
Keesokan hari nya....
Alena merekahkan senyum nya saat telah selesai mengukur ukuran tubuh pelanggan nya.
"Dua minggu lagi anda sudah bisa kemari nona" kata Alena begitu ramah
"Ah, baiklah, aku sudah tidak sabar mencoba gaun itu. Hasil rancangan mu benar benar unik, namun tetap terlihat elegan, aku sangat menyukai nya" ungkap wanita itu membuat Alena tersipu malu
"Anda bisa saja nona, semoga hasil nya sesuai dengan keinginan anda" kata Alena lagi membuat wanita itu mengangguk
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu" pamit nya pada Alena
"Silahkan, terimakasih sudah mampir dibutik kami" jawab Alena melambaikan tangan nya pada wanita itu
Alena langsung mendudukan tubuh nya disebuah sofa yang ada disana dan Lian langsung menyuguhkan sebotol air mineral pada nya
"Terimakasih Lian" ucap Alena
"Anda bersemangat sekali nona" kata Lian terkekeh pelan
"Ah iya, kau lihat butik ini semakin ramai saja. Aku benar benar tidak menyangka Lian" jawab Alena
"Itu karena hasil rancangan anda benar benar bagus dan menarik nona" jawab Lian
"Kau ini bisa saja memujiku" jawab Alena tertawa kecil
Obrolan mereka terhenti saat pintu butik berbunyi dan memunculkan seorang gadis cantik disana
"Alena" teriak Clara membuat Alena berdiri dan langsung memeluk teman nya itu
"Clara, tumben sekali kau datang pagi pagi" ucap Alena membuat Clara tertawa
"Aku ada urusan dengan mu, ayo kita bicara diatas saja" ajak Clara pada Alena yang langsung mengangguk dan memberi kode pada Lian.
Sejak tahu jika butik itu dari kakak nya, Clara meyakini jika ada satu hal yang menarik perhatian kakak manekin nya itu pada gadis yang telah menjadi sahabat nya ini. Entah apa, tapi Clara tahu jika gadis ini pasti sudah membuat kesan yang baik bagi seorang Kenzo Barrent yang terkenal perfeksionis. Ya, dan dia berharap Alena dapat merubah sifat dingin Kenzo itu agar lebih hangat, apalagi jika bisa membuat Kenzo move on dari cinta masa lalu nya, maka Clara akan menjadi orang yang paling berbahagia.
"Ada apa Cla?" Tanya Alena sembari menyerahkan sebotol minuman kaleng pada Clara lalu duduk disebelah clara yang berada disofa kamar nya
"Sebulan lagi Barrent's Agency model akan mengadakan ajang pencarian desainer berbakat. Aku ingin kau ikut" ungkap Clara membuat Alena terkesiap kaget
"Hei, mana bisa begitu, kau tahu kalau aku baru mulai merintis" tolak Alena namun Clara hanya mendengus kesal
"Walaupun kau baru merintis, aku yakin kau pasti bisa. Tidak usah terlalu berharap menjadi juara nya. Setidak nya dengan kau mengikuti ajang itu, nama mu akan dikenal dunia Al" timpal Clara lagi
"Memang nya itu ajang bergengsi tingkat dunia?" Tanya Alena takjub dan Clara langsung mengangguk
"Ya, kau tahu, Barrent'nts Agensi models adalah sebuah Agency modeling terbesar didunia. Setiap tahun agensi itu mencari desainer desainer baru untuk para model baru mereka" ungkap Clara membuat Alena berbinar takjub
"Wow, benarkah. Aku memang pernah mendengar tentang agensi itu, tapi aku tidak tahu jika mereka juga mengadakan ajang itu selain untuk modeling" gumam nya tidak percaya
"Ya, karena agensi itu selalu mencari ootd yang berbeda setiap tahun nya. Jadi, jika kau ikut, walaupun kau tidak menjadi juara, nama mu tetap akan dicantumkan sebagai salah satu desainer yang diperhitungkan" ungkap Clara lagi
"Mendaftar nya juga tidak bisa sembarangan. Kau harus mengirimkan selebaran hasil rancangan mu terlebih dahulu. Lalu itu juga akan diseleksi kembali. Jika kau lulus maka baru kau bisa mengikuti ajang itu" tambah Clara
"Tapi aku tetap tidak yakin Cla" ungkap Alena tertunduk ragu
Clara langsung merangkul bahu Alena dan mengusap nya perlahan, dia mencoba memberikan semangat kepada sahabat nya itu, dia tahu Alena sangat ingin meraih impian nya.
