
Alena membuka mata perlahan. Seiring dengan tangannya yang bergerak dan tubuhnya yang langsung menyamping menatap setiap sudut kamar itu. Matanya mengerjap indah, meski sayu dan sendu, namun binar kebiruan itu mampu memikat setiap orang yang menatapnya.
Setelah Kenzo pergi, Alena langsung tertidur. Mungkin karena efek lelah dan juga benturan dikepalanya yang belum sembuh total.
Alena beranjak duduk. Mengusap matanya dengan lembut. Wajahnya masih terlihat sayu namun tetap saja cantik dan begitu menggemaskan.
Ceklek
Pintu terdengar dibuka dan Alena langsung menoleh ke asal suara.
Dia melihat seorang wanita paruh baya masuk dengan membawa sebuah paper bag ditangannya. Wanita itu menatap Alena dengan senyum dan menunduk hormat.
"Selamat malam nona. Anda sudah bangun ternyata. Maaf, saya tidak mengetuk pintu terlebih dahulu." ucap wanita itu, yang tidak lain adalah kepala pelayan di mansion Kenzo.
"Tidak apa apa bibi. Ini sudah malam ya. Aku tidur terlalu lama," sahut Alena sembari mengusap matanya dan membalas senyuman wanita itu.
"Mungkin karena anda masih belum terlalu pulih nona," jawab pelayan itu.
Alena hanya tersenyum dan mengangguk kembali.
"Apa nona ingin membersihkan diri. Air hangatnya sudah saya siapkan," tawar pelayan itu sembari meletakan paper bag diatas meja.
"Iya, tubuh ku terasa lengket," jawab Alena
"Apa anda ingin dibantu nona?" Tanya pelayan itu kembali, namun Alena langsung menggeleng dengan senyum manisnya.
"Tidak bibi, terimakasih. Aku sudah lebih baik, aku bisa sendiri," jawab Alena. Tidak mungkin untuk mandi pun harus merepotkan orang bukan.
"Baiklah, ini pakaian anda, sebentar lagi kami akan mengantarkan makan malam anda nona," ucap pelayan itu lagi.
"Terimakasih, tapi apa Enzo sudah kembali?" Tanya Alena. Namun pertanyaan itu malah membuat pelayan itu mengernyit bingung, pasalnya dia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Alena.
"Emm, maksud ku Kenzo," ralat Alena dengan cepat.
"Oh, tuan masih ada keperluan yang harus diselesaikan nona, Edward bilang dia akan pulang ketika tengah malam nanti. Nona tidak perlu menunggu tuan," jawab pelayan itu.
Alena langsung mengangguk sendu, lagi lagi Enzo nya pergi.
"Baiklah," jawab Alena pasrah.
"Saya permisi nona, saya Khoi, saya kepala mansion disini, jika anda perlu sesuatu, anda bisa mencari saya didepan," ujarnya.
"Tentu bibi Khoi, aku Alena." balas Alena pula
Akhirnya bibi Khoi langsung keluar dari ruangan itu dan Alena beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya sudah mulai segar dan pulih, meski terkadang dia masih sering merasa pusing dikepalanya.
Hampir satu jam kemudian, dia telah rapi dengan pakaian yang disediakan oleh bibi Khoi. Sebuah dress putih sebatas lutut sesuai dengan karakternya yang feminim.
Alena duduk disofa kamar itu memandangi seluruh sudut kamar yang ternyata benar benar indah dan sangat mewah. Kamar dengan nuansa gold dan dibeberapa sudut terdapat pula beberapa tangkai rangkaian bunga mawar merah yang menghiasinya.
"Seperti kamar perempuan," gumam Alena sembari matanya yang terus menilik setiap sudut kamar.
Pandangannya langsung tertuju pada pintu kamar ketika dia mendengar pintu itu diketuk oleh seseorang.
Alena berjalan dan membuka pintu itu, dan ternyata bibi Khoi dengan beberapa pelayan yang membawakan makan malam untuknya.
"Permisi nona, makan malam anda," ucap bibi Khoi.
Alena hanya mengangguk dan tersenyum. Dia membiarkan pelayan pelayan itu menghidangkan makanannya diatas meja.
"Maaf, aku jadi merepotkan kalian." ucap Alena tidak enak pada pelayan pelayan itu.
