ALENA Is My Sunshine

ALENA Is My Sunshine
Pertengkaran Kenzo Dan Clara



Alena dan Clara kini sudah duduk dimeja makan. Mereka sudah bersih dan rapi karena selesai menyiapkan makan malam tadi mereka langsung membersihkan diri mereka masing masing.


Beberapa kali Alena melirik jam yang ada di dinding ruangan itu. Hari sudah menunjukan pukul tujuh malam. Tapi yang dinantikan belum juga tiba. Bahkan makanan yang seharus nya lezat dan menggugah selera itu sudah hampir dingin sekarang.


Clara juga sudah menggerutu sejak tadi. Perut nya sudah berbunyi karena kelaparan. Apalagi makanan dihadapan nya ini benar benar membuat nya semakin frustasi.


Walaupun hanya makanan sederhana, namun Clara tahu, makanan ini pasti lezat, karena dia sudah mencicipi nya saat memasak tadi.


Ada spaghetti bolognese, steak, chicken Cordon blue, lemon herb roasted potato dan chicken salad with lemon, tuna and olives. Serta beberapa desert dan makanan penutup lain nya.


"Alena, berhentilah menunggu nya. Aku yakin dia tidak akan pulang sekarang, perut ku sudah sangat lapar" rengek Clara untuk yang kesekian kali nya


Alena menatap Clara dengan wajah yang sendu, dia terus saja melirik kearah ruang depan berharap pria itu akan datang dan makan malam bersama nya.


"Sebentar lagi, Cla. Dia pasti pulang. Kau sudah menghubungi Edward bukan" tanya Alena menatap Clara yang terlihat kesal itu


"Ck, kau tidak tahu saja, mereka berdua itu gila kerja. Hanya makan malam mereka tidak akan meluangkan waktu nya Ale" kesal Clara dengan tangan yang menyangga kepala nya


Alena menghela nafas pelan dan menatap makanan nya yang mulai mendingin itu


"Baiklah, jika kau lapar makan lah terlebih dahulu" kata Alena kemudian membuat Clara langsung terduduk dengan tegak, wajah nya langsung berbinar, bahkan tangan nya langsung menyambar sendok dan garpu yang telah tersedia.


"Ah, kenapa tidak dari tadi" gumam nya.


Namun belum sempat dia mengambil makanan nya, suara orang yang mereka tunggu langsung membuat mereka menoleh serempak.


"Tidak bisa kah kau menunggu ku sebentar ha?" Ucap Kenzo yang ternyata telah tiba disana. Masih dengan jas resmi nya. Dia berjalan dan mendekati Alena dan Clara yang memandang nya dengan aura berbeda. Jika Alena memandang nya dengan senyum dan binar diwajah nya, maka Clara menyambut nya dengan wajah yang begitu kesal.


"Kau membuat kami kelaparan. Dan bodoh nya Alena yang terus menunggumu sejak satu jam yang lalu" ucap Clara ketus


Kenzo hanya diam dan duduk dikursi nya. Dia melirik sekilas kearah Alena yang tampak cantik dengan balutan dress pendek bewarna soft pink itu. Lalu mata nya mengarah pada makanan yang telah terhidang diatas meja.


"Kau yang memasak semua ini?" Tanya Kenzo pada Alena yang langsung mengangguk


"Ya, sudah dingin. Apa mau aku panaskan dulu" tawar Alena , namun Kenzo langsung menggeleng


"Tidak usah, aku sudah lapar" jawab nya, dan Alena langsung mengangguk. Dia mulai menyediakan piring dan mengambil makanan untuk Enzo nya itu.


Clara terlihat mencibir sembari tangan nya yang juga mengambil makanan nya


"Tumben sekali kakak pulang cepat, biasa nya jika aku meminta, selalu diabaikan" ucap Clara terlihat iri dengan Kenzo yang terlihat lebih perduli pada Alena dari pada diri nya.


