yang terjadi malah sebaliknya, kondisi Edward jauh lebih baik dari pemeriksaan yang sebelum nya. Bahkan Edward sudah sadar meski masih berada diambang batas yang belum begitu pulih. Ternyata kedatangan Clara benar benar menjadi obat tersendiri untuk pria batu itu.


Clara tersenyum dan menoleh kearah tangan nya. Sejak tadi ketika dia ingin melepaskan tangan nya, Edward selalu menahan nya. Padahal mata lelaki itu terpejam seperti tidak sadarkan diri, tapi entah kenapa dia tahu jika Clara ingin pergi.


"Tapi keadaan nya memang masih lemah nona. Anda bisa terus memberikan semangat untuk nya, seperti nya kehadiran anda membuat nya sedikit bersemangat. Padahal saya sendiri tidak yakin jika tuan Ed bisa tertolong, apa lagi dengan keadaan luka luka nya yang cukup parah" ungkap dokter Richard lagi


"Kau ini, kenapa cepat sekali memprediksi seperti itu. Kau kan bukan Tuhan" sewot Clara


"Maafkan saya nona. Tapi begitu lah kenyataan nya. Kalau begitu saya pamit dulu, saya akan kembali setengah jam lagi" pamit dokter Richard


Clara hanya mengangguk saja dan membiarkan dokter Richard pergi. Dia kembali menoleh pada Edward yang tampak damai dalam tidur nya, atau entah dia pingsan lagi. Tapi melihat tangan nya, Clara bisa sedikit lega. Mungkin dia memang merasakan kesakitan yang begitu kuat hingga tubuhnya melemah.


Clara mencoba kembali untuk melepaskan tangan nya, dia ingin tidur disofa, namun lagi lagi tangan Edward yang lemah, malah bergerak perlahan.


"Jangan pergi, aku mohon" gumam nya begitu pelan dan masih dengan mata yang terpejam, namun Clara bisa mendengar nya karena ruangan yang sangat sunyi.


Clara tersenyum, dia segera merapatkan genggaman tangan nya dan mendekatkan wajah nya ketelinga Edward.


"Aku tidak akan pergi, aku disini. Tidurlah. Kau harus sehat kembali" bisik Clara. Dan kembali,.Clara dapat melihat sebuah senyum tipis diwajah tampan itu. Membuat Clara juga ikut tersenyum melihat nya.


Padahal untuk seumur hidup nya, Edward sangat jarang tersenyum, apalagi tersenyum untuk nya. Dia hanya berwajah datar dan dingin. Apalagi jika kesal dengan Clara, wajah nya pasti bertambah dingin. Tapi sekarang, pria batu itu bisa tersenyum, bahkan kedatangan Clara membuat dia bisa sadar kembali.


Clara merebahkan kepala nya diatas lengan Edward, memeluk lengan itu dengan lembut. Hari sudah menjelang dini hari bahkan hampir pagi, jadi dia benar benar merasa lelah dan mengantuk sekarang. Hingga tanpa sadar dia langsung tertidur dengan posisi yang kurang nyaman.


....


Sementara itu, disisi Reymond dan Joice. Saat ini mereka juga berada dirumah sakit. Reymond mengantar kan Joice untuk mengobati lengan nya yang terluka. Joice menolak, namun Reymond malah memaksa nya. Reymond berhutang nyawa pada gadis tangguh ini. Karena dia Reymond tidak terluka sedikit pun. Ya, meskipun seharusnya dia yang melindungi Joice, namun ini malah sebalik nya, Joice lah yang telah melindungi dia.


Saat ini mereka sudah berada diruang perawatan. Mereka memutuskan untuk menginap dan berisitirahat beberapa jam dirumah sakit hingga pagi menjelang. Dan itu juga karena permintaan Reymond.


