ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Alena !!!



Tiga hari berlalu....


Alena terbaring dengan lemas diatas ranjang. Keringat masih terlihat membasahi wajah nya yang begitu pucat. Nafasnya tersengal dengan mata yang terpejam. Baru saja Professor Brian menyuntikan serum terakhir ditubuh Alena. Namun berbeda dengan hari hari sebelum nya. Malam ini, Alena tidak berteriak kesakitan lagi, dia hanya bergerak gelisah dan masih bisa menahan sakit nya. Meski wajahnya memucat Pasih dengan keringat dingin yang terus keluar.


Kenzo dan kapten Stone masih setia menemani nya. Kenzo masih duduk diatas tempat tidur dan menggenggam erat tangan Alena yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangan nya.


"Kita tunggu sampai besok pagi king. Jika sampai sepuluh jam tubuh nona tidak menolak serum terakhir ini, maka jantung nya bisa dinyatakan sembuh, dan saya bisa menyuntikan serum vitamin yang terakhir" ucap Professor Brian


"Jika tidak?" Tanya kapten Stone pula


"Jika tidak... Maka kita harus segera melakukan operasi transplantasi jantung segera. Saya dan dokter Richard sudah menyiapkan semua nya" jawab Professor Brian.


Kenzo menghela nafas nya dalam dalam. Dia kembali memandangi Alena yang kini terpejam dan tidak lagi bergerak, namun genggaman tangan nya masih begitu erat.


Semoga rasa sakit yang dirasakan Alena tidak sia sia. Sungguh Kenzo tidak ingin lagi Alena mengalami rasa sakit. Sudah cukup penderitaan nya.


"Malam ini, saya akan menginap disini untuk berjaga jaga dengan kondisi nona Alena. Semoga dia tidak mengalami sesak dan kejang" kata profesor Brian lagi


"Saya juga berharap king tidak tidur, karena jika terlambat sedikit saja, maka akan berakibat fatal" pinta Professor Brian lagi


"Baiklah" jawab Kenzo. Terdengar begitu lesu.


"Jangan khawatir, aku juga pasti akan menjaga nya" ucap Kapten Stone


"Saya juga king. Kita akan bersama sama menjaga nona, semoga semua yang kita lakukan tidak sia sia" sahut dokter Richard pula


Kenzo tersenyum dan mengangguk. Dia tidak boleh lemah seperti ini. Lihatlah, semua orang bahkan begitu bersemangat untuk kesembuhan Alena dan kebahagiaan nya.


Semua orang, tanpa terkecuali. Mereka begitu berharap Alena bisa sembuh. Mereka bisa menikah dan hidup berdua dengan bahagia.


Bahkan kedua orang tua Kenzo disana juga selalu bertanya kabar Alena. Mereka sudah begitu tidak sabar untuk Alena sembuh dan menikah dengan Kenzo. Semua orang sungguh berharap kebahagiaan untuk Kenzo dan Alena.


Kenzo memandang Alena dengan lembut, menggenggam tangan nya semakin erat. Dia harus yakin jika Alena pasti akan tetap hidup dan sehat. Dia harus yakin jika Alena pasti bisa ceria kembali seperti dulu.


Kenzo tidak apa, jika Alena selalu cerewet dan selalu menyebalkan seperti biasa. Yang terpenting, Alena bisa kembali sehat dan tersenyum ceria lagi.


Kenzo sudah begitu merindukan tawa ceria gadisnya ini.


Dan malam itu, mereka semua tidak ada yang tertidur demi untuk menjaga Alena.


Dokter Richard bahkan selalu waspada dan siaga dengan alat bantu pernafasan nya. Dia dan kapten Stone duduk disofa yang ada didalam kamar Alena. Sedangkan Kenzo berada diatas tempat tidur untuk menemani Alena. Dia sama sekali tidak ada meninggalkan Alena, hanya jika dia ingin kekamar mandi saja, itupun bergantian kapten Stone yang menjaga nya.


Tidak ada diantara mereka yang tertidur, bahkan Jack dan Jorge tetap siaga berada didepan kamar Alena. Berjaga jaga jika Kenzo memerlukan sesuatu.