Kenzo hanya melirik nya sekilas dan menatap Alena yang kini tengah berdiri disamping nya


"Aku lapar" jawab Kenzo singkat.


"Heh, mustahil" cibir Clara membuat Kenzo tersenyum tipis melihat wajah kesal adik nya itu.


"Kau mau ini?" Tanya Alena menunjuk salad buatan nya


"Ya, sedikit saja" jawab Kenzo


"Cih, kalian sudah seperti pasangan suami istri saja sekarang" kata Clara membuat Alena tertawa, kini tangan nya sedang mengambilkan air untuk Kenzo


"Kau mau bilang seperti pasangan suami istri atau seperti pelayan dan tuan nya ha" sahut Alena sembari duduk kembali dikursi nya


"Tidak ada pelayan dan tuan yang wajah nya berbinar dan cerah begitu" ejek Clara membuat Alena kembali tertawa dan melirik Kenzo yang telah mencicipi makanan nya itu


"Berbinar dari mana, apa kau tidak lihat, wajah kakak mu itu seperti robot. Datar saja" ucap Alena membuat Clara langsung tertawa dan Kenzo melirik nya kesal


"Alena" panggil Kenzo dan menatap nya dengan lekat


"Hehe, aku kan benar" sahut Alena


"Hahaha, kau memang benar Ale, dia adalah manusia yang sulit untuk berekspresi" tambah Clara


"Diam dan makan lah. Kalian membuat nafsu makan ku berkurang" dengus Kenzo


Alena dan Clara langsung saling pandang dan mengulum senyum mereka. Mereka makan dengan lahap, bahkan Kenzo sampai menambah porsi makan nya, tentu saja itu membuat Clara kembali menggoda nya.


"Ah, aku sangat bahagia bisa berkumpul seperti ini. Seminggu lebih kau mengurung ku dirumah, kau memang keterlaluan kak" gerutu Clara menatap Kenzo yang baru saja menyelesaikan makan nya


"Itu karena kau tidak bisa dipercaya" sahut Kenzo menatap kesal Clara yang mendengus


"Aku kan hanya main, lagi pula tidak akan ada yang berani macam macam pada kami" kata Clara lagi.


Alena masih terdiam memperhatikan Clara dan Kenzo yang tengah berdebat itu


"Memang tidak akan ada yang macam macam padamu Clara, tapi Alena, kau tidak tahu bagaimana dia. Jangan kotori otak nya dengan kelakuan mu yang nakal itu" ucap Kenzo menatap jengah Clara yang terlihat tidak suka


"Memang nya aku kenapa, aku nakal juga tidak merugikan mu" sahut Clara mulai kesal


"Kau ini, aku memang tidak rugi. Tapi kau yang rugi. Jika kau masih menganggap ku kakakmu maka turuti perintahku" kata Kenzo yang mulai menatap tajam Clara yang langsung mendengus


"Aku lupa sejak kapan aku punya kakak" gumam Clara tak mau kalah tajam nya. Jantung Alena mulai bergemuruh sekarang, seperti nya sebentar lagi adik dan kakak ini pasti akan bertengkar, batin nya.


Dan benar saja


"Clara Barrent, kau" tuding Kenzo , Clara langsung berdiri dan menatap tajam Kenzo yang masih duduk dikursi nya. Suasana makan malam itu kini mulai memanas karena perdebatan Kenzo dan Clara, membuat Alena bingung sekarang


"Apa!!!, kakak seperti apa yang tidak memperdulikan adik nya. Kakak seperti apa yang selalu mengacuhkan adik nya. Kau sibuk dengan dunia mu, kau hanya menyuruh orang untuk mengawasi ku. Kau tidak pernah lagi mau mendengar keluh kesah ku Kenzo Barrent!!" Teriak Clara dengan wajah yang mulai memerah


"Kau sudah dewasa Clara, tidak bisakah kau menilai mana yang baik dan tidak ha!!" Balas Kenzo tidak kalah tinggi , membuat Alena terkesiap kaget karena nya


Dia melihat Clara yang sudah mulai mengeluarkan air mata nya


"Aku hanya butuh seorang kakak. Aku butuh kakak yang sayang dan perhatian padaku. Aku tidak butuh kakak seperti mu yang selalu mengekang ku" teriak Clara yang benar benar seperti meluapkan perasaan nya itu.