"Kita coba saja dulu. Aku akan membantu mu" kata Clara lagi
"Kau bilang ingin sukses. Ini salah satu jalan nya Alena. Aku yakin kau pasti bisa" ungkap Clara
"Baiklah, tapi jika aku gagal kau jangan membenciku ya" kata Alena begitu polos hingga membuat Clara tertawa mendengar nya
"Dasar bodoh, mana ada aku seperti itu." Jawab nya lucu membuat Alena langsung tersenyum canggung
"Sudah ayo cepat, tunjukan hasil rancangan terbaik mu. Aku akan membantu mu mengirimkan nya keagensy itu" ajak Clara. Alena langsung mengangguk mantap dan berjalan kearah lemari kaca tempat nya menyimpan beberapa barang penting.
"Dikirim via email?" Tanya Alena sembari memilah hasil rancangan terbaiknya. Tidak tahu ini jalan yang baik atau bukan, namun apa salah nya dicoba terlebih dahulu
"Ya, pendaftaran dimulai hari ini. Dan tiga hari lagi hasil keputusan nya" jawab Clara
Alena langsung memperhatikan dua lembar kertas ditangan nya lalu menunjukan nya pada Clara
"Yang mana menurut mu?" Tanya Alena meletakan dua kertas itu diatas meja
Clara lagi lagi berdecak kagum dengan hasil karya Alena, dia memang meyakini jika Alena memang sangat berbakat dalam hal ini. Dia baru merintis, namun karya nya benar benar sangat menakjubkan.
"Dua dua nya terlihat bagus, tapi yang ini lebih memukau dan unik, hanya tinggal perlu menambah aksen dibahu nya yang terbuka" ungkap Clara membuat Alena mengangguk
"Ya, kau benar" gumam Alena
Alena lalu menambahkan coretan dikertas itu dan kembali meletakan nya diatas meja
"Oke, perfect, ini hanya syarat untuk pendaftaran. Sedangkan untuk perlombaan nya nanti akan diumumkan seperti apa tema yang harus kau buat" ungkap Clara yang langsung mengambil gambar rancangan karya Alena dan memberi tahu Alena tentang Barrent's Agency.
Lama mereka berkutat didepan laptop Alena hingga akhir nya selesai dan mereka berdua mengangguk senang.
"Alena apa kau tidak pernah melihat berita seputar kota Newyork ?" Tanya Clara . Saat ini mereka tengah berbaring diranjang Alena
"Tidak, aku terlalu sibuk dengan berbagai rancangan dan pesanan pelanggan baruku" jawab Alena
"Membaca majalah?" Tanya Clara lagi membuat Alena mengernyit dan langsung menoleh kearah Clara disebelah nya
"Apalagi itu Clara, aku tidak hobi membaca. Aku hanya hobi menulis dan memikirkan pria tampan saja" jawab Alena membuat Clara langsung terbahak mendengar nya
"Haha, oke, fikiran kita sama, tapi sayang sekali kau tidak sering melihat majalah" ungkap Clara dengan senyum penuh arti
"Kenapa memang nya" tanya Alena
"Disana ada pria tampan yang menjadi idaman para wanita wanita kelas dunia , terutama para model nya" ungkap Clara namun Alena sama sekali tidak tertarik
"Aku tidak tertarik. Aku sudah memiliki pria tampan yang menjadi khayalan ku setiap saat" gumam Alena dengan wajah berbinar membuat Clara meringis geli
"Hei, jangan bilang pria itu adalah pria yang kau berikan kemeja pertama mu?" Tebak Clara dan Alena langsung mengangguk cepat sembari tertawa kecil
"Astaga bagaimana kau bisa menyukai pria manekin itu" kata Clara pelan dan menggeleng takjub. Meski dia sudah tahu hal ini, tapi tetap saja dia merasa geli mendengar ucapan Alena. Kali ini selera mereka berbeda.
