
Bandara Internasional Jhon F.Kennedy,
Seorang pria tua berjalan dengan sebuah koper ditangan nya. Meski sudah terlihat garis umur nya, namun wibawa nya masih tetap melekat pada diri nya yang masih terlihat gagah.
Dia adalah kapten Stone. Setelah berhasil membereskan misi nya di Hawai kemarin, dia segera terbang kembali ke NewYork, dimana kota yang telah beberapa tahun ini ditinggalkan nya. Kota yang penuh dengan sejuta kenangan indah dan pahit didalam kehidupan nya.
Hati nya benar benar tidak sabar untuk bertemu dengan putri nya yang hilang dua puluh tiga tahun yang lalu. Waktu yang sangat lama untuk menanggung sebuah rindu dan derita karena kehilangan.
Antara senang dan cemas, dia senang, karena ternyata putri nya yang selama ini dia cari masih hidup. Tapi dia juga cemas, jika nanti putri nya tidak ingin mengakui nya sebagai ayah karena kelalaian nya dahulu.
"Daddy!!" Seru seorang pria tampan yang sedikit berlari mendapati nya
"Reymond" sahut kapten Stone
Pria tampan yang ternyata adalah Reymond itu langsung memeluk kapten Stone yang ternyata adalah Daddy nya
"Daddy, kenapa kau baru memberitahuku sekarang hmm?" Tanya Reymond yang langsung merebut koper dari tangan kapten Stone
"Aku ingin memberimu kejutan, baru beberapa bulan tidak bertemu kau sudah kelihatan tua" goda kapten Stone sembari menepuk pundak kokoh putra nya. Putra kebanggan nya yang tidak dia izinkan mengikuti jejak nya, sehingga Reymond memilih untuk menjadi seorang pengusaha di Newyork
"Yah ini karena tidak ada yang mengurus ku" sahut Reymond dengan tawa renyah nya, dan tentu saja itu disambut gelak tawa kapten Stone
Mereka berjalan menuju pintu luar bandara dimana asisten Reymond sudah menunggu mereka dengan mobil nya
"Rey, ada yang ingin Daddy sampaikan nanti dirumah" ucap kapten Stone pada Reymond. Saat ini mereka telah berada didalam mobil yang telah melaju meninggalkan bandara
"Benarkah, apa ini berita bahagia?" Tanya Reymond menatap Daddy nya
"Ya, kau pasti senang mendengar nya" sahut kapten Stone
"Wow, apa Daddy ingin menikah lagi, dan aku punya ibu tiri" goda Reymond membuat kapten Stone tergelak
"No, bukan itu. Hanya ibu mu wanita satu satu nya dalam hidup Daddy." Jawab kapten Stone dan kali ini Reymond yang tertawa
"Hahaha, oke. Lalu berita apa itu, aku juga punya cerita yang menarik untuk mu dad, dan aku yakin Daddy pasti akan terkejut nanti " ungkap Reymond pula
"Baiklah, jika begitu kita bahas ini dirumah nanti" ucap kapten Stone
"Oke, baiklah" sahut Reymond.
....
Sementara di Ale Boutique...
Hari sudah larut malam, namun mata Alena belum bisa terpejam.
Fikiran nya melayang tidak tentu arah. Takut, gelisah, cemas, sedih, dan bahagia, semua bercampur menjadi satu.
Dia merasa hati nya dibuat seperti sebuah permainan oleh takdir yang terasa begitu kejam.
Dua puluh tiga tahun dia sendirian, berjuang untuk bertahan hidup ditengah tengah tekanan batin yang begitu menyiksa nya.
Selalu berharap pada sesuatu, namun saat itu juga harapan nya selalu terpatahkan.
Dahulu, Alena fikir, ibu yang sangat menyayangi nya meski dia bukan anak kandung, akan selalu ada untuk nya, namun nyata nya, ibu nya pergi begitu cepat.
Dan saat dia berfikir rumah tempat nya tinggal adalah tempat yang paling aman untuk nya, namun kenyataan nya, rumah itu justru yang membuat hidup Alena semakin berada didalam marabahaya setiap hari nya.