"Ini sudah tugas kami nona," sahut mereka.
Setelah itu mereka semua keluar dari kamar itu, dan hanya menyisakan Alena dan bibi Khoi yang dimintanya untuk tetap disana dan menemaninya makan. Alena tidak enak jika harus sendirian disini.
"Bibi tidak ikut makan, makanan ini banyak sekali," ungkap Alena sembari mencicipi makanannya.
"Tidak nona, saya akan makan dibelakang nanti." jawab bibi Khoi yang masih berdiri menatap Alena.
"Ayo lah, makan disini saja bersama ku, aku tidak akan bisa menghabiskan makanan ini, apa kalian ingin membuat ku gemuk." kata Alena pura pura cemberut membuat bibi Khoi langsung tersenyum canggung.
"Emm, maaf nona, tapi sa...eh" ucapannya terputus saat Alena menarik tangannya dan mendudukkan bibi Khoi di sebelahnya.
"Jangan sungkan begitu, ayo makan, bibi seperti pada siapa saja." ucap Alena. Dia langsung mengambilkan bibi Khoi makanan hingga membuat wanita paruh baya itu bingung dan takut, bagaimana mungkin gadis yang dibawa tuannya ini begitu baik dan ramah.
"Hei, ayo bibi, dimakan, aku suka makan jika ditemani, Enzo benar benar keterlaluan membiarkan aku disini sendirian." gerutu Alena sembari meraih kembali piringnya.
"Tapi saya benar benar tidak bisa nona, saya tidak pantas makan bersama anda," ungkap bibi Khoi menatap Alena yang mematung memandangnya.
"Kenapa?" Tanya Alena
"Saya hanya pelayan disini, sedangkan nona adalah orang yang spesial untuk tuan kami." jawab bibi Khoi.
Alena hampir tersedak mendengar itu. Dia bahkan langsung tertawa lucu mendengar perkataan bibi Khoi.
Wanita paruh baya itu mengernyit bingung.
"Spesial bagaimana, kami hanya teman bibi. Ya ampun bibi terlalu berlebihan, sudahlah ayo makan, jangan membantah lagi." ujar Alena sembari meletakan piring dikedua pangkuan bibi Khoi.
"Aku tidak akan makan jika bibi tidak ikut makan," ancam Alena membuat bibi Khoi langsung mengangguk pasrah, semoga saja tuannya tidak murka setelah ini. Karena mereka benar benar takut pada Kenzo. Salah sedikit saja pria tampan itu akan marah dan nasib mereka akan tamat seketika.
Akhirnya karena paksaan dari Alena, bibi Khoi memakan makanannya, meskipun ragu namun dia juga tidak berani membantah, karena menurutnya Alena pasti lah orang yang penting bagi tuan mereka.
"Bibi sudah lama bekerja disini?" Tanya Alena disela sela makan mereka.
Bibi Khoi langsung mengangguk.
"Sudah nona, sejak mansion ini berdiri delapan tahun yang lalu," jawab bibi Khoi.
Alena langsung mengangguk. Lama juga ternyata batin nya.
"Apa ini kamar Clara?" Tanya Alena lagi, namun bibi Khoi langsung tertegun dan tersenyum getir menatap Alena.
"Emm, Bukan nona. Kamar nona Clara ada dilantai dua," jawab bibi Khoi.
"Oh aku kira ini kamar Clara, karena ini seperti kamar seorang wanita." ucap Alena.
Bibi Khoi langsung mengangguk
"Kamar ini juga terawat, kamar siapa ini bibi, tidak mungkin kan kamar tamu seperti ini. Bunga bunga ini juga bunga mawar asli dan begitu segar," tanya Alena lagi.
Bibi Khoi terlihat terdiam sejenak sebelum akhir nya menjawab dengan ragu.
"Emm ini kamar nona Rose, nona." jawaban bibi Khoi membuat Alena langsung tersedak makanannya.
Alena terbatuk parah, dia langsung mengusap dadanya yang terasa sakit dan dengan sigap pula bibi Khoi langsung memberikan segelas air putih padanya.
"Pelan pelan nona, anda baik baik saja?" Tanya bibi Khoi begitu cemas karena Alena sampai terbatuk parah karena tersedak. Apalagi setelah dia mengungkapkan tentang pemilik kamar ini.