"Pria manekin? Kau mengenal nya?" Tanya Alena terkejut dan langsung duduk menghadap Clara yang menghela nafas lelah
"Bahkan sangat mengenal nya" jawab Clara
"Benar kah?" Tanya Alena tak percaya
"Kau lihat wajah ku baik baik, lalu bayangkan wajah nya juga" ujar Clara menatap wajah bingung Alena
"Kenapa memang nya?" Tanya Alena dengan wajah polos nya hingga membuat Clara berdecak kesal
"Cepat lah lakukan" pinta Clara lebih memaksa
Alena mengernyit menatap dalam wajah Clara, meski tidak mengerti namun dia tetap melakukan nya. Dia menatap wajah Clara sembari membayangkan wajah Enzo nya yang tampan dan menawan itu.
"Wajah kalian memang sedikit mirip" kata Alena. Clara langsung mengangguk cepat
"Lalu kenapa" tanya Alena lagi membuat Clara menepuk dahi nya gemas melihat Alena yang sangat lugu itu, dia pintar tapi kenapa dia tidak bisa berfikir lebih jauh lagi
"Astaga, kau ini sungguh bodoh Alena" teriak Clara frustasi
Alena mengernyit, lalu kemudian dia terkesiap ketika terlintas sesuatu
"Apa kalian mempunyai ikatan keluarga, atau jangan jangan kalian kakak beradik?" Tanya Alena dengan mata yang melebar membuat Clara tertawa dan menampar wajah bodoh Alena dengan pelan
"Dasar bodoh. Kenapa kau baru sadar ha. Aku memang adik nya. Dan aku benar benar tidak menyangka jika kau bisa menyukai pria manekin itu" ungkap Clara geleng geleng dan kembali merebahkan tubuh nya
"Hei, benar kah. Kau adik Enzo. Lalu selama ini kenapa kau tidak bilang padaku?" Geram Alena begitu kesal menatap Clara. Bagaimana mungkin selama ini dia berteman bahkan bersahabat dengan adik dari pria yang sangat dikagumi nya itu. Dan sungguh, dunia Alena begitu sempit
"Aku juga baru tahu semalam. Itupun saat aku melihat nya memakai kemeja yang kau berikan" jawab Clara tertawa lucu
"Ah benar kah dia mau memakai kemejaku" kata Alena dengan wajah berbinar
"Kemeja mu bagus, dan aku yakin dia menyukai nya. Kau tahu dia itu manusia paling pemilih, dan kau beruntung bisa berteman dengan nya" ungkap Clara lagi
"Oh my God, aku merasa tersanjung" ungkap nya dengan kedua tangan yang kembali menangkup pipi nya dan membuat Clara kembali meringis geli melihat kelakuan Alena
"Dimana kau mengenal nya Al, aku begitu penasaran bagaimana pria es itu bisa berteman dengan mu" tanya Clara yang kini duduk kembali dan menatap wajah Alena yang tengah berbinar senang
"Didesaku" jawab Alena tersenyum mengenang masa masa itu
"Heh, apa yang dilakukan nya disana?" Tanya Clara dengan wajah jelek nya.
"Apa Enzo tidak menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa diri nya?" Tanya Alena kembali membuat Clara mengernyit bingung dan menggeleng pelan
Alena jadi bingung harus menceritakan nya atau tidak
"Kecelakaan apa Alena, cepat katakan. Kenapa dia tidak memberitahu kami" kata Clara memaksa
"Hanya kecelakaan ringan, dan kebetulan aku tengah berada disana. Karena kartu pengenal nya hilang, jadi dia berada dirumah ku hingga tuan Edward datang" ungkap Alena sedikit merubah cerita itu. Dia takut Clara khawatir, dan dia yakin jika orang tua Enzo juga tidak tahu tentang hal ini
"Benar kah begitu?" Tanya Clara tidak yakin karena setahu nya, Kenzo memiliki akses lain selain tanda pengenal
"Iya, untuk apa aku bohong." Dengus Alena.