Dan sekarang, disaat dia tengah gundah gulana karena Mike yang selalu mengusik nya, dapatkah dia berharap pada semua perkataan Kenzo yang akan selalu ada untuk nya???
Dan lagi, besok adalah hari dimana dia akan bertemu dengan orang tua kandung nya. Akankah mereka bisa menolong Alena dan mengakui Alena sebagai anak mereka. Harus kah Alena berharap kembali???
Sungguh, hal yang paling Alena takuti adalah berharap pada seseorang, namun sering kali yang dia dapatkan hanyalah kekecewaan.
Alena menuruni anak tangga butik nya dengan langkah ragu. Dia benar benar tidak bisa tidur sekarang. Dia ingin mencari udara segar sejenak, meski hanya sekedar duduk didepan butik nya saja, karena hari memang sudah sangat larut.
Ketika Alena membuka pintu butik nya, dia dikejutkan oleh Jack dan beberapa anggota nya yang lain tengah duduk berkumpul sembari meminum beberapa botol minuman anggur.
Selama ini, dia tidak pernah keluar dan melihat bagaimana orang orang Kenzo itu menjaga nya. Dan Alena dibuat terperangah, karena tenyata kenzo memang benar benar menepati perkataan nya.
Jack dan beberapa orang lain langsung berdiri ketika melihat Alena. Mereka langsung menundukan tubuh mereka serentak. Hingga membuat Alena menjadi kikuk.
Mereka begitu banyak, mungkin ada sekitar dua puluh orang yang tersebar di sekeliling butik itu. Padahal jika siang hari, Alena hanya melihat Jack dan dua orang teman nya saja, juga Jhon security butik nya. Tapi sekarang, Alena benar benar dibuat terkejut melihat begitu banyak orang suruhan Kenzo yang menjaga nya.
"Nona, apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya Jack yang langsung mendekat pada Alena
"Tidak Jack, aku hanya ingin mencari angin segar" jawab Alena yang menoleh pada orang orang yang masih menundukan kepala mereka
"Tapi malam sudah begitu larut nona" kata Jack lagi
"Tidak apa, aku belum bisa tidur. Apa setiap malam kalian selalu berjaga disini?" Tanya Alena yang berjalan mendekat kearah kumpulan orang orang berjas itu.
Salah seorang dari mereka dengan sigap langsung memberi Alena sebuah kursi.
"Ah, terimakasih" ucap Alena dengan senyum nya yang manis. Dia langsung duduk dikursi itu sembari merapatkan jaket nya
"Iya nona. Setiap malam kami selalu berada disini" jawab Jack yang kini telah berdiri disamping Alena
"Maafkan aku ya, gara gara aku kalian jadi harus sibuk seperti ini" kata Alena tak enak, namun Jack dan yang lain nya malah saling pandang bingung.
"Tidak nona, kami tidak keberatan. Pekerjaan kami memanglah seperti ini" sahut Jack dengan cepat. Alena tidak tahu saja, jika mereka sangat senang mendapatkan tugas seperti ini. Hanya menjaga nya dari orang orang seperti Mike dan suruhan nya. Alena tidak tahu saja, jika Jack dan anggota nya sudah terbiasa menghadapi hal yang jauh lebih ekstrim dari pada ini.
"Kalian hanya duduk disini sepanjang malam?" Tanya Alena. Jack dan yang lain nya langsung mengangguk cepat
"Kalian tidak bosan?" Tanya Alena lagi dan mereka langsung menggeleng serempak
Alena menatap mereka satu persatu. Tubuh besar dan tampang mereka yang benar benar sangar serta pembawaan yang terkesan begitu serius.
"Apa kalian sudah menikah?" Tanya Alena random. Dia tidak tahu apa yang harus ditanya pada orang orang itu
"Belum nona" sahut Jack, dan Alena langsung tertawa mendengar nya, bahkan orang orang itu langsung saling pandang bingung
"Pasti karena pekerjaan kalian yang membuat kalian belum menikah. Padahal usia kalian pasti sudah tua" ungkap Alena dengan wajah polos nya. Jack langsung tersenyum canggung, sedangkan salah seorang anggota nya langsung tersedak minuman nya. Ada ada saja gadis Kenzo ini, batin mereka.
