ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Sifat Polos dan Lugu Alena



Hari sudah mulai beranjak senja. Langit sore di kota Newyork juga sudah mulai berubah warna.


Alena membuka perlahan mata nya. Pandangan nya terasa kabur namun lama kelamaan semua nampak jelas dipenglihatan nya.


Alena langsung meraba kepala nya yang terasa masih begitu pusing.


"Kau sudah sadar Ale?" Tanya Clara yang langsung mendekat kearah Alena. Sedari tadi dia menunggu Alena bangun dari pingsan dan tidur nya. Hampir tiga jam Clara berada dibutik Alena, dia benar benar khawatir dengan keadaan sahabat nya itu.


"Uuh, kepala ku pusing sekali" gumam nya yang masih mengurut kepala nya yang terasa berat


"Dokter bilang tensi mu terlalu rendah, dan kau juga sedikit stres, maka dari itu tubuh mu kurang fit" ungkap Clara


"Ayo minum obat dulu" kata Clara sembari membantu Alena untuk duduk dan bersandar dikepala ranjang nya


Alena hanya menurut saja saat Clara membantu nya meminum dua butir pil kapsul itu. Kepala nya benar benar pusing dan dia butuh istirahat saat ini


"Istirahat lah lagi, dan jangan fikirkan apapun" kata Clara dan membantu Alena berbaring kembali


Alena melirik sekilas kearah Clara yang sedang meletakan gelas diatas meja.


"Kau yang membuat fikiran ku bertambah Clara. Keterlaluan" gerutu Alena membuat Clara langsung tersenyum getir


"Emm, untuk itu, maafkan aku. Aku kira kau tidak mempermasalah kan bagaimana pekerjaan kak Ken, selama ini kau juga tidak pernah menanyakan itu padaku" jelas Clara tidak enak hati. Dia benar benar menyesali apa yang telah terjadi hari ini.


Alena menatap Clara dengan wajah frustasi nya, bahkan mata nya kembali berkaca kaca sekarang


"Bahkan aku mengatai seorang Presdir sebagai penjahat dan pencuri" kata Alena begitu kesal dan malu. Clara langsung terbelalak kaget mendengar nya, antara Iba dan lucu. Bagaimana mungkin gadis ini berfikiran seperti itu pada kakak nya yang selalu sempurna itu


"Bagaimana mungkin, penampilan nya selalu sempurna begitu" kata Clara menahan tawa nya sebisa mungkin, apalagi melihat wajah frustasi Alena.


"Saat pertama kali aku menemukan nya didesa ku, dia memakai topeng dengan pakaian serba hitam, dan beberapa waktu lalu saat tangan ku terluka, aku juga bertemu dengan nya dan dengan topeng yang sama, bahkan dia terlibat aksi kejar kejaran dengan brandalan kota. Bagaimana aku tidak menyebut nya sebagai penjahat, mana ada tampan Presdir nya, ya walaupun dia tetap saja tampan" ungkap Alena dengan bibir yang mengerucut kesal dan Clara sudah tidak bisa lagi menahan tawa nya, dia langsung tertawa terbahak bahak mendengar penjelasan Alena, bahkan dia sampai memegangi perut nya yang kram saat ini


"Hahaha, dasar gila. Kakak ku yang tampan menawan dan bergelar tuan Amerika itu dijuluki sebagai penjahat, hahaha, kau memang gila Alena" kata Clara tidak bisa lagi menghentikan tawa nya. Pantas saja Alena begitu terkejut melihat wujud asli Kenzo, jika ternyata selama ini dia menganggap Kenzo sebagai penjahat bertopeng. Astaga, Clara langsung menepuk dahi nya dengan gemas melihat pemikiran polos Alena ini


"ck, diamlah. Aku malu dan bahkan aku tidak ingin lagi bertemu dengan nya" gumam Alena dengan mata yang berkaca kaca membuat Clara langsung menghentikan tawa nya


"Oh, maafkan aku Alena. Tapi kau begitu lucu. Untuk apa kau malu pada nya, dia tidak mempermasalahkan itu" jawab Clara sembari menghapus sedikit air mata yang hampir mengalir disudut mata nya, sebisa mungkin dia tidak lagi tertawa