"Jadi maka dari itu dia memberikan butik ini?" Tanya Clara
"Ya, mungkin sebagai balas budi padaku" lirih Alena. Setiap ingat itu, hati nya selalu sedih, entah kenapa.
"lalu kenapa kau memanggil nya Enzo, nama nya Kenzo Alena" kata Clara
Alena langsung tertawa mendengar nya
"haha aku suka, dia lebih lucu dengan nama Enzo" jawab Alena membuat Clara berdecak jengah
"Ck, ya dan aku kasihan padamu yang bisa bisa nya menyukai pria es itu" kata Clara kemudian membuat Alena menghela nafas nya sejenak
"Dia tampan, wajar aku suka. Dan bukan hanya aku saja, diluar sana pasti banyak juga yang menyukai nya, dan ku rasa pacar nya juga banyak bukan" sahut Alena. Clara langsung memasang wajah jelek mendengar itu. Alena tidak tahu saja bagaimana kisah rumit kakak nya
"Bahkan satupun tidak ada yang bisa mendekat pada nya. Maka dari itu aku benar benar terkejut saat dia mau berteman dengan mu" kata Clara membuat Alena tertegun
"Benarkah? Apa karena sifat nya yang dingin seperti itu?" Tanya Alena pelan, dan dapat dia lihat wajah Clara yang berubah sendu
"Dia pernah hangat sebelum dingin, dia juga pernah terbuka sebelum menjadi tidak tersentuh seperti itu" ungkap Clara membuat Alena mengernyit bingung
"Maksud mu?" Tanya Alena tak mengerti
"Dia pernah terluka, begitu?" Tanya Alena lagi, dan Clara langsung mengangguk pelan
"Cinta nya benar benar kuat Alena, bahkan semua dipertaruh kan nya jika dia sudah mencintai. Tapi takdir mempermainkan hati nya hingga hati itu terbunuh dan sulit untuk hidup kembali" kata Clara membuat Alena lagi lagi tertegun
"Apa gadis itu bernama rose?" Tanya Alena ragu, namun cukup mampu membuat Clara terkesiap
"Kau tahu itu?" Tanya Clara takjub
"Sewaktu dia masih sakit, didalam ketidaksadaran nya dia menyebut nama itu" ungkap Alena
"Hmh, kau benar . Dia rose. Gadis yang sangat dicintai kakak ku" lirih Clara
"Aku kira memang begitu sifat nya" gumam alena
"Tidak Al, dia tidak sedingin ini dulu nya. Dia memang kaku, tapi dia masih bisa tersenyum dengan hangat. Tapi sekarang dia benar benar dingin dan tak tersentuh. Terkadang aku benar benar merindukan kakak ku yang dulu" ungkap Clara dengan mata yang berkca kaca
Alena langsung memeluk tubuh Clara yang kini sudah menjatuhkan air mata nya. Dia benar benar tidak menyangka jika ada cerita pahit dibalik wajah datar pria dingin itu. Alena fikir memang sifat Enzo yang begitu.
"Terkadang aku menjadi konyol hanya untuk mencari perhatian nya, namun tetap saja dia tidak bergeming" ungkap Clara yang masih terisak dalam pelukan alena
"Dia pasti bisa kembali seperti dulu Cla, hanya butuh waktu" ungkap Alena
"Entah lah, tapi Aku berharap begitu" jawab Clara
'seberapa besar cintamu En, hingga kau menutup diri seperti itu. Aku juga tahu rasa nya kehilangan, bahkan kehilangan semua yang kupunya. Tapi aku masih bisa menutupi nya, tapi kenapa kau tidak, apa dia benar benar telah membunuh hatimu?' batin Alena juga terasa begitu perih