
Butik Alena sudah sepi, karena baru saja ditutup oleh Lian dan karyawan yang lain. Clara baru saja pulang, setelah sebelum nya berdebat terlebih dahulu dengan Alena. Clara ingin berada lebih lama disana, namun Alena melarang nya, karena dia tidak ingin merepotkan Clara.
Kini hanya Lian yang berada dibutik Alena, karena Edward meminta nya untuk menemani gadis itu malam ini. Dan tentu saja Lian tidak keberatan dengan perintah asisten tuan Amerika itu.
Langit kota Newyork sudah berubah warna menjadi gelap dan dipenuhi oleh bintang bintang dan Aurora yang membuat kota itu terlihat lebih indah.
Alena duduk didepan jendela kamar nya yang besar yang menampakan beberapa sudut kota Newyork.
"nona, saya akan mencari makan malam untuk kita. Anda tidak apa saya tinggal?" tanya Lian
Alena langsung menoleh kearah nya sejenak
"Pergilah, sedari tadi kau selalu menempel padaku Lian, padahal aku tidak apa apa" kata Alena membuat Lian tertawa kecil
"saya hanya menjalankan perintah nona" jawab Lian membuat Alena langsung mendengus
Ting Tong
Bunyi bel butik membuat perhatian mereka teralihkan
"siapa malam malam begini bertamu" gumam Alena pada Lian yang menggeleng
"biar saya yang melihat nona" sahut Lian yang langsung beranjak dari kamar Alena
Alena hanya diam dan kembali menatap kearah luar jendela. Hati nya masih dipenuhi oleh satu nama yang membuat nya gelisah dan resah, Kenzo Barrent.
Alena terlihat menghela nafas nya dengan berat. Hingga tidak berapa lama, dia menoleh kearah pintu dimana Lian kembali masuk
"nona, ada seorang pria yang ingin bertemu dengan anda" kata Lian membuat Alena mengernyit bingung
"siapa?" tanya Alena yang segera beranjak dari tempat nya duduk
"dia bilang nama nya Reymond" jawab Lian. Alena terdiam mengingat dimana dia mendengar nama itu
"apa anda ingin saya mengusir nya?" tanya Lian lagi saat melihat wajah bingung Alena
Alena langsung terkesiap dan tersenyum
"tidak perlu, aku mengenal nya" jawab Alena
Diapun turun kelantai dasar diikuti oleh Lian.
Dapat dia lihat seorang pria tampan dengan kemeja nya duduk disofa dengan sebuah kotak ditangan nya
"selamat malam tuan" sapa Alena membuat Reymond langsung berdiri menyambut nya
"oh hai Alena, bagaimana kabar mu?, maafkan aku yang datang menganggu waktu istirahat mu" ucap Reymond tak enak. Dia menatap dalam wajah Alena, wajah yang entah kenapa terasa tidak asing diingatan nya.
"aku baik, tidak apa. Duduk lah tuan. Lian bisa tolong kau ambilkan minum" pinta Alena pada Lian yang mengangguk dan langsung kebelakang
"ada apa malam malam kebutik ku tuan?" tanya Alena bingung
"maaf kan aku, kebetulan aku lewat disekitar sini. Aku baru pulang bekerja, dan entah kenapa tiba tiba aku mengingat mu. Maka dari itu aku mampir, hanya sebentar. Aku juga membawakan ini untuk mu" jawab Reymond sembari menyerahkan kotak yang sedari tadi dipegang nya kepada Alena.
Alena menyambut nya dengan senyum nya yang indah seperti biasa. Senyum yang mampu membuat Reymond berdesir hati nya
Alena membuka perlahan kotak dengan pita diatas nya, lumayan besar. Dan senyum nya langsung merekah indah, saat tahu isi nya adalah berbagai macam pie dengan varian rasa
"wow, pie. Bagaimana anda tahu jika ini adalah makanan kesukaan ku" tanya Alena begitu bahagia mendapatkan makanan itu
"entah lah, hanya makanan itu yang terlintas difikiran ku" jawab Reymond
"terimakasih tuan, kau begitu baik" ucap Alena dan Reymond hanya tersenyum dan mengangguk. Dia begitu bahagia saat Alena menyukai pemberian nya
Mereka terdiam saat Lian datang membawakan dua cangkir kopi hangat. Setelah itu Lian permisi keluar untuk mencari makan meninggalkan Alena dan Reymond berdua.