Mansion sudah aman, semua sudah ditangani oleh kapten Stone. Alena juga sudah pasti baik baik saja. Jadi Reymond memutuskan untuk beristirahat sejenak, karena dia juga sudah merasakan lelah dan sakit karena perkelahian tadi. Bahkan rasa ngerih dan takut nya masih tersisa, apalagi melihat aksi istri dari rekan bisnis nya. Benar benar mengerihkan, berasa seperti menonton film action psikopat.


Reymond merebahkan dirinya diatas sofa, sedangkan Joice masih duduk diatas ranjang nya.


"Seharusnya kita kembali saja tuan. Saya masih harus membantu kapten Stone dan yang lain nya" ucap Joice untuk yang kesekian kalinya.


Reymond melirik nya sekilas dan kembali memandang langit langit kamar


"Dia tidak memerlukan bantuan mu" jawab Reymond begitu acuh


"Lagipula sudah bagus aku meminta waktu istirahat untukmu, masih saja ingin bekerja" ucapnya lagi


Joice terlihat memandang Reymond dengan kesal. Sejak dulu pria ini selalu saja menyebalkan, sikapnya tidak pernah hangat pada Joice. Ya, meski malam ini dia sedikit berbeda, atau mungkin karena Reymond yang merasa bersalah karena Joice terluka sebab menolongnya tadi.


"Saya tidak enak dengan rekan yang lain nya. Mereka begitu sibuk mengurus kerusuhan itu. Tapi saya malah enak berbaring disini" ungkap Joice


Reymond berdecih sinis dan memejamkan matanya. Dia sudah lelah, tapi wanita yang menjadi calon istrinya ini masih saja berisik


"Sudah lah, Daddy tidak akan marah padamu. Lagi pula kau calon istriku, aku tidak suka kau terlibat dengan mereka. Cukup diam dan tidur saja disini. Aku lelah, tapi kau begitu berisik" gerutu Reymond tanpa memandang wajah Joice yang sedikit terkesiap mendengar kata calon istri.


Sejak kapan Reymond mulai mengakui nya. Bukan kah selama ini dia begitu membenci Joice? Lalu kenapa sekarang dia malah mengatakan jika Joice adalah calon istrinya.


"Calon istri" gumam Joice yang masih memandang Reymond.


Reymond menoleh kearahnya


"Kenapa,.memang begitu kan" sahut Reymond


"Sejak kapan anda mengakui saya sebagai calon istri anda?" tanya Joice membuat Reymond sedikit terkesiap


"Sejak Daddy memaksaku untuk menikahimu" jawab Reymond


Joice tersenyum tipis dan menggeleng pelan


"Jika anda tidak suka, anda bisa menolak tuan" kata Joice, namun Reymond malah menghela nafas lelah mendengar itu. Menolak? Dia tidak bisa mengecewakan ayah nya. Lagipula, ini adalah jalan terbaik untuk hubungan nya dengan Clara. Kenzo telah kembali, dan Alena sudah pasti akan menikah dengan tuan Amerika itu. Lalu nasib cinta nya dengan Clara, sudah pasti harus kandas begitu saja. Dia maupun Clara tidak akan pernah bisa bersatu, memaksakan takdir, tentu mereka tidak bisa, meskipun ingin.


Mereka tidak mungkin melukai hati saudara mereka sendiri. Alena adalah adik yang dicari selama dua puluh tiga tahun ini, tidak mungkin Reymond membuat hati gadis itu terluka dengan keegoisan nya. Sedangkan Kenzo, adalah kakak kesayangan Clara, dan sudah pasti Clara tidak akan mau melukai hati kakak nya. Dan sekarang, memang mereka yang harus mengalah, karena tidak mungkin ada dua pernikahan dalam satu keluarga. Itu sangat tidak etis untuk dilakukan.