"Bukan begitu, aku merasa perasaan ku jatuh pada orang yang salah sekarang" ungkap Alena tertunduk lesu. Dia benar benar merasa kecil saat ini, bahkan dia merasa hati nya tidak tahu diri jika berharap lebih pada seorang Kenzo Barrent


"Hei, semua belum dimulai Ale" kata Clara yang kini duduk disebelah Alena dan memegang erat lengan nya


"Tidak Cla. Aku tidak ingin nasib cintaku berakhir seperti Rose, aku bukan siapa siapa, dan dia adalah pangeran dinegeri ini. Sungguh aku tidak pantas untuk mendapatkan hati nya, rasa nya sungguh tidak tahu diri" ungkap Alena begitu lirih membuat Clara tertegun menatap nya


"Jadi kau ingin menyerah dengan perasaan mu?" Tanya Clara serius dan Alena langsung mengangguk


"Hidup ku sudah rumit Cla. Aku tidak ingin menambah beban hatiku. Selagi ini belum terlalu jauh dan sebelum hati ku benar benar jatuh pada pesona nya" kata Alena lagi


"Aku tidak memaksamu Ale, aku tahu kau pasti tertekan dengan ini. Dan maafkan aku yang pernah memintamu untuk mendekati kakak ku" ungkap Clara membuat Alena tersenyum dan mengusap lengan Clara yang masih menggenggam tangan nya


"Bukan salah mu. Ini salahku yang memang sudah jatuh hati pada nya. Jika kami berjodoh maka pasti ada jalan untuk kami bersama , tapi jika tidak, biar ini menjadi perasaan ku yang terpendam" jawab Alena berusaha untuk kuat, lagi dan lagi


'sayang nya aku sudah melihat jalan itu Ale, sadar atau tidak, aku tahu jika dia sudah mulai tertarik padamu' batin Clara yang paling tahu tentang kakak nya


"Tapi kau masih mau berteman dengan ku kan" kata Clara penuh harap


"Tentu saja, kau sahabat pertama ku, dan akan selalu begitu sampai kapan pun" jawab Alena membuat Clara langsung memeluk tubuh nya


"Ah Ale,kau memang yang terbaik" kata Clara penuh haru


Mereka berbincang penuh haru dan bercanda sesekali. Rasa sakit dikepala Alena sudah mulai berkurang apalagi ditambah dengan ocehan Clara yang selalu membuat nya tertawa


"Jadi Enzo yang membawaku kemari?" Tanya Alena terkejut


"Ya, kau pikir siapa, Edward? Pria batu itu tidak akan mau menyentuh wanita" kata Clara dan kembali membuat Alena tertawa


"Kau ini kejam sekali, Enzo kau bilang manekin, lalu sekarang tuan Edward kau bilang batu. Menjengkelkan" sahut Alena


"Hmh, mungkin karena hutang Budi" jawab Alena membuat Clara mendengus


"Tidak sesederhana itu Ale" dengus nya , namun Alena hanya mengendikan bahu nya, tidak ingin berharap atau berfikir lebih


"Oh ya, Cla, aku rasa aku ingin mundur saja dari kompetisi itu" kata Alena tiba tiba membuat Clara mengernyit dan terkesiap kaget


"Hei, apa maksud mu. Kau kan sudah masuk seleksi pertama, jangan gila Alena" kata Clara tidak terima


"Cla, aku tahu ini pasti karena Enzo kan, maka dari itu aku bisa lulus. Aku tidak ingin semua dipermudah hanya karena dia mengenalku dan ingin membantuku. Aku tidak ingin bermain curang disaat semua orang meraih nya dengan susah payah Cla, aku ingin berdiri dengan kaki ku sendiri meski itu payah, sudah cukup dengan butik ini, dan aku tidak ingin yang lain lagi" ungkap Alena panjang lebar, namun Clara hanya menggeleng dan tersenyum mendengar nya


Dia kembali memegang lengan Alena dengan lembut


"Tidak seperti yang kau fikirkan kan Ale. Meski kakak ku adalah pemilik dari agensi itu, tapi dia tidak pernah bermain curang sedikit pun. Dia orang yang profesional, ku rasa hutang budi nya sudah terbayar lunas dengan semua yang diberikan nya.