"apa aku boleh memakan nya" kata Alena sedikit tertawa membuat Reymond juga tertawa karena nya
"kue itu milik mu nona" sahut nya
Mata Alena berbinar indah, karena rasa nya kue itu benar benar enak dan pas dilidah nya. Rasa gelisah nya seketika meluap entah kemana
"wajah mu sedikit pucat nona, apa kau sakit?" tanya Reymond yang sedari tadi memperhatikan wajah Alena
"hanya kurang enak badan, oh, tolong jangan panggil aku nona, panggil saja Alena" kata Alena yang masih menikmati kue nya
"baiklah, jika begitu kau juga jangan memanggilku tuan" balas Reymond pula membuat Alena terbahak dengan mulut penuh nya
"haha, oke Reymond. Aku sangat berterimakasih dengan kue mu, kau begitu baik" ucap Alena
Reymond menyesap kopi nya sejenak dan kembali menatap wajah Alena yang tidak pernah membosankan.
"anggap saja balasan kebaikan mu tempo lalu" jawab nya dan Alena langsung mengangguk
"oke, aku anggap kita impas" kata Alena
"aku tidak bisa berlama lama. Jika boleh, aku akan sering main ketempat mu, tidak ada yang melarang bukan?" tanya Reymond sembari melirik jam ditangan nya
"tentu saja. Butik ku selalu terbuka untuk siapapun" jawab Alena
"oke, jika begitu aku pamit dulu, jangan terlalu lelah, kau harus jaga kesehatan mu" kata Reymond sembari beranjak dari duduk nya diikuti oleh Alena
"kau perhatian sekali" kata Alena dengan tawa nya
"hanya padamu. Bye Alena" kata Reymond langsung keluar meninggalkan Alena yang terpaku menatap nya
"dasar pria aneh" batin Alena
Dia kembali masuk kebutik nya bersamaan dengan Lian yang baru kembali dari luar.
...
Alena sedang duduk diruang kerja nya saat ini. Dia baru saja selesai merancang salah satu desain baru sebuah gaun sesuai permintaan salah satu pelanggan nya.
Tubuh nya sudah lebih baik dari pada semalam. Dan hari ini dia mulai beraktivitas seperti biasa kembali.
Tidak banyak yang dikerjakan nya, tapi kenapa kepala nya tetap saja pusing. Dan bahkan wajah Kenzo Barrent selalu teringiang ngiang dalam kepala nya.
"Astaga, aku benar benar bisa gila" kata Alena merebahkan kepala nya diatas meja
"Tapi dia benar benar tampan. Bagaimana aku bisa berpaling" gumam nya lagi
Alena benar benar frustasi sekarang, penampakan wajah dan pesona Kenzo diagensi kemarin cukup membuat nya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Ayolah Alena, kau harus fokus. Kau harus berhasil dan mencapai impian mu. Tujuan mu juga belum tercapai" kata Alena kembali duduk dengan tegak
"Oke, singkirkan masalah cinta, fokus pada cita cita. Semangat" seru Alena menggenggam erat jari jari nya
Tangan nya kembali mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pensil.
Dia ingin merancang pakaian yang akan diperlombakan nanti nya. Dua bulan bukan waktu yang sebentar, namun tidak cukup lama untuk seorang pemula seperti Alena.
Jari jemari nya begitu terampil mencoret coret kertas putih itu. Terkadang senyum nya merekah indah dan sesekali menggeleng .
Namun yang terjadi kemudian adalah..
"Aahhhhh , aku memang gila!!!!!!!" Teriak Alena sembari meletakan pensil nya diatas meja dengan kasar
Wajah nya begitu jelek menatap hasil karya nya
"Kenapa aku malah menggambar wajah nya" teriak Alena lagi.
Ya, sketsa wajah Kenzo ada disana, tergambar dengan sendiri nya dari hati Alena yang sedang gelisah.
Alena langsung menangis tanpa air mata dimeja nya. Rambut nya benar benar berantakan karena sedari pagi hingga sore ini dia belum ada mandi sama sekali.
"Ya Tuhan, sebaik nya aku mencari angin saja, aku memang benar benar sudah gila sekarang" gerutu nya langsung beranjak menuju kamar nya.
...