"Tujuan Hidup kami hanya mengabdi pada tuan Kenzo nona" sahut Jack membuat senyum Alena menjadi luntur
"Kenapa begitu" tanya Alena heran
"Karena memang sudah begitu pilihan kami" jawab Jack
"Benarkah?" Tanya Alena pada anggota Jack yang lain. Dan mereka langsung mengangguk setuju
"Astaga, hidup kalian pasti tidak bewarna" gumam Alena dengan gelengan kepala nya
"Aku bosan, apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan malam ini?" Tanya Alena menatap Jack dan anggota nya yang lain
"Aku belum bisa tidur Jack. Aku butuh teman sekarang" jawab Alena dengan bibir yang sedikit mengerucut membuat paras nya begitu menggemaskan untuk dilihat
Jack dan yang lain saling pandang bingung, apalagi ketika Alena berteriak memanggil Jhon yang berada didepan gerbang butik nya
"Jhon!!" Teriak Alena sembari melambaikan tangan nya pada Jhon yang dengan sigap berlari mendekati nya
Jhon sedikit membungkukkan tubuh nya pada Alena
"Ada apa nona, apa ada yang bisa saya bantu?' tanya Jhon
"Apa kau membawa gitar?" Tanya Alena , meski bingung, namun Jhon langsung menganggukan kepala nya
"Ya nona." Jawab Jhon
"Aku mau pinjam" kata Alena membuat Jhon dan Jack mengernyit bingung
"Untuk apa nona?" Tanya Jack yang bingung apa yang mau dilakukan oleh Alena dimalam ini. Jika Kenzo Barrent tahu, maka habis lah mereka
"Aku ingin bernyanyi. Ayo ambil Jhon" perintah Alena dan Jhon langsung berlari kembali ketempat nya
Jack dan anggota yang lain saling pandang bingung. Dan Alena hanya acuh saja. Dari pada dia gelisah terus menerus, lebih baik dia bermain gitar dan menunjukan bakat terpendam nya.
Jhon datang membawa gitar nya dan Alena langsung merebut gitar itu dari tangan Jhon.
"Apa kalian suka bernyanyi?" Tanya Alena pada Jack dan anggota nya yang kembali saling pandang bingung.
Bernyanyi, bagaimana mungkin. Itu adalah suatu hal yang mustahil terjadi pada mereka. Kehidupan keras yang hanya dipenuhi oleh darah dan senjata, bagaimana mungkin bisa bernyanyi.
"Ti tidak nona" jawab Jack kembali mewakili anggota nya
"Ah payah. Yasudah, kalau begitu kalian ikuti aku ya. Kita bernyanyi bersama. Dari pada hanya diam tidak jelas, membuat mulut kaku saja" ungkap Alena yang kini tengah menyetel gitar nya
"Wah, ternyata nona bisa bermain gitar?" Tanya Jhon begitu kagum. Alena langsung tertawa mendengar nya
"Bisa sedikit. Sewaktu kuliah dulu, aku sering bermain benda ini. Teman ku yang berasal dari Asia mengajari ku cara bermain gitar" jawab Alena
"Wah, tuan Jack, seperti nya malam ini kita bisa sedikit terhibur" kata Jhon pada Jack yang langsung mendengus menatap nya
"Tapi hari sudah larut nona" ucap Jack yang masih terlihat ragu.
Alena hanya mencebikan bibir nya
"Nikmati saja waktu kalian , anggap saja kalian sedang menonton konser ku. Kapan lagi kalian bisa menikmati suara ku dengan gratis" sahut Alena yang mulai memetik senar gitar itu
Sebuah lagu dari Bryan adams berjudul waiting for you mulai dilantunkan nya seirama dengan petikan gitar ditangan nya.
Jhon langsung bertepuk tangan dan duduk didepan Alena. Dia begitu mengagumi kelincahan dan kepintaran Alena dalam bermain gitar, dimana benda itu termasuk alat musik yang sangat jarang digunakan disana.