"Uuh tidak bibi, aku tidak apa apa," ucap Alena sembari mengusap dada dan mulutnya kembali.
Alena menarik nafas dalam dalam. Dia mencoba menetralkan perasaannya, dan mengatur nafasnya yang tiba tiba terasa berat. Matanya langsung mengedar memandang seluruh ruang kamar ini, bahkan tangannya berhenti makan karena sungguh fokusnya teralihkan.
Alena benar benar tidak menyangka dan sangat terkejut.
"Ini kamar Rose?" Tanya Alena lagi, dan bibi Khoi langsung mengangguk.
Alena kembali terdiam dan melihat kembali beberapa ornamen dikamar itu. Ternyata ini kamar Rose, mantan kekasih Kenzo. Mereka sudah sedekat itu hingga Rose punya kamar sendiri di mansion ini. Dan sekarang Alena semakin yakin jika cinta pria itu memang begitu besar pada gadis itu. Lantas kenapa Kenzo menempatkannya disini, Alena menjadi bingung sekarang. Bahkan hatinya kembali tercuil setelah siang tadi baru mendapatkan perhatian dari pria itu.
"Apa anda mengenalnya nona?" Suara bibi Khoi mengejutkan Alena.
Alena langsung menggeleng dan tersenyum menatap wanita paruh baya itu.
"Tidak bibi, tapi aku tahu ceritanya dari Clara" jawab Alena
"Rose, mantan kekasih tuan kalian kan?" tanya Alena lagi. Bibi Khoi langsung mengangguk membenarkannya.
"Ya nona, hanya dia yang pernah dibawa kemari oleh tuan, dan sekarang nona, maka dari itu saya beranggapan jika nona juga orang yang spesial untuk tuan." ungkap bibi Khoi.
Alena langsung tersenyum getir mendengar itu.
'It's my dream bibi' batin Alena.
Bagaimana mungkin dia spesial dihati pria itu, sedangkan sudah ada orang lain dihatinya. Alena hanya gadis beruntung yang ditolong oleh seorang Kenzo Barrent. Atau mungkin pria itu hanya sekedar balas budi karena Alena pernah menolongnya dahulu.
....
Di tempat lain..
Kenzo duduk memandang langit malam dari atas sebuah menara yang menjulang tinggi ditempat biasa dia berkumpul bersama anggota klannya.
Angin malam yang menerpa wajah dan tubuhnya seolah tidak mampu membuat seorang Kenzo Barrent goyah dalam lamunannya.
Pandangan matanya menatap jauh lautan luas yang tidak berujung, desiran ombak menjadi background dirinya yang memang sedang tidak ingin diganggu siapapun.
Edward dan anggota yang lainnya sedang berada dibawah. Saat ini mereka tengah mencari tahu bagaimana kondisi Mike dan dimana pria itu berada. Juga mereka tengah memantau perkembangan kerja kapten Stone yang saat ini telah berada di Hawai.
Kenzo memisahkan diri dari anggotanya.
Entah apa yang sedang difikirkan pria itu, namun yang pasti saat ini pikirannya sedang terbang kembali ke masa lalunya dan juga seorang gadis yang mulai hadir dalam kehidupannya.
Dua orang yang sangat berbeda, dan dua orang yang berhasil mengusik relung hatinya.
Angelina Rosemarry, nama yang sampai saat ini masih selalu menjadi nama yang bersemayam dihati Kenzo. Wanita yang menjadi permata hatinya sejak dulu. Meski wanita itu telah mendapatkan kebahagiaannya, tapi tetap saja, Kenzo belum mampu menghapus nama itu. Entah belum mampu, atau memang Kenzo yang belum mencobanya.
Tapi...
Alena ....
Gadis lemah lembut yang terkadang menyebalkan, gadis manja yang penuh dengan segudang masalah, tanpa sadar telah berhasil mengusik ketenangan hidupnya.
Sedikit demi sedikit gadis itu berhasil membuat luka dihati Kenzo terlupakan. Semangatnya, senyumnya dan permasalahan hidupnya, benar benar tidak mampu membuat seorang Kenzo Barrent berpaling untuk mengacuhkannya.
Kenzo menghela nafasnya dalam dalam. Entah seperti apa kehidupannya dimasa yang akan datang. Dia hanya berharap, dia bisa menemukan kebahagiaan lain selain permatanya yang hilang dulu.