Dan, disinilah Alena berada sekarang, disebuah pantai berpasir putih dan indah yang sangat menenangkan. Pantai yang pernah dikunjungi nya bersama Kenzo beberapa waktu lalu.
Drees putih sebatas lutut nya berkibar diterpa angin disore hari itu. Alena tampak memejamkan mata nya sembari menikmati angin yang benar benar merilekskan kepala dan otak nya yang sedang tidak sinkron
"Ah, ini benar benar menenangkan" gumam nya seiring dengan membuka perlahan mata nya
Alena menarik dalam dalam nafas nya. Rasa nya jika berada disuasana seperti ini Alena benar benar merasa sendiri dan begitu rapuh. Ketakutan nya, kesedihan nya, kegundahan nya, semua menyergap langsung kedalam jantung nya. Masalah hidup nya, dan sekarang ditambah dengan hati nya yang sedang mengulah membuat nya benar benar lelah dan tidak berdaya.
"Aku lelah, lelah sekali. Aku takut. Setiap hari aku ketakutan, aku takut dia datang lagi dan mengambil semua ketenangan ku. Aku ingin sebuah ketenangan yang abadi, aku ingin kebahagiaan seperti mereka Tuhan.
Aku sendiri, aku benar benar sendiri. Aku butuh seorang pelindung, seseorang yang menjadi tempat ku berpulang saat aku ketakutan, seseorang yang menjadi rumah yang nyaman untuk ku berteduh.
Jika orang tua ku tidak menginginkan aku, bisakah Kau kirim seorang malaikat yang bisa menjaga ku dengan hati nya.
Atau jika orang seperti itu tidak ada, aku mohon, cabut saja nyawa ku.
Aku lelah seperti ini Tuhan, bertahan sendiri dan harus selalu berusaha kuat.
Aku lelah"
Ungkapan isi hati Alena yang selama ini selalu terpendam dalam hati nya. Dia ingin berbagi, tapi berbagi dengan siapa.
Dia ingin meminta tolong, tapi pada siapa.
Dia tidak punya siapa siapa lagi setelah ibu yang sangat menyayangi nya pergi selama lama nya.
Alena terisak tertahan dengan tubuh yang sudah duduk diatas pasir pantai. Dia memeluk lutut nya dan menenggelam kan wajah nya disana.
Menyembunyikan tangis nya seperti biasa agar tidak ada seorang pun yang tahu jika dia adalah seorang gadis yang penuh dengan ketakutan.
Tapi dia tidak tahu, jika sedari tadi seorang pria gagah dengan topeng nya telah berdiri tidak terlalu jauh dibelakang nya.
Pria itu mendengar semua perkataan Alena yang terasa penuh luka. Bahkan tanpa disadari nya, hati nya merasa teriris mendengar keluhan itu.
Dia lah Kenzo Barrent. Seperti biasa, dia ingin menenangkan hati nya ditepi pantai yang selalu dikunjungi nya ini, tapi tanpa sengaja dia melihat Alena turun dari taksi dan berjalan menuju pantai itu juga.
Awal nya dia tidak memperdulikan itu, tapi entah kenapa kaki nya seolah tidak sejalan dengan fikiran nya.
Hingga akhir nya kini dia telah berada didekat Alena dan mendengarkan semua isi hati gadis itu.
Gadis yang penuh dengan semangat dan selalu ceria, tapi nyata nya, gadis itu menyimpan sebuah duka dan ketakutan yang mendalam.
Cuaca pantai sore itu benar benar menambah kesan melow bagi Alena. Kenzo masih terdiam dibelakang Alena tanpa bergerak ataupun menegur nya.
Dia ingin membiarkan gadis itu menangis dengan puas saat ini.
Karena dia tahu luka dihati gadis itu benar benar besar, bahkan dia merasa iba karena hidup gadis itu penuh perjuangan didalam kesendirian nya.
Setelah puas menangis seolah menumpahkan kesedihan nya, Alena menegakan kepala nya perlahan sembari menghapus air mata nya dengan jemari nya.
Isak tangis nya masih tersisa, bahkan wajah dan hidung nya kini memerah sendu.
Alena terkesiap kaget saat melihat seseorang mengulurkan sapu tangan pada nya.
Alena langsung menoleh dan mendongak melihat seorang pria dengan topeng diwajah nya.
"Enzo" gumam Alena