"Wonderful nona!!" Seru nya
Jack dan anggota nya saling pandang bingung, namun lama kelamaan mereka juga ikut duduk berkumpul mengelilingi Alena yang duduk diatas kursi nya.
Petikan gitar dan suara Alena yang memang merdu sungguh bisa membuat malam mereka terasa begitu indah.
Jika selama ini mereka hanya menghabiskan malam dengan minum dan berkeliling, namun malam ini mereka bisa bersantai sembari mendengarkan suara merdu gadis Kenzo Barrent itu.
Ah, iya, mengingat tentang Kenzo Barrent. Jack langsung terkesiap dan segera berdiri menatap kearah gerbang dimana sebuah motor sport berhenti disana. Seorang pria gagah dengan jaket kulit hitam nya turun dari atas motor dan berjalan mendekati mereka.
Tatapan mata nya benar benar tajam, membuat lutut Jack dan beberapa anggota yang melihat nya langsung bergetar lemas.
"Tuan Kenzo " gumam mereka semua
Alena masih fokus bermain gitar dengan nyanyian yang benar benar membuat nya melupakan sekitar nya. Hingga dia tidak tahu jika sekeliling nya sudah kosong dan berdiri menatap takut kedatangan Kenzo. Begitu juga dengan Jhon, yang dengan sigap langsung berdiri dan membungkukan tubuh nya
Kenzo mengibaskan tangan nya, dan Jack bersama yang lain langsung pergi dari tempat itu meninggalkan Alena yang baru sadar ada yang aneh dengan mereka.
Alena langsung menghentikan permainan gitar nya, dan menoleh kearah belakang dimana Kenzo telah berdiri dengan gagah nya disana.
"Kenzo!" Seru Alena terkesiap kaget. Dia langsung berdiri dan menatap Kenzo dengan pandangan terperangah
"Kau ingin membuat konser disini hmm?" Tanya Kenzo dengan wajah datar nya hingga Alena langsung tertawa canggung
Aku tidak bisa tidur, dan kebetulan Jhon membawa gitar" jawab Alena merasa canggung sekarang. Apalagi Kenzo yang berjalan mendekat kearah nya dan berdiri tepat dihadapan nya.
"Dan kau bernyanyi didepan mereka semua?" Tanya Kenzo dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan
"Memang nya kenapa?" Tanya Alena dengan polos nya
Cletak
"Aaauuhb, sakit En" teriak Alena kesal
"Sekarang masuk kekamar mu, dan tidur" ucap Kenzo menatap lekat wajah Alena yang mendengus dan kembali duduk dikursi nya
"Aku belum bisa tidur En" jawab nya terdengar kesal
"Kenapa?" Tanya Kenzo
"Aku... Aku tidak tahu" jawab Alena tertunduk dengan dagu yang dia letakan diatas gitar nya
Kenzo mengernyit menatap Alena, dia mengambil gitar dari tangan Alena hingga membuat gadis itu duduk tegak kembali
"Kau gelisah untuk esok hari?" Tanya Kenzo
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Alena
"Aku tahu apa yang kau rasakan Alena. Hatimu selalu memanggil namaku" jawab Kenzo begitu serius menatap wajah Alena yang terperangah dan sedetik kemudian dia langsung mendengus senyum dan menggeleng
"Kau terlalu percaya diri En" ucap Alena dan kini Kenzo yang mendengus . Dia berjalan perlahan mendekat kearah Alena, hingga begitu dekat membuat Alena menjadi gugup sekarang
Alena mendongak dan menatap Kenzo dengan jantung yang mulai bergemuruh hebat. Jarak mereka begitu dekat. Benar benar dekat hingga membuat nya sulit bernafas sekarang
Kenzo berdiri menatap wajah Alena dengan lekat.
"Aku tahu Alena. Aku tahu hatimu selalu menyebut namaku. Karena hatiku selalu terpanggil setiap saat. Dan setiap saat, hanya kau yang selalu hadir difikiran ku" ungkap Kenzo membuat Alena tertegun dan mengerjapkan mata nya beberapa kali.
"En....."
Dor
"Tuan awas!!!!"