Tidak ada hal yang mengkhawatirkan awalnya, namun saat dini hari. Kenzo terkesiap ketika Alena mulai bergerak dengan gelisah. Keringat dingin mulai keluar dari dahi nya.


Kenzo panik, dia langsung memandang dokter Richard yang juga langsung berjalan mendekat.


Dokter Richard memeriksa denyut nadi Alena, tampak berdenyut lebih cepat dari biasanya. Dan lama kelamaan nafas Alena mulai tersengal, membuat Kenzo dan kapten Stone langsung panik dengan jantung yang bergemuruh tidak menentu.


Jack langsung berlari menuju kamar Professor Brian. Dia juga sangat takut jika terjadi sesuatu pada Alena.


"Alena... " Panggil Kenzo dengan detak jantung yang sudah tidak beraturan.


Alena terus saja bergerak gelisah, dan dokter Richard langsung memasangkan alat bantu pernafasan dihidung nya. Jangan sampai Alena kejang atau sesak nafas, jika tidak, maka mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bukan hanya tubuh Alena yang bergerak gelisah, namun juga tangan Kenzo yang begitu bergetar mengusap wajah Alena. Sebelah tangan nya masih terus menggenggam tangan Alena dengan kuat.


"Alena, aku mohon kuatlah" pinta Kenzo begitu berharap.


Professor Brian masuk dan segera mendekat kearah Alena. Dia memeriksa detak jantung gadis itu. Wajahnya begitu tegang, namun dia mencoba untuk tetap tenang.


"Aku mohon... Selamatkan Alena ku" pinta Kenzo , wajahnya bahkan sudah ikut memucat.


"Tenang lah king" ujar dokter Richard. Dia juga tegang, tapi melihat Kenzo yang sudah begitu panik dan gelisah, dokter Richard menjadi tidak tega. Sedangkan kapten Stone sudah tidak bisa lagi berkata apa apa. Dia menggenggam kedua tangan nya didepan dada seraya terus berdoa untuk keselamatan Alena.


Professor Brian mengeluarkan sebuah jarum suntik lagi namun dengan sebuah cairan biasa, tidak tahu apa. Kenzo hanya berharap Alena tetap baik baik saja.


Suasana dikamar itu benar benar tegang, wajah semua orang begitu pucat dengan detak jantung mereka yang bergemuruh hebat.


Bahkan tangan Professor Brian tampak bergetar saat ingin menyuntikkan jarum itu kebahu Alena. Beberapa kali dia menarik nafas dalam dalam, dan akhirnya dia menyuntikkan cairan itu perlahan lahan.


Alena sedikit menggeliat, entah apa yang dirasakan nya, namun wajah nya tetap pucat dan tangan nya masih terus membalas genggaman tangan Kenzo yang semakin mengerat.


"Alena, aku mohon bertahanlah sayang" bisik Kenzo dengan nafas yang begitu berat. Tidak ada ketakutan apapun yang pernah dirasakan nya selain ketakutan malam ini. Dia takut Alena nya pergi, dia takut Alena meninggalkan nya. Kenzo benar benar tidak siap.


"Alena ...." Panggil Kenzo


Namun Alena masih terpejam dengan nafas yang masih tersengal. Hanya keringat yang terus merembes ditubuh dan bahunya.


"Sayang, bertahanlah nak" pinta kapten Stone pula.


Alena seperti berada diambang hidup dan mati saat ini.


Wajahnya yang pucat Pasih serta nafasnya yang terputus putus membuat semua orang yang ada didalam sana begitu cemas dan panik.


Professor Brian bahkan tampak tidak mengedip memandang Alena dengan lekat. Dokter Richard masih terus memandangi layar monitor pendeteksi detak jantung Alena. Sedangkan kapten Stone dan Kenzo masih terus membisikkan kata kata untuk Alena.


Mereka benar benar takut dan cemas.


Hingga tiba tiba


Tiiiiiiiiitttttt


"Prof detak jantung nya hilang!!!" Seruan dokter Richard membuat Kenzo terperangah tidak percaya


"Tidak....Alena!!!!!!!!!