
Sesekali Clara melirik Edward yang mengemudikan mobilnya dengan begitu serius. Sejak tadi pria batu ini tidak ada berbicara sama sekali. Tapi ya memang dia tidak suka memulai pembicaraan duluan kan.
Jika diperhatikan Edward memang tampan, keren, dingin, dan....seksi. Dia pria dewasa bahkan lebih tua dua tahun dari pada Kenzo. Memang tidak setampan Kenzo, tapi Edward cukup keren jika disandingkan dengan seorang nona muda keluarga Barrent.
Edward juga banyak yang menyukai nya, namun karena sikapnya yang dingin seperti batu, jadi tidak ada yang berani mendekati dia. Yah, dia sebelas dua belas dengan Kenzo.
Clara mengernyit, saat mobil yang dikendarai Edward bukan mengarah keagensi, melainkan kearah lain. Jalan menuju perbukitan yang berada tidak jauh dari pantai.
"Kenapa kesini?" Tanya Clara
Namun Edward hanya diam dan terus melajukan mobilnya dengan fokus karena jalanan yang cukup terjal dan curam, apalagi dengan salju yang turun membuat jalanan menjadi licin.
Clara memandang daerah sekitarnya. Dia belum pernah ketempat ini. Dan dia sebenarnya cukup takut. Kenapa Edward membawanya kemari, dia tidak mungkin ingin melakukan sesuatu pada Clara bukan.
"Ed" panggil Clara lagi. Edward melirik nya sekilas
"Kau....kau mau membawa aku kemana?" Tanya Clara. Suara nya sudah terdengar bergetar sekarang. Jalanan yang licin dan curam, namun Edward terlihat santai mengemudikan mobilnya. Wajah dengan sedikit tato dileher itu benar benar tampak serius jika dalam mode datar begini.
"Apa anda takut nona?" Tanya Edward
"Kau tidak mungkin ingin berbuat macam-macam bukan?" Tanya Clara pula
Edward mengernyitkan alisnya, berbuat macam-macam??? Apa memang nya yang mau dia perbuat. Edward masih sayang nyawa.
"Memang nya apa yang mau saya lakukan?" Tanya Edward
Clara terdiam, dia jadi berfikiran aneh-aneh sekarang. Tempat sepi seperti ini, jauh dari orang-orang dan jika terjadi sesuatu siapa yang akan tahu. Tapi....tidak mungkin Edward berbuat sesuatu kan. Edward adalah orang kepercayaan kakak nya, dan tentu Edward tidak akan berani.
Namun, perkataan Joice, kembali terngiang ditelinganya. Jika orang yang paling baik sekalipun, harus patut dicurigai.
Jantung Clara tiba tiba bergemuruh, dia melirik takut kearah Edward yang masih fokus mengemudi.
"Saya masih sayang nyawa nona, apa anda kira king akan membiarkan saya lolos jika membuat anda terluka sedikit saja" ucap Edward tiba tiba
Clara langsung terkesiap dan mengerjapkan matanya beberapa kali
"Aku kan takut. Kau hanya diam sejak dari pengadilan tadi. Wajahmu yang datar itu membuat ku jadi berfikiran yang aneh aneh" gumam Clara
Alis Edward tergerak, dia menoleh sekilas kembali pada Clara
"Apa baru kali ini saya diam?" Tanya Edward
Clara berdecak, dia langsung memandang Edward dengan kesal
"Ya bukan. Tapi kan akhir akhir ini kau sudah mulai terbuka dan murah senyum padaku. Tapi sekarang kau kembali lagi dalam mode batumu itu" ungkap Clara dengan bibir yang mengerucut kesal
"Saya hanya memposisikan diri dengan baik" jawab Edward
"Memposisikan diri?" Tanya Clara
Dan Edward langsung mengangguk. Dia memutar setir mobilnya kedaerah yang sudah datar dan berada diatas bukit. Membuat suhu udara semakin bertambah dingin
"Memposisikan diri bagaimana?" Tanya Clara
Edward hanya diam ketika mobilnya berhenti diatas sana. Clara mengedarkan pandangan matanya, dan dia langsung tersenyum melihat pemandangan dari atas sana benar benar indah. Air laut yang membentang luas tampak memukau dari sana. Apalagi dengan pepohonan yang mulai tertutupi salju. Keren sekali. Bahkan dia jadi melupakan perbincangan mereka sebelum turun dari mobil tadi
"Anda suka?" Tanya Edward yang membukakan pintu mobil untuk Clara. Clara bahkan tidak sadar jika Edward sudah turun duluan dari dalam mobil.
"Keren sekali. Aku tidak tahu ada tempat seindah ini di Newyork" ungkap Clara yang langsung berjalan kepinggir tebing
"Itu karena anda yang tidak bisa melihat keindahan yang ada didekat anda, anda selalu melihat keindahan ditempat lain" sahut Edward yang berjalan mengikuti Clara
Sesekali dia memperhatikan langkah gadis itu, takut takut akan tergelincir karena jalan yang sedikit licin
"Tidak juga. Bukan aku yang tidak ingin melihat, melainkan keindahan itu yang selalu tertutupi hingga tidak ingin dilihat oleh orang lain" Clara langsung memejamkan matanya saat sudah berdiri dipinggir tebing. Menikmati udara yang benar benar sejuk dan dingin, yang terasa begitu menggigit hidung nya. Namun cukup mampu membuatnya merasa tenang, sudah lama dia merindukan musim dingin seperti ini.