Kenzo juga langsung berdiri dan menatap tajam Clara


"Kalau begitu pergi, pergi cari kakak yang seperti kau mau. Kau sungguh tidak bersyukur atas apa yang aku lakukan!" Bentak Kenzo membuat Clara terisak ditempat nya


"Clara" panggil Alena yang ingin beranjak, namun dia menatap Kenzo yang terlihat memejamkan mata nya dan mengatur nafas nya. Pria itu kembali duduk dikursi nya dan menatap lurus kearah sisa makanan mereka.


Alena jadi bingung sekarang, mana yang harus ditenangkan nya terlebih dahulu. Kenzo terlihat sedang menahan amarah nya sekarang, tapi Alena juga iba melihat Clara yang menangis.


Alena mengusap lembut bahu Kenzo yang hanya melirik nya sekilas.


Kemudian gadis itu langsung pergi mengejar Clara yang entah berlari kemana.


Alena berlari menuju ruang depan, disana dia bertemu dengan bibi Khoi yang baru saja datang dari luar.


"Bibi, apa kau melihat Clara?" Tanya Alena dengan wajah panik nya


"Nona Clara tadi berlari kekamar nya nona, diatas" jawab bibi Khoi dan Alena langsung mengangguk


"Oh, terimakasih bibi" sahut Alena.


Dia segera berlari menaiki anak tangga yang lumayan tinggi itu.


Sesekali dia berhenti untuk menetralkan pernapasan nya.


Makan malam yang seharusnya damai, berubah menjadi kacau karena perdebatan kedua kakak beradik itu.


Alena tahu, Clara menyimpan perasaan kesal pada Kenzo dan Kenzo yang pemarah selalu saja mengedepankan emosi nya, hingga perkataan yang awal nya baik baik saja, lama kelamaan bisa memanas hanya karena ungkapan yang tidak bisa dijabarkan dengan baik.


Alena tahu, jika seperti inilah keluarga Kenzo, mereka tidak pernah akur karena tidak mau mengerti satu sama lain, meski sebenar nya mereka saling menyayangi .


Alena mengetuk pintu itu beberapa kali. Dia dapat mendengar suara Isak tangis Clara didalam sana.


"Clara, boleh aku masuk" pinta Alena namun Clara masih tidak bergeming


Alena terdiam sesaat, dia tidak bisa berdiam diri saja. Dan akhirnya tangan nya mencoba meraih handle pintu kamar itu, dan ternyata memang tidak dikunci. Alena membuka nya, dan terlihat Clara yang masih menangis diatas tempat tidur nya.


Alena berjalan mendekat, meski ragu, namun dia tidak ingin membiarkan Clara dalam kesedihan sendirian. Karena dia tahu, sendirian dalam keadaan bersedih itu benar benar menyakitkan.


Alena duduk perlahan disisi tempat tidur, dimana Clara tengah menangis dengan tubuh yang tengkurap dan bersembunyi disebalik bantal.


Alena mengusap lembut punggung gadis itu.