"Tuan" panggil Joice lagi, saat Reymond malah larut dalam lamunan nya


"Hati yang dipaksakan tidak akan bisa berjalan dengan baik" ucap Joice lagi


Reymond menghela nafas sejenak, dan kembali beranjak duduk. Dia memandang Joice yang masih melihat nya. Gadis seusia Alena yang berwajah datar namun terkesan sendu saat ini


"Aku tidak punya pilihan lain selain menerima permintaan Daddy" jawab Reymond


"Perasaan apa maksudmu?" tanya Reymond


"Perasaan anda pada nona Clara" jawab Joice,.dan Reymond langsung terkesiap mendengar nya. Kenapa Joice bisa tahu, batin nya bingung


"Aku tidak ada apapun dengan Clara" sahut Reymond terlihat kesal, namun kali ini Joice yang terlihat mendengus senyum. Dia tertunduk dan memainkan ujung kaus nya


"Anda dan nona Clara mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi saya tahu jika kalian sama sama saling memiliki perasaan" kata Joice


Reymond tersenyum dan menggeleng


"Kau jangan sok tahu tentang hidupku" ucap Reymond


Joice kembali memandang Reymond. Entah kenapa, setiap hal yang dikatakan oleh pria ini, pasti selalu membuat nya merasa sakit. Perkataan Reymond selalu bisa membuat nya terluka. Apa karena perasaan nya yang bertepuk sebelah tangan???


"Saya memang tahu karena saya melihatnya sendiri. Tuan, jika tuan masih menyimpan perasaan tuan pada nona Clara, maka saya tidak bisa memenuhi permintaan kapten Stone" ujar Joice


Reymond terlihat memicingkan mata nya mendengar itu


"Apa maksudmu, bukan kah kau dengan senang hati menerima permintaan Daddy, tanpa memikirkan perasaan ku" remeh Reymond, dan lagi lagi Joice merasa tersinggung dengan perkataan itu. Apa serendah itu dia difikiran Reymond???


Joice menggeleng pelan dan tertunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berair. Meski dia seorang agen dan memiliki kemampuan bela diri, tapi tetap saja, hatinya adalah hati seorang wanita. Jika menyangkut tentang perasaan, dia pasti akan merasa sulit untuk meredamnya. Apa lagi memang untuk seseorang yang sudah dia suka sejak lama, tetapi lelaki itu malah bersikap dingin dan acuh.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Reymond lagi


Joice menarik nafasnya dalam dalam, dia mendongak dan menoleh pada Reymond. Dia hanya seorang bawahan, dan Reymond adalah anak dari pemimpin nya. Apa yang bisa dia bela selain diam


"Jika tuan keberatan, saya yang akan berkata pada kapten Stone untuk membatalkan niatnya tuan" ujar Joice


Reymond mendengus senyum sinis mendengar nya


"Lalu apa kau fikir Daddy akan mengabulkan nya begitu saja?" tanya Reymond lagi


Joice terdiam dan tertunduk. Dia tidak akan bisa menjalani pernikahan dengan Reymond jika lelaki itu tidak menyukai nya, apalagi hati nya sudah dimiliki oleh orang lain. Jangan kan untuk mencintai nya, sekedar suka saja mungkin sulit bagi Reymond.


"Saya juga tidak bisa menjalani pernikahan jika tidak ada rasa diantara kita" jawab Joice membuat Reymond memandang nya dengan lekat


"Memang apa yang kau harapkan. Kita hanya harus menikah, dan sesudah itu semua beres bukan. Janji Daddy pada orang tua mu juga sudah lunas. Kau juga tidak akan susah kesana kemari lagi setelah menjadi istri ku" ungkap Reymond


"Apa tuan fikir pernikahan hanya sebatas itu?" tanya Joice membalas pandangan mata itu dengan tajam


"Lalu kau mau apa. Kau mau aku mencintaimu, begitu. Tidak semudah itu Joice" sahut Reymond


"Maka dari itu, saya yang akan mengundurkan diri" jawab Joice


Reymond berdecih sinis mendengar nya


"Pergilah, pergi sejauh mungkin. Kemana sifat angkuh mu yang selalu kau banggakan itu. Kenapa kau malah menjadi pecundang sekarang" ucap Reymond. Entah kenapa dia sedikit kesal melihat Joice yang begini. Biasanya wanita ini pasti akan mendebatinya dalam segala hal. Tapi malam ini, dia hanya diam dan mengalah, bahkan wajahnya terlihat sendu dan berkaca kaca