"Kau suka yang mana. Keindahan yang ada di dekatmu, atau yang ada ditempat lain?" Tanya Clara . Kini dia memandang Edward yang sudah berada disamping nya
Edward tersenyum tipis, dia juga menoleh pada Clara dan memandangnya dengan lekat
"Sejak dulu, saya selalu menyukai keindahan yang ada didepan mata saya. Tidak ada keindahan yang lebih menarik dari pada ini" jawab Edward
Clara mengenyit, lagi lagi pandangan mata ini. Pandangan mata yang begitu dalam dan mendamba, hingga mampu membuat jantung nya merasakan debaran itu.
Clara tertegun, entah kenapa perasaan nya selalu saja terusik jika hanya berdua bersama dengan pria batu ini. Dulu, bagaimana pun Edward, Clara tidak pernah merasakan apapun. Tapi kenapa sekarang terasa berbeda
"Nona" panggilan Edward yang terasa mengejutkan nya membuat Clara terkesiap, hingga kaki nya yang entah kenapa bisa bergerak sendiri dan malah memijak batu yang licin, hingga membuat nya langsung oleng dan
"Aahhhh" Clara menjerit karena dia berfikir dia akan terjatuh dan terhempas ketebing itu. Namun dengan segera Edward langsung meraih tubuhnya dan mendekapnya dengan erat.
Jantung Clara berdebar semakin tidak beraturan, tangan nya memegang mantel Edward dengan kuat, matanya yang terpejam perlahan terbuka, dan langsung bertabrakan dengan manik cokelat milik Edward . Mata tajam itu menatap nya dengan lekat membuat Clara juga seakan ikut terpedaya dan tidak bisa memalingkan wajahnya.
Wajah Edward yang tampan namun begitu tegas dan sangar, serta tato yang ada dileher nya, membuat pria ini terlihat begitu keren dan maskulin.
Mata tajam yang tadinya memandang manik cokelat almond milik Clara, kini beralih kearah bibir ranum merah muda itu. Yang masih segar dan tentunya menggoda.
Edward mendekatkan wajah nya, membuat Clara tampak menegang dengan jantung yang semakin berdetak. Tapi sungguh, dia tidak bisa memalingkan wajahnya sekarang. Clara malah memejamkan matanya saat wajah Edward semakin mendekat hingga hembusan nafas hangat itu terasa diwajah nya.
Deg
Bibir tipis nan hangat itu langsung menyambar bibir ranum milik Clara. Tangan Clara langsung mencengkram dengan erat mantel Edward. Sementara Edward semakin memeluk Clara dengan erat, bahkan dapat Clara rasakan jika Edward masih begitu kaku awalnya, namun lama kelamaan ciuman hangat pria batu itu mampu membuat Clara terbuai.
Edward seperti lupa diri sekarang, dia bermain cukup lama seolah dia sedang meluahkan seluruh perasaan nya selama ini pada gadis kecil yang dia jaga sejak dulu. Lembut dan manis bibir Clara membuat nya terhipnotis dan tidak dapat lagi menahan perasaan nya.
Hingga tepukan didada nya membuat Edward sadar dan langsung melepaskan pelukan nya
Clara langsung merosot dan terduduk dikaki Edward saat ciuman itu terlepas. Nafas Clara tersengal karena sungguh, dia tidak dapat mengimbangi ciuman ganas itu.
"Ed....kau" Clara memandang Edward dengan kesal dan masih dengan nafas yang menderu
Edward langsu berlutut dihadapan Clara
"Maaf nona, saya... Saya" ucapan Edward langsung terhenti saat Clara malah langsung memeluk nya, hampir saja dia terjungkal jika kaki nya tidak bertumpu dengan kuat
Edward mengerjapkan matanya beberapa kali, namun dia segera membalas pelukan Clara. Detak jantung mereka yang bergemuruh langsung berdetak seirama dan saling sambut membuat Edward langsung memejamkan matanya dan memeluk Clara dengan erat
"Kau, kau harus bertanggung jawab Ed" ungkap Clara dalam pelukan Edward
Edward mengernyit, dan langsung melepaskan pelukan nya, memandang Clara dengan lekat
"Bertanggung jawab?" Tanya Edward dengan bingung
Clara langsung mengangguk
"Kau sudah berani mencium ku, maka kau harus menikahiku setelah ini" ujar Clara begitu serius dengan bibir yang mengerucut kesal
Edward langsung mendengus senyum dan mengusap bibir Clara yang tampak membengkak karena ulah nya
"Anda bersedia menjadi istri saya nona?" Tanya Edward
Dan dengan wajah merona Clara langsung mengangguk
"Yah karena kau curang" jawab Clara yang memalingkan wajahnya, namun Edward kembali meraih dagunya, membuat Clara memandang mata tajam itu lagi
"Tapi anda harus melupakan Reymond" pinta Edward
Clara mengernyit, dan memandang heran Edward
"Meskipun anda tidak mencintai saya, tapi saya tidak ingin kita hidup dengan bayang bayang orang lain" kata Edward lagi
Clara mendengus senyum dan langsung mengangguk
"Sejak malam itu, aku dan dia sudah sama sama melepaskan perasaan kami masing masing. Tidak ada lagi kata cinta bagi kami, karena kami hanya ditakdirkan untuk menjadi teman dan saudara" jawab Clara
"Anda yakin" tanya Edward begitu serius
"Ya, bukan kah sekarang aku sudah mendapatkan yang lebih baik dari dia. Dan dia juga begitu" jawab Clara
Edward langsung tersenyum dan kembali memeluk Clara
"Terimakasih nona. Saya tidak berjanji untuk selalu bisa membuat Anda bahagia, tapi saya pastikan anda tidak akan bersedih karena ulah saya" ungkap Edward
Clara tersenyum dan mengangguk dalam dekapan pria batu itu. Meskipun belum ada cinta, tapi Clara yakin, cepat atau lambat, Edward memang bisa mengambil hatinya dari Reymond.