"Hei, apa kau kesal?" Tanya Alena dengan begitu lembut


"Aku benci dia Ale, aku benci dia. Aku cuma punya dia. Tapi dia selalu saja begitu. Huuuuuu" Isak Clara kembali


"Aku tahu, Kenzo memang keterlaluan karena dia mudah sekali emosi. Tapi ketahuilah Clara, dia sangat menyayangi mu melebihi apapun" ungkap Alena membuat Clara mendongak dan menatap Alena dengan wajah penuh air mata nya


"Mana ada sayang tapi dia mengekang ku. Bahkan dia lebih memperdulikan mu dari pada aku. Aku rindu kakak ku yang hangat, yang selalu memanjakan ku dulu" gumam Clara dengan suara penuh nya


Alena langsung tersenyum dan mengusap sekilas lengan Clara


"Cla, kau yang lebih tahu bagaimana kakak mu kan. Aku yakin dia tidak bermaksud begitu. Dia tidak bermaksud untuk mengekang mu, hanya saja dia ingin kau berubah menjadi yang lebih baik. Sifat nya yang kaku seperti robot jangan kau samakan dengan orang yang memiliki sifat yang ramah dan lembut. Cara mereka pasti berbeda Clara, begitu pula cara mereka menunjukan kasih sayang nya" ungkap Alena lagi.


Clara langsung duduk sembari menghapus air mata nya.


Alena menatap Clara dan tersenyum sembari membantu Clara merapikan rambut nya yang seperti singa sekarang


"Dia dulu tidak begini Alena" ucap Clara yang masih sedikit terisak


"Hidup nya tidak mudah Clara. Kau tahu apa yang dialami nya hingga dia menjadi begini kan. Seharusnya sebagai orang terdekat nya, kau membantu nya bangkit dan ceria kembali, bukan menuntut apa yang tidak bisa dia lakukan. Perlahan, dia pasti berubah" sahut Alena


"Apa aku sudah keterlaluan" gumam Clara


"Tidak, itu wajar. Jika aku mempunyai kakak, aku juga pasti akan seperti mu yang selalu ingin dimanjakan. Tapi kau harus mengerti situasi. Menjadi Kenzo Barrent aku yakin tidak mudah, berbagai masalah, pekerjaan, dan masalah hati semua pasti memberatkan nya. Terkadang, bukan hanya kakak yang harus mengalah, tapi adik juga perlu mengalah untuk memperbaiki keadaan" ungkap Alena lagi


"Hiks hiks .... Aku salah" Isak Clara kembali


Alena langsung memeluk Clara, dan mengusap lembut punggung nya


"Kau bilang hubungan Kenzo dengan orang tua mu sudah merenggang kan, jadi jangan tambahi lagi beban nya Clara. Aku lihat dia begitu menyesal setelah membentak mu tadi" kata Alena


"Aku tahu dia menyayangiku. Hanya saja aku rindu dia" gumam Clara


"Jika begitu, tunjukan pada nya, jika kau bisa menjadi apa yang dia inginkan. Jangan lagi salah dalam mencari perhatian nya" kata Alena menatap wajah Clara yang langsung mengangguk


"Terimakasih Alena, aku beruntung memiliki mu" ucap Clara yang kembali memeluk Alena


"Kita sahabat bukan" kata Alena dan Clara kembali mengangguk


"Yah, meski terkadang aku iri padamu" kata Clara tertawa sembari tangan nya mengusap sisa air mata nya


"Iri kenapa?" Tanya Alena bingung


"Ya, terkadang dia terlihat lebih memperdulikan mu daripada aku" jawab Clara membuat Alena langsung mengernyit


"kau ini, mana ada begitu. Itu karena hatimu yang sedang sensitif, maka segala apapun yang dilakukan nya selalu saja salah" ucap Alena


"ck, mungkinlah" dengus


"sudah, jangan bertengkar lagi. Kau harus bersyukur mempunyai kakak yang sayang padamu, meski tidak sesuai harapan mu, tapi ketahuilah. Aku rasa nyawapun dia serahkan demi untuk melindungi mu" kata Alena


"iya, aku tahu. Terkadang sifatku memang kekanak Kanakan, aku akan berubah lebih baik mulai sekarang" sahut Clara


Alena langsung tersenyum dan mengangguk


"kau pasti bisa" kata Alena


...


next