"Tuan..." panggil Joice dengan suara yang terasa mencekat dikerongkongan nya


"Saya tidak akan menikah dengan orang yang tidak menyukai saya. Apalagi saya tahu hati tuan tidak bisa direbut dengan mudah. Saya juga tidak ingin selalu dipandang rendah karena menerima permintaan kapten Stone begitu saja. Saya hidup sendirian, dan hanya kapten Stone orang terdekat saya. Salahkah saya yang tidak bisa menolak apapun yang dia katakan?" ungkap Joice


Dan kali ini dapat Reymond lihat jika Joice berbicara memang dari hatinya, seorang gadis yang merasa hatinya tersentuh. Apa perkataan nya sudah berlebihan?


"Tapi mendengar perkataan tuan tadi. Saya menjadi tahu, jika lelaki yang dijodohkan dengan saya ternyata hanya menganggap saya sebagai gadis rendahan yang tidak memiliki hati" ungkap Joice lagi


Dan kali ini, hati Reymond yang merasa terusik mendengar Joice berkata seperti itu. Bahkan dia sedikit menghela nafas nya dengan pelan.


"Nanti saya akan membicarakan hal ini dengan kapten Stone. Tuan tidak perlu khawatir, saya akan bilang padanya jika saya akan melanjutkan pendidikan saya, dan saya yang belum siap untuk menikah. Jadi tuan bisa bebas dan mencari gadis lain sesuai dengan keinginan tuan, atau bahkan kembali pada nona Clara" ungkap Joice tanpa berani memandang wajah Reymond. Ingin sekali rasanya dia menangis. Hanya Kapten Stone orang terdekatnya, bahkan sudah dia anggap sebagai pengganti orang tua nya yang telah tiada. Tapi nampak nya, harapan yang pernah terpatri dihatinya akan musnah begitu saja. Ya, Joice rasa, dia memang sudah ditakdirkan untuk hidup sendiri saja. Menyedihkan memang.


"Cih, berhentilah berbicara. Kau hanya perlu mengikuti semua perkataan Daddy. Aku tidak ingin mengecewakan nya" jawab Reymond tapi Joice malah langsung menggeleng


"Tapi tuan mengecewakan hati saya" sahut Joice dengan getir.


"Apa maksudmu" tanya Reymond dengan bingung. Namun Joice langsung menggeleng pelan. Dia menyibak selimut nya dan menurunkan kedua kaki nya dilantai.


"Saya harus kembali tuan. Rekan rekan saya pasti mencari saya" kata Joice yang dengan cepat memasang sepatu nya seraya menahan agar air matanya tidak jatuh. Dia tidak ingin Reymond melihat sisi terlemah nya


"Hei,.kau tidak mendengar perkataan ku" seru Reymond membuat Joice sedikit terkesiap


"Saya memang harus pergi" ucap Joice yang segera beranjak dan berdiri


"Lihatlah, Daddy bilang pilihan nya adalah yang terbaik. Tapi nyatanya, malah seperti ini. Tidak ingin mendengarkan perkataan ku. Kau memang gadis yang keras kepala dan menjengkelkan. Bagaimana kau bisa merebut hatiku jika begitu. Untuk menyenangkan ku saja kau tidak bisa" serang Reymond begitu menggebu


Joice hanya terdiam, berusaha untuk tersenyum meski hati nya benar benar sakit sekarang.


"Maaf" gumam nya yang segera berlalu meninggalkan Reymond yang masih diam dan memperhatikan kepergian nya.


Joice keluar dari ruangan itu dengan terburu buru. Bahkan dia tidak lagi memakai jaket nya, hanya berlalu dengan tangan kosong dan juga......air mata yang menetes diwajah nya, membuat Reymond langsung terbawa emosi yang tidak bisa dijabarkan.