Kau tahu, aku yang adik kandung nya saja bisa masuk menjadi model diagensi nya juga harus melakukan tahap seleksi. Tidak mudah Alena, aku juga mengikuti apa yang dilakukan peserta lain, itu aku adik nya, apalagi kau yang orang lain dan memang baru mulai merintis." Ungkap Clara membuat Alena tertegun


"Jadi?" Gumam Alena tertahan dan Clara langsung mengangguk


"Ya, semua keputusan ditangan juri tanpa ada campur tangan kakak ku. Dan kau berhasil karena bakatmu sendiri Ale" jawab Clara


"Benar kah, aku kira aku berhasil masuk karena perintah nya, aku sampai tidak bersemangat tadi" kata Alena cemberut membuat Clara langsung tertawa gemas


"Dasar bodoh, kan aku sudah pernah bilang, jika juri nya adalah orang orang profesional, tidak ada yang bisa dan berani melakukan kecurangan disana" kata Clara lagi


"Jadi aku harus tetap ikut?" Tanya Alena begitu polos membuat Clara berdecak kesal


"Tentu saja, kau sudah berhasil, dan kau harus melanjutkan nya. Kau harus tunjukan pada kakak ku jika kau bisa meraih mimpimu dengan semua pemberian nya" kata Clara. Alena langsung mengangguk setuju


"Terimakasih dukungan mu Clara" kata Alena penuh haru


"everything for you" jawab Clara dengan senyum manis nya


...


Kenzo kini telah berada diruang kerja nya diperusahaan Barrent's agensi. Sebenar nya dia malas berada lama lama diagensi ini, tapi karena ada kegiatan ini dan juga rapat besar yang akan diadakan sebentar lagi membuat nya mau tidak mau harus tetap berada diagensi nya.


Setelah dokter Richard memeriksa keadaan Alena tadi, dia juga kembali bersama Edward keperusahaan nya.


"Apa sudah dapat hasil nya Ed?" Tanya Kenzo pada Edward yang baru saja masuk keruangan nya


"Dia adalah mata mata seseorang tuan, tapi dia langsung menembak mati diri nya sendiri ketika kami memaksa nya untuk memberi tahu siapa yang menyuruh nya" ungkap Edward


"Apa tidak ada petunjuk lain?" Tanya Kenzo lagi


"Tidak ada tuan. dia bermain dengan bersih" jawab Edward


"Siapa sebenar nya yang memata matai Alena, apa gadis itu bukan gadis biasa" gumam Kenzo dengan fikiran yang begitu penasaran mengenai jati diri Alena sebenar nya, kenapa ada yang memata matai nya


"Jika ada yang berniat buruk kenapa belum melakukan apapun hingga saat ini" gumam nya lagi


"Apa anda ingin saya menyelidiki siapa nona Alena tuan?" Tanya Edward tiba tiba membuat Kenzo terdiam , bingung.


Ingin tahu, tapi untuk apa ?


Tidak mencari tahu, tapi kenapa dia penasaran ?


"Jangan dulu. Masih banyak hal yang lebih penting dari itu. Kau selidiki saja sudah sampai mana Thomas dan Jesica bekerja sama" kata Kenzo kemudian.


"Baik tuan, tapi sebelum nya, apa anda pernah berhadapan dengan Jesica?" Tanya Edward membuat Kenzo mengernyit


"Kenapa?" Tanya Kenzo pula


"Maaf tuan, tidak ada yang tahu jika sebenar nya Jesica adalah seorang kepala mafia wearloft. Tapi anda tahu tentang itu" kata Edward hati hati


"Aku memang tidak pernah berhadapan dengan nya. Tapi dia pernah berhadapan dengan black rose dulu" ungkap Kenzo, membuat Edward mengangguk mengerti. Lagi lagi black rose.